Skip to main content
Iklan

Asia

India terlambat di perlombaan cip AI, kamera dan mobil bisa jadi jalan masuk?

Dalam bagian kedua dari seri dua bagian tentang ambisi India memproduksi cip, CNA melihat bagaimana perusahaan rintisan lokal mengembangkan cip AI khusus untuk kamera, mobil, dan perangkat lainnya.

India terlambat di perlombaan cip AI, kamera dan mobil bisa jadi jalan masuk?

Cip rancangan perusahaan rintisan semikonduktor Mindgrove Technologies yang berbasis di Chennai. Perusahaan ini mengembangkan cip rancangan India untuk berbagai aplikasi, termasuk kamera pengawas dan perangkat terhubung lainnya. (FOTO: Mindgrove Technologies)

NEW DELHI: Pratik Parmar menunjuk papan sirkuit rancangan perusahaan rintisannya, Atomo, dalam konferensi Semicon India 2026 bulan ini. Papan sirkuit itu memungkinkan kamera dan mesin mendeteksi kebakaran, menghitung jumlah orang, atau menemukan cacat produksi tanpa harus terus mengirim data ke cloud.

“Tidak perlu internet atau cloud. Apa yang terjadi di tempat Anda, tetap berada di tempat Anda,” kata Parmar.

Teknologi yang dikenal sebagai cip kecerdasan buatan (AI) edge ini memungkinkan AI bekerja langsung di kamera, mobil, dan perangkat elektronik lainnya, serta dapat disesuaikan untuk perangkat dan tugas tertentu.

Papan sirkuit Atomo saat ini masih menggunakan cip Amlogic rancangan AS karena ketika perusahaan memilihnya tiga tahun lalu, belum ada perusahaan di India yang bisa menciptakannya.

Namun, situasi itu mulai berubah. Industri cip AI khusus semacam ini mulai tumbuh di India, dengan sejumlah perusahaan lokal kini memasuki tahap pengujian produk pertama oleh pelanggan dan komersialisasi.

Melalui program pemerintah untuk desain cip, 105 perusahaan rintisan (startup) dan usaha kecil telah mendapat akses ke perangkat desain canggih dan menghasilkan sekitar 35 desain cip yang siap diproduksi, menurut Kementerian Elektronik India.

Meski terlambat memasuki persaingan merancang cip untuk pusat data AI, para eksekutif industri mengatakan kepada CNA bahwa India masih punya peluang untuk bersaing.

Seorang pengunjung berjalan melewati stan Tata Electronics di Semicon India 2026, konferensi semikonduktor tahunan, di New Delhi, India, 17 September 2026. (FOTO: REUTERS/Bhawika Chhabra)

“India tidak harus membuat prosesor AI tercepat di dunia. Menanamkan kecerdasan ke kamera, kendaraan, dan perangkat elektronik sehari-hari bisa menjadi jalan masuk yang lebih realistis,” kata Ashok Chandak, presiden asosiasi industri SEMI India dan India Electronics and Semiconductor Association.

“Namun, perangkat lunak, skala, dan adopsi pelanggan tetap menjadi ujian sesungguhnya.”

INDIA MEMBIDIK PELUANG DI CIP AI

Pasar semikonduktor India diperkirakan tumbuh lebih dari tiga kali lipat, dari US$64 miliar (Rp1.144,3 triliun) pada 2026 menjadi US$200 miliar (Rp3.576 triliun) pada 2035. Elektronik konsumen, otomotif, dan aplikasi industri mencakup 61 persen dari permintaan tersebut.

Menurut para pakar, sistem AI semakin membutuhkan pemrosesan data secara lokal agar dapat merespons lebih cepat, alih-alih mengandalkan pusat data yang berada jauh.

Mobil, misalnya, harus segera bereaksi ketika mendeteksi penghalang di jalan, sementara kamera di pabrik perlu menemukan cacat produksi secara real time.

G S Madhusudan, CEO InCore Semiconductors, perusahaan yang mengembangkan teknologi prosesor untuk perancang cip, mengatakan kemampuan pemrosesan lokal semacam ini semakin banyak diterapkan pada berbagai produk, mulai dari mobil dan kamera hingga televisi dan peralatan industri.

Cip semacam ini dapat terus bekerja ketika koneksi internet terputus, menjaga data sensitif tetap tersimpan di lokasi, dan mengurangi biaya cloud, kata Parmar dari Atomo.

Untuk kamera keselamatan di pabrik, koneksi internet yang tidak stabil dapat menghambat peringatan penting. Dengan memproses gambar secara lokal, kamera tetap dapat bekerja tanpa bergantung pada koneksi internet, ujarnya.

Menurut Parmar, manfaat tersebut sangat relevan bagi India, yang pasarnya sensitif terhadap harga dan kualitas koneksi internetnya beragam.

Pratik Parmar dari Atomo, perusahaan yang berbasis di Gandhinagar, memegang prosesor yang digunakan dalam sistem AI perusahaan tersebut di SEMICON India, New Delhi. (FOTO: CNA/Shadma Shaikh)

Atomo juga telah mengirim papan sirkuit untuk diuji di sejumlah pasar, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Timur Tengah. Menurut Parmar, kecepatan respons, kerahasiaan, dan kemampuan beroperasi tanpa gangguan juga sama pentingnya di pasar-pasar tersebut.

Secara global, produk elektronik konsumen mencakup 65,3 persen pasar cip AI edge pada 2025, didorong meningkatnya penggunaan teknologi tersebut pada ponsel pintar, laptop, dan pengeras suara pintar, menurut laporan perusahaan riset pasar Grand View Research.

Pasar India diproyeksikan tumbuh hampir 12 kali lipat, dari US$984,1 juta (Rp17,6 triliun) pada 2026 menjadi US$11,7 miliar (Rp209,2 triliun) pada 2033, menurut laporan itu.

Besarnya peluang itu menjadi salah satu alasan para perancang cip India membidik pasar tersebut, kata para pakar industri.

INDIA SEBAGAI TEMPAT UJI COBA AI EDGE

Sunil Kumar, yang perusahaan rintisannya, BigEndian Semiconductors, tengah mengembangkan prosesor berbasis AI untuk kamera pengawas, mengatakan, cip khusus dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasar.

Kamera di stasiun kereta, kamera industri, atau kendaraan, misalnya, bisa jadi membutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang berbeda. Menurut Kumar, kondisi ini memberi perusahaan kecil lebih banyak ruang untuk menawarkan solusi khusus ketimbang bersaing dalam hal kemampuan komputasi.

India juga memiliki banyak tenaga ahli desain cip. Sekitar 20 persen insinyur desain semikonduktor dunia berbasis di negara tersebut, menurut CEO Invest India sekaligus mantan kepala Intel India Nivruti Rai.

Kumar mengatakan, skala dan kompleksitas India dapat menjadikannya tempat uji coba teknologi semacam ini. Ia mencontohkan pengelolaan kerumunan di Kumbh Mela, ritual ziarah Hindu yang dihadiri lebih dari 660 juta orang selama 45 hari pada 2025.

“Jika saya mampu beradaptasi di tempat seperti ... Kumbh Mela, mengatasi persoalan pengendalian kerumunan yang sama di Finlandia akan jauh lebih mudah,” ujarnya.
 

Investor juga semakin banyak mengucurkan dana ke sektor ini. Perusahaan rintisan cip AI edge India menghimpun US$17 juta (Rp304 miliar) pada 2026, hampir empat kali lipat dari US$4,27 juta (Rp76,3 miliar) pada 2022 dan naik dari nyaris tidak ada sebelum 2020, menurut perusahaan analisis data Tracxn.

Namun, tantangan yang lebih besar adalah meyakinkan perusahaan yang sudah menggunakan prosesor asing yang mapan untuk beralih ke cip India, kata para pengusaha di sektor ini kepada CNA.

ISU KEAMANAN BUKA PELUANG BAGI PRODUSEN CIP LOKAL

Shashwath Ramkumar, salah satu pendiri perusahaan rintisan cip Mindgrove Technologies, menuturkan, perusahaannya membidik pelanggan yang “memang ingin beralih” ketika terjadi perubahan regulasi, teknologi, atau kebutuhan produk.

Mindgrove saat ini bekerja sama dengan produsen perangkat pengawasan India, Prama, untuk mengembangkan cip pemrosesan visual bagi kamera keamanan.

Aturan keamanan siber baru India untuk sistem CCTV yang terhubung ke internet, yang berlaku sejak 1 April, membuka peluang bagi perusahaan cip lokal karena aturan yang lebih ketat berdampak pada sejumlah pemasok, kata para pakar.

India memang tidak melarang kamera CCTV China sepenuhnya. Namun, aturan keamanan dan pengadaan yang diperketat telah membatasi impor sejumlah perangkat pengawasan dari negara tetangganya itu, menurut para pakar industri.

Para insinyur desain embedded bekerja di laboratorium Mindgrove Technologies di Chennai, India, pada Juli 2025. (FOTO: Mindgrove Technologies)

Vendor China menguasai sekitar sepertiga pasar CCTV India pada 2024, menurut perusahaan riset pasar Counterpoint Research.

Tekanan serupa juga mulai muncul di industri lain.

Salah satu pendiri Tracxn, Neha Singh, mengatakan persoalan geopolitik serta upaya mendiversifikasi rantai pasok membuat sejumlah produsen otomotif, industri, dan pertahanan India lebih terbuka untuk mempertimbangkan cip rancangan dalam negeri.

DARI SAMPEL MENUJU PRODUKSI SKALA BESAR

Meski peluang pasarnya terbuka, mengubahnya menjadi pesanan nyata masih menjadi tantangan bagi produsen cip India, kata para pakar kepada CNA.

Para pendiri perusahaan cip AI edge India memperkirakan tahun mendatang akan menjadi periode krusial.

Ramkumar mengatakan, kerja sama Mindgrove dengan Prama membutuhkan waktu sekitar satu tahun lagi sebelum menghasilkan produk komersial.

BigEndian bersiap menyerahkan cip pertamanya untuk kamera AI kepada pelanggan untuk diuji pada akhir tahun ini.

Kumar menuturkan, produsen mungkin membicarakan kebutuhan mereka dengan perancang cip, tetapi kemungkinan belum akan memesan sebelum tersedia cip fisik yang telah diuji pada produk mereka.

Kumar menyebut 2026 sebagai “tahun pengujian sampel”, sementara produksi dalam skala besar berpotensi mulai tercapai pada paruh kedua 2027.

“Pengemasan, pengujian, dan logistik lebih sulit daripada desain,” kata Ramkumar.

Menurutnya, tantangannya adalah membangun rantai pasok yang mampu memasok cip dalam jumlah besar secara konsisten.

SoC Generator milik InCore Semiconductors, platform yang dirancang untuk mempercepat dan mempermudah pengembangan cip khusus, diperkenalkan pada Juni 2025. (FOTO: InCore Semiconductors)

Ramkumar mengatakan, kapasitas pengemasan cip India mulai meningkat sehingga meringankan salah satu tantangan dalam rantai pasok.

Sebagai contoh, CG Semi, perusahaan patungan antara CG Power dari India, Renesas Electronics dari Jepang, dan Stars Microelectronics dari Thailand, mulai berproduksi secara komersial di fasilitas pengemasan dan pengujian cipnya di Sanand, Gujarat, pada Juli.

Fasilitas tersebut mampu mengemas dan menguji hingga 300 juta cip per tahun.

Dalam program pemerintah untuk pengembangan industri semikonduktor, pengemasan cip canggih menjadi salah satu prioritas, dengan dukungan finansial untuk pembangunan fasilitas perakitan, pengemasan, dan pengujian baru.

“Ujian sesungguhnya adalah apakah perusahaan rintisan India mampu membuat cip mereka mudah diadopsi produsen, tetap andal dalam produksi skala besar, dan mampu bersaing di luar India—mengubah uji coba oleh pelanggan menjadi pesanan berulang di dalam negeri, lalu pada akhirnya meraih pelanggan besar di pasar global,” kata Singh dari Tracxn.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan