Skip to main content
Iklan

analisis Asia

Mengurai apa yang dihasilkan dan tidak dari pertemuan puncak Trump-Xi

Diplomasi yang dikoreografikan, pencitraan yang hangat, dan gestur simbolis mewarnai pertemuan puncak China-AS berisiko tinggi di Beijing, namun apakah hal-hal tersebut akan diterjemahkan menjadi hasil yang konkret dan bertahan lama masih belum pasti, kata para analis.

Mengurai apa yang dihasilkan dan tidak dari pertemuan puncak Trump-Xi

Presiden AS Donald Trump (kiri) berpose untuk foto bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping saat berkunjung ke Taman Zhongnanhai di Beijing, Tiongkok, pada 15 Mei 2026. (Foto: Reuters/Pool/Evan Vucci)

BEIJING/SHENZHEN: Jabat tangan selama 15 detik, “kesepakatan perdagangan fantastis”, dan janji optimistis akan hubungan yang lebih stabil antara dua negara adidaya terbesar di dunia.

Pencitraan dalam pertemuan puncak pekan ini antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terlihat hangat dan menenangkan.

Namun, di balik diplomasi yang dikoreografikan secara hati-hati dan simbolisme budaya, para pengamat menilai berbagai persoalan besar masih belum terselesaikan, mulai dari perdagangan, Taiwan, keamanan global, hingga perang chip kecerdasan buatan (AI).

Hingga kini juga belum terlihat adanya terobosan terkait penjualan chip canggih H200 milik Nvidia ke China, meski CEO Nvidia Jensen Huang mendadak ikut bergabung dalam agenda lawatan tersebut pada menit-menit terakhir.

Nada yang lebih hangat dan gestur simbolis mungkin membantu meredakan kecemasan pasar, tetapi para analis mengatakan pertemuan puncak tersebut kemungkinan besar hanya menghasilkan stabilitas sementara dibandingkan men-set ulang hubungan kedua negara secara substantif.

Tidak ada “terlalu banyak kejutan berdasarkan substansi yang sudah diketahui dari pertemuan pucak tersebut”, kata William Yang, analis senior untuk Asia Timur Laut di International Crisis Group, seraya mencatat bahwa persiapan matang dari kedua pihak membantu menjaga jalannya pertemuan tetap relatif lancar.

Berikut adalah apa yang dikatakan dan dicapai - atau tidak - dalam pertemuan puncak Trump-Xi yang “bersejarah” tersebut.

PANGGUNG DIPLOMASI BILATERAL

Pertemuan puncak tersebut dipenuhi pertunjukan diplomatik - lokasi yang dipilih secara hati-hati, kunjungan yang dikoreografikan, dan citra simbolis sepanjang kunjungan Trump ke Beijing.

Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat meninggalkan Taman Zhongnanhai di Beijing, Tiongkok, pada 15 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Xi menyebut kunjungan itu sebagai sesuatu yang “bersejarah” dan “simbolis” dalam pertemuan kelompok kecil di Zhongnanhai, sementara Trump menyebutnya sebagai kunjungan yang “sangat sukses” dan “tak terlupakan” - “disaksikan dunia”.

Great Hall of the People menjadi lokasi pembicaraan formal dan jamuan kenegaraan, sementara Temple of Heaven - tempat para kaisar China dahulu berdoa untuk panen yang baik - memiliki asosiasi historis dengan harmoni dan tatanan politik.

Yang lebih menonjol, Xi juga menjamu Trump di Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan dengan penjagaan ketat yang terkait dengan kepemimpinan politik tertinggi China dan jarang dibuka untuk tamu asing.

Pertemuan pucak tersebut juga tampaknya memberikan nuansa yang lebih positif terhadap hubungan AS-China, dengan kedua pihak berusaha memproyeksikan stabilitas setelah berbulan-bulan turbulensi, kata para analis.

Yang mengatakan kepada CNA bahwa kedua pemimpin menggunakan pertemuan tersebut untuk menunjukkan keinginan bersama mencari titik temu dan mengelola perbedaan, terutama di tengah konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung dan ketegangan geopolitik yang lebih luas.

Trump dan Xi sama-sama menekankan kerja sama dan stabilitas dalam pernyataan pembukaan mereka, meski Trump lebih banyak memberikan pujian personal, tambahnya.

“Berdasarkan pernyataan resmi dari kedua pihak, juga terlihat jelas bahwa kedua pemimpin berusaha menekankan area-area di mana kerja sama yang saling menguntungkan dimungkinkan,” kata Yang, merujuk pada perdagangan dan hubungan ekonomi.

Namun, pada saat yang sama, mereka juga menghindari konfrontasi langsung terkait isu-isu yang lebih sensitif seperti Taiwan dan Iran, tambah Yang.

Chong Ja Ian, associate profesor di National University of Singapore dan peneliti non-residen di Carnegie China, mengatakan, pertemuan tersebut menciptakan “nada positif” dalam hubungan bilateral - sekaligus memungkinkan Beijing memproyeksikan kekuatan.

Pujian Trump terhadap Xi dan China sebagian besar tidak dibalas, kata Chong - sementara referensi Xi terhadap Perangkap Thucydides memberikan Beijing kerangka historis yang lebih luas untuk hubungan tersebut.

Dalam pernyataan resmi China, Xi dan Trump sepakat membangun hubungan berdasarkan “stabilitas strategis konstruktif” - visi baru hubungan bilateral untuk tiga tahun ke depan dan seterusnya.

Rumusan tersebut harus berpusat pada kerja sama sebagai fondasi utama, kompetisi dijaga dalam batas tertentu, perbedaan tetap terkendali, dan “stabilitas jangka panjang” di mana perdamaian dapat diharapkan, kata pemimpin tertinggi China tersebut.

Rumusan baru itu sesuai dengan upaya Beijing mendefinisikan tahap berikutnya hubungan kedua negara, kata para analis.

Su Yue, kepala ekonom China di Economist Intelligence Unit (EIU), mengatakan, Beijing tampaknya menggunakan KTT tersebut bukan hanya untuk menstabilkan hubungan - tetapi juga memperkenalkan kerangka baru yang lebih luas untuk mengelola hubungan dengan AS.

“Kali ini, Xi mengemukakan beberapa ide baru ... sambil juga menekankan dimensi kerja sama dalam hubungan bilateral di dalam kerangka baru yang diharapkan kedua pihak dapat dikembangkan selama tiga tahun ke depan,” kata Su.

“Dalam beberapa hal, ini mencerminkan pergeseran strategi China sebelumnya yang terutama bereaksi terhadap kebijakan AS.”

Dia menambahkan bahwa Beijing tetap memiliki “ekspektasi realistis” bahwa gesekan akan terus berlanjut bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun.

Presiden Donald Trump berbincang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di kompleks kepemimpinan Zhongnanhai, Jumat, 15 Mei 2026, di Beijing. (Foto: Mark Schiefelbein/Pool via REUTERS)

Yang menyampaikan, kerangka tersebut menunjukkan Beijing ingin kompetisi tetap terbatas dan perbedaan dikelola, sambil mempertahankan stabilitas yang cukup untuk memperkuat sektor-sektor strategis seperti kecerdasan buatan dan keamanan energi.

Akan tetapi, Chong mengingatkan agar tidak mengartikan frasa tersebut sebagai perubahan mendasar.

“Stabilitas pada dasarnya berarti tidak ada perubahan,” katanya, seraya menambahkan bahwa bahasa tersebut menunjukkan tidak ada perubahan besar dalam hubungan AS-China, hanya penempatan pagar pembatas.

PERANG IRAN

Perang Iran telah lama diperkirakan menjadi salah satu topik utama menjelang pertemuan puncak Trump-Xi.

Bagi Washington, isu utamanya adalah apakah Beijing dapat menggunakan hubungannya dengan Teheran untuk membantu meredakan krisis, kata para analis. China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran dan mempertahankan hubungan politik serta ekonomi yang dekat dengan Iran, memberinya saluran pengaruh yang tidak dimiliki AS.

Pernyataan Gedung Putih setelah pembicaraan bilateral pada Kamis menyebutkan bahwa kedua pemimpin sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran aliran energi dan bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir. Pernyataan China hanya menyebut kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah.

Yang dari International Crisis Group mengatakan, perbedaan antara kedua pernyataan itu menunjukkan bahwa pertemuan puncak tersebut tidak menghasilkan konsensus berarti terkait Iran.

Meski Beijing mungkin mengakui posisi Washington dan sepakat dengan beberapa poin “secara prinsip umum”, China tetap “berusaha menghindari terseret ke dalam konflik Timur Tengah”, katanya kepada CNA.

Kehati-hatian itu mencerminkan pandangan Beijing bahwa konflik tersebut “dimulai oleh AS”, tambah Yang.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiri berdampingan saat mengunjungi Temple of Heaven di Beijing, Tiongkok, pada 14 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Evan Vucci)

Dalam wawancara dengan Fox News setelah pembicaraan Kamis, Trump mengatakan Xi menawarkan bantuan terkait Iran.

“Dia berkata, ‘Saya ingin membantu, jika saya bisa membantu dalam bentuk apa pun’,” kata Trump. Dia juga mengatakan Xi ingin China terus membeli minyak dari kawasan tersebut dan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyoroti adanya titik temu antara Washington dan Beijing terkait jalur perairan tersebut. Berbicara kepada NBC News setelah hari pertama pembicaraan, Rubio mengatakan China mengindikasikan menentang militerisasi selat tersebut atau penerapan tarif bagi kapal yang melintas.

“Bagus bahwa kita memiliki aliansi, atau setidaknya kesepakatan, dalam hal itu,” katanya.

Namun, para analis mengatakan hal itu tidak berarti adanya perubahan mendasar dalam dinamika Iran.

Chong dari NUS mengatakan, Beijing dan Washington sama-sama menginginkan akses ke Selat Hormuz, harga energi dan komoditas yang lebih rendah, serta stabilitas yang lebih besar di Timur Tengah.

Namun keselarasan itu memiliki batas, tambahnya, karena arah konflik pada akhirnya tidak hanya bergantung pada Washington dan Beijing, tetapi juga pada kalkulasi Teheran dan Israel.

“Tampaknya baik Washington maupun Beijing tidak dapat meyakinkan Iran dan Israel untuk bertindak sebaliknya,” kata Chong, termasuk membuat Iran berkomitmen meninggalkan senjata nuklir.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah China benar-benar akan menyesuaikan dukungannya terhadap Teheran.

Chong mengatakan, Beijing masih bisa membantu Iran jika menginginkannya, tanpa melewati batas transfer senjata langsung.

Bantuan yang melibatkan teknologi, bantuan teknis, informasi, suku cadang, komponen, atau peralatan dwiguna “tetap dapat dianggap substantif”, katanya.

ISU TAIWAN

Seperti yang diperkirakan, Taiwan menjadi sorotan utama dalam pertemuan pucak tersebut, dengan Beijing menempatkan isu tersebut di pusat definisi stabilitas hubungan China-AS.

Menyebut Taiwan sebagai “isu paling penting” dalam hubungan bilateral, Xi mengatakan hubungan kedua negara dapat tetap stabil secara umum jika persoalan tersebut ditangani dengan baik. Namun, jika salah penanganan, dia memperingatkan kedua negara bisa “bertabrakan atau bahkan terlibat konflik”, yang mendorong hubungan ke “situasi yang sangat berbahaya”.

China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya.

Xi juga menyatakan, “kemerdekaan Taiwan” tidak sejalan dengan perdamaian di Selat Taiwan dan mendesak pihak AS menangani isu tersebut dengan sangat hati-hati. Menurut pernyataan resmi China, dia mengatakan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan titik temu terbesar antara Beijing dan Washington.

Pernyataan resmi China tidak menyebut apakah Trump mengangkat isu Taiwan dalam pembicaraan atau bagaimana responsnya terhadap pernyataan Xi. Pernyataan resmi AS sama sekali tidak menyebut Taiwan.

Yang dari International Crisis Group menuturkan, pernyataan Xi menunjukkan bahwa Beijing ingin Trump memahami Taiwan sebagai isu yang dapat “menentukan berhasil atau gagalnya” hubungan AS-China.

Dengan mendesak Washington lebih berhati-hati, Xi kemungkinan memperingatkan Trump agar mempertimbangkan dampak penjualan senjata ke Taiwan di masa depan terhadap hubungan bilateral, kata Yang.

AS tidak secara resmi mengakui Taiwan secara diplomatik, tetapi tetap menjadi pendukung internasional utama pulau tersebut dan terikat oleh Taiwan Relations Act untuk menyediakan sarana bagi Taipei mempertahankan diri.

Namun, penghilangan Taiwan dari pernyataan resmi AS menunjukkan Trump tidak memberikan konsesi terkait isu tersebut dalam pembicaraan, tambah Yang, sambil mencatat bahwa Rubio juga menegaskan kembali posisi Washington dalam wawancara NBC News pada Kamis.

Trump dilaporkan mengatakan pada Jumat bahwa dia berbicara “banyak” tentang Taiwan dengan Xi selama pertemuan mereka.

“Presiden Xi dan saya berbicara tentang Taiwan,” katanya kepada wartawan di dalam Air Force One setelah meninggalkan Beijing, dalam pernyataan yang dilaporkan NBC News.

“Mengenai Taiwan, dia tidak ingin melihat perjuangan kemerdekaan karena itu akan menjadi konfrontasi yang sangat kuat,” kata Trump.

“Saya tidak memberikan komentar soal itu, saya mendengarkannya. Mengenai Taiwan dia merasa sangat kuat, saya juga tidak membuat komitmen apa pun,” tambahnya, menurut laporan AFP.

Lee Chan Hui, pengamat China dan analis geopolitik berbasis di Singapura, mengatakan, friksi utama terkait Taiwan kemungkinan akan terus berlanjut.

“Trump tidak akan memberikan Xi konsesi yang dia inginkan terkait pesan AS mengenai Taiwan,” kata Lee.

Para analis sebelumnya mengatakan kepada CNA bahwa Taiwan berpotensi terjerat dalam tawar-menawar yang lebih luas antara Washington dan Beijing terkait Iran atau area kerja sama lainnya, meski barter eksplisit tidak mungkin terjadi.

“Trump tidak mungkin mengubah posisinya terkait Taiwan; AS akan terus menjual senjata,” kata Lee.

HASIL DI BIDANG TEKNOLOGI

Dari chip Nvidia hingga kehadiran para raksasa teknologi dalam delegasi Trump, para analis mengatakan, teknologi menjadi salah satu tema paling jelas dalam pertemuan puncak ini - menegaskan bagaimana AI dan cip semikonduktor semakin membentuk hubungan AS-China secara lebih luas.

Dibandingkan kunjungan presiden sebelumnya ke China yang lebih berfokus pada keuangan, manufaktur, dan perdagangan, para analis mengatakan delegasi tahun ini menonjol karena banyaknya eksekutif teknologi dan semikonduktor.

Mereka termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Apple Tim Cook - serta CEO Nvidia Jensen Huang, yang baru bergabung setelah laporan sebelumnya menyebutkan dia awalnya tidak dijadwalkan hadir.

“Kehadiran Huang, Musk, dan Cook di Beijing bukan kebetulan, melainkan koreografi,” kata Lin Han-Shen, Direktur China di The Asia Group.

Di tengah konteks ini, kabar bahwa 10 perusahaan China diizinkan membeli cip AI H200 Nvidia juga menarik perhatian selama pertemuan di tengah pembatasan AS yang terus berlangsung terhadap ekspor semikonduktor canggih ke China.

Meski beberapa izin sudah diberikan pada akhir tahun lalu, laporan terbaru mengidentifikasi sejumlah pembeli dan memberikan rincian lebih lanjut mengenai pengaturan penjualan.

Namun, Direktur Jenderal Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa kontrol ekspor cip bukanlah “topik utama” dalam pembicaraan dan mengatakan keputusan apa pun terkait pembelian cip Nvidia akan bergantung pada China.

Berbicara kepada Bloomberg, Trump kemudian mengatakan topik cip H200 Nvidia memang “muncul” dalam diskusi - meski dia menambahkan China ingin “mengembangkan milik mereka sendiri”.

Kedua pihak juga membahas “pagar pembatas” di bidang termasuk AI, kesehatan, kedokteran, dan urusan militer, tambah Trump.

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan di sela-sela kunjungan mereka ke Taman Zhongnanhai di Beijing, Tiongkok, pada 15 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Para analis mengatakan hal ini menegaskan bagaimana semikonduktor canggih semakin diperlakukan sebagai bagian dari kompetisi strategis yang lebih luas dibanding sekadar isu perdagangan konvensional.

Luigi Gambardella, presiden ChinaEU, mengatakan kepada CNA bahwa chip AI penting bukan hanya untuk bisnis - tetapi juga untuk kemampuan militer, kepemimpinan teknologi, dan daya saing ekonomi.

“Isu utamanya bukan lagi sekadar perdagangan,” kata Gambardella.

“Melainkan siapa yang mengendalikan fondasi teknologi dari era industri berikutnya.”

Han mengatakan perkembangan tersebut mencerminkan “koeksistensi yang dikelola”.

“Kompetisi strategis yang mendasarinya tidak melunak, tetapi yang berubah adalah selera taktis terhadap disrupsi,” katanya.

Gary Ng, ekonom senior di Natixis Corporate & Investment Banking, mengatakan, perkembangan tersebut lebih menunjukkan “fleksibilitas komersial terbatas” dibanding pelonggaran yang lebih luas dalam ketegangan teknologi.

PERDAGANGAN DAN BISNIS

Hubungan perdagangan dan bisnis juga tetap menjadi fokus utama selama pertemuan puncak pekan kemarin.

Xi dan Perdana Menteri China Li Qiang secara terpisah bertemu para pemimpin bisnis AS - dengan presiden mengatakan “pintu China hanya akan terbuka lebih lebar” dan Li menyebut hubungan China-AS yang “stabil dan sehat” sebagai kepentingan kedua negara.

Selama kunjungan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa kedua pihak sedang membahas pembentukan “Dewan Perdagangan” dan “Dewan Investasi” - mekanisme yang diusulkan untuk menciptakan saluran yang lebih formal dalam mengelola perdagangan dan investasi.

Berbicara kepada Fox News pada Jumat, Trump mengatakan China telah setuju membeli 200 pesawat Boeing dan meningkatkan pembelian minyak serta produk pertanian Amerika.

Alih-alih menandakan pengaturan ulang ekonomi yang besar, pengumuman tersebut sebagian besar memang sudah diperkirakan dan menyerupai putaran negosiasi sebelumnya antara Washington dan Beijing, kata Marco Sun, kepala analis pasar keuangan di MUFG (China).

Pada saat yang sama, China mengisyaratkan kemungkinan membuka akses kembali bagi beberapa eksportir daging sapi AS selama pertemuan puncak, menunjukkan kedua pihak masih berusaha menjaga sektor-sektor penting secara komersial tetap berjalan meski ketegangan berlanjut di area lain.

Menyimpulkan semuanya, Stephen Olson, peneliti tamu senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan, kedua pemimpin tampaknya mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari pertemuan tersebut.

“Kerangka yang diinginkan Xi untuk pertemuan ini adalah China sebagai pesaing setara penuh bagi AS - negara yang tidak perlu ‘bertekuk lutut’ terhadap tuntutan AS,” katanya.

“Xi berhasil mencapai itu. Trump pulang dengan ‘kesepakatan’ yang bisa dia gaungkan sebagai ‘kemenangan’.” 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan