Barat menjauh, perusahaan teknologi China berdompet tebal kini merapat ke Asia Tenggara
Perusahaan seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance menggelontorkan miliaran dolar ke kawasan ini. Menurut para analis, mereka melihat ada potensi, bukan semata tekanan geopolitik.
Penumpang di Bandara Jewel Changi Singapura memanfaatkan pramutamu digital berbasis Tencent Cloud untuk bantuan perjalanan waktu nyata, multibahasa, dan rekomendasi yang dipersonalisasi. (Foto: Tencent Cloud)
SHANGHAI: Di Bandara Jewel Changi, Singapura, pramutamu digital yang ditenagai Tencent Cloud menyambut para pelancong dengan penuh senyuman, memberikan petunjuk arah, rekomendasi kuliner, hingga saran belanja real-time dalam lima bahasa.
Layanan pintar yang sebelumnya hanya bisa dijumpai dalam cerita fiksi ilmiah kini kian hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara, dan China memposisikan diri berada di jantung transformasi digital tersebut.
Dari penggunaan layanan komputasi awan di Jakarta hingga pengembangan model kecerdasan buatan (AI) untuk pengguna di Thailand, para raksasa teknologi China seperti Alibaba, ByteDance, SenseTime, Tencent, dan lainnya tengah memperluas jangkauan mereka di kawasan ini dengan skala dan tingkat kecanggihan yang semakin besar.
Ketegangan geopolitik antara AS dan China yang meningkat, aturan ekspor yang semakin ketat, serta ketidakstabilan pasar mendorong perusahaan-perusahaan China untuk mencari peluang di luar wilayah Barat. Para ahli menilai Asia Tenggara kini menjadi fokus utama Tiongkok, sebuah pandangan yang sejalan dengan pernyataan eksekutif perusahaan teknologi China dalam wawancara dengan CNA.
“Bagi saya, jelas bahwa investasi yang mereka lakukan benar-benar nyata. Begitu pula dengan peluang pasar yang mereka lihat,” ujar Ray Wang, direktur riset bidang semikonduktor, rantai pasok, dan teknologi baru di perusahaan penasihat The Futurum Group, kepada CNA.
Namun para ahli menilai pergeseran ini adalah hasil dari strategi yang telah digodok sejak lama, bukan sekadar rencana jangka pendek. Berbagai perusahaan China ingin menjadikan Asia Tenggara sebagai pilar utama babak baru perluasan teknologi global Tiongkok yang bernilai miliar dolar AS.
TEKNOLOGI, KEMITRAAN DAN TRANSFORMASI
Meski angka pastinya sukar untuk dipastikan, namun perusahaan-perusahaan China telah mengucurkan investasi hingga miliaran dolar di negara-negara Asia Tenggara.
Pada Februari lalu, TikTok — platform media sosial milik ByteDance yang terancam dilarang di AS — berkomitmen menginvestasikan US$8,8 miliar (sekitar Rp143 triliun) dalam lima tahun untuk membangun pusat data dan infrastruktur digital di Thailand.
Alibaba Cloud juga memperluas operasinya, dengan mengumumkan pada Juli lalu pembukaan pusat data ketiganya di Malaysia, serta satu lagi yang akan dibuka di Filipina pada Oktober mendatang.
Pengembangan ini merupakan bagian dari rencana investasi Alibaba senilai 380 miliar yuan (sekitar Rp861 triliun) di bidang AI dan infrastruktur komputasi awan selama tiga tahun ke depan, jumlah yang disebut perusahaan telah melampaui total belanja mereka di bidang ini selama satu dekade terakhir.
Bulan lalu Alibaba meluncurkan AI Global Competency Center di Singapura untuk mendukung adopsi AI bagi lebih dari 5.000 perusahaan dan 100.000 pengembang di seluruh dunia. Peluncuran ini semakin menegaskan ambisi Alibaba di kawasan Asia Tenggara.
SenseTime juga meningkatkan keberadaannya di Asia Tenggara. Dikenal lewat perangkat lunak AI dan computer-vision, perusahaan ini menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Indonesia pada World AI Conference di Shanghai baru-baru ini.
Kesepakatan tersebut berfokus pada pengembangan bersama model AI lokal, teknologi smart city, dan pengembangan talenta AI dalam negeri. Inisiatif ini memperluas kehadiran SenseTime dalam solusi smart city dan teknologi ramah lingkungan di Singapura dan Malaysia.
Semua inisiatif ini mendapat dukungan dari investasi besar di tingkat nasional. Menurut laporan Bank of America, belanja modal AI China tahun ini diperkirakan mencapai US$98 miliar (Rp1.592 triliun), naik 48 persen dari tahun lalu, mempertegas tekad Beijing untuk menjadi pemimpin global di bidang AI, komputasi awan, dan infrastruktur pintar.
Di lapangan, teknologi China semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari dan operasional bisnis di Asia Tenggara.
Pada Juni, GoTo Group dan Alibaba Cloud mengumumkan keberhasilan migrasi infrastruktur GoTo Financial ke pusat data Alibaba Cloud di Jakarta.
Di Filipina, media ABS-CBN memanfaatkan layanan Alibaba Cloud untuk penyimpanan dan pengarsipan konten, sementara di Thailand, perusahaan tersebut bermitra dengan penyedia telekomunikasi TrueBusiness untuk mendukung transformasi digital bagi pelaku usaha lokal.
Sementara di Indonesia, Telkomsel menggunakan teknologi verifikasi telapak tangan berbasis AI dari Tencent Cloud untuk mengonfirmasi identitas pengguna dan memungkinkan pembayaran yang lebih aman.
Di Malaysia, penyedia jaringan seluler YTL Communications memanfaatkan alat identitas digital Tencent untuk memperlancar registrasi seluler dan menghindari penipuan.
“Kami mendukung banyak perusahaan di Asia Tenggara dalam mengadopsi strategi multi-cloud yang kokoh dan selaras dengan kebutuhan bisnis serta regulasi mereka,” kata Bluefin Zhao, wakil presiden Tencent Cloud sekaligus direktur pelaksana untuk Asia-Pasifik, kepada CNA.
“Klien kami mengembangkan pertumbuhan dan kesuksesan bisnis mereka bersama kami secara berkelanjutan dan jangka panjang,” tambahnya.
Zhao menyebut kehadiran Tencent sangat kuat di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Di negara-negara yang merupakan pasar prioritas Tencent ini, mereka telah membuat kemajuan signifikan dengan mencatatkan pertumbuhan hingga dua digit selama tiga tahun terakhir.
Ia menilai keberhasilan ini berakar dari pengalaman Tencent di bidang teknologi konsumen.
“Kami memiliki pengalaman puluhan tahun dari mengelola salah satu platform ekosistem digital terbesar di dunia, WeChat/Weixin, yang melayani lebih dari satu miliar pengguna, hingga ekosistem gim video terbesar di dunia,” kata Zhao.
Keahlian itu kini menjadi pendorong utama langkah Tencent dalam mengembangkan AI generasi berikutnya.
Teknologi large model milik Tencent, Hunyuan, baru-baru ini diintegrasikan ke lebih dari 700 produk internal dalam ekosistem Tencent, mencakup 30 sektor industri mulai dari layanan publik dan kesehatan hingga pariwisata dan keuangan.
Large model adalah sistem AI yang dilatih dengan jumlah data sangat besar untuk menjalankan berbagai tugas kompleks, seperti memahami bahasa, menghasilkan konten, dan menganalisis pola.
Wu Yongjian, kepala riset dan pengembangan produk serta teknologi AI Tencent Cloud, mengatakan kepada CNA bahwa Hunyuan memiliki kinerja kuat tanpa memerlukan daya komputasi besar, sehingga cocok untuk bisnis menengah dan pasar yang sedang tumbuh pesat.
PERGESERAN INSTAN ATAU STRATEGI BERKELANJUTAN?
Para pengamat mengatakan, ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan teknologi China lebih merapat ke Asia Tenggara, selain semakin rumitnya hubungan bisnis dengan Barat.
Amerika Serikat telah memperketat kontrol ekspor terhadap semikonduktor canggih, memasukkan puluhan perusahaan teknologi China ke dalam daftar entitas dengan pembatasan ekspor, serta mendesak sekutu dan mitranya untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur digital buatan Tiongkok.
Namun para pengamat menilai itu bukan alasan utama. Sebaliknya, faktor-faktor bisnis — mulai dari melonjaknya permintaan digital hingga kondisi demografi yang menguntungkan — menjadi pendorong utama merapatnya perusahaan teknologi raksasa China ke Asia Tenggara.
“(Ini adalah) strategi jangka menengah hingga panjang bagi (perusahaan-perusahaan China) untuk mendorong pertumbuhan di luar China dan pasar Amerika Utara,” kata Wang dari The Futurum Group.
Wang mengatakan Asia Tenggara secara “alami” menarik bagi perusahaan teknologi China karena hubungan bisnis yang telah terjalin selama bertahun-tahun, relasi yang mapan, dan kedekatan geografis.
Faktor-faktor ini menurunkan hambatan ekspansi dan mempermudah penempatan talenta serta pengelolaan operasi lintas negara dibandingkan pasar yang lebih jauh, ujarnya.
“Secara budaya, perusahaan China jauh lebih mudah beradaptasi. Secara geografis, juga lebih dekat bagi perusahaan untuk mendirikan kantor pusat (di kawasan) dan mengirim karyawan ke sana.”
Jia Kai, lektor kepala di School of International and Public Affairs, Shanghai Jiao Tong University, menyoroti keragaman Asia Tenggara dan perbedaan tingkat kematangan AI di masing-masing ekonominya.
“Pasar Asia Tenggara memiliki peran penting karena untuk memaksimalkan potensi AI, dibutuhkan penerapan luas di beragam sektor, budaya, dan konteks lingkungan,” ujarnya kepada CNA.
“Hal terpenting bagi AI adalah menemukan lingkungan yang beragam … infrastruktur digital Asia Tenggara sudah berkembang dengan baik.”
Eksekutif senior dari sejumlah perusahaan teknologi besar China yang diwawancarai CNA juga menekankan bahwa Asia Tenggara menjadi fokus strategis utama, terutama mengingat meningkatnya permintaan layanan AI di kawasan ini.
Pemerintah, dunia usaha, dan konsumennya dengan cepat mengadopsi layanan berbasis AI untuk mendorong pertumbuhan, meningkatkan efisiensi, dan memperbaiki kualitas hidup sehari-hari, sebuah pergeseran yang didorong oleh urbanisasi, perilaku konsumen yang mengutamakan perangkat seluler, dan upaya nasional untuk mendigitalisasi perekonomian.
Menurut laporan Boston Consulting Group pada April, AI, termasuk bentuk generatifnya, diperkirakan akan menyumbang sekitar US$120 miliar (Rp1.950 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) Asia Tenggara pada 2027.
Firma konsultan manajemen global iMARC Group mencatat pasar komputasi awan Asia Tenggara mencapai US$208,8 miliar (Rp3.396 triliun) tahun lalu, dan diproyeksikan tumbuh dengan laju peningkatan tahunan majemuk 10,49 persen hingga melampaui US$512 miliar (Rp8.329 triliun) pada 2033.
Wu, kepala riset dan pengembangan produk serta teknologi AI Tencent Cloud, mengatakan perusahaannya memandang Asia Tenggara sebagai wilayah strategis utama, baik sebagai pasar maupun sebagai lokasi uji coba penyempurnaan produk.
Eksekutif Tencent Cloud lainnya, Zhao, menambahkan bahwa transformasi digital terjadi dengan pesat di Asia Tenggara, dipacu oleh perusahaan-perusahaan dalam negerinya yang progresif dan dukungan kebijakan nasional.
“Kawasan ini sangat beragam dan dinamis, dengan pasar dan sektor industri berada pada tingkat kematangan digital yang berbeda-beda,” kata Zhao, seraya menambahkan bahwa kondisi ini menghadirkan peluang bagi bisnis yang membutuhkan solusi digital khusus.
Contohnya, pada pramutamu digital di Bandara Jewel Changi, hasil awal dari proyek percontohan yang dimulai Maret ini menunjukkan bahwa pelancong lebih menyukai cara interaksi intuitif tanpa sentuhan ini dibandingkan direktori konvensional.
Jeff Shi, presiden SenseTime untuk Asia Pasifik, menyebut pasar Asia Tenggara “besar dan didominasi populasi muda” jika dibanding kawasan lain seperti Asia Timur Laut, yang pasarnya lebih kecil dan dikuasai korporasi mapan seperti Sony dan Honda.
“Kami melihat pertumbuhan yang lebih cepat dan berinvestasi lebih banyak, dengan lebih dari separuh dari sekitar 200 pelanggan korporasi kami di Asia berbasis di Asia Tenggara. Singapura, khususnya, menjadi etalase bagi kawasan ini,” kata Shi kepada CNA.
Choong Hon Keat, manajer Alibaba Cloud Intelligence untuk Singapura, mengatakan perusahaannya juga memandang Asia Tenggara sebagai pasar utama, didorong oleh “permintaan yang terus meningkat dari pelanggan lokal”.
Ia juga menambahkan bahwa tenaga kerja terampil adalah “pondasi” transformasi digital yang sukses. “Kami teguh berkomitmen untuk berinvestasi dalam pengembangan talenta digital (di kawasan ini),” kata Choong kepada CNA.
Di seluruh kawasan, Alibaba Cloud membangun kemitraan akademis. Di Singapura, perusahaan ini bekerja sama dengan Nanyang Technological University untuk mendirikan Alibaba-NTU Global e-Sustainability CorpLab, yang bertujuan mengembangkan teknologi ramah lingkungan dan mendorong gaya hidup berkelanjutan.
Sementara itu di Filipina, perusahaan ini bermitra dengan De La Salle University untuk melatih mahasiswa di bidang teknologi AI canggih dan komputasi awan.
MEMBANGUN INFRASTRUKTUR, SEKALIGUS KEPERCAYAAN
Meski perusahaan teknologi China berupaya memperluas pijakan di Asia Tenggara, para pengamat memperingatkan adanya hambatan yang menanti.
Banyak pemerintah dan perusahaan besar di Asia Tenggara masih lebih akrab dan terintegrasi erat dengan ekosistem teknologi Barat.
Laporan tahun 2023 dari Center for Strategic and International Studies mencatat bahwa raksasa komputasi awan AS seperti Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud mempertahankan dominasi di kawasan ini.
Di saat yang sama, laporan tersebut menemukan bahwa perusahaan komputasi awan AS menghadapi persaingan yang semakin ketat dari rival China, meski tanpa menyebutkan angka pangsa pasar spesifik.
Integrasi yang sudah berlangsung lama ini — terutama di sektor pemerintahan, perbankan, dan industri dengan pengaturan yang ketat — membuat sebagian besar lembaga negara dan perusahaan besar menerapkan strategi hibrida atau multi-cloud, yang memadukan infrastruktur Barat dan China untuk menyeimbangkan kinerja dengan keamanan serta kepatuhan regulasi.
Jia dari Shanghai Jiao Tong University mengatakan bahwa penyesuaian terhadap beragam kerangka regulasi AI di kawasan menjadi tantangan besar bagi perusahaan teknologi China.
Keragaman aturan ini membuat pembangunan kepercayaan sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur, ujar para pengamat.
“Saat ini, saya kira kesalahpahaman dan ketidakpercayaan adalah hambatan terbesar bagi kerja sama di masa depan atau bagi perusahaan teknologi China yang ingin masuk ke pasar Asia Tenggara,” kata Jia.
Beberapa perusahaan di kawasan mungkin masih ragu mengadopsi layanan komputasi awan atau AI buatan China, kata Wang dari The Futurum Group.
Kekhawatiran ini umumnya terkait privasi data, kepatuhan terhadap regulasi, dan potensi tekanan geopolitik, khususnya ketika pemerintah semakin sensitif terhadap isu kedaulatan digital dan pengaruh asing.
Wang juga mengatakan, perusahaan teknologi China juga harus cermat menyeimbangkan standar operasional mereka dengan mitra lokal.
Situasi tarik menarik antara kepentingan nasional dan kerja sama global ini juga disadari oleh Beijing, yang kian membingkai AI sebagai upaya bersama, bukan perlombaan yang hanya menguntungkan salah satu pihak.
“AI harus bergerak menuju inklusivitas dan manfaat bersama. AI seharusnya menjadi barang publik untuk kesejahteraan seluruh umat manusia,” kata Perdana Menteri China Li Qiang saat membuka World AI Conference di Shanghai pada 26 Juli.
Ia menambahkan, jika dunia justru mengejar “monopoli teknologi, memberlakukan pembatasan, dan membangun penghalang, AI akan menjadi permainan eksklusif bagi segelintir pihak yang beruntung saja.”
Ekosistem AI yang terbuka akan mendorong keberagaman dan keterlibatan banyak pihak, memberikan “arena setara” bagi semua, bukan dominasi terpusat, ujar Jia dari Shanghai Jiao Tong University.
Ia menambahkan, efektivitas model kolaborasi ini akan menjadi penentu apakah Asia Tenggara akan menjadi sekadar tempat uji coba atau benar-benar pembentuk generasi berikutnya dari model AI China.
“Jika ini barang milik publik, maka tidak ada pemimpin — hanya para pemangku kepentingan,” kata Jia, menggambarkan masa depan AI sebagai upaya bersama multilateral, bukan ajang perebutan supremasi.
Para eksekutif perusahaan teknologi China mengakui adanya sensitivitas ini dan menyatakan mereka berupaya membangun kepercayaan dengan fokus pada kemitraan jangka panjang, transparansi, dan keuntungan bersama.
Wu dari Tencent Cloud mengatakan para mitra membantu menyesuaikan alur kerja, manajemen pengetahuan, dan penerapan sesuai industri masing-masing.
“Meskipun produk kami andal, kebutuhan setiap pelanggan berbeda-beda,” ujarnya.
“Setelah diterapkan, hak kekayaan intelektual dan pengetahuan tetap menjadi milik klien yang telah membantu membangun kepercayaan dan nilai jangka panjang.”
Choong dari Alibaba Cloud Intelligence mengatakan perusahaannya beroperasi dengan prinsip keterbukaan dan kepercayaan.
Ia mencontohkan Qwen3 — model AI pemrograman open-source tercanggih milik perusahaannya — yang tersedia untuk publik, dengan tujuan membangun “komunitas inovasi global”.
“Kami percaya keterbukaan dapat mendemokratisasi pengembangan AI, mendorong lebih banyak inovasi AI di dunia usaha dan masyarakat luas, serta pada akhirnya memberi manfaat bagi konsumen melalui aplikasi AI baru yang menarik.”
Shi dari SenseTime menyatakan bahwa strategi tetap perusahaannya difokuskan pada mendukung keberhasilan para mitra.
“Kami memahami tantangan sekaligus manfaat adopsi AI lebih awal, sehingga kami membaginya dengan para mitra, dan kami ingin berbagi dengan lebih banyak mitra di Asia Tenggara,” ujarnya.
“Saya rasa pelanggan senang ketika mengetahui bahwa kami berupaya keras mematuhi norma internasional — bukan sekadar menjadi perusahaan yang hanya berfokus pada China, melainkan perusahaan yang benar-benar berupaya menjadi internasional.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.