Alasan drama China Pursuit Of Jade viral: Penonton terpana Zhang Linghe si 'Jenderal Foundation'
Lupakan plot twist atau intrik kerajaan, ketampanan Zhang Linghe mencuri fokus sejak menit pertama dan terus bikin penonton kesengsem hingga akhir.
Ini bukan iklan skincare melainkan potongan adegan dalam film Pursuit of Jade yang menampilkan akting Zhang Linghe yang rupawan. (Foto: Weibo)
Secara teori, ada banyak alasan untuk menonton drama China, atau yang biasa disingkat "drachin", seperti alur ceritanya, kemewahan kostumnya, hingga cerita yang sengaja diputar-putar hingga penonton baru mendapati kepuasan emosional di sekitar episode ke-27.
Drachin yang kini sedang viral, Pursuit Of Jade, merangkum seluruh faktor itu menjadi satu alasan saja: tampannya wajah aktor Zhang Linghe yang akan membuat penonton terpana dan terhanyut dalam cerita hingga episode akhir.
Strategi semacam ini membuat kesuksesan sebuah serial hanya pada bergantung pada satu faktor: ketampanan pemeran utamanya. Tentu saja, hal ini semakin menegaskan target utama drachin, yakni para penonton perempuan.
Benar saja, para penonton berbondong-bondong menyaksikan Pursuit Of Jade, namun sebagian besar tak peduli dengan apa yang sedang terjadi dalam ceritanya.
Baru beberapa menit memasuki episode pertama, penonton akan menyadari bahwa sang pemeran utama pria, seorang komandan perang, tidak hanya sekadar tampan. Wajah Zhang Linghe sangat rupawan, bahkan terlalu rupawan hingga ke level tak masuk akal.
Tingkat ketampanan Zhang bukan sebatas "mungkin dia rajin pakai pelembap". Bukan juga dalam artian "genetiknya bagus". Tidak, ia memiliki tingkat rupawan yang mengisyaratkan adanya campur tangan faktor eksternal, entah takdir dari Tuhan, hasil operasi plastik, atau lainnya.
Kulit Zhang Linghe seolah tidak pernah memiliki pori seumur hidupnya, rambutnya menjuntai halus, dan tulang pipinya dapat membuat siapa saja terpana.
Viralnya Pursuit Of Jade membuat Zhang Linghe punya julukan baru: Jenderal Foundation. Menonton Zhang dalam drachin ini rasanya membuat penonton segera ingin berbelanja produk makeup.
Kulit wajah Zhang Linghe sangat mulus tanpa cela, didukung oleh pencahayaan yang tepat. Rasa-rasanya, jika plot ceritanya harus berhenti total selama lima menit, penonton tak akan keberatan karena bisa puas memandangi wajah Zhang Linghe.
DIMULAI DARI DRAKOR
Tren pemeran utama memiliki wajah yang sangat tampan diawali dengan kesuksesan berbagai drama Korea (drakor) di dalam negeri. Saat itu, banyak pemeran utama pria dengan wajah rupawan didukung penggunaan BB cream.
Namun, selama satu dekade terakhir, menempatkan aktor tampan sebagai pemeran utama sudah menjadi ciri khas drama Tiongkok, terutama dalam genre kolosal. Ini bukan sebuah kebetulan melainkan strategi bisnis.
Habiskan waktu sejenak menonton drachin, dan penonton bisa melihat bahwa, soal kerupawanan, pemeran utama pria bisa dibilang menyaingi tokoh utama perempuan.
Dalam Pursuit Of Jade, karakter Zhang ditata dengan tingkat ketelitian yang sama dengan rekannya tokoh utama perempuan: kain Zhang juga menjuntai dengan indah, ia pun mengenakan lipstik merah yang sama. Dan, bukan hanya Zhang, tetapi setiap karakter pria yang signifikan bagi plot, bahkan para penjahatnya, juga rupawan.
Strategi ini didukung oleh plot utamanya, yakni tentang pembalikan peran gender tradisional. Si gadis tokoh utama menyelamatkan si pria dan masuk ke dalam pernikahan kontrak, dan si pria menggunakan nama belakangnya dan hidup menumpang padanya.
Dalam drachin ini, bisa dibilang bukan hanya karakter sang gadis yang jatuh cinta pada Zhang, tetapi juga kameranya.
Teknik pengambilan gambar yang kerap close-up selalu berlangsung cukup lama. Selain itu, teknik pencahayaan bukan hanya sekadar menerangi, namun seperti "membelai" agar dapat memperkuat tulang pipi Zhang, faktor utama ketampanannya, di dalam layar.
TAK LAGI MALE GAZE
Selama beberapa dekade, sinema global arus utama kerap kali menggunakan teknik "male gaze", yakni teknik kamera yang menempatkan karakter perempuan sebagai objek kesenangan visual berdasarkan "mata lelaki".
Contoh "male gaze" paling populer adalah Megan Fox yang kerap mengenakan celana pendek ketat di film Transformers.
Roda berputar, begitu juga dalam perkembangan sinema dan televisi. Memasuki dekade 2000-an, kamera kerap mengobjektifikasi tubuh pria dengan cara yang sama: pengambilan gambar close-up otot dada dan perut yang berlebihan, dengan target menarik penonton perempuan.
Namun, teknik kamera dalam Pursuit Of Jade tidak memberikan kesan "mengintai" ketampanan Zhang, tidak membuat penonton perempuan "memelototinya dengan penuh nafsu." Lebih dari itu, kamera berhasil menangkap hal-hal kecil mendetail yang semakin menegaskan kesempurnaan ketampanan Zhang: kilatan emosi pada wajah yang sangat tenang, pengencangan rahang, dan tatapan yang bertahan lebih lama dari normalnya.
Sementara itu, maskulinitas dibingkai ulang sebagai ketenangan yang penuh kekuatan. Hal ini menciptakan rasa kekaguman yang aman. Bahkan, kedekatan fisik pun sering kali ditunda, jarang kita lihat mereka berpegangan tangan atau bahkan bersentuhan singkat. Strategi ini mampu mempermainkan emosi penonton ketimbang keintiman yang terang-terangan.
Di era ketika toxic masculinity yang kian marak, drachin menawarkan sesuatu yang berbeda dari banyak narasi romansa Barat: seksualisasi yang tidak terlalu terang-terangan, lapisan emosional yang lebih banyak, dan penekanan yang lebih kuat pada pengendalian diri.
Bagi banyak penonton, ini bisa terasa lebih mendalam, lebih romantis, dan terkadang lebih "layak didapatkan".
Industri drachin saat ini beroperasi dalam ekosistem yang sangat responsif terhadap audiensnya, yang sebagian besar adalah perempuan. Perempuan tidak hanya menonton drama-drama ini, mereka menggerakkannya.
Penonton perempuan merupakan konsumen utama, penggemar yang paling aktif berdiskusi dan menyebarkan editan video tentang drachin. Tentu saja hal itu menjadi pertimbangan besar dalam industri drachin. Inilah yang disebut "she economy", ekonomi berbasis apa yang disukai para perempuan.
Pasalnya, di Tiongkok, para perempuan berpenghasilan lebih tinggi, lebih sering berbelanja, baik untuk sektor industri kecantikan hingga hiburan.
Strategi ini rupanya disadari oleh banyak pihak. Para pemangku kebijakan di Tiongkok sudah menyerukan keberatan terhadap drama yang disebut "pemujaan terhadap penampilan", semacam ini, serta menyarankan agar industri drama agar bisa lebih fokus pada plot, karakter, dan cerita secara umum.
Di atas kertas, ini terdengar sangat masuk akal. Tidak ada penonton yang berpura-pura menonton Pursuit Of Jade demi plotnya, meskipun tentu saja plot drachin ini tidak buruk-buruk amat.
Namun, tentunya hal ini akan berdampak ke masalah ekonomi. Ketika penonton disuguhi pilihan antara "cerita berkualitas tapi visualnya biasa saja" dengan "visual yang memukau dengan tokoh utama yang kerap menatap penuh arti ke kejauhan", mereka pasti memilih pilihan kedua.
Ketika sang pemeran utama adalah pria yang sangat rupawan, itu sudah menjadi strategi pemasaran yang membuat penonton penasaran bahkan sebelum menonton episode pertama.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.