EVolusi Asia: Produsen EV cari alternatif motor listrik tanpa unsur tanah jarang, India tawarkan solusi
Seri EV di Asia kali ini mengulas meningkatnya peran India dalam pengembangan motor tanpa logam tanah jarang, serta hambatan yang dihadapi dalam adopsi yang lebih luas.
Para pekerja sedang merakit motor reluktansi sinkron di pabrik Chara Technologies di Bengaluru, India. (Foto: Chara Technologies)
SINGAPURA: Produsen kendaraan listrik (EV) meningkatkan upaya mengurangi ketergantungan pada magnet logam tanah jarang setelah gangguan pasokan baru-baru ini menguak titik lemah dalam industri, ujar para analis.
Kondisi ini memicu evaluasi ulang desain motor penggerak, seiring perusahaan mencari alternatif yang lebih hemat biaya dan mengurangi risiko geopolitik akibat rantai pasok yang terpusat.
Produsen mobil dan pemasok asal India mulai memperlihatkan kemajuan di bidang ini, dengan beberapa perusahaan mengatakan kepada CNA bahwa mereka sudah menguji atau menerapkan solusi motor tanpa logam tanah jarang di berbagai segmen.
Namun, para ahli menilai keunggulan India bukan pada terobosan teknologi, melainkan pada kondisi pasarnya — skala, konsumen yang sensitif terhadap harga, dan dorongan lokalisasi.
Di saat yang sama, pengamat dan pelaku industri menunjukkan bahwa transisi ini kemungkinan berlangsung bertahap, karena produsen mobil menimbang apakah desain alternatif dapat menyamai motor penggerak konvensional dalam hal biaya, efisiensi, dan keandalan.
TEKNOLOGI LAMA, KEBUTUHAN BARU
Unsur tanah jarang — kelompok yang terdiri dari 17 logam — digunakan untuk magnet permanen yang menggerakkan sebagian besar motor EV modern.
China mendominasi pasokan tanah jarang, menyumbang sekitar 60 persen dari penambangan global dan 91 persen dari hasil pemurnian, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Ketergantungan ini kentara tahun lalu ketika China memperketat kontrol ekspor tanah jarang di tengah ketegangan dagang dengan Amerika Serikat, menyebabkan gangguan rantai pasok global.
Produsen mobil besar telah mulai mengantisipasi risiko ini dengan beralih ke desain motor EV alternatif yang mengurangi atau menghilangkan ketergantungan pada tanah jarang.
Renault, BMW, dan Nissan termasuk di antara yang dilaporkan meningkatkan upaya tersebut. Renault dan BMW bahkan telah menerapkan desain tanpa komponen bersumber dari tanah jarang pada beberapa model mobilnya sejak 2011 dan 2012, dan kini berupaya memperluas penggunaannya. Model Ariya milik Nissan, yang diperkenalkan pada 2020, menggunakan desain motor tanpa bahan dari tanah jarang.
Bahkan, sebelum gangguan pasokan terbaru, sejumlah perusahaan telah memberi sinyal pergeseran. Pada Maret 2023, Tesla menyatakan menargetkan pengembangan motor generasi berikutnya yang tidak bergantung pada tanah jarang, tanpa memberikan jadwal pasti untuk penerapannya.
Dorongan ini bukan semata soal geopolitik, tetapi juga finansial.
“Pada mobil penumpang volume tinggi, magnet tanah jarang dapat menyumbang porsi yang sangat signifikan dari total biaya motor,” kata James Widmer, CEO dan salah satu pendiri Advanced Electric Machines (AEM), produsen motor EV asal Inggris.
“Ketika Anda memproduksi jutaan kendaraan, hal itu menjadi faktor yang sangat penting bagi OEM (produsen peralatan asli),” ujarnya kepada CNA.
Unsur tanah jarang diperkirakan menyumbang sekitar 40 hingga 60 persen dari biaya material aktif sebuah motor listrik, menurut laporan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Sustainable Materials and Technologies pada Oktober 2025.
Sebagai perbandingan, estimasi industri menunjukkan bahwa motor listrik tanpa unsur tanah jarang 30 hingga 60 persen lebih murah untuk diproduksi, menurut laporan firma konsultan India, JMK Research & Analytics pada Oktober 2025.
SOLUSI BUATAN INDIA
Desain motor alternatif secara umum terbagi dalam dua kategori — yang menghilangkan magnet dan yang mengganti tanah jarang dengan material yang lebih murah serta lebih mudah diperoleh.
Di antara pendekatan yang paling berkembang di lanskap EV India adalah motor yang tidak menggunakan magnet, serta desain yang menggantikan tanah jarang dengan ferrite — material berbiaya rendah yang umum digunakan, misalnya pada magnet kulkas.
Menurut para ahli industri, opsi ini menawarkan kompromi paling mendekati antara keamanan pasokan, biaya, dan kemudahan manufaktur, meski ada konsekuensi pada performa dan efisiensi.
“Magnet ferrite jauh lebih murah dan lebih melimpah dibandingkan magnet tanah jarang,” kata Sriram Gopal, pendiri dan CEO Viridian Ingni Propulsion, produsen motor EV yang berbasis di Chennai, Tamil Nadu.
Magnet ferrite dapat berharga sekitar 400 rupee (sekitar Rp73.000) per kg, dibandingkan magnet tanah jarang seharga 6.000 rupee (sekitar Rp1 juta) per kg, menurut laporan JMK Research & Analytics.
Media setempat melaporkan bahwa produsen kendaraan roda dua listrik terkemuka di India, seperti TVS Motor dan Ola Electric, mulai mengembangkan motor berbasis magnet ferrite sejak Juli tahun lalu. Perusahaan seperti Conifer dan Viridian Ingni Propulsion juga mengembangkan motor ferrite untuk berbagai OEM.
Pada saat yang sama, produsen motor EV India lainnya juga mulai menembus produk tanpa magnet.
Sebagai contoh, Chara Technologies di Bengaluru mengembangkan motor reluktansi sinkron, yaitu desain yang menghasilkan gerak tanpa magnet.
Teknologi ini telah lama digunakan dalam aplikasi industri, tetapi jarang diterapkan pada EV karena tantangan dalam pengendalian, kata Bhaktha Keshavachar, salah satu pendiri dan CEO Chara Technologies.
“Dengan elektronika daya dan algoritma kontrol yang lebih baik saat ini, masalah tersebut dapat diatasi,” ujarnya kepada CNA.
Teknologi ini sudah mulai digunakan di segmen yang kurang menonjol di India seperti mesin industri, di mana pembeli lebih memprioritaskan biaya operasional dan daya tahan.
Bullwork Mobility yang berbasis di Bengaluru, yang memproduksi peralatan pertanian dan konstruksi listrik, menyatakan kepada CNA bahwa mereka menggunakan motor tanpa tanah jarang dari Chara Technologies pada traktor listrik, loader, dan penyemprot pertanian sejak awal 2025.
Vinay Raghuram, salah satu pendiri Bullwork Mobility, mengatakan kepada CNA bahwa perusahaannya menargetkan “95 persen” komponennya berasal dari dalam negeri dan sangat memperhatikan pembatasan risiko rantai pasok dari luar negeri.
PELUANG PASAR
Meski perusahaan lokal mulai memposisikan diri untuk peran yang lebih besar, porsi India dalam pasar global motor tanpa tanah jarang masih kecil.
Keshavachar dari Chara Technologies memperkirakan, nilai pasar internasional sekitar US$70 miliar (Rp1.199 triliun), dengan India hanya menyumbang sekitar US$2 miliar.
Pasar motor tanpa tanah jarang masih terfragmentasi, dengan aktivitas tersebar di China, Amerika Serikat, Eropa, dan India.
Negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan memimpin dalam produksi motor, adopsi EV, dan inovasi teknologi, tambah Keshavachar. “China sendiri menguasai pangsa pasar 27,3 persen, sementara kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan mencapai 39,5 persen.”
Perusahaan dan kelompok riset di AS dan Eropa telah mengembangkan motor tanpa unsur tanah jarang, sementara perusahaan China juga mulai masuk ke bidang ini meski mereka memiliki akses yang lebih mudah terhadap tanah jarang.
Namun, para ahli mengatakan kepada CNA bahwa keunggulan India bukan terletak pada inovasi terobosan, melainkan pada ekosistemnya — volume besar kendaraan roda dua dan tiga, konsumen yang sensitif terhadap harga, serta insentif kuat untuk lokalisasi komponen kunci.
Contohnya, motor berbasis magnet ferrite. Kelemahan utamanya adalah kekuatan magnet yang lebih lemah — artinya menghasilkan daya lebih kecil untuk ukuran yang sama dan mungkin memerlukan desain yang lebih besar atau kurang efisien.
Namun, hal ini tidak menjadi masalah bagi skuter dan sepeda motor, yang umumnya membutuhkan daya lebih kecil dan lebih mengutamakan keterjangkauan dibanding performa.
“Artinya, motor harus dirancang secara berbeda. Akan tetapi, dengan desain motor dan sistem kontrol elektronik yang tepat, performa yang sangat baik tetap bisa dicapai untuk aplikasi seperti kendaraan roda dua,” kata Gopal dari Viridian Ingni Propulsion.
Kendaraan roda dua mendominasi pasar kendaraan di India, dengan penjualan mencapai sekitar 75 hingga 80 persen dari total pasar, menurut data penjualan lokal.
Di luar permintaan domestik, produsen motor India juga membidik ekspor.
Chara Technologies telah bekerja sama dengan sejumlah OEM Eropa dan memiliki kantor di Belgia serta Italia, dengan rencana ekspansi lebih lanjut ke Eropa dan Amerika Utara.
Conifer, perusahaan asal India yang berkantor pusat di AS, bekerja sama dengan Lyra Energy yang sedang mengembangkan skuter listrik. Salah satu pendiri Conifer, Ankit Somani, mengatakan, perusahaannya memiliki pabrik di Pune dengan kapasitas produksi sekitar 70.000 unit per tahun sebagai tahap awal. Rencananya, kapasitas ini ditingkatkan menjadi “setidaknya seperempat juta unit per tahun” pada fase berikutnya.
Dorongan ini juga sejalan dengan rencana pemerintah India yang diumumkan pada Agustus 2025 untuk menjadikan negara tersebut sebagai pusat ekspor EV.
KOMPROMI DAN TANTANGAN TEKNIS
Meski momentum terus meningkat di India dan secara global, para analis mencatat masih ada kompromi dan tantangan teknis sebelum motor listrik tanpa tanah jarang dapat diadopsi secara luas.
Sebanyak 70 hingga 80 persen motor kendaraan listrik saat ini masih menggunakan magnet tanah jarang, menurut laporan industri JMK Research & Analytics.
Kecenderungan konservatif di industri otomotif membuat adopsi berlangsung lambat, walau risiko geopolitik telah disadari, menurut para ahli.
Somani mengatakan, produsen mobil baru akan mengadopsi motor tanpa tanah jarang secara luas jika alternatifnya “lebih unggul di semua aspek”, termasuk performa, ukuran, biaya, dan keandalan.
Saat ini, motor berbasis tanah jarang umumnya lebih efisien, dengan konversi energi menjadi gerak sekitar 90 hingga 95 persen dalam kondisi berkendara, dibandingkan sekitar 84 hingga 92 persen untuk alternatif tanpa tanah jarang, menurut para ahli.
Berbagai jenis motor tanpa tanah jarang juga memiliki tantangan masing-masing.
Sebagai contoh, motor reluktansi switched cenderung menghasilkan getaran dan kebisingan lebih tinggi, sementara motor reluktansi synchronous membutuhkan sistem kontrol yang lebih canggih agar dapat beroperasi dengan halus.
Motor berbasis ferrite menggunakan material magnet yang lebih lemah, yang membatasi performa dan meningkatkan panas pada motor.
Namun, magnet ferrite umumnya lebih tahan panas jika dibandingkan magnet tanah jarang.
“Magnet tanah jarang rentan mengalami demagnetisasi pada suhu tinggi,” kata Dorsa Talebi, peneliti di Texas A&M University yang mengembangkan motor tanpa tanah jarang.
Para analis juga mengingatkan bahwa beralih dari motor berbasis tanah jarang tidak sepenuhnya menghilangkan ketergantungan, melainkan menggesernya.
“Penghilangan magnet tanah jarang dapat mengurangi risiko geopolitik akibat konsentrasi mineral, namun ketergantungan material akan berpindah ke komponen umum seperti tembaga dan baja listrik,” kata Abhik Mukherjee, analis riset di Counterpoint Research, kepada CNA.
Bagaimanapun, jalan menuju adopsi massal motor tanpa tanah jarang masih panjang, menurut para analis dan pelaku industri.
“Bisa jadi butuh 10 tahun lagi bagi semua perusahaan untuk benar-benar memahami dan mulai mengembangkan alternatif,” kata Gopal dari Viridian Ingni Propulsion.
Pelaku industri menyebut dukungan pemerintah akan dibutuhkan untuk mempercepat adopsi di industri otomotif India.
“Begitu semakin banyak kendaraan (dengan motor tanpa tanah jarang) di jalan, kepercayaan terhadap teknologi ini akan berubah,” kata Raghuram dari Bullwork Mobility.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.