Skip to main content
Iklan

Indonesia

Kemenhub bidik Inggris untuk biayai proyel KRL Regional Surabaya

Kemenhub membuka peluang pendanaan Inggris untuk proyek KRL Surabaya yang kini memasuki studi kelayakan. Simak skema kerja sama yang ditawarkan.

Kemenhub bidik Inggris untuk biayai proyel KRL Regional Surabaya

Rangkaian kereta KRL tiba di salah satu stasiun. (Foto: iStock/fadfebrian)

JAKARTA: Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuka peluang kerja sama dengan Inggris untuk mendukung pembiayaan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) atau KRL Surabaya. Proyek tersebut menjadi salah satu prioritas pengembangan transportasi perkotaan dan kini telah memasuki tahap studi kelayakan bersama kedua negara.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengatakan pengembangan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia masih sangat bergantung pada pendanaan pemerintah melalui APBN serta berbagai skema pembiayaan dari mitra internasional.

Saat ini, Indonesia telah memperoleh dukungan pendanaan dari sejumlah negara seperti Jepang, China, dan Jerman. Ke depan, Kemenhub berharap Inggris juga dapat berkontribusi lebih besar, khususnya untuk mempercepat pembangunan KRL Surabaya.

"Hampir semua pemerintah daerah mengusulkan pembangunan jalur kereta api baru. Pertanyaan utama yang selalu kami diskusikan adalah, dari mana kami mendapatkan dananya?" kata Allan dalam UK-Indonesia Railway Partnership Forum di Jakarta, Rabu (29/7), dilaporkan Metro TV.

Menurut Allan, Kemenhub tetap terbuka terhadap berbagai peluang kerja sama internasional untuk memperluas sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur perkeretaapian.

"Ke depan kami berharap Inggris dapat ikut berperan, tidak hanya berbisnis dengan kami, tetapi juga memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar agar kami dapat mempercepat pembangunan perkeretaapian," katanya.

Allan menjelaskan Surabaya dipilih sebagai salah satu proyek prioritas karena merupakan kota terbesar kedua di Indonesia sekaligus menjadi fokus berbagai kajian pemerintah Inggris mengenai pengembangan sistem transportasi perkotaan.

"Anda mungkin bertanya mengapa Surabaya? Menurut saya, Surabaya hingga saat ini masih merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Itu salah satu alasannya," terangnya.

INGGRIS TAWARKAN PEMBIAYAAN DAN KEAHLIAN PERKERETAAPIAN

Komisioner Perdagangan Inggris untuk Asia Pasifik Martin Kent mengatakan Inggris siap mendukung proyek perkeretaapian Indonesia, termasuk melalui fasilitas pembiayaan dari UK Export Finance, lembaga kredit ekspor milik pemerintah Inggris.

Menurut Martin, perusahaan-perusahaan Inggris telah terlibat dalam pembangunan fase pertama MRT Jakarta serta mendukung kesiapan operasional LRT Jabodebek.

"Inggris sangat bangga dapat mendampingi Indonesia dalam perjalanan ini. Bahkan, kami sudah terlibat sejak awal," tegasnya.

Ia menambahkan kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai program yang telah dijalankan Inggris di Indonesia, seperti Future Cities dan UK PACT.

Martin mengutarakan Inggris memiliki pengalaman dalam perencanaan, rekayasa, operasional, pembiayaan, hingga pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD). Potensi kerja sama tersebut juga telah dibahas bersama Kementerian Perhubungan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Inggris merupakan salah satu negara dengan industri perkeretaapian terbesar di dunia, dengan nilai ekspor peralatan dan jasa perkeretaapian yang mencapai lebih dari £1 miliar setiap tahun serta didukung sekitar 100.000 tenaga kerja di sektor tersebut.

Sementara itu, Allan menyebut Indonesia saat ini mengoperasikan sekitar 6.927 kilometer jalur kereta api, terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, terdapat lebih dari 2.200 kilometer jalur nonaktif yang masih berpotensi diaktifkan kembali untuk memperluas jaringan kereta nasional.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan