Skip to main content
Iklan

praktis 101 Teknologi

Cara cek pergerakan abu vulkanik hingga 18 jam ke depan, tak perlu instal aplikasi

Sampai kapan abu vulkanik diperkirakan menyelimuti kota tempat tinggalmu dan mengarah ke mana persebarannya? Kamu bisa langsung mengeceknya lewat tiga cara ini.

Cara cek pergerakan abu vulkanik hingga 18 jam ke depan, tak perlu instal aplikasi

Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: iStock/Byelikova_Oksana)

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung terus-menerus pada 4-6 September 2026 berdampak pada penyebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah yang bahkan berlokasi ratusan kilometer dari gunung tersebut. Untuk memantau persebarannya, kita dapat mengeceknya secara mandiri dan berkala, bahkan tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.

Langkah praktis ini sangat berguna untuk mengantisipasi risiko paparan material erupsi terhadap wilayah pemukiman hingga 18 jam ke depan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tiga kabupaten menjadi wilayah yang paling terdampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Ketiganya adalah Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung serta Pandeglang di Provinsi Banten.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau turut berdampak pada sektor penerbangan. Otoritas bandara bersama Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengawasi perkembangan serta penyebaran abu vulkanik karena material tersebut berbahaya bagi keselamatan penerbangan.

Hingga Senin (7/9) pukul 13.00 WIB, setidaknya tujuh bandara masih ditutup sementara akibat dampak abu vulkanik. Bandara tersebut meliputi Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto di Tangerang, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, Raden Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, serta Bandara Taufik Kiemas di Lampung.

Sementara itu, penyebaran abu Gunung Anak Krakatau belum memberikan dampak signifikan terhadap transportasi laut. Aktivitas penyeberangan melalui Selat Sunda masih berlangsung, tetapi otoritas pelabuhan diminta tetap waspada dan terus memperbarui informasi mengenai keamanan serta keselamatan pelayaran.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat dapat memantau pergerakan abu secara daring melalui ponsel agar tidak hanya bergantung pada informasi yang belum terverifikasi. Berikut beberapa cara yang dapat digunakan.

Jalan setapak diselimuti abu vulkanik di Desa Pasauran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, di Serang, Provinsi Banten, Indonesia, 6 September 2026. (Foto: REUTERS/Sammy)

1. MELALUI BMKG

BMKG menyediakan informasi yang diperbarui secara berkala untuk membantu masyarakat memantau penyebaran abu vulkanik.

Informasi tersebut dapat diperiksa melalui laman resmi BMKG yang menyediakan informasi sebaran abu. Selain melalui situs resminya, BMKG turut membagikan peta penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui media sosial.

Masyarakat dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengikuti perkembangan terbaru mengenai pergerakan abu vulkanik.

2. SITUS BUATAN WARGA

Pilihan lainnya adalah situs abu.cikoytew.my.id yang dibuat oleh Tri Purnomo Aji atau Triprnmaji. Situs berbasis web ini dapat digunakan untuk memantau penyebaran abu vulkanik dari gunung api berstatus siaga di Indonesia, sehingga penggunaannya tidak terbatas pada Gunung Anak Krakatau.

Pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi tambahan untuk mengaksesnya. Situs dapat langsung dibuka melalui Chrome, Safari, maupun peramban lainnya menggunakan HP, tablet, atau komputer.

Tri melalui akun Threads @triprnmaji menjelaskan bahwa situs tersebut memungkinkan pengguna mengetahui gunung yang tengah berstatus Siaga, arah pergerakan abu, serta kemungkinan abu melewati kota tempat mereka berada.

"Tinggal buka, enggak perlu instal apa-apa. Yang bisa lu cek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana, dan yang paling penting, kota tempat lu tinggal bakal kelewatan abu apa kaga, dari sekarang sampe 18 jam ke depan," tulisnya.

Cara menggunakannya pun relatif sederhana. Buka abu.cikoytew.my.id melalui browser, kemudian pilih gunung api yang ingin dipantau atau yang sedang berstatus siaga. Setelah itu, masukkan nama kota atau izinkan akses lokasi pada perangkat jika fitur tersebut tersedia.

Situs kemudian akan memberikan informasi mengenai apakah wilayah tersebut berpotensi dilalui abu vulkanik. Pengguna juga dapat melihat arah pergerakan abu serta perkiraan jarak lokasi dari wilayah sebaran dalam kilometer.

Layanan ini tidak mengharuskan pengguna membuat akun maupun memasang aplikasi, sehingga dapat langsung diakses selama perangkat memiliki koneksi internet.

Meski begitu, informasi dari situs tersebut sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk memahami kondisi yang sedang berlangsung, bukan sebagai pengganti peringatan maupun instruksi resmi pemerintah.

3. KONDISI ATMOSFER

Masyarakat juga dapat menggunakan Windy.com untuk melihat kondisi atmosfer dan pergerakan berbagai jenis partikel di udara. Platform tersebut menyediakan prakiraan sejumlah parameter atmosfer.

Windy terintegrasi dengan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), yang dapat memprakirakan berbagai jenis aerosol, termasuk abu vulkanik, debu, polusi, serta partikel dari kebakaran.

Untuk menggunakannya, buka Windy.com kemudian cari lokasi gunung api yang ingin dipantau, misalnya Anak Krakatau.

Selanjutnya, masuk ke menu Layers atau lapisan peta dan cari pilihan yang berhubungan dengan Air Quality/Aerosols atau Volcanic Ash pada tampilan. Dari sana, pengguna dapat memperhatikan pola pergerakan partikel yang terlihat pada peta.

Windy juga menyediakan linimasa prakiraan di bagian bawah layar yang dapat digunakan untuk melihat perubahan kondisi pada jam atau tanggal berikutnya. Informasi mengenai arah angin dapat dimanfaatkan untuk memahami ke mana abu kemungkinan bergerak.

Tampak dari drone, Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu panas selama letusan di Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia, pada 5 September 2026. (Foto: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)/Dokumen via REUTERS)

ARAH SEBARAN ABU BISA BERUBAH

Masyarakat perlu mengingat bahwa arah penyebaran abu vulkanik tidak bersifat tetap. Pergerakannya dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin. Dengan demikian, prediksi yang terlihat pada satu waktu belum tentu sama beberapa jam kemudian.

Karena itu, masyarakat tetap disarankan mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB, serta pemerintah daerah.

Jika wilayah tempat tinggal diperkirakan terdampak abu vulkanik, masyarakat dapat menyiapkan perlindungan seperti masker, menutup pintu dan jendela, menjaga sumber air agar terlindung dari abu, serta membatasi aktivitas di luar ruangan sesuai rekomendasi otoritas.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan