'Apakah aku terlalu berharap?': Kenyataan pahit mengadang jutaan sarjana muda pencari kerja di China
Musim panas ini di China jumlah sarjana baru yang memasuki pasar kerja akan mencapai rekor tertinggi, 12,2 juta. Namun bagi kebanyakan dari mereka, masa depan masih suram.
Lulusan angkatan 2025 Universitas Tsinghua melemparkan topi mereka dalam wisuda di Beijing. (Foto: IG/tsinghua_uni)
SHENZHEN: "Awalnya saya percaya diri, tapi sekarang jadi mati rasa."
Ou Mouli adalah sarjana muda berusia 23 tahun asal Chongqing yang mencari kerja di Shenzen. Bagi dia, Juli bukan hanya masa wisuda, tetapi juga bulan keempat berturut-turut dia berusaha mencari kerja.
Ou, sarjana bidang keuangan dan perdagangan internasional dari Universitas Henan, punya keinginan yang spesifik: gaji bulanan sekitar 5.000 yuan (Rp11,3 juta), libur akhir pekan untuk istirahat, serta tunjangan seperti jaminan sosial yang memadai.
Sejak Maret lalu, ia telah mengirimkan lebih dari 100 lamaran kerja, baik secara daring maupun secara langsung di bursa kerja.
Beberapa perusahaan memang merespons lamarannya, kata Ou, tapi lowongan yang tersedia hanyalah mengajar atau tenaga penjualan, posisi-posisi yang tidak diminatinya. Selain itu, dia juga tidak bisa menerima pekerjaan yang mengharuskan segera masuk, pasalnya dia masih harus merampungkan skripsi.
"Posisi di bagian administrasi, personalia atau pemasaran semuanya memerlukan pengalaman," kata dia, seraya menambahkan bahwa syarat pengalaman sulit dipenuhinya karena dia belum pernah bekerja.
TIDAK COCOK ANTARA CITA-CITA DAN KENYATAAN
Jutaan mahasiswa di China melemparkan topi wisuda ke udara saat upacara kelulusan digelar dari akhir Juni hingga awal Juli, sebuah aksi simbolis bahwa mereka siap menghadapi kehidupan selanjutnya.
Tahun ini, sebanyak 12,2 juta lulusan baru diperkirakan akan memasuki pasar kerja China, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Di atas kertas, peluangnya tampak menjanjikan. Lima sektor di China saja dilaporkan membutuhkan lebih dari 12 juta pekerja pada tahun ini, yaitu bidang pembangkit listrik tenaga angin dan surya, drone, kecerdasan buatan (AI), kendaraan energi baru, dan biofarmasi.
Belum lagi ditambah dengan sektor manufaktur China yang dilaporkan kekurangan hampir 30 juta pekerja tahun ini.
Sejak dimulainya Rencana Lima Tahun ke-14 China, lebih dari 12 juta pekerjaan baru di perkotaan telah ditambahkan setiap tahunnya, ujar Zhou Haibing, Wakil Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok dalam konferensi pers pada 9 Juli lalu.
Pejabat pemerintah meyakini bahwa angkatan lulusan tahun ini akan memberikan suntikan talenta yang sangat dibutuhkan, namun kenyataan di lapangan sangat berbeda. Para ahli mengatakan, banyak posisi yang tetap kosong dan lulusan baru masih menganggur.
“Ketidaksesuaian antara pekerjaan yang tersedia dan keterampilan atau aspirasi anak muda semakin nyata,” kata Zhao Litao, peneliti senior di East Asian Institute, National University of Singapore, seraya mengatakan bahwa banyak lowongan berada di sektor-sektor yang tidak menarik bagi sebagian besar lulusan.
“Jadi, meskipun pekerjaan itu ada, kebanyakan bukan jenis pekerjaan yang diinginkan atau mampu dilakukan oleh anak muda karena keterampilan pribadi dan status sosial mereka,” tambahnya.
Beberapa pengamat juga mencatat bahwa industri padat karya seperti konstruksi, manufaktur, dan logistik menawarkan pekerjaan yang stabil namun tetap tidak diminati anak-anak muda China.
Li Fei, pembimbing doktoral di Institute for Science, Technology and Education Policy, Universitas Zhejiang, menyebut hal ini sebagai akibat dari “pergeseran pola pikir” di kalangan lulusan dan pencari kerja muda China.
“Banyak yang lebih memilih posisi di sektor-sektor baru atau pekerjaan di kota besar yang terasa lebih modern atau bernilai sosial meskipun persaingannya lebih ketat,” ujarnya.
Sebagian besar lulusan muda Tiongkok juga cenderung menghindari pekerjaan di pabrik, kata Zhao.
“Mereka mencari stabilitas, gaji yang layak, dan keseimbangan hidup yang lebih baik, tetapi mereka juga dihadapkan pada kenyataan pahit: pertumbuhan ekonomi melambat, bisnis kesulitan, perubahan teknologi yang cepat, dan pasar kerja yang paling cepat berkembang justru di sektor jasa berkeahlian rendah dengan tingkat perputaran karyawan yang tinggi.”
Bahkan para lulusan baru di China masih sulit mencari pekerjaan di sektor-sektor yang menjanjikan masa depan, mulai dari AI hingga energi bersih.
Cai Bao, seorang lulusan ilmu komputer, mengira gelarnya akan sangat dibutuhkan, tetapi kemudian dia menyadari fakta bahwa sebagian besar yang dipelajari tidak sesuai dengan apa yang dicari perusahaan.
Cai telah mengirim hampir 1.000 lamaran kerja dan terus menindaklanjutinya dengan pihak HR berbagai perusahaan. Menurut dia, lamaran yang dikirim melalui portal pencari kerja dan situs perusahaan jarang mendapat respons.
“Kami belajar coding, keamanan siber, sistem tertanam – semuanya dari slide yang sudah usang,” katanya, berseloroh bahwa jika keterampilan itu ditulis di CV, akan langsung menunjukkan betapa ketinggalannya mereka: “HR bisa langsung melewatimu.”
Ketidaksesuaian yang mendasar terus ada antara apa yang diajarkan sekolah dan apa yang dibutuhkan industri.
Cai juga membagikan pengalamannya menghadapi diskriminasi. Berasal dari universitas yang tidak ternama, katanya, sering kali membuat peluang tertutup.
“Ada wawancara, tapi hampir tidak ada peluang diterima,” katanya.
TERJEBAK DI GARIS START
Pada Mei lalu, hampir 15 persen pemuda China usia 16 hingga 24 tahun, dan sekitar 7 persen yang berusia 25 hingga 29 tahun menganggur. Angka ini menandai penurunan selama tiga bulan berturut-turut, namun tetap jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Ini menunjukkan bahwa pasar kerja China masih berada di bawah tekanan berat menjelang musim kelulusan musim panas tahun ini.
Bagi Xu Yiling, 22, yang lulus Mei lalu dengan gelar di bidang ekonomi terapan dari Chinese University of Hong Kong, Shenzhen (CUHK-SZ), dilema yang dihadapi bukanlah soal mendapatkan pekerjaan, melainkan apakah akan bekerja.
Hanya 15 persen dari lulusan 2025 yang berencana langsung memasuki dunia kerja, menurut data CUHK-SZ.
Alih-alih menghadapi pasar kerja yang sangat kompetitif, banyak rekan-rekan Xu memilih melanjutkan studi di universitas luar negeri ternama.
"Kalau saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang memuaskan, saya pasti akan melanjutkan studi," ujarnya kepada CNA.
Selama bertahun-tahun, ia memfokuskan waktu dan energinya untuk menyempurnakan CV, meneliti perusahaan, dan mempersiapkan wawancara yang kadang menghabiskan hingga 15 jam per minggu.
Ia juga mendapatkan pengalaman magang di Tencent, perusahaan konsultan AS, dan sebuah proyek nirlaba.
Xu mengirimkan total 80 lamaran dan menerima tiga tawaran pekerjaan – ia menerima posisi manajer perencanaan strategis di Vivo, perusahaan teknologi pintar China yang berkantor pusat di Dongguan dan mendesain serta mengembangkan smartphone, aksesori, dan perangkat lunak.
"Rasanya semuanya mengalir dengan alami, seolah memang sudah seharusnya begitu," katanya.
Dia menyadari bahwa dirinya termasuk sedikit orang yang beruntung. Banyak temannya yang masih kesulitan mendapat pekerjaan.
Zhou Yun, asisten profesor sosiologi dan studi Tiongkok di University of Michigan mencatat bahwa sebagian pemuda China menunda pencarian kerja dan memilih menjajaki alternatif lain.
Namun mengambil waktu jeda bukanlah kemewahan yang bisa dinikmati semua orang. Bagi mereka yang tidak memiliki dukungan finansial atau opsi cadangan, menunggu bukanlah pilihan.
“Bagi anak muda tanpa jaring pengaman sosial dan keluarga yang kuat, ketidakpastian akibat menganggur dan setengah menganggur akan semakin parah,” kata Zhou.
Melanjutkan kuliah mungkin bisa memberikan perasaan lega sementara, tapi akan memperburuk situasi untuk jangka panjang.
“Kami melihat ketimpangan di mana talenta yang sangat terdidik justru berakhir di pekerjaan berkeahlian rendah,” kata Chen Jie, profesor dan Dekan Asosiasi Studi Pascasarjana dan Penelitian di Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial CUHK-SZ.
“Lama-kelamaan, ini dapat meredam inovasi dan memicu kecemasan, dengan tren seperti 'rebahan’ dan 'involusi’ yang berdampak pada stabilitas dan mobilitas sosial,” tambahnya.
MERANTAU DEMI BEKERJA
Lokasi juga menjadi pertimbangan utama bagi banyak lulusan di China, kata para ahli.
Kota-kota tingkat satu seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen memberikan banyak peluang kerja sehingga dipadati para pelamar. Tetapi di wilayah China tengah dan barat kondisinya jauh berbeda.
Perusahaan teknologi raksasa yang berbasis di Shenzhen, Tencent, melakukan rekrutmen terbesar sepanjang sejarah dengan membuka 28.000 posisi magang selama tiga tahun.
Untuk 2025 saja, 10.000 posisi akan ditawarkan, dengan lebih dari 60 persen di bidang teknis seperti AI, komputasi awan, dan konten digital, kata perusahaan tersebut.
Para pencari kerja juga mulai melirik pekerjaan di Kawasan Greater Bay Area (GBA) China, proyek megalopolis dengan pertumbuhan tinggi yang mencakup sembilan kota di Cina selatan, serta Hong Kong dan Makau.
Dengan PDB gabungan sebesar lebih dari 14 triliun yuan pada 2023 — sekitar sepersembilan dari total PDB China — GBA telah habis-habisan menarik lulusan dan pencari kerja muda dari seluruh negeri.
Sepanjang tahun ini, berbagai bursa kerja diadakan di seluruh Provinsi Guangdong sebagai bagian dari inisiatif “Satu Juta Talenta untuk Guangdong” di 20 sektor kunci dari AI, robotika, hingga manufaktur canggih.
Tunjangan menarik seperti subsidi pegawai antara 5.000 hingga 10.000 yuan diberikan bagi mereka yang bekerja di kota-kota GBA tertentu selama setidaknya enam bulan.
Tunjangan perumahan menjadi daya tarik utama lainnya, dengan akomodasi gratis hingga 30 hari ditawarkan bagi pencari kerja yang pindah dari luar ke kota-kota tersebut.
“Subsidi terdengar bagus secara teori dan pemerintah lokal yang lebih kaya bisa menggunakannya untuk menarik lulusan, memberi mereka keunggulan dibandingkan wilayah yang dililit utang,” kata Zhao, yang juga mencatat bahwa hanya sedikit daerah yang mampu menggunakan pendekatan seperti itu.
“Beberapa ribu yuan atau keringanan sewa jangka pendek tidak akan menyelesaikan masalah yang lebih mendalam,” katanya.
“Memang tidak cukup pekerjaan berkualitas.”
Para ahli lainnya setuju bahwa insentif jangka pendek saja tidak cukup untuk mengatasi skala dan kompleksitas krisis pengangguran pemuda dan lulusan di China.
Untuk saat ini, banyak lulusan baru di China masih berada dalam ketidakpastian.
Ou terus menolak pekerjaan dengan jam kerja enam hari seminggu, lembur tanpa dibayar, atau bekerja hingga lewat pukul 11 malam.
Setiap hari dia masih mengecek situs lowongan pekerjaan, berharap menemukan yang cocok.
“Apakah aku terlalu berharap, makanya aku belum dapat pekerjaan?”
Kini, dia telah menurunkan standar dan ekspektasinya.
“Sekarang… (mungkin) aku akan terima pekerjaan di bidang penjualan,” katanya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.