Pergulatan Thailand menghadapi sungai beracun dan dampak tambang-tambang Myanmar
Pencemaran terkait aktivitas pertambangan di Myanmar memicu kekhawatiran akan keamanan pangan, menyusutnya pendapatan, serta risiko kesehatan jangka panjang bagi masyarakat di Thailand yang bergantung pada anak-anak Sungai Mekong, demikian temuan Insight CNA.
Boongaew Kamlor, nelayan di Chiang Rai, Thailand, menunjukkan ikan hasil tangkapannya yang abnormal atau mengalami lesi.
CHIANG RAI, Thailand: Thongkham Inprom telah bertani selama lebih dari enam dekade, menanam padi varietas melati dan ketan di Chiang Rai.
Tiap tahun, lelaki 71 tahun itu memanen sekitar 60 ton, menyisihkan 1 persen untuk keluarga, dan menggiling sisanya untuk dijual di Thailand bagian tengah.
Namun, kini ia khawatir tidak lagi bisa menjual hasil panen. Beberapa lembaga pemerintah menemukan kandungan arsenik di tanah dan air di lahannya, dan kondisi itu sudah mulai memengaruhi tanamannya.
Beras merahnya mengandung arsenik yang masih berada di batas aman, tetapi gabahnya “berada tepat di ambang batas”, ungkap Somporn Pengkam, direktur Community-led Health Impact Assessment Platform yang menelaah hasil uji terhadap hasil pertanian tersebut.
Meski kadar arsenik pada beras putih poles dari sawah Thongkham lebih rendah, tetap ada alasan untuk khawatir.
“Meski asupan hariannya masih di batas aman, zatnya tetap menumpuk. Awalnya, tubuh bilang, ‘Saya bisa menangani dan membuangnya.’ Setelah seminggu, ‘masih bisa diatasi’. Setelah sebulan, tubuh mulai kesulitan,” papar Somporn.
“Setelah enam bulan, tubuh pun berkata, ‘Saya tidak bisa menanganinya lagi’. Ginjal tidak lagi bisa membuang. Saat itulah kita mulai mendeteksinya dalam tubuh. Keracunan arsenik pada akhirnya dapat menyebabkan kanker di banyak organ, terutama kulit dan kandung kemih.”
Arsenik juga telah ditemukan dalam urine Thongkham. Hasil tes yang dilakukan dengan selang waktu beberapa bulan menunjukkan kadarnya terus meningkat hingga mencapai dua kali batas paparan yang dianggap aman.
“Saya tidak tahu pasti apa yang bisa kami lakukan,” ujarnya. “Sulit menghindarinya. Kami makan nasi tiap hari.”
Bukan di lahannya saja arsenik — unsur kimia alami namun beracun di tanah, air, dan sejumlah mineral — ditemukan melebihi kadar yang seharusnya.
Maret lalu, Departemen Pengendalian Pencemaran Thailand mendeteksi kadar arsenik yang tinggi pada sedimen Sungai Mekong, urat nadi kehidupan bagi sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Lebih dari 65 juta orang tinggal di kawasan hilir Daerah Aliran Sungai Mekong.
Temuan tertinggi mencapai 296 miligram per kilogram sedimen, atau sembilan kali lipat dari ambang batas aman, yakni 33 mg/kg.
Bahkan, logam berat seperti timbal dan mangan telah terdeteksi di anak-anak sungai bagian utara Mekong sejak tahun lalu. Dalam sejumlah pengujian, keberadaan zat-zat tersebut juga melampaui standar keamanan Thailand, dengan arsenik kembali menjadi perhatian utama.
Air yang mengairi lahan pertanian Thongkham berasal dari Sungai Sai. Bersama Sungai Kok dan Sungai Ruak, aliran Sai berhulu di Negara Bagian Shan, Myanmar, di seberang perbatasan. Di sanalah, menurut para ahli, sumber pencemaran itu berada: tambang unsur tanah jarang (rare earth).
“Mereka melakukan penambangan tanpa standar dan tanpa hukum, membuang semua bahan kimia dan racun ke sistem sungai kami,” kata Direktur Eksekutif Rivers and Rights Foundation, Pianporn Deetes. “Aktivitas ini merupakan kejahatan terorganisasi lintas negara.”
Perang saudara di Myanmar serta perlombaan global untuk memperoleh mineral-mineral paling penting di dunia menjadi inti dari krisis yang kini kian mengancam, ketika polutan akhirnya mencemari bahan pangan yang diproduksi Thailand, demikian temuan Insight CNA.
IKAN-IKAN TAK BANGKITKAN SELERA
Sebelum arsenik ditemukan pada beras, ikan-ikan dengan pertumbuhan tidak normal atau lesi mulai bermunculan dan memicu kekhawatiran: ada yang tidak beres dengan sungai-sungai di wilayah tersebut.
Sukjai Yana, 75, yang telah mencari ikan di Thailand bagian utara selama lebih dari lima dekade, mengatakan, ia menangkap “sekitar empat atau lima” ikan cacat tahun lalu. Ikan-ikan tersebut tidak dapat dijual dan harus diserahkan kepada pihak berwenang untuk diperiksa.
Departemen Perikanan telah memastikan bahwa ikan-ikan tersebut terinfeksi, kata Wan Wiriya, wakil kepala Environmental Science Research Centre di Universitas Chiang Mai.
“Logam berat atau bahan kimia di dalam air mungkin telah melemahkan sistem kekebalan ikan, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi,” ujarnya.
“Ambil contoh manusia. Semakin kita terpapar lebih banyak bahan kimia, semakin lemah imunitas kita dan makin besar kemungkinan kita jatuh sakit. Ikan pun begitu.”
Dalam sampel ikan yang diuji oleh platform kesehatan milik Somporn, arsenik ditemukan “terutama di bagian perut dan kepala”, ujarnya. “Penumpukan pada udang juga cenderung di bagian kepala.”
Menurutnya, kontaminasi mungkin tidak hanya berasal dari aktivitas pertambangan. ‘“Di beberapa wilayah, bahan kimia pertanian juga bisa menjadi penyebabnya, sehingga air kemungkinan tercemar dari dua sumber.”
Tim Insight menyelidiki sendiri kandungan air dengan mengambil sampel dari tiga lokasi untuk dianalisis, yakni di Chiang Rai, Nong Khai, dan Tha Ton di Chiang Mai, tempat Sungai Kok memasuki wilayah Thailand.
Meski arsenik tidak terdeteksi pada sampel yang diambil di Nong Khai, yang berada lebih jauh di hilir Sungai Mekong, kadar arsenik sebesar 0,0159 mg/L ditemukan di Tha Ton — melampaui standar keamanan 0,01 mg/L.
Kadar kromium di lokasi itu masih dalam kisaran aman, “tapi ketika semuanya hadir bersamaan, itu berarti kadar logam beratnya tinggi,” jelas Wan saat mengungkapkan hasil pengujian. “Semua terakumulasi karena sehari-hari kita tidak cuma makan satu jenis makanan, kan?”
Sementara itu, sampel dari Chiang Rai menunjukkan nilai yang lebih tinggi “di semua parameter”, dengan kadar arsenik sekitar 0,03 mg/L — tiga kali lipat dari batas aman. “Bahan-bahan kimia terus menumpuk di sana,” katanya. “Ini bom waktu yang terus berdetak.”
Di tepi sungai, masyarakat tidak memerlukan laporan laboratorium untuk mengetahui ada yang tidak beres. “Dulu air sungainya jernih, tidak keruh seperti sekarang. Warnanya dulu juga tidak kuning,” kata warga Tha Ton, Mae Ai Insaeng.
“Orang-orang tidak mau nyemplung atau mandi di sana. ... Dulu kami cuci pakaian di sungai ini, tapi sekarang saya tidak berani lagi.”
Para nelayan seperti Sukjai juga melihat hasil tangkapan mereka terus menurun. Kekhawatiran akan pencemaran turut membuat ikan kian sulit dijual.
“Tahun lalu benar-benar sepi. Pelanggan menghilang begitu saja,” kata penjual ikan Sangkham Ganjai. “Tahun ini kondisinya mulai membaik, meski tidak signifikan.”
Untuk meyakinkan pelanggan, ia menguji ikannya dan memperoleh sertifikasi dari pihak berwenang. Pelanggan dapat memindai kode QR untuk melihat hasil pengujian tersebut. “Saya makan ikan sungai setiap hari, dan saya baik-baik saja,” katanya.
Meski ia sangat berharap aktivitas pertambangan di Myanmar dihentikan mengingat dampaknya terhadap penjualan ikan, ia pesimistis. “Mereka akan terus beroperasi,” ujarnya.
DEMAM TAMBANG DI WILAYAH KONFLIK
Ekstraksi unsur tanah jarang (rare earth) di wilayah pegunungan timur laut Myanmar — di pelosok kawasan konflik yang minim pengawasan — tidak hanya terus berlangsung, tetapi juga berkembang pesat.
Menurut data Stimson Centre, hampir 2.570 tambang kini meninggalkan jejak kerusakan di bentang alam dan daerah aliran sungai di Indochina. Hampir 80 persen di antaranya berada di Myanmar, termasuk 577 tambang unsur tanah jarang yang mengiris perbukitan di negara bagian Shan dan Kachin.
Lembaga pemikir asal AS itu menggunakan citra satelit untuk memetakan perluasan tambang sejak aktivitas ekstraksi bergeser dari China — yang mulai menerapkan standar lingkungan lebih ketat sejak pertengahan 2010-an — ke negara tetangganya di barat daya.
“Anda tiba-tiba memiliki pihak yang sangat bersedia di sisi Myanmar ... yang cukup senang melihat bisnis kotor ini berpindah (melintasi perbatasan),” kata Jason Tower, pakar senior di Global Initiative Against Transnational Organised Crime.
“Pemimpin Pasukan Penjaga Perbatasan di wilayah Kachin, Ting Ying, pada dasarnya membangun jaringan ... perusahaan pertambangan, jumlahnya lebih dari 100.”
China masih menjadi pemimpin yang tak terbantahkan dalam industri unsur tanah jarang, menyumbang 69,2 persen produksi tambang global tahun lalu dan sekitar 90 persen kapasitas pemurnian dunia.
Namun, menurut perkiraan US Geological Survey, Myanmar kini menjadi produsen unsur tanah jarang terbesar keempat di dunia, setelah China, Amerika Serikat, dan Australia. Myanmar juga merupakan pemasok unsur-unsur tanah jarang terbesar bagi China dari luar negeri.
Akan tetapi, pada 2024, Tentara Kemerdekaan Kachin mengalahkan Pasukan Penjaga Perbatasan Kachin yang berpihak kepada militer dan menguasai tambang-tambang tersebut, dengan tujuan menempatkan sumber daya unsur tanah jarang di bawah kendalinya.
“Tentu saja tambang-tambang itu sangat berharga, pemasukannya ratusan juta, bahkan miliaran dolar,” ujar Tower. “China melihat dinamika yang terjadi di lapangan, lalu mulai mencari sumber pasokan alternatif.”
Itulah sebabnya penambangan unsur tanah jarang kemudian meluas ke Negara Bagian Shan — wilayah yang dikuasai United Wa State Army, kelompok bersenjata etnis lain yang merupakan salah satu sekutu China — serta ke daerah tangkapan air yang sama yang memasok anak-anak Sungai Mekong.
“Banyak dari tambang-tambang ini dibiayai ... oleh perusahaan-perusahaan China,” kata analis riset Stimson Centre, Regan Kwan. “Warga negara China yang ahli dalam proses kimia ... kemudian membantu proses penyuntikan bahan kimia pada tingkat teknis.”
Bahan kimia diperlukan untuk mengekstraksi unsur tanah jarang, dan penambangan satu ton mineral tersebut dapat menghasilkan hingga 2.000 ton limbah. Aktivitas pertambangan juga meningkatkan pelepasan arsenik.
“Secara teori, jika ada regulasi, Anda akan berupaya menampung sebanyak mungkin air limbah, kemudian mengolahnya sebelum mengalirkannya kembali ke sungai,” kata Kwan.
“Namun, itulah yang tidak terjadi di Myanmar saat ini. Air limbah tersebut justru langsung dipompa kembali ke sistem sungai.”
Seiring meluasnya aktivitas pertambangan, Beijing menghadapi pertanyaan mengenai perannya dalam pencemaran tersebut.
Tahun lalu, Kedutaan Besar China di Thailand menyatakan pihaknya memberikan “perhatian besar” terhadap laporan pencemaran tersebut serta mendorong Thailand dan Myanmar untuk melakukan penyelidikan ilmiah dan menyelesaikan persoalan itu melalui “dialog bersahabat”.
Kedutaan juga menyatakan perusahaan-perusahaan China di luar negeri harus mematuhi peraturan setempat.
Namun, karena Myanmar merupakan tempat pertempuran yang kian sengit antara militer dan berbagai kelompok bersenjata etnis sejak 2023, tidak jelas siapa yang sebenarnya menegakkan hukum.
MASALAH YANG “TIDAK BISA DISELESAIKAN SEKETIKA”
Di wilayah hilir di Thailand, berbagai lembaga pemerintah “bekerja dengan kapasitas penuh untuk menyelesaikan masalah ini”, kata Wakil Direktur Jenderal Departemen Pengelolaan Sumber Daya Air, Pongpat Samerkum. “Namun, persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan seketika.”
Departemennya terutama berfokus pada pertanian tadah hujan serta sumber-sumber air seperti sungai kecil, kolam, kanal, dan lahan basah.
“Masih bisa dimanfaatkan, tetapi pasokannya terbatas. Maka penggunaannya harus direncanakan dengan cermat supaya airnya benar-benar bermanfaat,” ujarnya.
“Yang perlu segera dilakukan adalah mencari sumber air daratan alternatif untuk dialirkan ke wilayah ini guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari.”
Pemerintah juga menyatakan akan terus memantau kondisi sungai secara ketat. Sejauh ini, belum ditemukan pencemaran radioaktif yang berkaitan dengan produksi unsur tanah jarang. Namun, jika masalah lain muncul, pemerintah sedang menyiapkan solusi pengolahan air untuk produksi air bersih.
“Kami juga sedang mengkaji metode teknis yang lebih canggih untuk pemantauan, seperti stasiun pengujian kualitas air otomatis,” kata Chanan Tiranarat, Direktur Divisi Pengelolaan Kualitas Air di Departemen Pengendalian Pencemaran.
“(Stasiun-stasiun tersebut) bisa membuat laporan setiap hari. Kalau ada apa-apa, kami bisa segera mengeluarkan peringatan kepada masyarakat bahwa kualitas airnya buruk dan mereka harus berhenti menggunakannya.”
Namun, semua itu solusi jangka pendek. Agar pencemaran berhenti dari sumbernya, Thailand telah mengumumkan rencana melibatkan Australia dan Jepang — dua importir utama unsur-unsur tanah jarang yang pengirimannya melewati Thailand — sebagai perantara dalam perundingan dengan Myanmar.
“Hal ini mencakup solusi teknis, seperti penerapan praktik pertambangan yang lebih bersih serta pemantauan kesehatan masyarakat di negara kami maupun negara tetangga,” kata Chanan. Ia menambahkan, pembicaraan dengan mitra luar negeri Bangkok telah dimulai.
“Kami juga berkomunikasi melalui Komisi Sungai Mekong, melibatkan beberapa negara yang terhubung dengan aliran Sungai Mekong.”
Ditanya apakah Thailand juga melibatkan Myanmar dan China, Chanan mengatakan, kedua negara itu “berpartisipasi terutama sebagai pengamat”. Ia menambahkan: “Pada akhirnya, ini soal kerja sama. Dari sisi penegakan hukum, ... tidak ada mekanisme hukum yang dapat memaksa tiap negara untuk bertindak.”
Myanmar sendiri masih terpecah secara politik, meski Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang didukung militer meraih kemenangan telak dalam pemilu awal tahun ini. Banyak kelompok bersenjata etnis dan pasukan perlawanan menolak hasil tersebut dan terus menentang pemerintahan militer.
“Bahkan, jika pemerintahan USDP yang baru terbentuk nantinya menerapkan perlindungan lingkungan yang lebih kuat,” kata Tower, “pada akhirnya semua bergantung pada pihak-pihak yang menguasai sumber daya mineral tersebut.”
Karena itu, dosen ilmu lingkungan Universitas Rajabhat Udon Thani, Santiparp Siriwattanaphaiboon, berharap China mengambil peran yang “positif” dengan “menetapkan standar yang melindungi negara-negara tetangga dari dampak aktivitas seperti pertambangan”.
“Myanmar mau mendengarkan China. Kelompok-kelompok etnis juga mau mendengarkan China,” ujarnya. “Jika yang Anda peroleh berasal dari hal merugikan, maka Anda juga harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.”
Unsur tanah jarang sebenarnya dapat ditemukan di banyak tempat, tetapi sangat sulit diekstraksi, sehingga menjadikannya sumber daya yang bernilai tinggi.
“China secara efektif berhasil mengonsolidasikan tingkat dominasi strategis tertentu di sektor ini,” kata Tower. “Apakah mereka akan dengan mudah melepaskan kendali atas rantai pasok tersebut? Tentu tidak.”
Saat ini, unsur tanah jarang digunakan dalam berbagai produk, seperti telepon pintar, laptop, dan kendaraan listrik. Dari sisi permintaan, Kwan menilai masyarakat juga perlu ambil peran, yakni dengan mengurangi konsumsi dan lebih banyak mendaur ulang.
“Kita tidak perlu beli terus tiap kali model terbaru diluncurkan, sebab itu hanya akan meningkatkan permintaan global terhadap material seperti unsur tanah jarang berat,” ujarnya. Ia menambahkan, konsumen perlu mendorong perusahaan untuk menuntut praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab.
Sementara itu, masyarakat di sepanjang Sungai Mekong dan anak-anak sungainya harus menanggung dampak terbesar dari meluasnya industri unsur tanah jarang. “Sudah tidak seperti dulu lagi,” kata Sukjai, mengeluhkan rendahnya permintaan ikan. “Berat rasanya hati ini.”
Thongkham, sang petani, juga cemas memikirkan masa depan. “Kalau suatu hari nanti kami benar-benar tidak bisa lagi menjual hasil pertanian, apa yang harus kami lakukan? Kami mau hidup dari apa?” ujarnya.
“Kalau terlalu dipikirkan, malah bikin stres. Saya kasihan kepada kita semua.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.