Waspada! Jalan sambil main ponsel bisa berdampak buruk bagi tubuh dan otak
Makin banyak orang berjalan sembari menggunakan ponsel memicu kekhawatiran tentang keselamatan pejalan kaki. CNA menelusuri dampak berjalan kaki sembari bermain ponsel dan bagaimana Singapura dapat mengubah kebiasaan ini.
CNA mengikuti pejalan kaki yang tidak memperhatikan jalan di kawasan pusat bisnis Singapura.
SINGAPURA: Zombie memang hanya ada di dunia fiksi saja, tetapi sebenarnya mereka tidak jauh berbeda dengan para pejalan kaki yang tidak memperhatikan jalan saking asyiknya menggunakan ponsel.
Lihat saja, postur mereka serupa. Dengan kepala menunduk, mata menatap ke bawah, telinga tersumbat (oleh earphone), mereka hilir-mudik di jalan dengan gawai di tangan. Kamu pasti pernah melihat para pejalan kaki seperti ini, atau malah, kamu salah satunya.
Di awal tahun 2015, sebuah survei yang dilakukan oleh mahasiswa Nanyang Technological University menemukan bahwa 93 persen dari 419 anak muda mengaku "melakukan banyak hal sambil berjalan", yang berujung pada 598 insiden, termasuk terjatuh, tubrukan dengan pejalan kaki lain, atau bahkan kecelakaan lalu lintas.
Ironisnya, 84 persen mengaku bahwa mereka paham akan bahaya berjalan kaki tanpa memperhatikan jalan.
Meski memahami bahayanya, para pejalan kaki tetap saja melakukannya, karena berbagai macam alasan. Baru-baru ini, beberapa pejalan kaki tertangkap oleh kamera tengah asyik berselancar di media sosial, seperti Instagram dan TikTok, membalas pesan, atau bermain gim.
Salah satu pejalan mengaku bahwa kegiatan ini sebenarnya tidak begitu mendesak. "Terkadang kita bosan dengan suasana sekitar, sehingga kita melakukannya karena insting saja."
Apa pun alasannya, membiasakan insting seperti itu dapat menimbulkan konsekuensi yang parah.
Pada tahun 2022, Mohamad Yusman Sahadan, 52, meninggal karena ditabrak mobil saat melintas di persimpangan Sims Avenue dan Aljunied Road. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi ketika ia sedang memperhatikan ponselnya dan tidak sempat bereaksi terhadap kendaraan yang hendak lewat di depannya.
Akan tetapi, berjalan kaki tanpa memperhatikan jalan tidak sekadar mengurangi kesadaran kita akan lingkungan sekitar. Para ahli mengatakan bahwa kebiasaan itu juga dapat memengaruhi tubuh dan otak kita, mulai dari laju jalan, postur tubuh, hingga kapasitas kognitif.
MEMANG, APA DAMPAKNYA?
Ciri khas pejalan kaki yang tidak memperhatikan jalan terlihat dari cara mereka berjalan — terutama dari laju jalan mereka yang lebih lambat dari biasanya.
Saat perhatian mata kita fokus pada layar ponsel, penglihatan kita menjadi sempit, dan otak kita otomatis membuat langkah kaki kita menjadi lebih pendek, kata Navdeep Vij Signh, kepala pakar neurosains digital di klinik neurosains Neurowyzr. Ini memperlambat langkah kita dan, tentu saja membuat para pejalan kaki semakin berdempet-dempet.
Seiring waktu, pejalan yang tidak memperhatikan jalan juga akan merasakan sindrom "text neck", kondisi penyakit yang memengaruhi postur leher akibat sering menunduk.
Riset menemukan bahwa aktivasi otot leher kira-kira mencapai 21 sampai 42 persen lebih tinggi ketika bermain ponsel sambil berjalan, dibandingkan saat duduk atau berdiri. Hal ini dapat menyebabkan sakit leher, sakit kepala, dan masalah lainnya yang memengaruhi otot bahu kita.
Selain itu, studi tahun 2022 tentang sindrom text neck menunjukkan bahwa ketegangan mekanis yang berkepanjangan pada tulang belakang leher dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan, gangguan koordinasi gerakan, dan gangguan pada fungsi sistem pernapasan, peredaran darah, pencernaan, dan saraf.
Ada pula "penurunan yang besar" dalam fungsi otak saat otak terbebani oleh distraksi dan melebihi batas kognitifnya, kata ahli bedah saraf Prem Pillay.
Misalnya, ketika kita berjalan kaki sambil mengirim pesan, korteks motorik otak harus bekerja dua kali lipat supaya bisa melakukan kedua aktivitas tersebut. "Membuat beban otak menjadi berat,” jelasnya.
Dan ketika kinerja otak menurun, "Sangat mungkin kita melakukan sesuatu yang berbahaya, seperti berjalan kaki melewati jalan yang padat kendaraan, lalu mengalami kecelakaan."
HARUS DIBUAT PERATURAN?
Tidak hanya Singapura yang merasa kesulitan dalam menangani masalah pejalan kaki yang kerap tidak memperhatikan jalan. Di banyak negara lain, tipe pejalan kaki seperti ini mendorong para pembuat kebijakan untuk mengeluarkan kebijakan terkait hal ini.
Pada tahun 2017, Honolulu menjadi kota besar pertama di Amerika Serikat (AS) yang mendenda pejalan kaki hingga Rp1.6 juta, karena menyeberang jalan raya sambil melihat gawainya.
Kota-kota kecil di Idaho dan California juga turut melarang para pejalan kaki mengirim pesan ketika menyebrangi jalan, dan bahkan melarang bermain ponsel sama sekali saat menyeberang.
Yang lebih dekat, Kota Baguio di Filipina pada September lalu telah merevisi undang-undang terkait pejalan yang tidak memperhatikan jalan. Pelanggar akan diberi peringatan atau melakukan kerja sosial selama 10 hari.
Singapura tidak memiliki undang-undang yang mengatur hal seperti ini. Namun apakah sudah saatnya Singapura mempertimbangkan kebijakan semacam ini?
Dosen senior Singapore University of Social Sciences Maria Cecilia Rojas Lopes, yang kerap melakukan riset di bidang perencanaan transportasi dan tata kota, menyoroti sulitnya menetapkan kriteria pejalan kaki yang tidak memperhatikan lingkungan, dalam kerangka hukum.
Berbagai pertanyaan bisa timbul, misalnya, durasi penggunaan ponsel yang dianggap dapat mengalihkan perhatian pejalan kaki, dan pengecualian apa yang diperbolehkan.
Selain itu, undang-undang tersebut memerlukan "banyak pengawas" untuk menegakkan peraturannya, mengingat bahwa banyak pejalan kaki sudah terbiasa berjalan sambil memainkan ponselnya.
HARUS BUAT KEBIJAKAN?
Di luar kerangka kebijakan, sebenarnya Singapura sudah berupaya mengurangi kebiasaan buruk ini.
Pada tahun 2017, lampu-lampu LED dipasang di trotoar jalan di empat jalur penyeberangan pejalan kaki di sepanjang Orchard Road, Victoria Street, St Andrew's Road, dan Bencoolen Road.
Lampu-lampu LED itu mengeluarkan warna yang sama dengan lampu lalu lintas. Tujuannya adalah untuk membantu pejalan kaki menyeberang jalan dengan aman, terutama mereka yang tengah melihat ponselnya. Namun, inisiatif ini tidak membuahkan hasil yang signifikan dan berakhir usai masa percobaan rampung.
Demikian pula, pada tahun 2019, sudah dipasang stiker-stiker kuning besar bertuliskan "Pandangan ke Depan", dan simbol ponsel disilang ditempelkan di trotoar di persimpangan dekat stasiun MRT Ang Mo Kio dan di jalan masuknya.
Awalnya, warga Singapura kebingungan karena beberapa dari mereka merasa hal ini sudah menjadi nalar umum, sementara yang lain memberikan pujiannya atas upaya tersebut.
Mantan Anggota Parlemen (Ang Mo Kio GRC) Ang Hin Kee mengatakan bahwa meski upaya tersebut berhasil menaikkan kesadaran akan keselamatan di jalan raya, seiring waktu, orang-orang tidak lagi memperhatikannya karena mereka sudah terbiasa dengan keberadaan stiker-stiker tersebut.
Usai kampanye selama dua tahun itu rampung, Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura mencabut stiker-stiker tersebut.
Meski inisiatif ini tidak bertahan lama, harapan terus berlanjut. Beberapa pembaca CNA memberikan sarannya mengenai bagaimana mengatasi kebiasaan buruk pejalan kaki yang tidak memperhatikan jalan.
Salah satu usulannya adalah untuk memasang audio aba-aba di jalan penyeberangan yang sibuk, mirip dengan sistem pengumuman yang digunakan di stasiun MRT. Ini akan lebih efektif ketimbang hanya petunjuk gambar saja.
Selain itu, ada yang mengusulkan untuk mengembangkan aplikasi yang mampu mendeteksi individu yang sedang berjalan dan mengingatkan mereka untuk berhenti menggunakan ponsel.
Kemudian, satu pembaca memberikan ide untuk menerapkan perangkat lunak dengan fitur penguncian ketika penggunanya sedang berada di persimpangan. Ide ini terinspirasi dari troli belanja anti-maling di AS yang terkunci otomatis saat penggunanya sudah meninggalkan parkiran toko.
Ide lainnya adalah dengan membuat "pojok penggunaan ponsel" di jalanan dan pusat perbelanjaan yang padat, sehingga para pejalan kaki bisa berhenti sebentar dan menggunakan ponselnya dengan aman dan bijak.
Menurut Lopez, solusi yang sangat dapat diandalkan tetaplah pendidikan — dengan mendorong para pejalan kaki untuk memperhatikan jalan dan memperkirakan dampak dari perilaku mereka terhadap orang lain.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.