Rp1 juta sekupas: Tren foto instan jadul dengan metode peel-apart naik daun di China
Hobi anak muda kekinian ini mahal harganya karena film instan jenis peel-apart sudah lama tidak diproduksi, namun minat terhadapnya tetap meluas, digenjot oleh para selebriti yang ikut meramaikan tren tersebut.

Seorang pelanggan (kiri) mengembangkan foto peel-apart yang dikupas setelah penjepretan di Moyu Photo Lab, sebuah studio foto di Beijing, pada 2 Juni 2025. (Foto: CNA/Hu Chushi)
BEIJING: Prosesnya rumit dan manual, tanpa kesempatan kedua. Kualitasnya tidak terjamin—ketidakpastian justru jadi ciri khasnya.
Ditambah lagi, biayanya tidak murah—hingga ratusan yuan sekali jepret.
Film instan tipe peel-apart, yang produksinya telah lama dihentikan dan dulunya dianggap hanya digemari kalangan pencinta fotografi, kini kembali menjadi tren di China, dipopulerkan oleh rekomendasi selebriti, serta anak muda yang menggemari nostalgia.
Bisnis fotografi pun memanfaatkan antusiasme anak muda, memasarkan kelangkaan film peel-apart dan menawarkan jasa dengan harga premium. Beberapa bahkan menyediakan layanan tambahan seperti penataan rambut dan rias wajah untuk menarik minat pelanggan.

Harga tinggi tak menghalangi Hu Wengji, 20 tahun, seorang mahasiswa tingkat dua di Shenzhen. Dia berfoto menggunakan film peel-apart pada Januari lalu, mengikuti tren yang sedang digandrungi anak muda Tiongkok.
“Saya mengambil tiga foto—satu untuk saya, satu untuk teman, dan satu foto bersama. Tiga foto itu menghabiskan lebih dari 900 yuan (Rp2,04 juta),” katanya kepada CNA.


MENGUPAS POPULARITAS FILM PEEL-APART
Film instan jenis peel-apart diperkenalkan pada tahun 1947 oleh pendiri Polaroid, Edwin Land. Sesuai namanya, film ini dikembangkan secara manual dengan memisahkan lapisan positif dan negatif setelah foto diambil.
Juga dikenal sebagai packfilm, popularitasnya menurun seiring munculnya format film instan yang lebih praktis, seperti film integral. Kemunculan fotografi digital semakin menenggelamkan eksistensinya.
Namun, format foto klasik ini kembali populer di Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir.

Istilahnya dalam bahasa Mandarin, si la pian, sedang mengetren di media sosial Tiongkok seperti Xiaohongshu dan Weibo, dengan jutaan tayangan.
Pencarian CNA di platform tersebut menemukan banyak pengguna yang memamerkan potret peel-apart mereka.
Menurut laporan media setempat, orang-orang tertarik pada pesona analog dan ketidakpastian visualnya.
Film ini harus ditarik keluar dari kamera secara manual sebelum dikupas untuk melihat hasil foto. Kesalahan sedikit saja dapat merusak hasil jepretan secara permanen.
Proses pengembangannya juga menghasilkan estetika vintage yang khas—sangat berbeda dari foto digital yang bersih dan sempurna.

Tren ini mendapat liputan luas dari media lokal, terutama karena para selebriti ikut mempopulerkannya.
Akhir April lalu, aktris dan penyanyi Tiongkok Ju Jingyi mengunggah hasil pemotretan film peel-apart-nya di Weibo, di mana ia memiliki lebih dari 31 juta pengikut. Postingan itu disukai lebih dari 1 juta orang.
Aktris Tiongkok lainnya, Liu Shishi, serta artis Taiwan yang sangat populer, Ouyang Nana, juga ikut mempopulerkan film peel-apart ini.
MAHAL DAN LANGKA
Namun, mengikuti tren ini tidak murah.
Produsen utama Polaroid dan Fujifilm telah menghentikan produksi film peel-apart masing-masing pada 2008 dan 2016.
Artinya, stok yang tersedia saat ini sangat terbatas, telah kadaluarsa, dan hanya bisa didapat di pasar sekunder. Harganya naik drastis seiring berkurangnya stok.
Penelusuran CNA di platform jual-beli Xianyu menemukan film populer Fujifilm FP-100c dijual antara 1.600 hingga 3.000 yuan per 10 lembar. Semakin baru tanggal produksinya, semakin tinggi harganya karena kualitasnya yang lebih terjamin.

Sebelum dihentikan tahun 2016, film ini biasanya dijual hanya sekitar US$10 (Rp162 ribu) hingga US$20 untuk satu kotak berisi 10 lembar.
Studio foto turut memanfaatkan tren ini, dengan strategi pemasaran yang berfokus pada kelangkaan dan kemewahan vintage.
Pai yi zhang, shao yi zhang adalah jargon mereka yang berarti “ambil satu foto, berkurang satu lembar”—menandakan bahwa setiap foto yang diambil menghabiskan stok film yang terbatas.

Untuk menarik pelanggan, studio foto di Hangzhou dan Chengdu menawarkan paket dengan tambahan seperti penataan rambut, make-up, hingga pembingkaian foto, menurut situs berita lokal Shanghai Daily.
Jelas sekali mereka tertarik pada tren ini karena cuan yang besar.
Moyu Photo Lab, sebuah studio foto di kawasan trendi Sanlitun di Beijing, mulai menawarkan layanan fotografi peel-apart empat bulan setelah dibuka pada Mei tahun lalu.
Walau pelanggan film peel-apart hanya 10 persen dari total klien, mereka menyumbang lebih dari setengah pendapatan studio tersebut, kata pemiliknya, Xu Huan, 30 tahun, kepada CNA. Mayoritas pelanggan berusia 18 hingga 25 tahun.



Moyu Photo Lab menawarkan tiga pilihan film peel-apart: foto hitam putih seharga 149 yuan, foto warna seharga 459 yuan, dan foto warna menggunakan kamera Polaroid Big Shot—kamera populer tahun 1970-an—seharga 499 yuan.
Studio ini telah menaikkan harga dua kali dalam delapan bulan terakhir. Awalnya sekitar 300 yuan untuk satu foto Big Shot, kemudian naik ke hampir 400 yuan pada Februari.

“Dengan lonjakan permintaan baru-baru ini dan naiknya harga film (peel-apart), kami terpaksa menaikkan lagi harga menjadi hampir 500 yuan per foto,” kata Huan.
Studio ini menyediakan tes digital sebelum pemotretan sesungguhnya. Sebelum memulai, pelanggan diberi tahu bahwa studio tidak bertanggung jawab atas hasil akhir foto dan tidak menyediakan pengambilan ulang.

Wengji, mahasiswi tadi, sempat ragu selama sesi pemotretannya.
“Saya agak khawatir karena film yang dipakai sudah kedaluwarsa, bahan kimianya mungkin kurang stabil. Saya juga khawatir tentang pose dan ekspresi saya,” katanya.
Walau menikmati pengalaman ini, Hu mengatakan ia hanya sekali-sekali melakukannya.
“Saya tidak akan melakukannya lagi karena tidak mau membayar semahal itu untuk filmnya. Sekitar dua tahun lalu, satu foto cuma sekitar 150 yuan,” jelasnya.
“Kalau kamu mengambil foto momen spesial atau bersama orang tercinta tapi terlalu memikirkan biaya atau kualitas foto, makna dokumentasi itu jadi hilang.”
BISNIS NOSTALGIA
Kembalinya film peel-apart di Tiongkok sejalan dengan tren global yang mengarah kepada nostalgia di bidang mode, musik, hingga teknologi.

Busana bergaya klasik kembali digandrungi, penjualan kaset dan piringan hitam melonjak, serta perangkat lawas seperti ponsel lipat, iPod, dan Walkman kembali diperkenalkan ke pasaran.
Tamagotchi, mainan berbentuk telur berisi hewan peliharaan virtual yang sangat populer di kalangan anak-anak dan remaja pada tahun 1990-an, juga kembali populer dengan fitur-fitur modern.
Di Tiongkok, tren kegemaran anak muda terhadap film instan peel-apart muncul setelah teknologi retro lainnya seperti kamera CCD (Charge-Coupled Device) dan model-model iPhone lama juga sempat viral.
“Efek visual unik dari film peel-apart telah menarik perhatian besar kalangan muda dan dengan cepat menyebar lewat media sosial, menciptakan fenomena tren retro yang semakin meningkatkan permintaan pasar,” kata Jiang Han, peneliti senior di lembaga riset Pangoal Institution, kepada China News Service.

Namun, berapa lama tren ini akan bertahan?
Menurut fotografer independen Uncle Wang, tren ini mungkin tidak bertahan lama. “Begitu semua selebriti mencobanya, tren akan mereda,” ujarnya. Namun, ia yakin film Polaroid dan tradisional tetap digemari kalangan setia.
Huan, si pemilik studio, sependapat. Ia percaya tren estetika retro akan “terus berlanjut”.
“Selama stok film tersedia, penggemarnya akan terus mempertahankan eksistensinya.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.