'Menyusahkan semua orang': Malaysia bersiap hadapi memburuknya kabut asap di musim kering
Letak geografis Malaysia membuat negara itu berada tepat di jalur asap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra. Kualitas udara di Sarawak dan Lembah Klang bahkan telah mencapai "tidak sehat".
Menara Kembar Petronas nyaris tak terlihat dari Taman Tasik Titiwangsa di Kuala Lumpur di tengah kabut asap tebal yang melanda sejumlah wilayah Malaysia pada 27 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Fadza Ishak)
KUALA LUMPUR/JOHOR BAHRU: Bagi warga Malaysia Shobana Sritharan, memeriksa Indeks Pencemaran Udara (Air Pollutant Index/API) setiap beberapa jam selama dua pekan terakhir telah menjadi rutinitas.
Saat gelombang baru kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Lembah Klang tempat mereka tinggal, ia dan putranya yang berusia 12 tahun jatuh sakit pekan ini dengan gejala mirip flu, termasuk sakit tenggorokan dan batuk.
Setelah putranya demam usai mengikuti kegiatan luar ruangan di sekolah, Shobana kini memilih sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan sambil memantau kondisi yang berubah dari jam ke jam.
Namun, karena menggunakan transportasi umum untuk pergi bekerja, ia tetap harus berjalan kaki dari stasiun ke kantornya di Kuala Lumpur setiap hari.
“Kami sudah terbiasa karena (kabut asap) terjadi setiap tahun, tetapi tetap saja ini sangat menyusahkan semua orang,” kata perempuan berusia 41 tahun yang bekerja sebagai konselor siswa di sebuah pusat pembelajaran.
Banyak warga Malaysia lainnya merasakan kekesalan yang sama dengan Shobana karena kabut asap lintas batas akibat pembakaran lahan musiman dan kebakaran pertanian di Indonesia menyebar ke kawasan tersebut.
Malaysia termasuk negara yang paling terdampak di Asia Tenggara karena posisi geografisnya dekat dengan titik-titik kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Sejumlah wilayah di Sarawak dan Lembah Klang yang berada tepat di jalur asap mencatat tingkat pencemaran udara di atas kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir.
Pada Jumat, angka API di tiga wilayah di Sarawak dan Lembah Klang melampaui 150, yang masuk kategori tidak sehat.
Pekan lalu, angkanya di beberapa wilayah Sarawak menembus 200, yang masuk kategori “sangat tidak sehat”, sehingga sekolah-sekolah terpaksa ditutup sementara.
Juru bicara pemerintah Fahmi Fadzil juga mengatakan, Malaysia tengah mempertimbangkan apakah akan mengubah skala atau lokasi perayaan utama Peringatan Hari Kemerdekaan pada 31 Agustus akibat kondisi kabut asap. Sejumlah kementerian telah mengkaji proyeksi cuaca dan membahas kemungkinan langkah-langkah keselamatan.
Ia mengatakan, perayaan tidak akan dibatalkan, tetapi beberapa acara dapat dipindahkan ke dalam ruangan, dan penyelenggaraan perayaan di dalam ruangan juga telah direkomendasikan.
“Ini juga untuk melindungi 1.500 siswa sekolah menengah dari tiga negara bagian yang berpartisipasi dalam pertunjukan formasi manusia,” tambah Fahmi.
Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) bahkan menggelar salat khusus di tiga masjid pada Rabu (26 Agustus) malam untuk memohon perlindungan bagi kesehatan masyarakat.
Meski Malaysia sejauh ini termasuk negara yang paling terdampak di Asia Tenggara tahun ini, para pakar yang diwawancarai CNA mengatakan, solusi harus lahir dari kemauan politik bersama negara-negara anggota ASEAN.
“Mengatasi masalah ini juga demi kepentingan Indonesia sendiri, bukan hanya persoalan bagi negara lain. Warga Indonesia justru lebih terdampak karena konsentrasi polutan di wilayah mereka jauh lebih tinggi,” kata pakar meteorologi Universiti Malaya Azizan Abu Samah kepada CNA.
“Masalah ini bersifat lintas batas dan penyelesaiannya tetap membutuhkan kerja sama yang kuat di antara negara-negara ASEAN,” tambahnya.
DAMPAK TERHADAP MASYARAKAT
Kabut asap hampir setiap tahun terjadi di kawasan ini selama musim kemarau antara Juni dan September. Kabut asap ini kerap dikaitkan dengan kebakaran untuk membuka lahan pertanian di Indonesia, biasanya untuk perkebunan kelapa sawit serta industri pulp dan kertas.
ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mengatakan, dampak kabut asap lintas batas kemungkinan akan semakin parah akibat kemarau berkepanjangan karena fenomena El Nino, yang juga dapat memicu lebih banyak titik api dalam beberapa pekan mendatang.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dampak kabut asap tahun ini terhadap masyarakat Malaysia sudah terasa luas.
Gangguan paling nyata terjadi di sekolah. Lebih dari 100 sekolah di Sarawak ditutup sementara setelah API di wilayah tersebut melampaui 200 pekan lalu.
Selain penutupan sementara yang berdampak pada hampir 200.000 siswa, Kementerian Pendidikan pada Senin memerintahkan penghentian seluruh kegiatan luar ruangan, upacara, dan olahraga di sekolah yang mencatat API di atas 100. Sejumlah kegiatan olahraga sekolah dipindahkan ke dalam ruangan atau lokasi lain.
“Aktivitas fisik berat dapat meningkatkan risiko kesehatan akibat kabut asap. Sebab, saat melakukan aktivitas fisik berat, laju pernapasan meningkat secara signifikan sehingga volume udara tercemar kabut asap yang terhirup bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan saat beristirahat,” kata Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan.
Kondisi ini membuat salah satu kompetisi hoki tingkat nasional untuk pelajar dipindahkan dari Kuala Lumpur ke Temerloh, Pahang, yang berjarak lebih dari 130 km dan tidak terlalu terdampak kabut asap.
Format turnamen juga harus diubah menjadi pertandingan sembilan lawan sembilan, sementara durasi pertandingan dipangkas menjadi 15 menit dari biasanya 60 menit.
Orang tua salah satu peserta yang hanya ingin disebut sebagai Kelvin mengatakan kepada CNA bahwa keputusan pada saat-saat terakhir itu mengecewakan karena tanda-tanda kabut asap sudah terlihat selama beberapa hari.
“Mereka sebenarnya bisa menunda kompetisi ini. Biayanya cukup besar karena sebagian orangtua harus bepergian ke luar kota dan bus tambahan harus disewa untuk para pemain,” katanya.
Ia menambahkan, durasi pertandingan yang dipersingkat juga dapat membuat para pemain kecewa karena kesempatan mereka untuk bermain menjadi lebih sedikit.
Kementerian Kesihatan Malaysia mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan asma selama sepekan terakhir.
Dalam pernyataan pada Rabu, kementerian melaporkan peningkatan tajam kasus gangguan kesehatan. Kasus ISPA melonjak 124,4 persen dari 1.637 menjadi 3.674 pada pekan berikutnya, sementara kasus asma naik 259 persen dari 61 menjadi 219 dalam periode yang sama.
Sejumlah klinik juga mencatat peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan dalam beberapa hari terakhir, termasuk di negara bagian Johor, tempat lima distrik mencapai tingkat kualitas udara tidak sehat pekan ini.
ATS Clinic and Surgery di ibu kota Johor, Johor Bahru, mengatakan kepada CNA bahwa jumlah kasus meningkat 20 hingga 30 persen selama sepekan terakhir.
Dokter kepala di klinik tersebut, A R Leenah Devi, mengatakan, 80 persen pasiennya selama sepekan terakhir datang dengan “batuk dan pilek”, gejala gangguan saluran pernapasan atas yang diperparah kabut asap.
“Kabut asap juga memperburuk kondisi mereka yang sudah sakit akibat virus, gejalanya menjadi lebih parah,” katanya kepada CNA.
Apotek juga mencatat peningkatan permintaan dan pertanyaan mengenai masker, alat pembersih udara, serta suplemen untuk meningkatkan daya tahan paru-paru.
Manajer apotek Health Lane di Johor Bahru, Chan Zuo En, mengatakan kepada CNA bahwa cabang tersebut baru-baru ini harus menambah stok masker N95 setelah pembelian meningkat selama sepekan terakhir.
“Stoknya memang belum sampai menipis seperti saat COVID-19, tetapi saya rasa minat masyarakat bisa meningkat dalam beberapa pekan mendatang jika kabut asap semakin parah,” tambahnya.
MENGAPA EL NINO AKAN MEMPERPARAH KABUT ASAP
Meski kabut asap lintas batas menjadi masalah yang berulang setiap tahun, para pakar memperingatkan bahwa fenomena El Nino akan membuat krisis tahun ini jauh lebih parah.
Artinya, kondisi tahun ini di Malaysia dan negara-negara lain di kawasan berpotensi memburuk.
El Nino adalah pola iklim yang ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur, yang secara drastis mengubah sistem cuaca global.
Helena Varkkey, lektor kepala politik lingkungan di Department of International and Strategic Studies, mengatakan kepada CNA bahwa kabut asap biasanya terjadi setiap tahun pada musim kemarau, ketika kebakaran yang muncul akan semakin parah akibat kondisi yang lebih panas dan kering.
“Namun, tahun ini kemungkinan terjadi ‘Super El Nino’, yang berarti kondisi akan semakin panas dan kering. Itu sebabnya kabut asap tahun ini tampaknya bisa lebih parah, seperti pada 2015 dan 1997,” katanya.
Azizan mengatakan, angin muson barat daya yang kuat membuat asap dari pembakaran di Indonesia pada akhirnya menyelimuti Kuala Lumpur dan Singapura.
“Masalah ini terus berulang. Bedanya, saat El Nino intensitasnya menjadi jauh lebih parah. Dalam periode netral ketika tidak ada El Nino, lahan tidak sekering ini sehingga kebakaran tidak meluas tak terkendali,” katanya.
Menurutnya, pembakaran terbuka sudah menjadi praktik yang mengakar dan kerap dianggap sebagai bagian rutin dari siklus pertanian serta cara termurah untuk membuka lahan di ASEAN, terutama di Indonesia.
Menurut analisis forensik United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) mengenai kebakaran hutan di Indonesia pada 2023, aktivitas manusia berkontribusi terhadap 98 persen dari seluruh kebakaran, terutama karena faktor sosial dan budaya, termasuk kebutuhan ekonomi.
“Api merupakan cara yang lebih murah dan mudah untuk membuka lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa sawit,” kata laporan tersebut.
Meningkatnya intensitas kebakaran kali ini juga sudah terpantau oleh lembaga pemantau regional.
Menurut ASMC, kondisi titik api dan kabut asap di kawasan ASEAN bagian selatan memburuk tajam di tengah kemarau berkepanjangan.
Dalam peringatan level 3, level tertinggi, yang dimuat di situsnya pada 26 Agustus, ASMC mengatakan, pemantauan satelit menunjukkan kabut asap dengan tingkat sedang hingga pekat dan cakupan luas berasal dari kumpulan titik api di Kalimantan dan Sumatra, Indonesia.
Sebanyak 287 dan 190 titik api terdeteksi di Kalimantan masing-masing pada 24 dan 25 Agustus, sementara di Sumatra terdeteksi masing-masing 65 dan 81 titik api pada tanggal yang sama.
“Kondisi kering diperkirakan berlanjut di sebagian besar kawasan ASEAN bagian selatan. Ditambah kondisi El Nino yang diprediksi menguat dalam beberapa bulan mendatang, situasi titik api dan kabut asap dapat semakin memburuk sehingga meningkatkan risiko terjadinya kabut asap lintas batas yang parah di kawasan ASEAN bagian selatan,” kata ASMC.
APA YANG BISA DILAKUKAN?
Para pakar mengatakan kepada CNA bahwa negara-negara anggota ASEAN perlu meninjau kembali kerja sama dalam kerangka perjanjian kabut asap lintas batas yang sudah ada untuk memastikan kebakaran hutan dan pencemaran asap di kawasan dapat ditekan atau dicegah.
Fredolin Tangang dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengatakan kepada CNA bahwa otoritas terkait di masing-masing negara tampaknya lebih banyak bertindak setelah masalah terjadi ketimbang melakukan pencegahan.
“Setiap musim El Nino dapat diprediksi setidaknya enam bulan sebelumnya. Kita sudah memahami dengan baik bagaimana El Nino berkembang dan bagaimana dampaknya terhadap kawasan ini,” katanya.
“Enam bulan cukup bagi pihak berwenang untuk membuat rencana dan memperkuat kerja sama dalam mencegah kebakaran hutan dan kabut asap,” tambahnya.
Dari sisi ASEAN, Varkkey mengatakan, blok tersebut sebenarnya memiliki mekanisme bantuan regional untuk memfasilitasi pemadaman kebakaran dan bantuan darurat lainnya dari negara-negara tetangga. Namun, pengerahannya bergantung pada permintaan atau persetujuan negara yang terdampak. Ketentuan ini secara eksplisit tercantum dalam perjanjian kabut asap ASEAN yang ditandatangani pada 2002.
“Ketika terjadi kabut asap, bantuan dari negara-negara tetangga seharusnya bisa langsung masuk berdasarkan pedoman yang telah disepakati sebelumnya, tanpa harus menunggu persetujuan diplomatik,” katanya.
Khusus untuk Malaysia, kelompok lingkungan Greenpeace mendesak Putrajaya untuk mengesahkan undang-undang udara bersih yang komprehensif dan mencakup pencemaran udara lintas batas.
Greenpeace mengatakan, undang-undang semacam itu dapat meminta pertanggungjawaban warga dan perusahaan Malaysia jika kegiatan mereka di luar negeri turut menyebabkan pencemaran kabut asap.
Singapura mengesahkan Transboundary Haze Pollution Act pada 2014, yang menjadikan tindakan menyebabkan atau berkontribusi terhadap pencemaran kabut asap di Singapura sebagai pelanggaran hukum.
Undang-undang tersebut memungkinkan individu dan organisasi di Singapura menggugat pihak yang bertanggung jawab atas pencemaran jika mereka mengalami kerugian ekonomi.
“Malaysia sebelumnya telah mengakui bahwa undang-undang lingkungan lintas batas dapat diterapkan. Kini ada kesempatan untuk melanjutkan langkah tersebut dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mewujudkannya,” kata perwakilan Greenpeace di Malaysia Heng Kiah Chun dalam surat terbuka baru-baru ini kepada Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam Arthur Joseph Kurup.
Kabinet Malaysia pada Februari 2020 pada prinsipnya menyetujui rencana untuk memperkenalkan undang-undang kabut asap lintas batas. Namun, usulan itu kemudian dibatalkan setelah pergantian pemerintahan.
Secara individu, masyarakat perlu mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap diri mereka, kata Devi, dokter yang berbasis di Johor Bahru.
Menurutnya, masyarakat dapat mempertimbangkan penggunaan alat pembersih udara di rumah karena kabut asap membuat udara kering, serta mengenakan masker di luar ruangan ketika API berada pada tingkat tinggi.
“Usahakan menghirup udara bersih saat berada di dalam ruangan dan lakukan langkah pencegahan ketika keluar rumah. Itu saran terbaik saya,” kata Devi.
Namun, mengenakan masker di luar ruangan selama berjam-jam mungkin tidak nyaman atau praktis, terutama dalam cuaca panas dan lembap.
Pedagang makanan Asiah Wan, 63, mengatakan kepada CNA bahwa mengenakan masker membuatnya tidak nyaman, tetapi melepasnya juga membuatnya menghirup kabut asap selama sepekan terakhir.
“Pakai masker atau tidak, bernapas jadi lebih sulit. Mata saya juga terasa semakin berat,” katanya. Ia menambahkan bahwa usahanya juga lebih sepi dalam beberapa hari terakhir.
Penjual pisang goreng asal Bagan Serai, Perak, itu mengetahui bahwa kabut asap berasal dari kebakaran di Indonesia dan berharap situasinya dapat diatasi.
“Saya berasal dari daerah persawahan dan di sana membuka lahan dengan cara membakar selalu dilarang karena akan membuat keadaan menjadi gelap dan berasap. Saya berharap masyarakat di Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama karena tindakan mereka turut berdampak pada orang lain,” kata Asiah Wan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.