Terinspirasi krisis 1998, 'game' ini hadir di PS5 ajak pemain pilih aturan atau hati nurani
1998: The Toll Keeper Story, game garapan studio asal Tangerang, meraih predikat ulasan "Very Positive" dari lebih dari 250 pengguna.
Potongan adegan dalam game berjudul 1998: The Toll Keeper Story yang terinspirasi dari krisis ekonomi di Indonesia tahun 1998. (Foto: YouTube/Game Changer Studio)
Krisis ekonomi, gejolak politik, dan pilihan sulit menjadi inti cerita game 1998: The Toll Keeper Story yang kini resmi hadir di PlayStation 5 (PS5). Lewat kehidupan seorang penjaga pintu tol, game ini mengajak pemain menghadapi dilema antara mematuhi aturan atau mengikuti hati nurani.
Game bergenre simulasi naratif tersebut sebelumnya tersedia untuk PC melalui Steam dan Epic Games Store sejak Oktober 2025. Di Steam, 1998: The Toll Keeper Story memperoleh predikat ulasan "Very Positive" dari lebih dari 250 pengguna.
Kritikus game juga memberikan respons positif terhadap karya GameChanger Studio tersebut. SavePoint Gaming, misalnya, menggambarkannya sebagai "surat cinta yang menghantui tentang bertahan hidup, tugas, dan kenangan," sementara sejumlah media memberikan skor hingga 9/10.
1998: The Toll Keeper Story membawa pemain ke sebuah negara fiktif di Asia Tenggara bernama Janapa. Latar dan situasi yang terjadi di dalamnya sangat terinspirasi dari krisis keuangan 1998 di Indonesia, salah satu periode kelam yang diwarnai pergolakan politik dan tekanan ekonomi.
Alih-alih menempatkan pemain sebagai tokoh besar di tengah peristiwa bersejarah, game ini memilih perspektif masyarakat biasa yang harus bertahan menghadapi dampak krisis dalam kehidupan sehari-hari.
Game Director GameChanger Studio, Riris Marpaung, menuturkan, kisah tersebut berpusat pada Dewi, seorang perempuan hamil yang bekerja sebagai penjaga pintu tol. Di tengah keadaan negara yang semakin tidak menentu, Dewi harus berusaha bertahan sekaligus menjaga keselamatan bayi yang dikandungnya.
"Alih-alih melawan gelombang besar yang berada di luar kendalinya, Dewi menyaksikan perjuangan manusia untuk bertahan hidup dari dalam gardu tol, sambil berusaha menjaga bayinya tetap aman," kata Riris melalui blog resmi PlayStation.
Dewi juga menjalani kehidupan bersama suaminya, Heru, yang bekerja sebagai sopir taksi. Lewat kehidupan keluarga tersebut, 1998: The Toll Keeper Story menggambarkan bagaimana kebijakan berskala besar, krisis ekonomi, dan kerusuhan politik dapat berdampak langsung terhadap kehidupan keluarga berpenghasilan rendah.
Narasinya turut menggambarkan realitas sosial ketika pekerja informal dan pekerja harian menjadi kelompok yang terdampak oleh inflasi, ketidakpastian hukum, serta ketimpangan ekonomi.
Melalui sudut pandang Dewi, pemain diajak melihat bagaimana gejolak yang terjadi di tingkat nasional pada akhirnya dapat memengaruhi kebutuhan paling mendasar sebuah keluarga, termasuk makanan yang tersedia di meja makan.
PATUH PADA ATURAN ATAU MEMBANTU ORANG LAIN?
Gim 1998: The Toll Keeper Story juga mengambil inspirasi dari era Reformasi, gerakan bersejarah yang mendorong perubahan demokrasi di Indonesia.
Ketika frustrasi publik terhadap hak istimewa pemerintah meningkat, game ini menggambarkan pentingnya menjaga lembaga demokrasi, baik pada masa lalu maupun masa kini.
Tidak hanya mengandalkan narasi, tema tersebut juga diterjemahkan ke dalam mekanisme permainan yang menempatkan pemain dalam berbagai pilihan moral.
Menurut Riris, gameplay 1998: The Toll Keeper Story terinspirasi dari gim indie populer Papers, Please yang dirilis pada 2013. Selain itu, mekanisme permainannya juga memiliki inspirasi dari Death and Taxes.
Sebagai penjaga gardu tol, pemain harus menjalankan pekerjaan Dewi sehari-hari dengan memeriksa kendaraan serta dokumen milik orang-orang yang melintas. Pemain juga harus menemukan ketidaksesuaian berdasarkan aturan negara yang terus berubah.
Pekerjaan yang awalnya terlihat rutin perlahan menjadi semakin rumit ketika situasi di luar gardu tol memanas. Pada titik inilah kewajiban Dewi sebagai pekerja mulai berbenturan dengan rasa empatinya terhadap orang lain.
Pemain harus menentukan apakah Dewi akan tetap mematuhi aturan demi melindungi keluarganya atau justru melanggarnya untuk membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.
Setiap keputusan yang diambil bukan sekadar pilihan sesaat. Tindakan pemain dapat memengaruhi perkembangan cerita sekaligus menentukan nasib Dewi dan bayi yang sedang dikandungnya.
Dengan situasi tersebut, gim ini mengajak pemain mempertanyakan batas antara menjalankan tugas dan mengikuti hati nurani ketika keadaan di sekeliling mereka semakin tidak pasti.
FITUR GAME
Selain mode cerita utama, 1998: The Toll Keeper Story menyediakan mode "Endless" yang terbagi menjadi dua pilihan, yakni "Timed" dan "Perfection".
Dalam mode Timed, pemain memiliki batas waktu tertentu untuk menyelesaikan tugas sebanyak mungkin. Sementara itu, mode Perfection menilai pemain berdasarkan tingkat akurasi dan ketelitian selama menjalankan misi.
Versi PS5 juga memanfaatkan fitur haptic feedback pada controller DualSense. Getaran controller akan menyesuaikan dengan jenis kendaraan yang melintasi gardu tol, sehingga memberikan sensasi berbeda ketika pemain menjalankan pekerjaan Dewi.
Di Indonesia, 1998: The Toll Keeper Story sudah tersedia melalui PlayStation Store dengan harga Rp84.000.
Sementara bagi pemain PC, 1998: The Toll Keeper Story dibanderol Rp98.000 melalui platform distribusi game Steam.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.