Muram nasib perempuan pemetik kapas Azerbaijan dibayangi ancaman perubahan iklim
Azerbaijan hendak menumbuhkan kembali industri kapas sebagai bentuk diversifikasi ekonomi dari minyak dan gas. Tapi para pemetik kapas dihantui bayang-bayang perubahan iklim yang membuat penderitaan mereka kian bertambah.
Para perempuan pemetik kapas di Azerbaijan bekerja keras di ladang. (Foto: CNA/Jack Board)
BAKU, Azerbaijan: Di pinggiran kota Imishli yang berdebu di Azerbaijan tengah, berdiri menjulang patung besar di sebuah pertigaan tak bernama.
Patung bercat putih yang warnanya mulai pudar itu menggambarkan figur perempuan yang menggenggam seikat kapas. Di belakangnya berdiri deretan figur perempuan lainnya dengan pose-pose yang gagah.
Monumen itu menggambarkan para pahlawan "emas putih".
Para pemetik kapas telah menjadi roda penggerak bagi industri besar di kawasan tersebut. Pekerjaan ini membuat para perempuan menempati posisi terhormat dalam berbagai hikayat setempat.
Namun belakangan ini, realita kehidupan di ladang kapas perdesaan dan sepanjang kawasan tengah Azerbaijan tidak lagi seindah dulu.
Di beberapa ladang tidak ada perkembangannya, waktu seakan berhenti di masa Uni Soviet. Para perempuan usia 50 dan 60-an, dengan wajah tertutupi syal warna-warni, masih harus mengayunkan cangkul berat ke tanah yang kering.
Tulang punggung mereka melengkung akibat bertahun-tahun membungkuk untuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di antara deretan pohon kapas. Semua itu dilakoni di tengah matahari yang bersinar terik, dengan panas sekitar 30 derajat Celcius.
Perekonomian yang tidak stabil, ditambah lagi jerat kemiskinan di perdesaan membuat para perempuan ini terpaksa melakukan pekerjaan kasar. Kondisi itu ditingkahi oleh perubahan iklim yang membuat pekerjaan mereka jauh lebih berat.
"Tuhan bersama mereka yang menanam kapas," kata Mehpara Asadova, perempuan pemetik kapas veteran berusia 58 tahun.
"Dengan bekerja di sini, kami mendapatkan 15 manats (Rp143 ribu) untuk membayar tagihan listrik dan gas. Tapi kami tidak mampu membeli daging untuk dimakan. Kami hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Itulah realita yang terjadi," kata dia.
Riset Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 2019 menemukan bahwa buruh tani di Azerbaijan adalah mereka yang tidak punya lahan, warga desa dan kebanyakan perempuan. Dalam survei tersebut ditemukan bahwa 80 persen atau lebih pekerja di sektor pertanian kapas adalah perempuan.
"Percaya sama saya, ada perempuan yang pingsan karena lelah bekerja di ladang. Tapi mereka bisa berbuat apa? Mereka tidak punya pilihan selain harus tetap datang dan berkerja. Mereka butuh. Mereka kerja (jadi pemetik kapas) karena putus asa," kata Asadova.
Sektor pertanian di Azerbaijan dan seluruh dunia tengah dihadapkan dengan peningkatan suhu udara, curah hujan tak menentu, kekurangan air untuk irigasi dan meningkatnya ongkos produksi.
Di tengah beragam tantangan itu, Azerbaijan berharap bisa kembali menjadikan pertanian sebagai pilar utama perekonomian mereka, dibantu oleh teknologi baru yang lebih canggih dan solusi pertanian yang berkelanjutan.
Tapi banyak industri di sektor ini masih tertambat di masa lalu dan butuh inovasi. Para pemilik lahan di Azerbaijan kepada CNA mengaku kesulitan, karena pekerja mereka adalah orang-orang tua dan rapuh. Selain itu, ada entitas-entitas berpengaruh yang memonopoli seluruh rantai nilai industri kapas.
Setelah produksi kapas terpuruk pada 1990-an, pemerintah Azerbaijan pada tahun 2016 kembali menjadikan industri ini sebagai prioritas. Langkah ini diambil sebagai bentuk diversifikasi dari perekonomian Azerbaijan yang sangat bergantung pada produksi serta ekspor minyak dan gas, sebuah industri yang mudah naik-turun di tengah pasar energi global.
Seperti halnya di masa lalu, kapas asal Azerbaijan kebanyakan diekspor dalam bentuk mentah ke negara-negara tetangga seperti Turki, Iran dan Bangladesh untuk industri tekstil dan produk fashion untuk kemudian dikirim ke seluruh dunia.
Selama berabad-abad, Azerbaijan yang berada di perlintasan Jalur Sutra kuno telah menjadikan kapas sebagai penggerak roda perekonomian penting, terlebih di masa pemerintahan Uni Soviet.
"Perkebunan kapas memiliki sejarah panjang. Di masa Soviet, kapas diibaratkan sebagai 'emas putih', sementara minyak disebut 'emas hitam'," kata Rustaam Quliyev, pejabat di Kementerian Pertanian kota Imishli.
"Saat ini, perkebunan kapas masih sangat penting bagi Azerbaijan," kata dia.
Industri ini sempat merosot tajam ketika Uni Soviet runtuh dan Azerbaijan menjadi negara merdeka pada 1991. Pada 2009, produksinya anjlok hingga menjadi 21.000 hektare saja, atau hanya sekitar 10 persen dari produksi dua dekade sebelumnya.
Hasil kapas pada tahun itu menurun menjadi 31.000 ton, jauh dibandingkan 830.000 ton per tahun pada akhir 1980-an.
"Ketika Uni Soviet runtuh, para ilmuwan kami menyatakan perkebunan kapas adalah bencana bagi Azerbaijan, menyebut industri ini mirip kerja paksa," kata Azer Aliyex, peneliti di Imishli yang fokus pada ekonomi dan pertanian.
"Namun, ketika harga minyak anjlok pada 2015, pemerintah mulai mencari alternatif sumber pemasukan lain dan kapas dipilih sebagai opsi yang menjanjikan. Kenapa? Karena tidak seperti produk lainnya di Azerbaijan, kapas punya daya saing dan pasar global, serta bisa dijual dengan harga tinggi di bursa komoditas, dibeli dengan mata uang asing," kata dia.
Dalam sebuah surat keputusan presiden, pemerintah melabeli kapas sebagai "sektor penting dan strategis". Pemerintah Azerbaijan saat itu juga memprediksi ladang kapas akan bertambah enam kali lipat dan produksi naik sepuluh kali lipat pada 2022.
Perkebunan kapas memang bertambah menjadi lebih dari 100.000 hektare pada 2023 - sekitar 1,4 kali luas Singapura - tapi masih itu setengah dari yang diproyeksikan. Industri ini sekarang menyumbang sekitar 25 persen dari pemasukan pertanian nasional Azerbaijan.
Elnur Soltanov, CEO Konferensi para Pihak atau COP29 - sebuah perundingan iklim yang dipimpin PBB di kota Baku bulan ini - mengatakan bahwa Azerbaijan paham betul bahwa terlalu bergantung pada "sumber daya alam tertentu" tidak baik bagi perekonomian.
"Saya tidak mengatakan pertanian akan menjadi sektor berikutnya yang akan kami andalkan, tapi ini akan menjadi salah satu sektor paling penting dalam perekonomian kami," kata dia.
"Hampir 35 persen masyarakat kami terlibat dalam sektor pertanian, sehingga kami menganggapnya penting dan banyak yang perlu dilakukan."
TANAMAN YANG HAUS AKAN AIR
Sungai Araz lahir di pegunungan Bingöl yang terjal di Turki, datarannya dibentuk oleh gunung-gunung berapi. Airnya mengalir melintasi lembah-lembah dan dataran semi-arid di sebelah timur Kaukasus.
Sungai Araz menciptakan perbatasan darat alami antara Iran dan Azerbaijan. Di dataran rendah yang tanahnya subur ini, Araz telah mengairi ladang di kedua negara.
Tidak jauh dari Imishli, aliran Araz bertemu dengan sistem pengairan yang kompleks untuk mengalirkan airnya ke pertanian di seluruh kawasan.
Ratusan ribu hektare lahan pertanian di negara ini telah menerima air sungai Araz, dialirkan oleh sistem kanal irigasi yang dibangun sejak zaman Uni Sovie dan dari Bahramtapa Hydro Hub - sebuah fasilitas manajemen air dan pembangkit listrik tenaga air.
Kapas adalah tanaman yang haus akan air. Tanaman ini memang bisa beradaptasi dengan baik dan bertahan di tengah suhu yang panas, tapi jika kekurangan air maka pertumbuhannya akan terganggu. Di ladang Azerbaijan yang kering, hujan jarang sekali turun.
Petani seperti Tofiq Aslanov sudah berencana pindah dari daerah itu. Dia tertarik tinggal di daerah padang rumput yang hijau dekat Laut Kaspia, sebuah pelarian dari lahan tandus dan hasil panen yang mengecewakan di tempatnya tinggal saat ini.
Memang curah hujan pada 2024 lebih baik dibanding tahun lalu. Namun tetap saja, ladang kapas miliknya di Imishli tak ubahnya permukaan bulan, sebuah hamparan kering yang terabaikan.
Debu-debu beterbangan di udara ketika kambing-kambing digembalakan untuk minum air yang dialirkan dari selang. Air itu memang bisa menghilangkan dahaga hewan ternak, tapi tak cukup membuat pohon kapas tumbuh.
"Karena kami tinggal di pinggiran desa, tidak ada air bersih. Tanaman kami mengering dan lahan kami jadi seperti ini, rusak," kata dia.
"Kapas adalah benda luar biasa yang menciptakan lapangan kerja sehingga tidak ada lagi orang menganggur, semua orang bisa dapat uang. Tapi sekarang, karena kurangnya air, semua orang jadi kehilangan semangat."
"Kami kesulitan. Bagaimana kami bisa bertahan? Semua orang - masyarakat, petani - tak ingin lagi berkebun. Mereka ingin meninggalkan kebun dan pergi," kata dia.
Masalah ini sudah disadari oleh pemerintah setempat. Upaya tengah dilakukan untuk meningkatkan infrastruktur pengairan - dengan membuat kanal-kanal beton untuk mengalirkan sebanyak mungkin air dari sungai Araz dan Kura.
Di masa lalu, tidak diperlukan tempat penampungan air. Ketika itu, salju dan es akan mencair dan lelehannya mengalir dari pegunungan ke Laut Kaspia. Namun perubahan iklim telah mengubah siklus ini - air terkadang mengalir secara ekstrem dan dipolitisasi di sepanjang jalur internasional.
"Di negara kami, lebih dari 70 persen air yang masuk berasal dari negara-negara tetangga. Hal ini menyebabkan kami kekurangan air untuk ladang," kata Quliyev.
Secara global, kekurangan air adalah masalah yang mendesak. Menurut laporan Global Commission on the Economics of Water, krisis air yang terjadi telah mengancam setengah dari produksi pangan dunia dan 15 persen PDB dari negara-negara berpenghasilan rendah.
Curah hujan normal tidak lagi bisa diandalkan, kondisi yang berdampak sangat buruk bagi kelompok masyarakat miskin.
Artinya, solusinya kemungkinan adalah mengubah metode bertani, membuatnya lebih sadar-iklim, lebih intensif dan menciptakan nilai tambah dalam rantai pasokan.
COP29 akan sangat berfokus pada meningkatkan sistem agri-pangan, menurunkan emisi di sektor pertanian dan makanan, penurunan metana dan memberdayakan komunitas perdesaan.
KANTONG INOVASI
Di berbagi sektor di Azerbaijan, mulai terlihat pertumbuhan dan perubahan ekonomi.
Industri kapas di Imishli dan tempat lainnya di negara itu dikendalikan oleh satu perusahaan, MKT Istehsalat Kommersiya.
MKT bekerja sama dengan 10.000 petani kontrak di Azerbaijan dan mengoperasikan setengah dari operasi pemintalan kapas, yaitu pemisahan antara biji dan kotoran dari kapas. Selain itu, perusahaan ini juga menguasai pasar ekspor.
Meski beberapa petani menyalahkan MKT atas kesulitan ekonomi yang mereka rasakan, namun perusahaan ini telah berjasa dalam mendorong inovasi dan teknologi untuk menjadikan pertanian kapas di Azerbaijan lebih modern dan berkelanjutan.
Di kota Saatli, ladang kapas seluas 4.000 hektar telah dibudidayakan menggunakan metode progresif hasil inovasi dari MKT. Di tempat ini, telah disuntikkan dana investasi senilai jutaan dolar AS, membuat industri kapas yang dipegang MKT lebih sehat, beda jauh dengan lahan garapan petani kecil di Saatli.
"Kekurangan air telah terjadi di seluruh dunia. Kami juga mengalami kekurangan air. Itulah mengapa pemerintah kami mengambil langkah ini," kata Huseyno Sedafar, direktur Bidang Inovasi MKT di Saatli.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memasang sistem irigasi pivot atau tetes untuk menggantikan teknik penggenangan tradisional. Dengan sistem baru ini, kata Sedafar, penggunaan air bisa dikurangi hingga 60 persen.
"Di masa depan, mereka yang memahaminya perlahan akan menggunakan metode ini, bahkan pada lahan yang kecil sekali pun," kata Sedafar.
Traktor canggih dengan pengikis medan yang dipandu oleh laser dan satelit kini digunakan untuk mempersiapkan lahan tanam. Idenya adalah bahwa permukaan yang rata menjamin adilnya distribusi air dan kelembapan tanah, sehingga mengurangi limbah dan penyakit.
Teknik dan teknologi ini juga banyak digunakan pada sektor pertanian di belahan dunia lainnya. Tapi untuk penerapannya di Azerbaijan butuh waktu karena metode tradisional sudah mengakar.
"Kami melakukan selangkah demi selangkah, sebuah langkah bayi, untuk meyakinkan masyarakat bahwa konsep ini berhasil," kata Gert Barkhuizen, manajer survei dan ahli lahan pertanian di MKT.
"Tidak ada yang suka dengan perubahan, kami tahu itu. Tapi begitu mereka melihat ini berhasil, maka boom!"
Azerbaijan juga telah memperkenalkan berbagai varietas kapas baru untuk mengatasi permasalahan besar petani, yaitu harga bahan mentah yang sangat murah sehingga petani tidak punya modal untuk musim tanam berikutnya.
Langkah selanjutnya untuk membuat industri kapas Azerbaijan lebih layak, kata para pakar, adalah meningkatkan nilai produk dalam negeri. Pada 2022, 99 persen kapas Azerbaijan adalah produk mentah.
"Baiklah, sekarang kami memang memproduksi kapas, lebih banyak ketimbang awal 2000-an, tapi kondisinya sama seperti minyak. Kami hanya mengekspor kapas. Kami tidak memproduksi sesuatu," kata Toghrul Valiyev, pakar ekonomi di Baku.
"Kami punya sumber daya, bahan mentah, dan saya tidak paham kenapa kami tidak membuat investasi untuk mengolahnya," kata dia.
Satu pengecualian adalah GP Cotton Holdings, perusahaan kapas dan tekstil terintegrasi, yang telah bekerja sama dengan 8.000 petani kapas.
Direktur utamanya, John Young Simpson, mengatakan perlu disusun rantai produksi yang menyeluruh untuk membuat kapas tetap layak.
Dia mengatakan bahwa banyak sektor pertanian di Azerbaijan yang memiliki potensi besar namun tak bisa digarap karena lambatnya mekanisme di rantai pasok. Simpson melihat peluang besar dalam efisiensi dan inovasi untuk meningkatkan panen dan nilai kapas.
Perusahannya juga mencermati penghitungan karbon dan mencari peluang bisnis ramah lingkungan di pasar ekspor global bagi produk kapas Azerbaijan.
“Kompetitor kami di bidang tekstil di seluruh dunia sering kali mengimpor serat dari satu negara. Serat tersebut akan diproduksi menjadi benang di negara lain. Jadi, ada banyak sekali jejak karbon dalam perakitan garmen dan potongan-potongannya yang akan dibeli oleh konsumen,” ujarnya.
"Kami telah mengubah tanah menjadi baju dalam jarak sepanjang 100 kilometer di Azerbaijan. Dan kami memiliki ketertelusuran penuh di sepanjang rantai pasokan tersebut,” katanya.
Leyla Najafguluyeva, yang mengelola organisasi pemberdayaan perempuan di Imishli, ingin agar orang-orang mengingat tangan-tangan yang tersembunyi, yakni pengorbanan para perempuan yang terus bekerja di bawah terik sinar matahari.
Peluh derita mereka merembes ke dalam setiap kapas yang dipetik dan derita mereka perlu diprioritaskan, termasuk jika sistem pertanian berubah seiring waktu, kata dia.
"Kami tahu para perempuan kami, terutama para pemetik kapas, tengah mengalami penderitaan yang besar. Itulah mengapa masyarakat perlu melihat dan mengakui derita yang mereka alami,” ujarnya.
“Terkadang ketika membeli sebuah barang, kita tidak memikirkan bagaimana barang tersebut diproduksi, berapa banyak usaha atau kerja keras yang dilakukan untuk membuatnya.
“Kita tahu di luar sana ada yang menanam, menyiangi ladang, memetik kapasnya, dan pada akhirnya mereka sakit-sakitan. Semua ini tidak akan ada tanpa kerja keras mereka.”
📢 Ikuti kuis CNA Memahami Asia eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!
Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya 👀
🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V