Bos Nvidia: Menghubungkan AI dengan PHK adalah narasi malas
“Jika Anda tidak memanfaatkan teknologi pada zaman Anda, Anda akan tertinggal,” kata Huang kepada Victoria Jen dari CNA dalam wawancara yang membahas berbagai topik.
CEO Nvidia Jensen Huang tiba di acara Meet-a-Claw di Taipei, Taiwan, 23 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Ann Wang)
Narasi yang digunakan sejumlah CEO untuk mengaitkan kecerdasan buatan (AI) dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah narasi yang “malas” dan “tidak masuk akal”, kata CEO Nvidia Jensen Huang pada Senin (25/5).
Dalam wawancara bersama Victoria Jen dari CNA, Huang mengatakan, ia melihat “masa depan yang optimistis” dengan AI dan bahwa fakta-fakta mendukung pandangannya mengenai masa depan tersebut.
“Narasi yang menghubungkan AI dengan hilangnya pekerjaan, bagi banyak CEO yang melakukannya — itu terlalu malas. AI baru saja hadir, bagaimana mungkin mereka sudah kehilangan pekerjaan?” kata Huang.
“Bagaimana mungkin AI baru menjadi produktif dan berguna enam bulan lalu, tetapi mereka sudah melakukan PHK dua tahun lalu karena AI? Itu tidak masuk akal.
“Itu hanya cara agar mereka terdengar pintar dan saya sangat tidak menyukainya. Saya rasa kita sedang menakut-nakuti orang dan itu tidak bertanggung jawab.”
Huang tidak ditanya dan juga tidak menyebut perusahaan tertentu.
PHK yang dikaitkan dengan AI memang banyak diberitakan belakangan ini. Pekan lalu, CEO Standard Chartered Bill Winters menuai kritik karena mengatakan bank tersebut menggantikan “tenaga kerja manusia bernilai rendah” dengan teknologi, saat mengumumkan rencana pemangkasan lebih dari 7.000 pekerjaan dalam empat tahun ke depan. Ia kemudian meminta maaf atas pernyataannya.
Awal bulan ini, Reuters melaporkan bahwa raksasa media sosial Meta berencana memangkas 20 persen atau lebih tenaga kerjanya untuk mengimbangi belanja besar di bidang AI dan mengandalkan peningkatan produktivitas dari teknologi tersebut.
MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA
Ketika ditanya apa yang akan ia katakan kepada orang-orang yang khawatir kehilangan pekerjaan, Huang berkata: “Saya akan mengatakan kepada mereka yang khawatir kehilangan pekerjaan karena AI untuk mempelajari AI.
“Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI. Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang mempelajari AI lebih baik daripada Anda.
“Ketika PC (komputer) hadir, PC tidak mengambil pekerjaan orang. Orang-orang yang tidak belajar menggunakan PC lah yang tertinggal.”
Sama seperti teknologi masa lalu yang membawa perubahan besar, demikian pula AI, kata Huang. Ia menambahkan bahwa “sangat mungkin” jumlah pekerjaan dalam lima tahun ke depan akan lebih banyak dibanding hari ini.
Sebaliknya, ketika perusahaan menjadi lebih produktif dan lebih menguntungkan, hal itu akan mendorong mereka merekrut lebih banyak pekerja, ujarnya kepada CNA.
“Lebih mungkin perusahaan yang punya ambisi akan menjadi lebih produktif, mereka akan melakukan banyak hal lebih cepat, laju perusahaan mereka akan meningkat. Akibatnya, mereka menjadi lebih besar dan lebih menguntungkan. Ketika mereka menjadi lebih besar dan lebih menguntungkan, mereka pada akhirnya akan mempekerjakan lebih banyak orang,” tuturnya.
“Tentu saja mereka akan menggunakan lebih banyak AI, tetapi mereka juga akan merekrut lebih banyak orang.”
Menggunakan Nvidia sebagai contoh, Huang menunjukkan bahwa perusahaannya terus merekrut lebih banyak orang, bergerak lebih cepat, dan menjadi semakin ambisius.
“Hal-hal yang dulu kami pikir akan membutuhkan waktu 10 tahun, sekarang saya pikir hanya akan memakan waktu satu atau dua tahun,” katanya.
“Ambisi Anda harus meningkat seiring teknologi pada zaman Anda. Jika Anda tidak memanfaatkan teknologi pada zaman Anda, Anda akan tertinggal, jadi rekomendasi saya adalah memanfaatkannya.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.