Skip to main content
Iklan

Teknologi

HP mahal tetap diburu meski ekonomi semakin lesu

Jarak harga HP kelas menengah dan flagship yang makin tipis bikin konsumen mulai melirik perangkat premium.

HP mahal tetap diburu meski ekonomi semakin lesu

Warna cosmic orange menjadi salah satu warna ciri khas iPhone 17 Pro dan Pro Max. (Foto: REUTERS/Evgenia Novozhenina)

Di tengah ekonomi global yang masih dibayangi inflasi dan gejolak geopolitik, smartphone premium justru makin laku keras. Ponsel di kategori ini punya harga rata-rata US$600 atau sekitar Rp10,7 juta ke atas.

Berdasarkan laporan terbaru Counterpoint Research, penjualan smartphone premium global tumbuh 5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada semester pertama (H1) 2026. Kenaikan itu sekaligus mendorong pangsa pasar segmen ini ke rekor tertinggi, yaitu 29 persen.

Sebagai pembanding, pangsa pasar smartphone premium tercatat 25 persen pada semester I-2025 dan 20 persen pada periode yang sama pada 2022.

Counterpoint menilai, naiknya harga memori dan sejumlah komponen smartphone ikut mendorong pertumbuhan tersebut. Dampaknya memang lebih terasa pada ponsel kelas bawah dan menengah dibanding perangkat premium.

Analis Senior Counterpoint Harshit Rastogi menjelaskan, produsen smartphone premium punya ruang lebih besar untuk menanggung kenaikan biaya produksi karena margin keuntungannya lebih tinggi. Di saat yang sama, vendor juga mulai memangkas berbagai program promosi yang sebelumnya dipakai untuk mendongkrak penjualan.

Akibatnya, permintaan di segmen premium tetap terjaga meski kondisi pasar belum sepenuhnya pulih.

"Ketika harga smartphone Android kelas menengah naik, selisih harganya dengan ponsel flagship, terutama model lama yang mendapat diskon, menjadi semakin tipis. Kondisi ini membuat perangkat flagship menjadi pilihan upgrade yang lebih menarik," kata Rastogi, dikutip dari laman Counterpoint.

Selain faktor harga, para produsen juga makin gencar memperluas skema pembelian agar perangkat premium terasa lebih terjangkau. Samsung, misalnya, memperluas program Galaxy Forever ke lebih banyak negara.

Lewat program ini, konsumen cukup membayar setengah harga perangkat melalui cicilan selama satu tahun. Setelah 12 bulan, pengguna bisa mengembalikan perangkat, melakukan upgrade ke model baru, atau melunasi sisa pembayarannya.

Tren larisnya HP mahal ini muncul saat Dana Moneter Internasional (IMF) masih menilai ekonomi dunia berada di bawah tekanan. IMF memproyeksikan inflasi global tetap tinggi, sementara pemulihan ekonomi berlangsung tidak merata akibat dampak perang di Timur Tengah dan lonjakan investasi di sektor teknologi.

Namun, Dalam pembaruan World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026, IMF tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027.

Meski begitu, tekanan harga belum juga reda. IMF merevisi proyeksi inflasi global naik menjadi 4,7 persen pada tahun ini, sementara proyeksi inflasi inti relatif tidak berubah.

Brooks mengatakan, "Gambaran inflasi kurang menggembirakan... Tren disinflasi yang telah berlangsung sejak awal 2024 kini terhenti," kata Brooks.

Di tengah kondisi tersebut, Counterpoint memperkirakan, strategi produsen smartphone akan semakin fokus ke perangkat premium. 

Analis Senior Counterpoint Karn Chauhan menilai, vendor kini tidak lagi sekadar mengejar volume penjualan, tetapi juga berusaha menaikkan nilai transaksi dan margin keuntungan lewat perangkat kelas atas.

"Para vendor kini menyasar segmen ponsel mahal demi menjaga margin di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan," ujar Chauhan. 
 

Pelanggan sedang membandingkan iPhone lamanya dengan iPhone 17 Pro Max yang baru diluncurkan di Apple Store, 19 September 2025. (Foto: REUTERS/Bhawika Chhabra)

Ia menambahkan, siklus penggantian smartphone yang semakin panjang juga membuat konsumen cenderung memilih perangkat premium karena dinilai punya usia pakai lebih lama.

Dalam laporan yang sama, Apple masih memimpin pasar smartphone premium global dengan pangsa 65 persen pada enam bulan pertama 2026. Meski begitu, angka itu turun dari 74 persen pada periode yang sama pada 2022.

Penjualan Apple sendiri masih tumbuh 9 persen YoY berkat performa seri iPhone 17, terutama model regulernya.

Namun, Counterpoint mencatat, posisi Apple mulai tertekan di China, pasar smartphone premium terbesar di dunia, akibat persaingan yang makin ketat dari merek lokal seperti Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

Samsung menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 19 persen setelah mencatat pertumbuhan 3 persen. Menurut Counterpoint, salah satu pendorongnya adalah fitur Privacy Display yang pertama kali hadir melalui Galaxy S26 series. Galaxy S26 Ultra bahkan menyumbang lebih dari separuh penjualan lini tersebut. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan