Bos Nvidia: AS dan China bisa bekerja sama sekaligus bersaing dalam AI
Dalam wawancara luas bersama Victoria Jen dari CNA, Huang juga berbicara tentang kemitraan di Taiwan dan persaingan antara Amerika Serikat dan China.
CEO Nvidia Jensen Huang berbicara kepada CNA di Taiwan, 25 Mei 2026.
Tidak bijak jika terdapat dua ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang berbeda dan terpisah antara Amerika Serikat dan China, kata CEO Nvidia Jensen Huang pada Senin (25/5).
Dalam wawancara bersama Victoria Jen dari CNA, Huang menyampaikan, China dan Amerika Serikat seharusnya bekerja sama, bukan hanya bersaing dalam AI. Menurut Huang, kedua hal tersebut dapat dilakukan sekaligus.
Ia menyoroti bahwa AI memiliki “potensi luar biasa untuk kebaikan”, tetapi juga dapat digunakan dengan cara yang membawa dampak buruk.
“Semakin banyak para pemimpin bekerja sama untuk memajukan teknologi ini secara harmonis dan demi kebaikan bersama, maka masa depan akan menjadi lebih baik,” kata Huang.
“Saya bekerja dengan begitu banyak pesaing saat ini. Mereka adalah pesaing saya, tetapi di satu sisi kami bersaing, dan di sisi lain kami juga bekerja sama dengan sangat baik.
“Karena kami menginginkan yang terbaik bagi industri, yang terbaik bagi pasar, dan yang terbaik bagi masyarakat, maka kerja sama memastikan kemajuan yang harmonis.”
KEMITRAAN DI TAIWAN
Huang lahir di Taiwan sebelum bermigrasi ke Amerika Serikat saat berusia sembilan tahun.
Ia mendirikan Nvidia yang berbasis di California bersama rekan-rekannya pada 1993. Tahun lalu, Nvidia menjadi perusahaan pertama yang menembus valuasi pasar US$5 triliun, melanjutkan pertumbuhan pesat yang menempatkannya di pusat revolusi AI global.
Huang mengatakan, tidak ada wilayah yang lebih siap menghadapi pertumbuhan AI dibanding Taiwan.
“Taiwan memiliki huruf AI di dalam namanya, jadi AI berada di pusat Taiwan. Perusahaan-perusahaan di pulau ini luar biasa, seperti yang Anda tahu. Mereka berada di pusat kemungkinan AI, pertumbuhan AI, dan kemajuan AI,” tuturnya.
Dalam wawancara dengan CNA, Huang juga memuji Morris Chang, pendiri Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), kontraktor produsen cip terbesar di dunia.
“Tanpa TSMC dan Morris, Nvidia tidak akan berada di sini hari ini. Dukungan, persahabatan, dan risiko yang mereka ambil pada masa-masa awal ketika kami masih sangat kecil sangat berarti,” kata Huang.
“Seluruh perjalanan dan sejarah kami sangat saling terkait.”
Awal tahun ini, media Taiwan melaporkan Nvidia telah menandatangani kesepakatan dengan otoritas Kota Taipei untuk membangun kantor pusat Nvidia Taiwan di Beitou-Shilin Technology Park.
“Kemitraan yang kami miliki di Taiwan, bagaimana mereka membantu saya tumbuh dan mendukung pertumbuhan kami, sungguh luar biasa. Namun yang paling penting adalah investasi pada manusia. Kami memiliki fasilitas yang sangat besar di sini, dan segera akan memiliki fasilitas yang jauh lebih besar,” kata Huang.
Ia diperkirakan akan mengungkap lebih banyak detail mengenai rencana tersebut dalam sebuah acara pada Rabu ini, seiring Nvidia memperdalam investasinya di Taiwan.
“Nvidia saat ini menghabiskan ratusan miliar dolar untuk infrastruktur AI, dan sebagian besar pengeluaran kami ada di Taiwan,” kata Huang.
“Kami tentu juga berinvestasi pada perusahaan-perusahaan di sini. Kami mendukung mereka melalui pembayaran di muka, investasi modal, dan komitmen pembelian kami.
“Dan bentuk investasi favorit saya tetaplah manusia. Merekrut banyak insinyur di sini dan memiliki banyak karyawan hebat di Taiwan.”
NVIDIA TIDAK MUNDUR DARI CHINA
Laporan Reuters awal bulan ini menyebut, pemerintah AS telah memberikan izin kepada sekitar 10 perusahaan China untuk membeli cip AI kedua terkuat Nvidia, H200, tetapi sejauh ini belum ada pengiriman yang dilakukan.
Menurut sumber yang tak ingin disebutkan namanya, Departemen Perdagangan AS telah menyetujui sekitar 10 perusahaan China, termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com, untuk membeli cip H200 Nvidia.
Sejumlah distributor, termasuk Lenovo dan Foxconn, juga telah mendapat persetujuan, kata sumber tersebut.
Ketika ditanya apakah China pada akhirnya dapat menjadi rival terbesar Nvidia, Huang mengatakan China akan menjadi “rival terbesar bagi semua orang”.
“Mereka memiliki pasar domestik yang luar biasa besar dan seragam,” kata Huang, yang merupakan bagian dari rombongan eksekutif yang mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke China awal bulan ini.
“Sama seperti Amerika Serikat — setiap negara bagian berbicara dalam bahasa Inggris. Di China, setiap provinsi berbicara bahasa China. Itu merupakan keuntungan besar dibanding Eropa, di mana setiap negara menggunakan bahasa berbeda, atau negara-negara lain yang menggunakan bahasa sama tetapi pasarnya tidak terlalu besar.
“Karena alasan itu, dua negara ini, Amerika Serikat dan China, memiliki keunggulan yang sangat besar.”
Ia menambahkan laju inovasi China serta sumber daya alamnya, termasuk manusia dan budayanya, “hampir pasti menjamin” negara itu akan bersaing di setiap industri.
Huang mengatakan Nvidia tidak mundur dari China.
“Ketika kami dilarang masuk ke China melalui kontrol ekspor, hal itu menciptakan kekosongan yang kemudian diisi perusahaan-perusahaan China. Akibatnya, Huawei dan banyak perusahaan rintisan di China mencatat tahun yang sangat sukses,” katanya.
“Meskipun teknologi Nvidia lebih baik, dalam ketiadaan kami, teknologi yang tersedia menjadi pilihan terbaik yang bisa diperoleh, dan itu sudah cukup baik.”
Menurut Huang, dapat dipahami jika pemerintah China ingin menciptakan kondisi agar perusahaan lokal berkembang. Namun, ia menambahkan Nvidia dapat memberikan “nilai yang sangat besar” bagi pasar China.
Dengan membandingkan struktur industri AI sebagai “kue lima lapis” yang membutuhkan energi, cip, infrastruktur, model, dan aplikasi, Huang mengatakan, teknologi Nvidia hanya bersaing di satu lapisan ketika berbicara soal China.
“Jangan lupa AI adalah kue lima lapis. Jadi ketika Nvidia berpartisipasi di China dan melayani pasar China seperti yang kami lakukan sebelumnya, hal itu mendukung ekspansi lima lapisan lainnya,” katanya.
“Jika dilihat secara menyeluruh, Nvidia dapat memberikan kontribusi besar bagi industri tersebut dan menambah banyak nilai bagi pasar China.”
Dalam wawancara hampir satu jam tersebut, Huang juga membahas berbagai topik lain, termasuk masa depannya dan tipe pemimpin yang menurutnya layak menjadi penerusnya.
“Kepemimpinan adalah menciptakan kondisi agar orang lain memiliki kemampuan untuk berkembang. Nvidia sangat besar, tetapi kami tetap perusahaan kecil. Kami adalah perusahaan besar terkecil di dunia,” katanya.
Ketika ditanya apa yang mendorongnya, Huang mengatakan hal itu merupakan kombinasi berbagai faktor.
“Di satu sisi, sesederhana saya tidak ingin gagal dan saya tidak ingin Nvidia gagal, karena terlalu banyak orang yang bergantung pada saya,” katanya.
“Itu adalah para karyawan, mitra kami, mitra ekosistem kami, semua teman saya di Taiwan. Saya ingin semua orang berhasil.... Ada beban bagi para pemimpin yang ingin semua orang berkembang, mewujudkan impian mereka, dan semoga berhasil bersama kami.”
Pada saat yang sama, Huang mengatakan ia berharap dapat membangun sesuatu yang meninggalkan dampak besar.
“Ada sisi pemimpi dalam diri saya yang ingin menciptakan masa depan itu dan berharap bisa melihatnya terwujud selama hidup saya. Karena itu saya ingin semuanya segera menjadi kenyataan.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.