Skip to main content
Iklan

Asia

Warga Sarawak berjibaku hadapi kabut asap terparah sejak 2019

Dari seluruh negara bagian Malaysia, Sarawak paling parah terdampak kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan di Indonesia. CNA berbincang dengan warga dan pelaku usaha di Sarawak untuk mengetahui bagaimana mereka menghadapinya.

Warga Sarawak berjibaku hadapi kabut asap terparah sejak 2019

Pengunjung berjalan melewati gedung Dewan Undangan Negeri Sarawak saat Kuching diselimuti kabut asap tebal pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

KUCHING: Bagi Azie Nurazrin Aziz, 39, yang tengah hamil trimester ketiga, kabut asap yang menyelimuti Sarawak telah membatasi aktivitas sehari-harinya.

Warga Kuching yang mengidap asma dan kehamilannya dikategorikan dokter sebagai “berisiko tinggi” itu harus menjalani hingga tiga kali pemeriksaan di klinik dan rumah sakit setiap pekan, sembari mengelola restorannya sendiri.

Namun, seiring memburuknya kualitas udara, kini ia mengatur aktivitasnya dengan cermat agar tidak terlalu lama berada di luar ruangan.

“Saya harus membagi-bagi urusan agar tidak terlalu lama terpapar di luar. Rasanya sesak,” kata Azie kepada CNA.

“Saya khawatir, saya cemas, bagaimana kalau asma saya kambuh? Cukup berbahaya bagi saya, jadi saya harus benar-benar berhati-hati.”

Azie Nurazrin Aziz, yang tengah hamil dan mengelola restorannya sendiri, termasuk di antara warga yang terdampak kabut asap di Kuching, Sarawak. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Dari seluruh negara bagian Malaysia, Sarawak paling parah terdampak kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Sarawak dan Sabah berbatasan darat dengan Indonesia di Pulau Kalimantan.

Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk dalam sepekan terakhir. Serian menjadi distrik pertama yang menetapkan status darurat kabut asap tahun ini pada Jumat (4/9), setelah Indeks Pencemaran Udara (API) menembus 500.

Status darurat di Serian kemudian dicabut pada Senin (7/9) setelah kualitas udara turun di bawah kategori berbahaya. API Serian tercatat 222 pada Senin, setelah sempat mencapai 519 pada Jumat, menurut data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia.

Namun, Pemerintah Malaysia memperingatkan kondisi kabut asap belum sepenuhnya pulih. Kualitas udara di sejumlah wilayah, terutama Serian dan Samarahan, masih berada pada kategori sangat tidak sehat.

Dalam skala API Malaysia, angka di atas 400 tergolong “sangat berbahaya”. Angka hingga 50 tergolong baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan 301-400 berbahaya.

Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengatakan kepada CNA bahwa ini merupakan kabut asap “terparah” di Sarawak sejak 2019. Saat itu, API tercatat mencapai 405.

Memburuknya kualitas udara pekan lalu telah mengganggu aktivitas sehari-hari di seluruh Sarawak. Berbagai kegiatan luar ruangan, termasuk karnaval, kegiatan lari komunitas dan olahraga, dibatalkan, sementara jarak pandang yang buruk mengganggu sejumlah penerbangan.

Pemerintah pada Jumat juga mengumumkan penutupan sekolah pada 7-11 September akibat kabut asap. Awalnya, penutupan mencakup 647 sekolah di 12 distrik, termasuk Serian dan ibu kota Sarawak, Kuching.

“Berdasarkan pemantauan sepanjang cuti sekolah pekan ini, keadaan memang tampak tidak banyak berubah,” kata Direktur Pendidikan Sarawak Omar Mahli, seperti dikutip media Malaysia.

Jumlah itu kemudian bertambah menjadi 710 sekolah setelah 63 sekolah di Bintulu dan Tatau/Sebauh turut ditutup. Secara keseluruhan, 617 sekolah dasar dan 93 sekolah menengah dengan 238.303 siswa ditutup pada 7-11 September.

Jembatan Darul Hana di Kuching, Sarawak, diselimuti kabut asap tebal pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Sementara itu, pelaku usaha mengatakan, pendapatan mereka terdampak karena warga lebih jarang beraktivitas di luar rumah. Klinik juga melaporkan lonjakan pasien dengan gejala gangguan pernapasan, sementara masker habis terjual di banyak apotek.

Sejumlah warga membandingkan gangguan ini dengan pandemi COVID-19. Mereka kembali harus menyesuaikan rutinitas, membatasi aktivitas di luar rumah dan menghadapi ketidakpastian mengenai berapa lama kondisi ini akan berlangsung.

STATUS DARURAT DI SERIAN

Pemerintah Malaysia mencabut status darurat di Serian pada Senin setelah API turun dari lebih dari 500 pada Jumat menjadi 222. Raja Malaysia Sultan Ibrahim Sultan Iskandar menyetujui pencabutan tersebut atas nasihat Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Perdana Menteri Sarawak Abang Johari Openg, serta laporan instansi pemerintah mengenai membaiknya kualitas udara.

Sebelum status tersebut dicabut, sejumlah warga Serian yang berbicara dengan CNA mengaku masih bingung bagaimana pembatasan itu berdampak pada keseharian mereka.

“Banyak dari kami bingung. Kami masih belum mendapat penjelasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa darurat ini,” kata Yasmina R.C Holland, 26, kepada CNA pada Jumat lalu.

Kabut asap tebal menyelimuti Serian, Sarawak, pada 3 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

API Serian menembus 500 pada pukul 09.00 Jumat dengan angka 510, kemudian naik menjadi 515 pada pukul 17.00 seiring memburuknya kabut asap.

Kondisi membaik pada Sabtu pagi ketika API turun menjadi 390, meski kualitas udara masih tergolong berbahaya. Pada pukul 13.00, API Serian turun lagi menjadi 287.

Pada Senin, API Serian tercatat 222 dan status darurat dicabut. Namun, angka tersebut masih masuk kategori sangat tidak sehat.

Setelah status darurat diumumkan Kantor Perdana Menteri Malaysia, Wakil Perdana Menteri Sarawak Douglas Uggah Embas mengatakan, wilayah darurat dibatasi dalam radius 20 km di Serian, sebagaimana ditetapkan Departemen Lingkungan Hidup, dan tidak mencakup divisi lain, menurut DayakDaily.

Artinya, kantor pemerintah dan swasta serta tempat kerja lain di wilayah terdampak, termasuk kawasan industri, perkebunan, lokasi konstruksi dan pertambangan, wajib tutup. Hanya layanan esensial yang diizinkan tetap beroperasi, menurut Free Malaysia Today.

Supermarket, SPBU, bank dan layanan keamanan termasuk yang diizinkan tetap buka, menurut pemberitaan The Star.

“Status darurat ini bukan lockdown seperti perintah pembatasan pergerakan saat pandemi COVID-19. Tujuannya agar masyarakat tetap berada di rumah,” kata Douglas kepada wartawan pada Jumat.

Namun di lapangan, sejumlah warga Serian kepada CNA mengaku masih bingung bagaimana pembatasan tersebut akan berdampak pada keseharian mereka.

Bagi Juliana Nurus Tahir, 28, yang bekerja sebagai staf administrasi, salah satu pertanyaannya adalah apakah status darurat memengaruhi perjalanan hariannya dari Serian ke tempat kerjanya di Kuching. Serian terletak sekitar 60 km di tenggara Kuching.

“Setahu saya, saya masih harus pergi ke kantor di Kuching setiap pagi karena tidak ada status darurat di sana. Saya rasa mereka yang harus bekerja (di luar Serian) tidak akan terlalu terdampak,” katanya kepada CNA.

Juliana mengatakan, kehidupan di distrik itu tampak berjalan seperti biasa pada Jumat malam, sementara warga belum mendapat petunjuk yang jelas mengenai kegiatan apa saja yang dilarang.

“Kami hanya tahu dari berita bahwa status darurat telah ditetapkan dan kami tidak boleh keluar,” katanya.

“Masih belum jelas apakah pedagang pasar dan pedagang kaki lima, misalnya, boleh tetap berjualan.”

Bagi ibu dua anak berusia lima dan dua tahun itu, ada kekhawatiran yang lebih mendesak: melindungi anak-anaknya dari udara berbahaya.

“Mereka sudah batuk-batuk. Mereka sensitif, jadi saya takut asma mereka kambuh,” kata Juliana, seraya menambahkan bahwa ia akan memastikan kedua anaknya tetap berada di rumah.

Foto gabungan warga Serian, Juliana Nurus Tahir (kiri) bersama putranya dan Venissa Ingreade. (FOTO: Juliana Nurus Tahir, Venissa Ingreade)

Warga Serian lainnya, Venissa Ingreade, mengatakan, kabut asap membuatnya lebih mudah sakit, sementara status darurat membatasi aktivitasnya.

“Dengan status darurat saat ini, saya merasa sangat dibatasi. Saya tidak bisa keluar untuk berekreasi atau pergi ke mana-mana,” katanya.

Bagi Yasmina, status darurat juga menimbulkan kekhawatiran terhadap warga yang penghidupannya bergantung pada pekerjaan sehari-hari di luar rumah.

“Banyak orang di sini (di Serian) tidak bekerja di perusahaan atau pemerintahan. Mereka petani dan pekebun, dan penghasilan sehari-hari mereka bergantung pada apa yang mereka jual,” katanya kepada CNA.

“Saya berharap mereka bisa mendapat lebih banyak bantuan.”

KHAWATIR KABUT ASAP TAK KUNJUNG REDA

Serian menjadi wilayah pertama yang ditetapkan berstatus darurat akibat kabut asap tahun ini, sebelum status tersebut dicabut pada Senin (7/9) seiring membaiknya kualitas udara.

Kekhawatiran mengenai berapa lama kabut asap akan bertahan dan apakah kondisinya kembali memburuk sempat dirasakan di seluruh Sarawak, yang berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa menurut Departemen Statistik Malaysia.

Status darurat kabut asap besar terakhir di Sarawak terjadi pada 1997. Status itu ditetapkan di Kuching pada September tahun tersebut ketika indeks pencemaran udara mencapai 650.

Douglas, Wakil Perdana Menteri Sarawak, sebelumnya mengatakan, wilayah dengan API 500 atau lebih akan ditetapkan berstatus darurat. Status tersebut hanya berlaku di wilayah terdampak, bukan di seluruh Sarawak.

Sungai Sarawak di Kuching diselimuti kabut asap tebal pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Kabut asap telah memaksa perubahan pada sejumlah acara besar di Sarawak.

Perayaan Hari Malaysia yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September di Kuching akan digelar sepenuhnya di dalam ruangan dan seluruh kegiatan luar ruangan ditiadakan. Sementara perayaan Hari Kemerdekaan Nasional tingkat negara bagian pada 31 Agustus, yang semula dijadwalkan berlangsung di Kapit, dibatalkan akibat kabut asap.

Bagi Azie, yang tengah hamil dan mengidap asma, kabut asap membuat “mata perih dan sulit bernapas”, sehingga ia harus semakin membatasi waktu di luar rumah.

“Kalaupun saya ingin keluar, masker sudah habis di mana-mana. Bagi saya, yang terbaik adalah tetap di dalam rumah,” katanya.

Gedung Dewan Undangan Negeri Sarawak terlihat sebagian tertutup kabut asap di antara deretan pertokoan di Kuching, Sarawak. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Namun, tidak semua orang bisa tetap berada di dalam rumah.

Pakar kesehatan masyarakat Universiti Malaysia Sarawak, Sam Froze Jiee, menuturkan, selain ibu hamil, lansia, dan anak-anak, mereka yang pekerjaannya mengharuskan berada di luar ruangan dalam waktu lama, seperti kurir dan pekerja konstruksi, juga menghadapi risiko kesehatan lebih tinggi akibat kabut asap.

Di Miri, sekitar 800 km melalui jalur darat dari Kuching, kurir Grab Samuel Jeffrey, 25, mengatakan kepada CNA bahwa ia tetap harus berada di jalan untuk mencari nafkah meski ada imbauan agar masyarakat membatasi waktu di luar ruangan. API Miri tercatat 182 pada pukul 13.00 Sabtu, yang dikategorikan “tidak sehat” oleh otoritas.

“Saya baru saja sembuh dari batuk akibat kabut asap, jadi saya selalu memakai masker saat bekerja dan juga mengurangi jam kerja, terutama pada siang hari ketika cuaca sangat panas,” katanya.

Pakar kesehatan masyarakat Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) Sam Froze Jiee saat diwawancarai CNA pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Klinik juga mulai melihat dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Muhammad Haziq Maslan Malik, pendiri dan direktur Klinik Kitak yang mengoperasikan dua klinik di Kuching, mengatakan, jumlah pasien dengan gangguan pernapasan meningkat signifikan.

“Biasanya kami menerima sekitar 100 hingga 120 pasien, tetapi selama musim kabut asap ini jumlahnya meningkat signifikan hingga 160 atau hampir 200 pasien per hari,” kata Haziq kepada CNA.

Menurutnya, pasien datang dengan keluhan seperti sakit tenggorokan, sulit bernapas, mata berair dan pilek.

Kabut asap juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit kronis seperti asma, katanya.

“Sebagian orang asmanya terkontrol dengan baik, tetapi kabut asap bisa memicu serangan asma,” kata Haziq.

Kliniknya bersiap menghadapi peningkatan jumlah pasien dengan membeli alat pemurni udara tambahan serta memastikan jumlah dokter dan staf yang bertugas mencukupi. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi waktu tunggu dan waktu yang dihabiskan pasien di luar ruangan.

Pendiri dan direktur Klinik Kitak di Kuching, Muhammad Haziq Maslan Malik, berbicara kepada CNA saat diwawancarai pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

BISNIS TERDAMPAK, WARGA PILIH DI RUMAH

Seiring warga mengurangi aktivitas di luar rumah, usaha kuliner dan bisnis yang bergantung pada pariwisata juga ikut terdampak.

Bagi Hanis Ahmad, 31, libur sekolah pada pekan pertama September biasanya membuat warung nasi kerabu miliknya di pujasera terbuka Kubah Ria di Kuching ramai pembeli.

Ia berharap keluarga yang bepergian selama libur sepekan itu akan mendatangkan lebih banyak pelanggan.

Saat ramai, pujasera itu bisa didatangi lebih dari 1.000 pelanggan dan seluruh mejanya akan penuh, kata Hanis.

Namun, ketika CNA berkunjung pada Jumat malam, hanya sedikit pelanggan yang terlihat dan sekitar separuh dari 30 kios di sana yang buka.

Pujasera Kubah Ria di Kuching nyaris kosong akibat kabut asap pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Hanis juga menutup sementara warungnya setelah dua pekerjanya mengalami gangguan pernapasan.

“Saya khawatir dengan keuangan saya karena banyak yang harus saya tanggung, keluarga saya, sewa warung,” katanya kepada CNA.

Kabut asap yang terjadi saat ini semakin memukul usahanya. Hanis mengatakan, para pelaku usaha sebelumnya berharap penjualan meningkat selama libur sekolah dan hari libur nasional, termasuk Hari Kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus. Namun, penjualannya masih jauh dari target untuk periode tersebut.

“Bulan ini, untuk sekadar balik modal saja sangat sulit. Kalau kabut asap berlanjut sampai bulan depan, saya tidak tahu berapa lama usaha saya bisa bertahan,” katanya.

Kemungkinan diberlakukannya status darurat di Kuching juga membuat Hanis khawatir. Usahanya membutuhkan waktu untuk pulih dari pandemi COVID-19, ketika berbagai pembatasan sangat mengganggu operasional.

Hanis Ahmad, 31, pemilik warung di pujasera Kubah Ria, Kuching, berbicara kepada CNA pada 4 September 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)

Di restoran Esco Beach di Pantai Damai, Santubong, Kuching, yang populer di kalangan wisatawan, jumlah pelanggan yang datang langsung pada akhir pekan turun sekitar separuh sejak kabut asap memburuk.

“Kami beruntung karena memiliki area dalam dan luar ruangan, jadi kami berusaha membuat suasana di dalam lebih nyaman,” kata pemilik restoran Chelsea Chai.

Sejak dua pekan terakhir, Chai juga mewajibkan staf mengenakan masker dan menyesuaikan jam operasional restoran untuk menekan biaya operasional selama jumlah pelanggan masih rendah.

Di dekatnya, Sarawak Cultural Village, yang memiliki museum terbuka tempat pengunjung dapat melihat rumah-rumah tradisional dan mengenal budaya berbagai kelompok etnis Sarawak, juga mengalami penurunan jumlah pengunjung.

Direktur Utama Sarawak Cultural Village Jane Lian Labang mengatakan kepada CNA bahwa kegiatan luar ruangan telah dibatasi akibat kabut asap, tetapi ia tetap optimistis tempat wisata itu dapat melewati kondisi ini.

“Kami khawatir, tetapi kami sudah pernah mengalaminya. Kami berhasil melewati musim kabut asap sebelumnya dan juga COVID-19, jadi kami tahu keadaan akan membaik,” katanya.

MetMalaysia mengatakan kepada CNA bahwa kabut asap dapat bertahan setidaknya sepekan lagi, diperparah cuaca panas dan minimnya hujan.

“Malaysia, termasuk Sarawak, saat ini mengalami Monsun Barat Daya atau musim kemarau, ketika angin umumnya bertiup dari barat daya. Musim ini diperkirakan berlangsung hingga akhir September,” kata Direktur Jenderal MetMalaysia Mohd Hisham Mohd Anip.

“Angin ini menjadi sarana utama yang membawa kabut asap dari titik panas langsung menuju wilayah barat dan selatan Sarawak. Selama arah angin tetap konsisten, kabut asap kemungkinan akan terus terbawa ke Sarawak.”

Terakhir kali Malaysia menetapkan status darurat akibat kabut asap adalah pada Juni 2013 di distrik Muar dan Ledang, Johor, setelah API di wilayah tersebut saat itu melampaui 750.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan