Lampu, kamera, algoritma: Mikrodrama China berbasis AI picu kekhawatiran hak cipta
Mikrodrama berbasis AI sedang booming di China berkat efisiensi dan biaya rendah, namun memicu kekhawatiran serius soal pelanggaran hak cipta dan ancaman terhadap mata pencaharian para kreator.
Cuplikan dari episode pertama mikrodrama yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) berjudul Master of Fengshui, yang diproduksi perusahaan SocialTok yang berbasis di Jiangxi, China. (Gambar: Douyin/SocialTok Playlet)
SINGAPURA: Di puncak gunung bersalju yang menjulang tinggi, seorang ahli Fengshui China bertarung melawan pendeta Shinto Jepang, saat awan badai gelap berkumpul.
Berbekal luopan, kompas tradisional China, ia menangkis ular-ular raksasa yang dipanggil oleh lawannya — namun akhirnya kalah dan terlempar jatuh.
Adegan dramatis tersebut bukan hasil kerja aktor, kru stunt, atau tim efek visual — melainkan dibuat menggunakan alat kecerdasan buatan generatif oleh SocialTok, perusahaan pemasaran digital dan AI asal China yang berkantor pusat di Nanchang, Jiangxi.
Video berdurasi dua setengah menit itu merupakan episode pertama dari serial mikrodrama 61 bagian berjudul Master of Feng Shui — dan meraih 100 juta penayangan dalam waktu 12 jam setelah debutnya pada 18 Maret, menurut laporan media lokal.
Sejak itu, video tersebut telah mengumpulkan lebih dari 1,2 juta tanda suka di platform video pendek Douyin.
Mikrodrama yang dihasilkan AI kini tengah melanda China. Dari anjing istana kekaisaran yang licik hingga buah-buahan antropomorfik yang mencari cinta, produksi surealis berbasis algoritma ini mendorong industri domestik yang sedang berkembang pesat — kini bernilai sekitar 100 miliar yuan (Rp250 triliun) — hampir dua kali lipat pendapatan box office negara tersebut, menurut pengamat industri.
Ribuan produksi semacam ini dirilis setiap bulan sejak awal 2026. Namun, di balik pertumbuhan eksplosifnya, muncul kekhawatiran mendalam di kalangan aktor dan kreator: bahwa teknologi yang sama yang meningkatkan efisiensi dan skala produksi juga mengikis hak mereka dan berpotensi mengancam mata pencaharian mereka.
KEKHAWATIRAN HAK CIPTA DAN "DUPLIKAT DIGITAL"
Kontroversi meningkat dalam beberapa pekan terakhir terkait penampil AI yang memiliki kemiripan mencolok dengan aktor nyata.
Perusahaan produksi berbasis di Shanghai, Youhug Media, menuai kritik setelah memperkenalkan dua aktor hasil AI yang penampilannya dianggap mirip dengan bintang film China Zhai Zilu serta aktris Zhao Jinmai dan Zhang Zifeng.
Insiden ini kembali memicu perdebatan apakah sistem AI generatif secara efektif “mereplikasi” penampil manusia tanpa persetujuan.
Pada Maret, pengadilan di Beijing memutuskan memenangkan seorang aktris yang tidak disebutkan namanya setelah hak citranya dilanggar ketika dua perusahaan menggunakan AI generatif untuk menciptakan karakter yang menyerupainya dalam sebuah mikrodrama.
Kasus ini terungkap ketika aktris tersebut menemukan bahwa wajahnya ditempelkan pada karakter, menurut laporan media China.
Mengutip Kitab Undang-Undang Hukum Perdata China, Hakim Zhao Qi mengatakan, meskipun wajah yang dihasilkan AI sedikit berbeda dari aslinya, hal itu tetap merupakan pelanggaran jika publik dapat mengenali orang tersebut.
“Segmen tersebut memiliki kemiripan yang kuat dengan sang aktris dan komentar publik mengidentifikasi karakter itu sebagai dirinya,” kata Zhao, seraya menambahkan bahwa platform streaming juga akan dimintai pertanggungjawaban karena tidak meninjau konten dan “gagal menjalankan kewajibannya untuk mencegah pelanggaran”.
Para ahli hukum di China mengatakan bahwa kriteria utama dalam menentukan pelanggaran adalah “kemampuan untuk dikenali”.
Jika publik dapat mengenali gambar hasil AI sebagai aktor tertentu, hal itu dapat dianggap sebagai pelanggaran — baik itu hasil dari “peniruan yang disengaja” atau “kebetulan teknis”, kata Li Zhenwu, pengacara di Shanghai Lizhen Law Firm.
Jika keadaannya serius, hal itu bahkan dapat dianggap sebagai tindak pidana, tambah Li.
Berbicara kepada media milik negara Global Times, You Yunting, pengacara dari Shanghai Debund Law Offices, menuturkan, penggunaan data pribadi untuk melatih alat AI generatif menimbulkan pertanyaan apakah hal tersebut termasuk penggunaan yang wajar.
Jika pengguna memasukkan foto atau kemiripan seseorang ke dalam alat AI — sehingga wajah individu tersebut muncul dalam drama pendek — maka pengguna tersebut melanggar hak atas potret, ujar You.
Dalam pernyataan yang dirilis pada 2 April, Komite Aktor dari Federasi Asosiasi Radio dan Televisi China mengecam meningkatnya penyalahgunaan teknologi AI, termasuk penggunaan tanpa izin citra dan audio aktor untuk pelatihan model AI.
Namun, pelaku industri mengatakan masalah ini bersifat sistemik. Model AI generatif dilatih menggunakan basis data besar yang diambil dari internet, sering kali tanpa persetujuan yang jelas dari individu yang wajah, suara, atau penampilannya disertakan.
“Model ini bergantung pada jumlah data visual yang sangat besar,” kata Niu Cong, koordinator proyek di Versatile Media, perusahaan produksi virtual berbasis di Hangzhou yang memproduksi mikrodrama AI.
“Tetapi apakah semua data itu — terutama wajah manusia — telah memperoleh izin yang tepat masih sangat dipertanyakan,” ujarnya.
Kurang dari setahun, perusahaan tersebut memproduksi mikrodrama AI — namun berhasil merilis serial mikrodrama fantasi 12 episode yang “sepenuhnya dihasilkan AI” sebelum Tahun Baru Imlek.
Setiap episode berdurasi sekitar satu menit dan mengikuti kisah protagonis pria Xiao Jin serta rubah putih pendampingnya, Bai Lu.
Serial tersebut telah menghasilkan hampir 18 juta tayangan di Hongguo — platform drama pendek milik ByteDance, kata Niu.
Serial ini sepenuhnya dihasilkan AI dan “benar-benar merupakan karya uji coba bagi kami — mulai dari penulisan naskah hingga hasil akhir”, kata Niu, seraya menambahkan bahwa waktu produksi secara keseluruhan “sangat singkat”.
Tim menyelesaikan seluruh serial dalam waktu empat hingga lima hari, katanya. “Kami bekerja secara intensif untuk menyelesaikannya sebelum Festival Musim Semi dan meluncurkannya secara online di Douyin dan Hongguo.”
Dengan perkembangan AI yang sangat cepat, perusahaan tersebut juga mengembangkan alat produksi AI sendiri bernama MOKE.
“Itu adalah alat produksi yang sangat penting bagi kami,” kata Niu.
“Awalnya digunakan untuk membantu sistem produksi virtual kami untuk aplikasi dan pengambilan gambar, tetapi sekarang dapat menyelesaikan seluruh proses pembuatan konten dari satu platform — mulai dari naskah hingga visual hingga hasil video,” tambahnya.
“Itu sangat cepat. Kami sedang mengerjakan film berlatar era Republik hanya menggunakan foto-foto lama, dan MOKE membantu mengubah gambar datar ini menjadi ruang 3D.
“Apa yang dulu membutuhkan tim beranggotakan empat hingga lima orang selama dua minggu kini dapat dilakukan oleh dua orang hanya dalam tiga hari.”
PERDEBATAN GLOBAL DAN PENOLAKAN INDUSTRI
Kekhawatiran terhadap AI generatif di China mencerminkan perdebatan global yang lebih luas.
Menurut laporan global yang dirilis UNESCO pada 18 Februari, pekerja kreatif — mulai dari aktor hingga penulis — berisiko karyanya digunakan untuk melatih sistem AI tanpa pembayaran atau pengakuan.
“Peralihan menuju produksi dan konsumsi digital telah menciptakan peluang baru tetapi juga meningkatkan ketidakpastian ekonomi,” kata UNESCO, seraya menambahkan bahwa “gangguan terjadi dengan kecepatan yang melampaui respons kebijakan saat ini, memperburuk ketimpangan dan mengancam mata pencaharian jutaan pekerja budaya”.
“Kreator mengalami peningkatan paparan terhadap pelanggaran kekayaan intelektual dan penurunan imbal hasil atas karya mereka seiring produk yang dihasilkan AI memasuki pasar.”
Bagi para pelaku industri film dan televisi di China, adopsi cepat AI generatif menjadi kekhawatiran yang semakin besar.
Dalam siaran langsung baru-baru ini, aktor Yang Xuwen MENYAMPAIKAN, dampak AI “sangat besar”. Banyak drama kini dapat diselesaikan menggunakan teknologi tersebut.
Ia menambahkan, investor semakin fokus pada waktu produksi dan biaya.
Aktor senior Jin Dong, berbicara di sela-sela pertemuan tahunan Dua Sesi China, mengatakan, naskah yang dihasilkan AI saja tidak dapat menjamin kualitas.
“Naskah hanyalah salah satu aspek dari keseluruhan proyek,” katanya. “Masih ada latihan dan proses pengambilan gambar. Tidak peduli seberapa bagus naskahnya, jika diproduksi secara kasar, hasil akhirnya mungkin tidak baik.”
Penulis naskah Yu Zheng berpendapat, AI “tidak akan pernah sepenuhnya menggantikan” performa manusia nyata.
“Ada yang menyukai karakter 2D, ada juga yang menikmati manusia nyata,” tulisnya di Weibo, seraya menambahkan bahwa meskipun ia bereksperimen dengan drama AI, aktor dan kreator terampil “tidak perlu khawatir” dan bahwa “manusia akan menang”.
AI SEBAGAI ALAT KREATIF — BUKAN PENGGANTI
Para ahli mengatakan bahwa kemunculan AI generatif tidak terelakkan, terutama mengingat peningkatan efisiensinya.
“Bayangkan produktivitas dalam memproduksi mikrodrama menggunakan AI generatif — teknologi ini dapat mempersingkat siklus produksi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu,” kata Xiao Lu, asisten profesor dari Academy of Film and Creative Technology di Xi’an Jiaotong-Liverpool University.
“Ini secara signifikan mengubah alur kerja tradisional,” katanya — sekaligus menurunkan biaya.
Namun, tantangan tetap ada.
Niu menyoroti adanya “rasa AI” dalam konten yang dihasilkan — di mana penonton dapat dengan cepat menyadari sesuatu itu buatan — serta sulitnya menemukan talenta yang memahami perfilman sekaligus sistem AI.
“Intinya tetap manusia dan penilaian estetika mereka,” katanya. “Kombinasi keterampilan itu sulit ditemukan.”
Menurut Xiao, meskipun AI generatif dapat digunakan untuk ide dan konseptualisasi, karya akhir tidak dapat sepenuhnya dihasilkan oleh AI.
“Anda tetap membutuhkan masukan manusia, dan perlu merevisi serta menyesuaikan konten yang dihasilkan AI — sehingga biasanya digunakan model produksi hibrida oleh perusahaan produksi di China,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan dalam menjaga kualitas, konten yang dihasilkan AI bisa tidak konsisten.
“Misalnya, seorang karakter ditampilkan sebagai pria muda di awal, tetapi kemudian digambarkan sebagai pria tua — itulah inkonsistensi penggunaan AI generatif dalam pembuatan konten, dan risiko teknis yang perlu kita pertimbangkan.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.