iPhone Duo ternyata sangat bergantung pada Samsung, ini alasannya
Ponsel lipat pertama dari Apple ini menggunakan layar eksklusif yang mengandalkan teknologi vital dari sang rival, Samsung Display.
iPhone lipat terbaru, iPhone Duo, dipamerkan dalam acara Apple di Steve Jobs Theater, Cupertino, California, AS, pada 9 September 2026. (Foto: REUTERS/Carlos Barria)
Apple dan Samsung boleh bersaing sengit di pasar smartphone, tetapi untuk iPhone lipat pertamanya, Apple justru membutuhkan teknologi sang rival. Setelah bertahun-tahun mematangkan teknologi ponsel lipat, Apple akhirnya merilis iPhone Duo pada Rabu (9/9) dengan layar yang bergantung pada satu pemasok saja: Samsung Display.
Ketergantungan ini membuat rantai pasok iPhone Duo, yang dibanderol mulai US$1.999 (Rp35 juta), berbeda dari iPhone lainnya. Meski komponen utamanya masih berasal dari berbagai negara, layar yang menjadi kunci desain lipatnya justru termasuk yang paling sulit digantikan oleh pemasok di luar Korea.
Sebenarnya, ini bukan hal baru bagi Apple. Samsung Display juga pernah menjadi pemasok OLED eksklusif Apple ketika iPhone X debut pada 2017.
iPhone X menggunakan OLED fleksibel Samsung untuk membantu Apple mewujudkan desain layar yang nyaris memenuhi seluruh bagian depan perangkat. Ponsel tersebut juga hadir dengan Face ID, sistem kamera TrueDepth, serta antarmuka baru yang dirancang seiring hilangnya tombol Home.
iPhone Duo berbeda karena layarnya bukan sekadar salah satu peningkatan besar di antara berbagai pembaruan lainnya. Layar tersebut adalah komponen yang sejak awal membuat perangkat ini bisa menjadi ponsel lipat.
"Pada iPhone X, OLED Samsung merupakan komponen yang membuat iPhone terlihat lebih baik," kata seorang pejabat industri layar Korea kepada The Korea Herald. "Kali ini berbeda. Tanpa panel lipat dari Samsung Display, form factor itu sendiri sama sekali tidak mungkin ada."
Namun, Apple tidak sekadar memakai panel Galaxy yang sudah ada. Samsung Display memproduksi layar sesuai spesifikasi Apple, sementara Apple merancang perangkat di sekelilingnya, termasuk engsel, struktur di bawah panel, dan software khusus untuk layar bagian dalam yang lebih besar.
Keunggulan Samsung Display terletak pada pengalamannya memproduksi OLED lipat dalam skala besar sejak Galaxy Fold pertama meluncur pada 2019. Selama beberapa generasi, Samsung terus menyempurnakan teknologi layar lipat, mulai dari mengurangi bekas lipatan hingga meningkatkan daya tahan dan yield produksi.
The Elec sebelumnya melaporkan pada tahun ini bahwa Apple sepakat membeli panel OLED lipat secara eksklusif dari Samsung Display hingga tiga tahun.
"Apple biasanya sangat mementingkan diversifikasi pemasok," kata pejabat industri layar Korea Selatan yang tak disebutkan namanya dalam laporan The Korea Herald itu.
"Jika Apple tetap memutuskan untuk menyerahkan komponen terpenting dari produk generasi pertama [foldable mereka] kepada satu perusahaan, itu menunjukkan bahwa alternatifnya memang tidak mudah ditemukan saat ini," tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Linda Sui, pendiri sekaligus principal analyst Smart Analytics Global dan mantan kepala pasar perangkat mobile di TechInsights.
Menurutnya, komponen ponsel tersebut tetap berasal dari berbagai negara, tetapi ketergantungannya terhadap Korea tergolong tidak biasa dalam "beberapa teknologi krusial dan sulit digantikan."
"Contoh paling jelas adalah layar OLED lipat," katanya, seraya menyinggung "kematangan teknologi, pengalaman manufaktur, serta kemampuan Samsung Display untuk memenuhi persyaratan Apple terkait kualitas, yield, dan skala," tuturnya.
"Produsen layar lain dapat memproduksi panel OLED lipat berkualitas tinggi," kata Sui. "Namun, memenuhi persyaratan Apple dalam seluruh aspek tersebut sekaligus mampu mendukung jutaan perangkat secara konsisten merupakan standar yang jauh lebih tinggi."
Layar bukan satu-satunya komponen yang membuat Apple memiliki ketergantungan terhadap Korea. Samsung Electronics dan SK hynix merupakan pemasok utama di pasar DRAM dan NAND global, bersama Micron dari AS. Peran mereka semakin penting ketika harga memori melonjak tajam dan ikut meningkatkan biaya produksi smartphone.
Counterpoint Research memperkirakan, memori menjadi faktor terbesar yang mendorong kenaikan hampir US$300 untuk iPhone 18 Pro Max berkapasitas 1 TB dibandingkan pendahulunya.
Apple berulang kali menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar harga premium untuk mendapatkan ekosistem dan software buatannya yang sangat matang. Counterpoint menyatakan, penjualan smartphone premium Apple masih tumbuh 9 persen pada paruh pertama tahun ini.
"Apple tidak perlu membuktikan bahwa mereka bisa membuat ponsel lipat. Samsung sudah membuktikannya selama tujuh tahun," tambah pejabat tersebut. "Apple harus membuktikan mengapa ponsel lipat ini layak dihargai US$1.999 [Rp35 juta]."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.