Waspada jebakan ghost job, lowongan kerja palsu yang kian marak di era digital
Seakan mencari pekerjaan tak cukup berat, fenomena ghost job jadi momok baru para jobseeker. Banyak lowongan cuma kamuflase, bikin pencari kerja capek mental. Simak tips menghindarinya!
Ilustrasi pelamar mencari pekerjaan di job portal. (Foto: iStock/Anawat_s)
Di tengah ketatnya persaingan mencari pekerjaan, para pelamar kini dihadapkan pada tantangan baru: ghost job. Istilah ini merujuk pada lowongan pekerjaan yang tampak resmi dan menjanjikan, tetapi sebenarnya tidak benar-benar ada atau tidak sedang dibuka untuk perekrutan.
Fenomena ini semakin sering terjadi di berbagai sektor, terutama sejak 2024. Berdasarkan survei ResumeBuilder.com, sekitar 40 persen perusahaan mengakui pernah memasang lowongan tanpa niat untuk mengisinya.
Bahkan, 30 persen di antaranya tetap membiarkan iklan tersebut aktif berbulan-bulan. Artinya, dari sepuluh iklan pekerjaan yang muncul di internet, empat di antaranya bisa jadi hanyalah tipuan belaka.
Menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), sejak awal 2024 jumlah lowongan kerja tercatat jauh lebih tinggi dibanding jumlah perekrutan nyata, selisihnya mencapai lebih dari 2,2 juta posisi per bulan. Kondisi ini menggambarkan tren signifikan yang dikenal sebagai ghost job economy.
Beberapa sektor yang paling sering menampilkan lowongan "hantu" antara lain pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta industri informasi dan keuangan.
Sementara industri seperti konstruksi dan perhotelan relatif lebih sehat karena kebanyakan lowongannya benar-benar diisi.
MENGAPA ADA LOWONGAN PALSU?
Brandi Britton, Direktur Eksekutif di perusahaan rekrutmen Robert Half, menjelaskan bahwa banyak iklan lowongan sebenarnya tidak memiliki manajer perekrutan di baliknya.
"Kadang posisi itu bahkan tidak benar-benar ada. Artinya, lowongan itu dibuat tanpa ada niat untuk merekrut pegawai baru. Beberapa perusahaan menganggap ghost job sebagai bagian dari strategi bisnis mereka," ujarnya, dikutip dari Fast Company.
Hal ini dibenarkan oleh survei Clarify Capital tahun 2025 terhadap 1.000 perusahaan di Amerika Serikat. Sebanyak 37 persen responden mengaku membiarkan lowongan tetap aktif untuk menarik perhatian kandidat potensial.
Sekitar 16 persen lainnya berharap bisa menemukan talenta luar biasa secara tidak terduga, sementara sebagian perusahaan menggunakan ghost job untuk membangun citra pertumbuhan atau menjaga basis pelamar jika sewaktu-waktu membutuhkan pengganti mendadak.
CNBC melaporkan bahwa di era digital, perusahaan juga memanfaatkan data besar dan teknologi rekrutmen untuk memelihara pipeline kandidat tanpa harus melakukan perekrutan jangka pendek.
Dengan kata lain, meskipun tampak "membuka banyak lowongan", perusahaan belum tentu benar-benar membutuhkan pegawai baru.
CARA MENGENALI GHOST JOB
Futuris dan komentator ketenagakerjaan Ben Hamer mengungkapkan salah satu tanda utama sebuah iklan merupakan ghost job adalah durasi tayangnya.
"Jadi, jika iklan tersebut terlihat sudah ada selama lebih dari 30 hari, kemungkinan besar itu adalah lowongan kerja bayangan," ujarnya kepada ABC RN’s Life Matters.
Ia menambahkan, pelamar yang tidak mendapat tanggapan selama berbulan-bulan juga perlu waspada.
"Jika (iklan lowongan kerja) tampak agak samar, maka kemungkinan besar itu adalah lowongan kerja bayangan. Jika cukup spesifik, itu memberi kesan bahwa ada posisi yang sebenarnya ingin mereka isi," jelasnya.
Selain itu, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai termasuk deskripsi pekerjaan yang terlalu umum, tidak ada informasi kontak HR, tidak mencantumkan batas waktu lamaran, atau tidak memperbarui iklan dalam waktu lama.
Jika pelamar tidak pernah menerima kabar lanjutan seperti undangan wawancara, bisa jadi lowongan tersebut hanyalah ghost job.
DAMPAK BAGI PENCARI KERJA
Fenomena ini membawa dampak nyata bagi para pencari kerja. Banyak dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam menyesuaikan resume dan menulis surat lamaran untuk posisi yang ternyata tidak nyata. Akibatnya, muncul rasa kecewa, frustrasi, bahkan kehilangan motivasi.
Laporan CNBC menyebutkan, ghost job bukan hanya membuang waktu, tapi juga mengikis kepercayaan terhadap proses perekrutan dan perusahaan itu sendiri.
Beberapa pekerja di sektor teknologi bahkan menyerukan perlunya regulasi baru agar perusahaan lebih transparan, seperti mencantumkan tanggal perekrutan atau jumlah posisi yang benar-benar dibuka.
Di sisi lain, bagi perusahaan, praktik ini bisa menjadi bumerang. Awalnya mungkin dianggap sebagai strategi bisnis, namun jika publik merasa ditipu, reputasi perusahaan bisa rusak. Kandidat potensial mungkin enggan melamar kembali karena merasa dimanfaatkan.
Ben Hamer menekankan pentingnya kewaspadaan di era digital saat lowongan palsu makin sulit dibedakan dari yang asli.
"Beberapa di antaranya mungkin hanya proses rekrutmen yang tertunda. Tetapi sebagian besar dari posisi tersebut adalah (posisi) yang memang tidak pernah dimaksudkan untuk diisi sejak awal," imbuhnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.