Indonesia melirik jet tempur J-10 milik China. Mengapa para pakar memperingatkan untuk hati-hati?
China menawarkan menjual jet tempur J-10 mereka ke Indonesia. Jika tawaran diterima, Indonesia akan menjadi negara kedua yang mengoperasikannya setelah Pakistan. Namun para pakar mengimbau Indonesia berpikir masak-masak sebelum menerima tawaran ini.
Jet tempur J-10 China dari Tim Aerobatik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China tampil dalam sebuah demonstrasi di Pangkalan Angkatan Udara provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand pada 24 November 2015. (Foto file: Reuters/Athit Perawongmetha)
JAKARTA: Indonesia berpeluang menjadi negara satu-satunya selain China dan Pakistan yang mengoperasikan jet tempur J-10 jika tawaran penjualan dari pemerintah Beijing diterima. Namun menurut para pakar, Indonesia harus memikirkannya masak-masak.
Pakar mengatakan pembelian jet tempur China bisa merusak netralitas dan kredibilitas Indonesia terkait isu sengketa Laut China Selatan, memicu perlombaan senjata di kawasan dan mengancam kesiapan operasional angkatan udara. Salah satu pakar bahkan mengatakan, penjualan ini lebih menguntungkan target strategis jangka panjang China ketimbang kepentingan nasional Indonesia sendiri.
Awal bulan ini, media mengutip Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto yang mengatakan bahwa China menawarkan menjual jet tempur J-10 kepada Indonesia.
Penawaran pemerintah Beijing itu disampaikan saat para petinggi Angkatan Udara Indonesia berkunjung ke China.
Ketertarikan membeli jet tempur China semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa J-10 yang diterbangkan Pakistan berhasil menembak jatuh beberapa jet India bulan lalu, termasuk di antaranya Rafale buatan Prancis yang baru saja dibeli.
Pada 30 Mei lalu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan bahwa Indonesia akan mengirim beberapa pilot TNI AU ke China untuk menjalani pelatihan jet tempur J-10 dan mengunjungi fasilitas produksi di Chengdu.
Harga mungkin menjadi daya tarik terbesar mengapa Indonesia melirik J-10, terutama karena negara ini tengah melakukan penghematan untuk membiayai berbagai program ambisius Presiden Prabowo Subianto seperti makan bergizi gratis atau rumah murah bagi jutaan orang.
Namun pengamat mengatakan, kerugian dari pembelian J-10 mungkin bisa jadi melampaui keuntungan yang diperoleh. Pasalnya, kedekatan militer Indonesia dengan China akan memicu reaksi beragam dari dalam dan luar negeri.
"Indonesia benar-benar harus berhati-hati dan mendasarkan keputusannya bukan karena keuntungan jangka pendek, tetapi juga melihat bagaimana keputusan ini akan berdampak pada kepentingan keamanan jangka panjang," kata Khairul Fahmi, pengamat dari lembaga Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) kepada CNA.
China telah beberapa kali menawarkan jet tempur mereka kepada Indonesia. Tawaran terakhir disampaikan China ketika Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono dan beberapa pejabat tinggi kemiliteran lainnya mengunjungi Pameran Penerbangan & Kedirgantaraan Internasional China di Zhuhai pada November tahun lalu.
"Di dalam air show, (pejabat Indonesia) melihat pesawat itu (J-10), dan termasuk ditawarkan pesawat itu," kata Donny kepada wartawan pada 4 Juni lalu, dikutip dari CNN Indonesia. "Ini pesawat bagus, memenuhi kriteria yang kita tetapkan, apalagi harganya murah, kenapa tidak?".
Namun menurut pengamat, membeli jet tempur dari Beijing akan berdampak pada hubungan Indonesia dengan mitra pertahanan lainnya yang kebanyakan memandang China sebagai ancaman bagi keamanan dan stabilitas mereka.
Di dalam negeri sendiri, perambahan ke zona ekonomi eksklusif Indonesia di Laut China Selatan telah memicu sentimen anti-China.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah berupaya memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) yang telah usang sekaligus mendiversifikasi pemasok alutsistanya. Pada 2022, Indonesia telah membeli 42 jet tempur Rafale senilai US$8.1 miliar (Rp133,9 triliun). Enam jet buatan Prancis ini dijadwalkan dikirim tahun depan.
Dengan harga hingga US$120 juta (Rp1,9 triliun) untuk model paling dasar, Rafale menjadi salah satu jet tempur paling mahal di dunia. Sementara J-10, yang dianggap sebagai jet tempur generasi 4.5 seperti Rafale hanya dibanderol sekitar US$40 juta (Rp652 miliar) per unitnya.
Harga kedua jet itu bisa lebih mahal lagi tergantung opsi tambahan yang disertakan dalam pembelian, seperti pelatihan atau paket infrastruktur.
Generasi jet tempur diklasifikasikan tergantung dari kemampuan, kinerja dan tahun pembuatannya. Saat ini, jet tempur generasi kelima adalah yang berteknologi paling canggih.
Indonesia kini memiliki total 110 jet tempur yang dibeli dari berbagai negara, seperti F-16 dari Amerika Serikat, Su-27 dari Russia, EMB-314 Super Tucano dari Brasil dan BAE Hawk 200 dari Inggris.
"Indonesia mencoba mendiversifikasi armada mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara atau blok tertentu," kata Beni Sukadis dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) kepada CNA.
Indonesia juga telah menyepakati pembelian 48 jet tempur KAAN milik buatan Turkish Aerospace Industries (TAI), diumumkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di akun X miliknya pada 11 Juni lalu.
Pembelian itu dilaporkan mencapai lebih dari Rp162 triliun dan pengiriman akan dilakukan dalam waktu 10 tahun. Kesepakatan juga mencakup produksi bersama beberapa komponen jet tempur KAAN di Indonesia.
Diluncurkan tahun lalu, KAAN termasuk dalam kategori jet tempur generasi kelima.
DAMPAK PEMBELIAN JET TEMPUR CHINA
Sejauh ini pemerintah Indonesia masih bungkam soal rencana pembelian J-10, termasuk apakah mereka berencana membeli J-10C yang lebih baru atau J-10A yang akan dipensiunkan oleh Tentara Pembebasan Rakyat China.
Jet tempur J-10 memiliki tiga model utama: J10A, B dan C. Model A adalah yang paling tua dan paling mendasar, sementara model C adalah yang terbaru dan paling canggih.
Semua model memiliki kecepatan terbang maksimal Mach 1.8 dan jangkauan terbang hingga 1.850km. Namun model terbaru memiliki radar yang lebih mumpuni, kemampuan terbang siluman yang lebih baik dan berbagai peningkatan lainnya.
Jet tempur yang digunakan dalam pertempuran Pakistan-India adalah model J-10C.
Mach merupakan satuan kecepatan yang menunjukkan seberapa cepat suatu objek bergerak dibandingkan dengan kecepatan suara.
Bagi beberapa pakar, belum adanya informasi soal pembelian menandakan bahwa Indonesia masih belum yakin soal kemampuan J-10 dan meragukan keberhasilan jet itu dalam pertempuran jarak dekat baru-baru ini.
"Ada beberapa faktor di balik kemenangan di pertempuran: Teknologi, strategi, kemampuan pilot. Jadi ini bukan hanya soal jet tempur yang digunakan," kata Khairul. "Indonesia tidak pernah membeli alutsista sebagai impulsif."
Menurut pengamat, penentu pembelian bisa jadi tergantung dari seberapa cepat dan baik pilot serta kru darat Indonesia dalam menguasai teknologi jet tempur China.
"Prancis dan Amerika Serikat adalah negara-negara NATO. Perangkat militer mereka mengikuti standar NATO, dan yang terpenting interoperabel," kata Beni.
Interoperabilitas menunjukkan seberapa baik perangkat dari suatu negara atau perusahaan dapat bekerja sama dengan sistem lain — hal yang penting di bidang kesehatan, keamanan, dan pertahanan
"Interoperabilitas juga berarti bahwa pilot atau teknisi yang sudah akrab dengan jet Amerika tidak akan kesulitan mengakrabkan diri dengan jet buatan Prancis atau Inggris," lanjut Beni.
"Dengan membeli J-10, artinya kita harus mengirim pilot dan teknisi untuk pelatihan, suku cadang harus didatangkan dari China dan J-10 kemungkinan tidak akan cocok dengan sistem komunikasi atau radar buatan negara NATO."
Faktor keamanan juga hal lain yang harus dipertimbangkan, terutama karena beberapa negara mencurigai China akan menggunakan teknologi mereka untuk melancarkan serangan siber atau jadi alat intelijen.
"(Indonesia) mungkin punya kedekatan secara ekonomi dengan China, tapi kita belum punya hubungan militer yang kuat dengan China," kata pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, kepada CNA.
“Sejauh mana kita bisa percaya bahwa China tidak akan menggunakan teknologi canggih ini untuk memata-matai kita?” tanya Teuku. “Bisakah kita percaya jika J-10 harus diturunkan, misalnya, ke Natuna?”
Teuku merujuk pada kepulauan di Provinsi Kepulauan Riau yang berbatasan dengan Laut China Selatan.
China mengklaim hampir seluruh bagian Laut China Selatan, berujung pada sengketa dan memicu konflik dengan beberapa negara Asia Tenggara. Walau Indonesia bukanlah negara pengklaim dalam sengketa tersebut, namun "sembilan garis putus" China telah mencaplok zona ekonomi eksklusif Indonesia.
ANCAMAN BAGI STABILITAS REGIONAL
Selama lebih dari satu dekade, Indonesia telah mendorong ASEAN merumuskan kode etik di Laut China Selatan. Namun, perbedaan sikap yang mencolok antara negara-negara yang memiliki hubungan militer erat dengan China, seperti Kamboja dan Laos, dan negara-negara yang tidak, seperti Vietnam dan Filipina, membuat konsensus mustahil tercapai.
“Pembentukan hubungan militer yang erat antara Indonesia dan China akan menimbulkan pertanyaan mengenai netralitas dan kredibilitas Indonesia dalam isu Laut China Selatan maupun sengketa lain yang melibatkan China,” kata Teuku.
Teuku tersebut juga mengingatkan akan kemungkinan terjadinya perlombaan senjata di kawasan.
Sejak Indonesia membeli jet tempur generasi 4.5 Rafale, Thailand langsung mengumumkan rencana membeli 12 unit JAS-39E Gripen dari Saab, Swedia, dalam sepuluh tahun ke depan. Sementara Filipina kemudian menandatangani kontrak untuk membeli 12 FA-50 Golden Eagle dari Korea Aerospace Industries.
Seperti Rafale, Gripen juga merupakan jet tempur generasi 4.5 sementara FA-50 adalah generasi 4 yang setara dengan F-16 milik AS.
Indonesia saat ini juga tengah berencana membeli 24 jet tempur F-15EX generasi 4.5 dari AS.
Kesepakatan membeli KAAN dari Turki menjadikan Indonesia negara kedua di ASEAN yang memiliki jet tempur secanggih itu.
Singapura tahun lalu mengumumkan membeli delapan jet tempur F-35A sebagai tambahan dari rencana pembelian 12 jet F-35B sebelumnya. AS membatasi penjualan F-35 hanya kepada beberapa negara tertentu saja, sementara F-22 tidak diizinkan dijual ke luar negeri.
Indonesia, Thailand, dan Malaysia telah beberapa kali ditolak ketika ingin membeli F-35.
Pembelian J-10, menurut para pakar, akan membuka peluang bagi China untuk menjual jet tempur generasi kelima milik mereka ke Indonesia. Saat ini, China memiliki dua jet tempur generasi kelima, yaitu Chengdu J-20 dan Shenyang J-35.
“Hal ini tentu akan mendorong negara-negara ASEAN lainnya untuk mencari jet tempur generasi kelima juga,” kata Teuku.
KESEPAKATAN MENGGIURKAN
Dengan harganya yang lebih murah, jet J-10 secara teori akan dilirik negara-negara yang mencari alternatif lebih terjangkau dari pesawat tempur Barat atau Rusia. Namun meski sudah mengudara sejak 2003, J-10 hanya beroperasi di dua negara: China dan Pakistan. Pakistan sendiri baru menerima jet pertama mereka pada 2022.
Menurut para pakar, hal ini disebabkan oleh pertimbangan keamanan dan diplomatik dari berbagai negara.
Meski tersiar kabar soal kesuksesan J-10 dalam pertempuran Pakistan-India, namun hanya beberapa negara saja seperti Mesir dan Kolombia yang kemudian tertarik membeli jet tempur China ini.
Pakar mengatakan, pembelian oleh Indonesia akan mengubah pandangan tentang J-10. Pasalnya Indonesia adalah negara berpopulasi terbesar keempat dunia dan memiliki hubungan diplomatik yang kuat dengan negara-negara maju di seluruh dunia.
"Seperti halnya citra China yang terdongkrak oleh proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, pembelian J-10 oleh Indonesia akan dengan cepat meningkatkan citra China sebagai manufaktur sektor pertahanan global," kata Teuku.
Pada 2023, Indonesia meluncurkan kereta cepat pertama di Asia Tenggara, Whoosh, yang merupakan hasil kerja sama antara perusahaan Indonesia dan China yang sebagian besar dibiayai oleh pinjaman dari China Development Bank.
Menyusul kesuksesan Whoosh, beberapa negara termasuk Vietnam dan Pakistan telah menyatakan ketertarikan mengadopsi teknologi kereta cepat yang sama buatan China.
Untuk menarik minat Indonesia, para pakar mengatakan China akan memberikan kesepakatan yang menggiurkan seperti janji untuk membeli lebih banyak lagi produk Indonesia, sebuah tawaran yang menarik di tengah perang tarif yang dipicu Presiden AS Donald Trump.
China juga bisa jadi akan menawarkan perakitan atau produksi bersama J-10 seperti halnya dengan Pakistan, atau menjanjikan investasi di beberapa sektor.
"Prabowo sadar bahwa Indonesia perlu investasi dari China yang akan mendorong dia melakukan pembelian," kata pakar pertahanan, Beni.
Beni juga menyoroti bahwa dalam kampanyenya tahun lalu, Prabowo berjanji menciptakan 19 juta lapangan kerja dan menumbuhkan perekonomian sebesar delapan persen per tahun selama periode pertamanya.
Investasi China juga berperan penting dalam ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik.
Pada 2024, investasi China di Indonesia mencapai US$8,1 miliar. Pada kuartal pertama 2025, China menyuntikkan tambahan dana sebesar US$1,8 miliar ke Indonesia.
Para ahli mengatakan keputusan akhir akan bergantung pada apa saja yang bisa ditawarkan China, dan sejauh mana pemerintah Indonesia bersedia mengambil risikonya.
“Indonesia pada akhirnya mungkin hanya membeli J-10 dalam jumlah kecil sebagai simbol menjaga hubungan baik, atau bisa juga dengan sopan menolak dan tetap melakukan jalur pengadaan yang sudah ditentukan,” kata Khairul dari ISESS.
“Waktu yang akan menjawabnya.”
Laporan tambahan oleh Poh Kia Jin.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.