Dampingi hewan tercinta di ujung usianya: Klinik ini pastikan perawatan paliatif untuk peliharaan renta
Sebagaimana manusia, anabul kesayangan kita akan menua, mengalami masalah penglihatan, pendengaran, fungsi organ, bahkan dapat menderita penyakit kritis seperti kanker. Pilu akibat kematian hewan tersayangnya Dokter hewan Kelly Yeo mendirikan The Gentle Vet, untuk membantu hewan-hewan peliharaan dan para pemilik lalui perjalanan terakhir bersama.
Klinik hewan The Gentle Vet di Singapura ini memiliki fasilitas perawatan 24 jam untuk hewan peliharaan yang sakit kritis. (Foto: The Gentle Vet)
SINGAPURA: Ketika Mimi si “anak bulu” tiba di The Gentle Vet, klinik hewan drh. Kelly Yeo, dia memiliki tumor masif sebesar sepertiga ukuran tubuhnya. Mimi menderita sarkoma agresif, jenis kanker langka yang memengaruhi tulang dan jaringan lunak.
Pemilik Mimi telah membawanya ke tiga klinik hewan, dan tak satu pun mampu menolongnya. Seorang ahli bedah hewan menyatakan Mimi tidak bisa dioperasi karena tumornya terlalu besar. Sisa usianya diperkirakan hanya tinggal satu bulan.
Namun, keluarga Mimi tidak mau menyerah. Dengan bantuan drh. Kelly, kucing tersebut menjalani kemoterapi selama enam bulan di The Gentle Vet. Dia bertahan selama delapan bulan sebelum menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang di rumah.
"Secara medis, perawatannya dinilai berhasil," kata drh. Kelly.
Ia menjelaskan, kemoterapi untuk hewan peliharaan di atas 12 tahun bukan bertujuan menyembuhkan penyakit, melainkan mengendalikan sel-sel kanker dan memperpanjang usia hewan tersebut. Dosis obatnya lebih rendah dan efek kemoterapinya pun lebih kecil.
Dalam kasus Mimi, perawatan menambahkan delapan bulan bagi dia untuk hidup bahagia bersama keluarganya. "Dia cinta kehidupan, makannya lancar sekali, dan ibunya (pemiliknya) bisa ajak dia jalan-jalan," kenang veterinarian berusia 36 tahun ini.
MENDAMPINGI ANABUL YANG MENUA
Cukup banyak pasien kanker seperti Mimi yang datang ke The Gentle Vet, klinik yang didirikan drh. Kelly pada 2020, berspesialisasi pada perawatan geriatri – yakni untuk hewan peliharaan yang tua – dan penyakit kronis. Klinik ini dijalankan oleh empat dokter hewan, termasuk drh. Kelly.
Kondisi-kondisi yang umum dijumpai termasuk gagal jantung, gagal ginjal, diabetes, masalah tiroid, dan kegagalan organ lainnya.
Scav, seekor goldador (campuran golden retriever dan labrador retriever) berusia 17 tahun milik Edvarcl Heng, menderita penyakit saraf langka yang membuatnya tidak dapat berjalan. Agar bisa merawat anjingnya tiap hari, Edvarcl berhenti bekerja di sebuah agensi kreatif dan merintis agensi komunikasi dari rumahnya sendiri.
Edvarcl membantu Scav kencing tiap satu hingga dua jam, membaliknya tiap satu hingga dua jam untuk mencegah luka dekubitus, membersihkannya, dan membawanya ke klinik drh. Kelly setidaknya dua pekan sekali.
Di luar perawatan di klinik, The Gentle Vet menawarkan dukungan perawatan lanjutan yang konsisten melalui WhatsApp bagi pasien seperti Scav, memberikan saran saat kondisi mereka membaik atau memburuk.
Klinik ini juga memiliki fasilitas perawatan 24 jam yang biasanya hanya tersedia di rumah sakit hewan – untuk pasien sakit kritis, pascaoperasi, atau yang mendekati akhir hayat, lengkap dengan peralatan untuk hewan yang koma.
Untuk pasien geriatri tanpa penyakit kritis, drh. Kelly menganjurkan pemeriksaan lebih awal, termasuk pemeriksaan fisik, tes darah lengkap, dan USG: Dua kali setahun mulai usia 12 tahun untuk anjing kecil dan kucing, dan paling cepat 8 tahun untuk ras lebih besar, katanya.
KEMATIAN BERMARTABAT HEWAN TERCINTA
Kematian adalah bagian tak terpisahkan dari merawat hewan peliharaan geriatri. Sejak Januari tahun ini, lebih dari lima pasien drh. Kelly telah menghembuskan napas terakhir di kliniknya karena penyakit kritis seperti kanker otak dan gagal paru-paru.
Perannya: Mendampingi hewan peliharaan dan pemiliknya dalam perjalanan terakhir mereka bersama.
Suatu hari, seekor anjing dengan kanker stadium akhir dibawa ke kliniknya. Di klinik sebelumnya, pemiliknya diberi pilihan eutanasia karena prognosis yang buruk. Namun, pilihan itu ditolak dan pemiliknya membawa anjing itu pulang."Ketika anjing itu datang ke sini, napasnya tersengal-sengal. Dan sesak napasnya itu pasti sudah agak lama ya. Tidak bisa berdiri, makan, minum. Anjing ini jelas akan segera mati. Tapi apa iya kita biarkan dia sesak dan kelaparan sampai berhari-hari sebelum mati?" ujarnya.
Anjing itu lantas diberi oksigen dan obat-obatan untuk atasi sesak napas serta rasa sakit dan mualnya, membantunya menyambut kematian dengan lebih nyaman.
"Biasanya kalau orang menolak eutanasia, mereka ditawari obat-obatan perawatan paliatif seperti pereda nyeri untuk hewan peliharaan mereka. Tapi kadang itu tidak cukup. Kalau peliharaannya tidak mau makan, ya tidak bisa diberi obat. Atau, kalau sesak napas, kadang yang dibutuhkan itu oksigen," jelasnya.
"Perawatan akhir hayat itu bukan cuma pulang membawa segala macam obat-obatan. Justru sifatnya sangat interaktif. Kami terus-menerus menyesuaikan yang kami lakukan agar pasien lebih nyaman [di rumah]. Kadang kalau hewannya cukup kritis, ujung-ujungnya mungkin ke klinik ini dengan oksigen, atau diintubasi," jelasnya.
Menurut drh. Kelly, perawatan paliatif dan hospis yang berkualitas sangat penting bagi hewan peliharaan geriatri. "Pada akhirnya semua akan mati, dan ketika momen itu dekat, cara mati pun menjadi begitu penting."
MENUAI KEKUATAN
Minat drh. Kelly dalam perawatan geriatri dan paliatif berasal dari kehilangan pribadi yang menyakitkan.
Di usia dua puluhan akhir, ia kehilangan dua anjing masa kecil kesayangannya, Munchie, ras papillon, dan Elmo, ras schnauzer.
"Mereka sangat dekat dengan saya. Munchie dan saya biasa tidur bareng tiap malam. Tidurnya di atas kepala saya. Pagi harinya, ketika saya bilang, 'Ayo pergi', dia akan lompat turun dari tempat tidur dan menuju pintu. Kami saling memahami tindakan dan keinginan masing-masing," kenangnya.
Namun, kualitas hidup Munchie teramat memburuk selama dua tahun terakhir hidupnya. "Sejak usia 14 tahun, dia tuli dan buta total. Dia juga mengalami gagal ginjal dan dipasangi infus," kata drh. Kelly.
"Dia tidak bisa menghadapi perawatan medisnya dengan baik. Karena ketika Anda tuli dan buta, Anda hidup dalam kegelapan dan tidak tahu harus berekspektasi apa."
Meski demikian, Munchie tahu di mana tempat ternyamannya – di atas kepala pemiliknya. "Dia mungkin tidak bisa melihat atau mendengar, tapi dia masih bisa menemukan jalannya ke atas kepala saya. Hangat sekali."
Munchie dan saya biasa tidur bareng tiap malam. Tidurnya di atas kepala saya.”
Pada satu malam memilukan, sang dokter terbangun oleh jeritan Munchie. Akibat tidak bisa melihat dan mengalami demensia, dia tersangkut di bawah sofa dan drh. Kelly harus menyelamatkannya.
Ia pun kehilangan Munchie pada 2016 di usia 16,5 tahun. Setahun kemudian, ia kehilangan anjingnya yang lain, Elmo, karena kanker usus.
"Yang betul-betul mendorong saya ke perawatan geriatri adalah pengalaman pribadi dengan anabul-anabul saya saat mereka menua. Banyak orang menganggap hewan peliharaan sudah seperti anak atau bayinya. Menyaksikan mereka menua dan membimbing mereka melalui perjalanan itu sungguh menyedihkan," ujarnya.
Menurut drh. Kelly, merawat hewan peliharaan geriatri atau yang mengidap penyakit kronis sangatlah berat bagi para pemilik, dan dia berharap bisa mendukung mereka.
Akan tetapi, tugas tersebut juga memberatkan dirinya.
"Saya menghadapi beban emosional berlebih ketika pasien-pasien kronis tutup usia. [Para pemiliknya] adalah orang-orang yang sering saya temui dalam setahun, atau bahkan dua sampai tiga tahun. Jadi saya sedih sekali. Dan saya kelelahan," paparnya. Ia menambahkan, dunia kedokteran hewan umumnya didera masalah kesehatan mental.
Tetapi ini adalah jalan yang terus-menerus dipilih oleh drh. Kelly bagi dirinya sendiri, tidak hanya dalam karir, tetapi juga dalam kehidupan pribadinya.
Tahun lalu ia mengadopsi Alex, anjing schnauzer berusia 12 tahun dengan masalah ginjal ringan, masalah tiroid, dan radang sendi, dari satu kelompok penyelamat hewan.
"Hewan peliharaan beranjak tua itu alami, sama saja seperti manusia," katanya. "Ada banyak hal yang tidak bisa kita hentikan atau sembuhkan, seperti buta dan tuli. Itu deteriorasi alami. Tapi kita bisa meringankan prosesnya," ucapnya.
"Pada akhirnya, tidak masalah pada usia berapa mereka tiada. Yang penting adalah bagaimana Anda telah mencintai mereka," pungkasnya.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.