Skip to main content
Iklan

Liputan Khusus

'Ini malapetaka': Ketika Laut Kaspia mengering karena perubahan iklim

Permukaan air Laut Kaspia menurun drastis, mendorong seruan kerja sama regional untuk bergegas mengatasinya. CNA menyelami krisis lingkungan akibat perubahan iklim dan aktivitas industri ini dalam serial tulisan yang menyertai perundingan iklim COP29 di Baku, Azerbaijan.

 

'Ini malapetaka': Ketika Laut Kaspia mengering karena perubahan iklim

Matahari terbenam di pantai Buzovna di pinggiran kota Baku, Azerbaijan. (Foto: CNA/Jack Board)

BAKU, Azerbaijan: Pada suatu sore di akhir pekan musim panas, para penikmat sinar matahari berkumpul di pantai Buzovna, selemparan batu dari Semenanjung Absheron di kota Baku.

Anak-anak bermain air di perairannya yang dangkal, pengunjung dewasa berjalan berpasang-pasangan di atas pasirnya yang kelabu. Kursi-kursi dan meja plastik di bawah naungan gazebo atau payung bermerek es krim bertebaran di seantero pantai.

Pantai itu sendiri merupakan hamparan yang luas. Tempat parkir resmi letaknya ratusan meter jauhnya dari bibir pantai, pengunjung yang malas berjalan jauh memilih memarkir mobil mereka di atas pasir. Tapi dulu kondisinya tidak seperti ini.

Beberapa tahun lalu, jarak antara bangunan di pinggir pantai dan debur ombaknya jauh lebih sempit.

Laut Kaspia, perairan darat terbesar di dunia, saat ini mengalami penyusutan yang sangat drastis.

Banyak juga yang menyebut Laut Kaspia sebagai danau. Tapi saking besarnya, beberapa negara berebut klaim jalur pelayaran dan sumber daya alam di dalamnya.

Membentang 390.000 kilometer persegi, luas Laut Kaspia setara dengan Jepang. Namun di saat lautan seluruh dunia mengalami peningkatan muka air laut yang merendam wilayah-wilayah pesisir, fenomena sebaliknya justru terjadi di Kaspia. 

Permukaan air Laut Kaspia terus menyusut. Pada pencatatan 2022, muka air Kaspia turun 6cm hingga 7cm per tahun dari yang sebelumnya memang sudah ada di tingkatan kritis. Sejak 1995 hingga saat ini, muka air Laut Kaspia di sisi Azerbaijan turun sekitar 1,7 meter. Penurunan muka air laut juga berdampak buruk bagi keragaman hayati dan mata pencaharian warga setempat.

Sebaliknya di perairan lepas, tengah terjadi kenaikan permukaan air secara global dalam tiga dekade terakhir. Rata-rata peningkatan muka air laut saat ini mencapai 3mm per tahunnya.

Penyebab utama penyusutan muka air Laut Kaspia adalah meningkatnya penguapan akibat suhu udara yang semakin memanas, ditambah lagi penurunan tingkat curah hujan dan berkurangnya aliran air dari sungai-sungai, salah satunya yang terbesar adalah dari sungai Volga di Rusia. Berbagai faktor ini kemudian diperburuk oleh perubahan iklim.

"Apa yang terjadi di Laut Kaspia menjadi indikasi ada yang salah dengan iklim di tingkatan global," kata Elnur Soltanov, CEO COP29 dan wakil menteri energi Azerbaijan, kepada CNA.

Kondisi ini dapat disaksikan di sepanjang pesisir Laut Kaspia di Azerbaijan, mulai dari pantai di kota Baku, daerah pengolahan minyak dan gas pinggir pantai, hingga ke kawasan lindung laut nasional yang berbatasan dengan Iran.

Air telah surut di tepi pantai Laut Kaspia di Baku. (Foto: CNA/Jack Board)

Jika ditelaah lebih jauh lagi, Laut Kaspia telah menjadi pusat dari krisis ekologi di kawasan tersebut. Lima negara yang berbatasan dengannya sangat bergantung pada Laut Kaspia untuk penyediaan energi, pangan, perdagangan dan keseimbangan keragaman hayati.

"Dunia kehilangan salah satu perairan daratnya yang paling besar dan berharga," kata Rovshan Abbasov, ahli hidrologi dan pakar manajemen sumber daya air terintegrasi di Baku.

"Laut Kaspia pernah menjadi penyedia dari 90 persen pasokan kaviar dan ikan sturgeon dunia. Saat ini tidak lagi. Dalam hal sumber daya alam, dan juga nilai-nilai intrinsik, dunia telah kehilangan ekosistem yang sangat penting," kata dia.

Menurut sebuah proyeksi yang dirilis di jurnal lingkungan Communications Earth & Environment pada 2020, muka air Laut Kaspia akan turun antara 9m hingga 18m di akhir abad ini. Artinya, garis pantai di beberapa sisi Kaspia akan menghilang dari pandangan, mundur beberapa kilometer dari titik sebelumnya.

"Sebagai warga Azerbaijan, dan sebagai negara pesisir, kami jelas harus memperhitungkan penurunan muka air ini karena penurunan masih akan terus berlanjut. Kami harus siap untuk beradaptasi," kata Abbasov.

Air Laut Kaspia telah surut secara tajam. (Foto: CNA/Jack Board)

Di Laut Kaspia sisi Kazakhstan dan Rusia, yang memang airnya lebih dangkal, teluknya sudah mengering dan garis pantainya mundur antara 30km hingga 50km.

Air yang surut kemudian menyingkap harta karun dan kisah-kisah masa lalu. Awal tahun ini, sebuah kapal yang dulu karam tiba-tiba muncul ke permukaan di Baku. Kapal itu sempat menarik perhatian warga dan wisatawan sebelum akhirnya dipindahkan aparat.

Namun yang tidak bisa dipindahkan dari wilayah itu adalah munculnya daratan-daratan baru - seperti pulau mini - yang mencuat dari kedalaman ketika muka air turun.

Dalam sejarahnya, muka air Laut Kaspia memang berfluktuasi. Riwayat menyebutkan selama beberapa generasi muka airnya naik-turun, terkadang secara drastis.

Sebuah hikayat menyebutkan bahwa Menara Perawan di Baku dulu dikelilingi oleh air, sekarang airnya terletak 200meter jauhnya dari menara tersebut. Pada akhir 1970-an, muka air laut bahkan tercatat pernah lebih rendah dibanding saat ini.

Tapi kali ini, muncul kekhawatiran tinggi muka air lautnya tidak akan bisa dipulihkan lagi akibat aktivitas manusia yang merusak.

"Ini sudah menjadi malapetaka," kata Islam Mustafayev, ketua Rüzgar Ecological Public Union, sebuah organisasi non-pemerintahan untuk perlindungan lingkungan di Azerbaijan.

Matahari terbenam di pantai Laut Kaspia yang populer di Baku, Azerbaijan. (Foto: CNA/Jack Board)

LAUT YANG DIABAIKAN

Laut Kaspia berperan penting dalam hubungan antara Rusia, Iran, Kazakhstan, Turkmenistan dan Azerbaijan.

Perairan ini memiliki sumber daya alam yang diolah bersama untuk mendorong perekonomian negara-negara tersebut, salah satunya menjadi pusat eksplorasi minyak dan gas. Namun di sisi lain, Laut Kaspia telah menjadi tempat pembuangan limbah minyak, pestisida, bahan kimia, logam berat, dan polusi bakteriologis lainnya.

Para ahli mengatakan, pengabaian kolektif terhadap lingkungannya, serta berbagai kepentingan industri dan politik telah menyumbang pada kehancuran Kaspia.

Jika dibandingkan dengan perairan lainnya, kondisi geografis Laut Kaspia membuatnya memiliki manfaat yang unik.

"Laut Kaspia terletak di daratan, tidak seperti lautan lainnya. Laut ini tidak punya aliran keluar. Seluruh sungai di sekelilingnya mengalir ke laut dan lebih dari 80 persen air Laut Kaspia berasal dari sungai Volga," kata Mustafayev.

"Negara raksasa seperti Rusia menempatkan 45 persen industri beratnya di lembah sungai Volga. Itulah mengapa seluruh pembuangan, polutan dan air limbah dari negara-negara sepanjang pantai Kaspia mengalir ke laut ini," kata dia.

Pada studi tahun 2022 yang dirilis Marine Pollution Bulletin menemukan bahwa kontaminasi logam berat di Laut Kaspia paling banyak terdapat di sisi utara - sisi Rusia -, menyimpan risiko kanker hingga 6 persen bagi orang dewasa dan 18 persen bagi yang berendam dalam airnya terlalu lama.

Polusi adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap kerusakan di Kaspia. (Foto: CNA/Jack Board)

Kondisi Laut Kaspia juga dipengaruhi oleh kondisi iklim yang kompleks, menyebabkan perubahan curah hujan lokal, tren musim dan tingginya suhu udara.

Kurangnya curah hujan akan membuat aliran air dari sungai-sungai sekitar Kaspia menjadi lebih sedikit, ditambah lagi banyak dari airnya yang dialihkan untuk pengairan pertanian. Rusia sendiri mengoperasikan 11 bendungan di sepanjang Sungai Volga dan cabang alirannya.

"Secara alami, kita akan mengaitkan penurunan muka air saat ini akibat perubahan iklim. Tapi pertumbuhan populasi juga memainkan peranan. Area budidaya menjadi semakin luas. Di Sungai Kura, Volga dan Ural ada peningkatan kebutuhan akan air," kata Abbasov.

"Di sisi lain, perubahan iklim juga mengurangi pasokan air. Pertumbuhan populasi, pertumbuhan industri dan perubahan gaya hidup secara alamiah menyumbang pada penurunan muka air Laut Kaspia."

Untuk sisa abad ini, penguapan air Laut Kaspia diramalkan akan lebih ekstrem lagi, terutama di bawah skenario peningkatan suhu global yang tak terkendali dan penurunan curah hujan.

Kondisi ini diperkirakan akan menciptakan kekeringan total di bagian utara Laut Kaspia - atau kering ekstrem dan berkepanjangan.

Seekor burung terbang melintasi Cagar Alam Gizil-Agach di Azerbaijan selatan. (Foto: CNA/Jack Board)

MASALAH REGIONAL DAN SOLUSINYA

Negara-negara di regional telah melakukan langkah untuk mengatasi masalah ini.

Pada 2018, negara-negara Kaspia menandatangani Konvensi Status Hukum Laut Kaspia, sebuah kesepakatan yang memuat batas wilayah dan maritim negara-negara yang masuk kawasan Laut Kaspia.

Perjanjian ini juga mengatur soal kerja sama keamanan, peletakan jalur pipa dan kabel bawah laut, dan perlindungan lingkungan.

Konvensi ini juga melengkapi Konvensi Teheran tahun 2006, sebuah instrumen legal yang berfokus pada aspek lingkungan yang menjadi perhatian bersama, seperti mengatasi polusi dan konservasi keragaman hayati.

"Tidak ada negara yang patut dipersalahkan, atau bertanggung jawab dalam mengatasi polusi lingkungan di Laut Kaspia. Faktanya, ini adalah tanggung jawab bersama dari lima negara," kata Vali Kaleji, pakar Studi Kaukasia dan Asia Tengah di Universitas Teheran.

"Kerja sama di bidang ini bisa menjadi dasar yang penting dalam kerja sama bersama antara negara-negara Laut Kaspia," lanjut dia.

Namun ada beberapa tantangan yang menghambat terciptanya kerangka hukum sebagai alat mencegah kerusakan semakin parah di Laut Kaspia.

Salah satunya seperti yang disampaikan Mustafayev, bahwa negara-negara sekitar seperti Georgia dan Armenia bukanlah penandatangan Konvensi Teheran. Akibatnya, kedua negara itu tidak berkewajiban membatasi pembuangan polusi mereka ke sungai yang alirannya bermuara ke Laut Kaspia setelah melalui Azerbaijan.

Soltanov mengatakan, memburuknya kondisi iklim dan lingkungan seharusnya membuat negara-negara Laut Kaspia menjadikan keberlangsungan lingkungan sebagai inti dari kerja sama mereka, serta mendorong dunia untuk mengatasi perubahan iklim.

"Komunitas internasional harus bertindak mengatasi krisis iklim, jika tidak Laut Kaspia tak akan terselamatkan. Kelima negara pantai Laut Kaspia harus bertindak, jika hanya satu negara saja yang bertindak, tidak akan membuat perubahan," kata dia.

Azerbaijan menjadi presiden dan tuan rumah Konferensi Para Pihak (COP) yang berlangsung awal pekan ini hingga dua minggu ke depan di kota Baku.

Soltanov mengatakan, kerusakan Kaspia akan menjadi salah satu agenda aksi yang akan diangkat oleh Azerbaijan pada COP29 ini.

"Perkara iklim dapat menciptakan masalah di tingkat nasional, regional dan global. Namun juga, perkara ini punya solusi di tingkat nasional, regional dan global," kata Soltanov.

Permukaan air yang turun di sekitar Baku terlihat jelas dan terlihat. (Foto: CNA/Jack Board)

Soltanov mengatakan bahwa negara-negara harus mengambil langkah adaptif yang dapat memberikan dampak signifikan.

"Jika ditanya apa yang terpenting, jelas itu adalah air. Memang betul ada berbagai masalah lain juga, tapi air adalah yang paling utama," kata dia.

Penurunan muka air bisa meningkatkan kandungan garam di daratan, menyebabkan rusaknya tanah dan lahan pertanian.

Menurut Abbasov, peningkatkan luas daratan bergaram yang tidak dapat ditanami tumbuhan dan rentan badai pasir akibat penggurunan (desertifikasi) membuat penciptaan jalur hijau dan pembatasan irigasi menjadi strategi penting ke depannya.

"Jika kapal-kapal semakin sulit mencapai pesisir, maka kita harus menggali kanal atau memperpanjang pelabuhan hingga jauh ke lautan. Ini bisa menjadi langkah adaptasi kedua," kata dia.

Penjaga hutan setempat memantau kondisi lingkungan di Cagar Alam Gizil-Agach. (Foto: CNA/Jack Board)

TANAH TAK BERTUAN

Sementara itu di bagian selatan Azerbaijan, jauh dari lokasi pelesir akhir pekan, masalah iklim juga muncul secara perlahan.

Laut Kaspia di wilayah ini berbatasan dengan Cagar Alam Gizil-Agach, sebuah ekosistem terpencil namun berharga yang menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna. Pada 2018, tempat ini menjadi taman nasional laut pertama Azerbaijan.   

Pemerintah setempat tengah berjuang melindungi dan melestarikan lingkungan yang mengalami perubahan ekologis ini.

Menurut Elshad Asgarov, pemandu taman nasional tersebut, perubahan ini menyebabkan populasi ikan menurun drastis dan beberapa hewan terancam punah, memengaruhi kehidupan tumbuhan dan mengganggu kedatangan serta perkembangbiakaan ratusan spesies burung yang secara musiman datang ke kawasan lembab tersebut.

"Karena sebagian besar taman ini adalah air - 70 persennya perairan - ini adalah masalah besar," kata dia.

Pantai Kaspia yang menjadi tanah kosong di dekat Liman di Azerbaijan selatan. (Foto: CNA/Jack Board)

Sedikit keluar dari taman nasional tersebut, wilayah pesisirnya tak ubahnya tanah kosong tak bertuan. Antara air dan jalanan tercipta lahan kosong yang lebar dan berlumpur dengan puing-puing yang berserakan.

Desa para nelayan kini terletak sekitar 3km dari bibir pantai. Padahal dulu, kaki mereka sudah basah oleh air laut begitu membuka pintu rumah.

"Masyarakat setempat tentu saja khawatir akan dampaknya pada mata pencaharian mereka, karena menangkap ikan adalah pekerjaan utama di sini. Ketika permukaan air menurun, mereka akan kesulitan menuju laut dan mencari ikan," kata Asgarov.

Sungai dan delta sekitarnya juga ikut terdampak. Tanah yang cukup subur untuk ditanami semangka atau padi juga sudah berkurang luasnya.

"Penurunan muka air juga menyebabkan peningkatan kekeringan, berdampak pada pasokan air minum masyarakat," lanjut Asgarov.

Para nelayan sepanjang wilayah utara dan selatan Azerbaijan belakangan juga mengaku semakin kesulitan menangkap ikan. 

Nelayan mencari ikan di pantai Buzovna, yang mengalami penurunan permukaan air secara drastis. (Foto: CNA/Jack Board)

Kembali ke pantai Buzovna, matahari mulai terbenam di sore yang terik. Beberapa nelayan, tua dan muda, naik ke atas bebatuan yang menghadap laut.

Nizami Huseynov, salah satu nelayan, mengatakan memancing sudah tidak seperti dulu lagi.

"Dulu, semua wilayah ini di bawah air. Bebatuan semua terendam air. Kini jumlah ikannya menurun tajam. Ukuran ikannya juga jadi lebih kecil," kata dia.

"Laut perlahan-lahan mengering. Sampai sekering apa nantinya? Tapi ini kenyataan yang kami hadapi. Kami bisa apa?"

📢 Ikuti kuis CNA Memahami Asia eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!

Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya 👀

🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan