Skip to main content
Iklan

Asia

Jelang Hari Kemerdekaan, Malaysia perkuat langkah penanganan kabut asap bersama Indonesia

Sebanyak 16 wilayah di Malaysia mencatat kualitas udara tidak sehat hingga pukul 09.00 pada Rabu (26/8). Malaysia akan merayakan Hari Kemerdekaan ke-69 pada 31 Agustus 2026.

Jelang Hari Kemerdekaan, Malaysia perkuat langkah penanganan kabut asap bersama Indonesia

Pria tengah mengayuh sepeda dengan latar belakang Kantor Perdana Menteri Malaysia dan gedung-gedung di sekitarnya yang diselimuti kabut asap di Putrajaya, Malaysia, pada 25 Agustus 2026. (Foto: EPA/Fazry Ismail)

26 Aug 2026 04:53PM (Diperbarui: 26 Aug 2026 04:57PM)

PUTRAJAYA: Malaysia dan Indonesia sepakat meningkatkan langkah-langkah untuk mengatasi kabut asap lintas batas, ketika pemerintah Putrajaya bersiap menyambut perayaan Hari Kemerdekaan. Langkah ini dilakukan di tengah memburuknya tingkat kualitas udara tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Sebanyak 16 wilayah di Malaysia mencatat Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollutant Index (API) dalam kategori "tidak sehat" hingga pukul 09.00 pada Rabu (26/8), menurut laporan media lokal. Wilayah tersebut mencakup sejumlah daerah di Sarawak dan Semenanjung Malaysia. 

Sehari sebelumnya, sekitar 30 wilayah mencatatkan kualitas udara tidak sehat.

Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia ke-69 dijadwalkan berlangsung di Dataran Putrajaya pada 31 Agustus 2026, sementara perayaan Hari Malaysia akan digelar di Kuching, Sarawak, pada 16 September 2026.

Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia (Natural Resources and Environmental Sustainability/NRES), Arthur Joseph Kurup, mengatakan komitmen untuk meningkatkan langkah penanganan bersama Indonesia dicapai dalam percakapan telepon pada Senin dengan Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat, seperti dilaporkan kantor berita Bernama.

"Dengan fenomena El Nino yang diperkirakan semakin intensif menjelang Oktober 2026, bertepatan dengan Monsun Barat Daya, kedua negara berkomitmen penuh untuk meningkatkan langkah pencegahan dan pemadaman dini," bunyi pernyataan Arthur.

Ia juga menyampaikan apresiasi pemerintah Malaysia kepada Indonesia karena telah memberikan izin resmi bagi operasi penyemaian awan untuk melintasi wilayah udaranya, dengan menyasar kawasan di sepanjang perbatasan kedua negara.

Sarawak, yang berbatasan dengan Kalimantan, Indonesia, di Pulau Kalimantan, menjadi wilayah yang paling terdampak kabut asap.

Hingga Rabu (26/8) pagi, tiga wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara tidak sehat. Sri Aman mencatat angka API sebesar 166, disusul Serian dengan 164 dan Samarahan dengan 162.

Berdasarkan klasifikasi API Malaysia, angka hingga 50 dikategorikan baik, 51 hingga 100 sebagai sedang, 101 hingga 200 sebagai tidak sehat, dan 201 hingga 300 sebagai sangat tidak sehat. Angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Di Kuala Lumpur, angka API tercatat 159 di Cheras dan 158 di Putrajaya. Shah Alam mencatat API sebesar 157, menurut laporan media The Star.

"Malaysia mengakui dan mendukung langkah cepat yang diambil pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dalam meningkatkan strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan," kata Arthur dalam pernyataan pada Senin (24/8), seperti dikutip Bernama.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia dan Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) tengah menyiapkan jadwal untuk menyinkronkan operasi dengan Panglima Tentara Nasional Indonesia, kata sang menteri.

Ia menambahkan bahwa Putrajaya, dalam semangat bertetangga dan solidaritas regional, tetap siap membantu Indonesia memadamkan kebakaran, dengan syarat mendapatkan persetujuan Kabinet.

Arthur mencatat langkah-langkah Indonesia mengatasi karhutla, mencakup pengerahan tambahan 1.500 personel TNI, penggunaan helikopter berkapasitas besar untuk operasi water bombing, serta operasi modifikasi cuaca.

Ia mengatakan kementeriannya, melalui Departemen Lingkungan Hidup dan MetMalaysia, akan terus melakukan pemantauan aktivitas titik panas dan kualitas udara ambien, sekaligus mempertahankan jalur komunikasi dengan otoritas Indonesia demi kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia yang berada di bawah Kementerian NRES pada Selasa (25/8) sore menyebut "pergerakan kabut asap dari berbagai arah" sebagai penyebab bertambahnya jumlah wilayah dengan kualitas udara tidak sehat di sepanjang pantai barat Semenanjung Malaysia dan sejumlah wilayah Sarawak dibandingkan sehari sebelumnya.

Departemen tersebut mengutip temuan ASEAN Specialised Meteorological Centre yang berbasis di Singapura pada Senin (24/8), yang mendeteksi 287 titik panas di Kalimantan dan 65 titik panas di Sumatra, Indonesia.

Sebanyak 11 titik panas lainnya terdeteksi di Malaysia.

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia mengatakan National Open Burning Action Plan dan National Haze Action Plan telah diaktifkan untuk mengoordinasikan upaya lembaga pemerintah serta merespons kondisi kabut asap di negara tersebut.

Berdasarkan rencana penanganan kabut asap tersebut, seluruh kegiatan di luar ruangan akan dihentikan ketika angka API melampaui 100. Sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup ketika angka API melampaui 200.

Otoritas Penang pada Selasa (25/8) memerintahkan seluruh sekolah untuk tetap waspada terhadap peringatan terbaru, menurut laporan media Malaysia.

Pekan lalu, otoritas Sarawak memerintahkan penutupan 591 sekolah di 10 distrik selama dua hari setelah kondisi kabut asap memburuk di negara bagian Malaysia Timur tersebut.

Pada Minggu (23/8), Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad mengatakan kementeriannya mencatat lonjakan kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas akibat kabut asap, menurut laporan media lokal.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan