'AI tekan kebutuhan modal': Pengembangan obat baru di India hadapi tantangan uji klinis pada manusia
Ilmuwan dan perusahaan biofarmasi India memanfaatkan AI untuk mempercepat penemuan calon obat dengan biaya lebih rendah. Namun, para pakar menilai AI belum mampu mengatasi seluruh tantangan pengembangan obat.
A researcher from the Indian Institute of Technology (IIT) Madras works inside a laboratory to develop a drug to treat 'GNB1 Encephalopathy', a rare genetic disease, in Chennai, India, 04 January 2023. (EPA/IDREES MOHAMMED)
NEW DELHI: Tim beranggotakan sekitar 12 orang di perusahaan rintisan pengembangan obat India, Peptris, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengerjakan lebih dari selusin program pengembangan obat sekaligus.
Salah satu pendiri Peptris, Venkatasubramanian Narayanan, mengatakan perusahaannya berhasil membawa salah satu program pengembangan obat ke tahap praklinis akhir dalam sekitar 18 bulan, dibandingkan lebih dari empat tahun dengan metode konvensional.
Percepatan ini dapat menandai perubahan mendasar di sektor farmasi India, sekaligus membantu industri tersebut berkembang melampaui fokus dan keunggulan tradisionalnya.
Para ilmuwan industri mengatakan kepada CNA bahwa India selama ini unggul dalam obat generik, manufaktur, dan jasa riset kontrak bagi perusahaan internasional, sementara pengembangan obat orisinal masih tertinggal.
Besarnya industri farmasi India menjadi sorotan dalam Bloomberg New Economy Forum di New Delhi pada Selasa (13/10), ketika Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa negaranya memasok satu dari setiap lima obat generik yang digunakan di seluruh dunia.
Pemerintah India kini mulai berinvestasi dalam pengembangan obat baru.
Pada September 2026, Departemen Farmasi India menyetujui pendanaan sekitar 16 miliar rupee (Rp3 triliun) untuk 41 proyek riset farmasi dan teknologi medis, termasuk penemuan obat baru dan pengembangan klinis.
Para pengembang obat dan ilmuwan mengatakan, AI dapat membantu lebih banyak perusahaan India mengembangkan obat sendiri dengan biaya lebih rendah dan waktu lebih singkat, melalui identifikasi senyawa potensial sejak tahap awal.
Namun, itu baru menjawab sebagian tantangan.
Noubar Afeyan, salah satu pendiri sekaligus ketua raksasa farmasi AS Moderna, mengatakan kepada CNA bahwa kemampuan India mengubah temuan ilmiah yang menjanjikan menjadi obat akan bergantung pada pembangunan infrastruktur yang jauh lebih memadai untuk tahap sebelum dan selama uji klinis pada manusia.
"Membangun kapasitas praklinis dan klinis dalam skala besar mungkin lebih penting daripada sekadar AI," katanya. "Saya rasa AI tidak akan menyelesaikan masalah itu."
MENURUNKAN HAMBATAN PENGEMBANGAN OBAT
Potensi manfaatnya melampaui ekspor farmasi India, yang menurut data pemerintah naik 2,1 persen menjadi sekitar US$31 miliar (Rp558 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit tidak menular menyumbang 49 persen kematian di India pada 2021, atau sekitar 6,4 juta jiwa. Beban finansialnya juga besar. Menurut Neraca Kesehatan Nasional India, rumah tangga menanggung langsung 43,4 persen dari total belanja kesehatan negara itu pada tahun fiskal 2022-2023.
Para ilmuwan mengatakan biaya riset yang lebih rendah dapat membantu lebih banyak perusahaan India mengembangkan pengobatan baru tanpa harus memiliki sumber daya sebesar perusahaan farmasi besar.
Megha Goyal, ilmuwan pengembangan obat sekaligus salah satu pendiri Abhinavayan Biotech, mengatakan AI telah membantu perusahaan bioteknologi kecil di India mengidentifikasi target obat potensial, menyaring senyawa, dan merancang molekul sebelum melakukan eksperimen laboratorium.
"AI tidak membuat penemuan obat menjadi mudah, tetapi membuatnya lebih terjangkau dan efisien," katanya.
Narayanan dari Peptris mengatakan para ilmuwan dan organisasi riset kontrak India sudah mampu melakukan riset pengembangan obat yang kompleks, meski perusahaan India selama ini cenderung tidak menanggung risiko finansial sebesar yang diperlukan untuk memiliki hak atas obat yang dikembangkan.
Sementara, Goyal mengatakan tantangan lebih besar bagi pengembang obat India justru muncul setelah tahap penemuan awal.
"Penemuan obat pada dasarnya merupakan upaya jangka panjang dan berisiko tinggi yang membutuhkan modal dengan orientasi jangka panjang, komitmen berkelanjutan, dan visi jangka panjang," katanya.
Vishesh Rajaram, mitra pendiri perusahaan modal ventura Speciale Invest, menuturkan kini semakin banyak ilmuwan mendirikan perusahaan untuk mengembangkan obat sendiri, alih-alih menyediakan jasa riset atau memproduksi obat yang sudah ada.
"Saat ini, kami melihat para ilmuwan sekaligus pendiri perusahaan (di India) membangun bisnis penemuan obat berbasis kimia baru, obat biologis, dan AI, dengan ambisi global sejak awal," kata Rajaram, yang perusahaannya berinvestasi di Peptris.
Menurutnya, biaya komputasi yang lebih murah dan perangkat AI dapat mengurangi jumlah senyawa yang perlu dibuat dan diuji secara fisik, sehingga tim kecil bisa menemukan kandidat obat potensial dengan modal lebih sedikit.
Namun, Rajaram mengatakan penghematan tersebut sebagian besar hanya terjadi pada tahap awal pengembangan obat.
"AI menurunkan kebutuhan modal untuk menghasilkan kandidat obat," katanya. "Namun, AI belum menurunkan modal yang dibutuhkan untuk membuktikan bahwa obat tersebut bekerja pada pasien."
TANTANGAN TERBERAT
Santanu Datta, salah satu pendiri sekaligus kepala ilmuwan perusahaan biofarmasi Bugworks yang berbasis di Bengaluru, mengatakan AI bekerja paling baik dengan data tepercaya dalam jumlah besar. Data ini mencakup bentuk molekul, target yang dituju, dan bagaimana senyawa serupa berperilaku.
Menurut Datta, suatu obat mungkin tampak berinteraksi dengan targetnya sesuai harapan, tetapi menunjukkan perilaku berbeda dalam tubuh pasien, memengaruhi protein lain, atau menimbulkan efek yang tidak terduga.
Ia mengibaratkannya dengan memprediksi perilaku seseorang saat sendirian dibandingkan ketika berada di tengah kota yang padat.
"Begitu orang itu ditempatkan di kota berpenduduk satu juta jiwa, situasinya berubah," katanya.
Datta memiliki pengalaman dalam pengembangan obat selama lebih dari tiga dekade, termasuk lebih dari 20 tahun menangani penyakit menular di AstraZeneca India.
Bugworks, yang kemudian turut didirikannya, tengah mengembangkan pengobatan untuk infeksi yang resisten terhadap obat dan kanker. Kandidat antibiotik utamanya telah memasuki uji klinis Fase 1 pada manusia yang terutama bertujuan menilai keamanannya.
Namun, perjalanan menuju persetujuan obat masih panjang. Menurut analisis Biotechnology Innovation Organization, Informa Pharma Intelligence, dan QLS Advisors, hanya 7,9 persen program pengembangan obat yang memasuki uji klinis Fase 1 antara 2011 dan 2020 akhirnya mendapat persetujuan.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat, obat umumnya harus melalui tiga fase uji klinis pada manusia sebelum regulator memutuskan apakah akan menyetujuinya.
"Dari tahap ide hingga menjadi calon obat, ada peningkatan yang sangat besar (berkat AI)," kata Afeyan dari Moderna. "Dari calon obat hingga pembuktian konsep pada manusia, peningkatannya lebih kecil."
Tantangan lainnya, menurut Datta, adalah perusahaan farmasi besar memiliki data bertahun-tahun dari program pengembangan obat yang gagal. Data ini dapat membantu AI mengidentifikasi pendekatan yang kemungkinan tidak berhasil, tetapi sebagian besar masih dirahasiakan.
'MASIH TAHAP SANGAT AWAL'
Mulai terlihat tanda-tanda bahwa perusahaan India mampu menghasilkan kandidat obat baru yang menarik minat pihak luar negeri.
Peptris, misalnya, telah melisensikan salah satu kandidat obatnya kepada perusahaan farmasi AS Revio Therapeutics untuk dikembangkan lebih lanjut, sehingga memiliki mitra luar negeri untuk melanjutkan program tersebut.
Para eksekutif industri mengatakan seberapa jauh perusahaan India mampu mengembangkan obat sendiri sebelum mencari mitra akan menentukan besarnya nilai ekonomi yang dapat dipertahankan India.
Rajaram dari Speciale Invest menyampaikan pemberian lisensi obat yang dikembangkan di India kepada perusahaan luar negeri merupakan "kemajuan nyata, tetapi belum menjadi tujuan akhir".
Menurutnya, perubahan lebih besar akan terjadi ketika semakin banyak perusahaan India membawa obat mereka sendiri ke tahap awal uji klinis pada manusia sebelum mencari mitra yang lebih besar.
Kiran Mazumdar-Shaw, pendiri perusahaan biofarmasi besar India Biocon, mengatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa AI tengah mentransformasi pengembangan obat di negara tersebut.
"Kita masih berada pada tahap yang sangat awal, dan belum ada yang terbukti," katanya. "Keberhasilan pembuktian konsep pada skala percontohan tidak mencerminkan potensi sebenarnya ketika diterapkan dalam skala besar."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.