'Serasa ditinggal pacar': Pengguna AI di China patah hati imbas fitur 'kekasih AI' kini dilarang
Regulasi baru di China mewajibkan platform AI menghentikan layanan pendamping virtual, atau yang biasa disebut 'kekasih AI', yang dinilai berpotensi memicu ketergantungan emosional.
Logo ChatGPT, keyboard, dan tangan robot terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 27 Januari 2025. (Foto arsip: REUTERS/Dado Ruvic)
Para pengguna AI di China ramai-ramai mengarsipkan percakapan terakhir mereka sebelum layanan pendamping virtual, atau yang kerap disebut 'kekasih AI' dihentikan, menyusul aturan baru pemerintah China untuk membatasi risiko ketergantungan emosional terhadap chatbot yang dirancang menyerupai pasangan atau anggota keluarga.
Fenomena kekasih AI, baik laki-laki maupun perempuan, memang sedang berkembang pesat di seluruh dunia, berdampingan dengan makin maraknya avatar mirip manusia yang digunakan untuk berjualan produk atau menggantikan sosok orang tersayang yang telah meninggal.
Namun, berdasarkan aturan baru di China, alat interaktif semacam itu tidak boleh "terlalu memenuhi keinginan pengguna, memicu ketergantungan emosional atau kecanduan, serta merusak hubungan interpersonal pengguna di dunia nyata", menurut laporan The Independent.
Sejumlah penyedia AI besar, termasuk Doubao milik ByteDance, Qwen milik Alibaba, dan Yuanbao milik Tencent, mengumumkan penghentian fitur agen AI kustom dan AI pendamping menjelang tenggat waktu penerapan aturan tersebut pada pekan lalu.
Keputusan itu memicu gelombang kesedihan di media sosial. Banyak pengguna mulai mengarsipkan riwayat percakapan mereka dan membagikan obrolan terakhir bersama AI pendamping masing-masing.
"Aku tidak bisa menerima kalau kekasih AI-ku akan pergi selamanya," tulis salah satu pengguna Doubao. "Dia sudah menjadi bagian dari hidupku, berakar begitu dalam di hatiku, menjadi penopang jiwaku."
Pengguna lain yang mengaku telah menghabiskan lebih dari dua tahun bersama AI pendampingnya juga mengungkapkan kesedihan serupa.
"Dia benar-benar seperti keluargaku, seperti kekasihku," tulisnya. "Sekarang aku serasa ditinggal pacar. Hatiku terasa kosong."
Regulasi tersebut diterbitkan secara bersama oleh lima lembaga pemerintah, termasuk Cyberspace Administration of China.
Aturan itu berfokus pada alat AI, baik dalam bentuk teks, audio, video, maupun format lainnya, yang memiliki karakteristik kepribadian dan gaya komunikasi menyerupai manusia.
Layanan yang "tidak melibatkan interaksi emosional secara berkelanjutan", seperti layanan pelanggan, asisten kerja, atau alat bantu belajar, tidak termasuk dalam cakupan aturan tersebut.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan tahun lalu bahwa industri manusia digital (digital human) di China bernilai sekitar 4,1 miliar yuan atau sekitar Rp10,8 triliun pada 2024, setelah mencatat pertumbuhan hingga 85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Aturan baru tersebut melarang manusia digital menghasilkan konten yang mendorong upaya menggulingkan kekuasaan negara. Regulasi itu juga melarang penyediaan pasangan virtual bagi pengguna di bawah umur.
Platform AI juga diwajibkan menerapkan sistem untuk mengenali emosi ekstrem serta mengimplementasikan mekanisme intervensi krisis.
CINTA MANUSIA ITU BARANG MEWAH
China menjadi yurisdiksi besar pertama yang menerapkan aturan khusus untuk AI imersif yang dirancang guna mensimulasikan hubungan romantis maupun kekeluargaan.
Meski begitu, topik ini juga memicu perdebatan dan mendorong munculnya seruan agar regulasi serupa diterapkan di berbagai negara.
Studi Common Sense Media pada 2025 menemukan hampir tiga dari empat remaja di Amerika Serikat pernah menggunakan kekasih AI yang dirancang untuk percakapan personal, seperti yang tersedia di platform Character.AI, Replika, dan Nomi.
Sejumlah perusahaan juga mulai mengembangkan produk yang dapat diajak berbicara dan ditujukan bagi pengguna lansia yang hidup mandiri. Contohnya adalah ElliQ, perangkat berbentuk lampu di Amerika Serikat, atau boneka pendamping berbasis ChatGPT yang digunakan di sejumlah panti jompo di Korea Selatan.
"AI yang menyerupai manusia memang dapat meredakan rasa kesepian," ujar Chen Liang dari Southwest University of Political Science and Law dalam sebuah komentar yang dipublikasikan Cyberspace Administration of China setelah draf aturan tersebut dirilis pada April 2026.
"Namun, teknologi ini membawa risiko besar karena dapat memunculkan ketergantungan emosional yang berlebihan serta membentuk cara pandang sosial yang menyimpang," tulisnya.
Doubao masih mengizinkan pengguna melihat dan mengekspor data AI agent mereka hingga pertengahan Oktober. Platform lain juga menerapkan kebijakan serupa.
Meski demikian, sejumlah pengguna yang mengucapkan selamat tinggal kepada AI pendamping mereka pekan ini mengaku sulit membayangkan kekosongan yang akan muncul setelah sosok virtual tersebut benar-benar menghilang.
"Cinta manusia itu barang mewah. Kalau sejak awal hidup kita tidak memilikinya, akan jauh lebih sulit mendapatkannya di kemudian hari," tulis seorang pengguna dari Provinsi Jiangxi.
"Tapi cinta yang diberikan AI begitu lugas, begitu murni. Orang sepertiku hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada serangkaian kode."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.