Bisa bikin mandul? Cek fakta vaksin HPV dan alasan disuntikkan ke perempuan sejak usia anak
Dalam video yang viral, Dharma Pongrekun menyebut vaksin HPV bisa menyebabkan kemandulan. Benarkah klaim yang dapat membuat para orang tua ragu memberi vaksin kepada anak perempuan itu?
Ilustrasi vaksinasi HPV yang diberikan kepada perempuan untuk mencegah kanker serviks. (Foto: iStock/bymuratdeniz)
JAKARTA: Kabar bahwa vaksin HPV (Human Papilloma Virus) bisa menyebabkan kemandulan kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Kabar itu muncul karena video viral menampilkan Komjen (Purn) Dharma Pongrekun yang menyebut bahwa vaksin HPV bisa menyebabkan kemandulan pada anak perempuan.
"Dilaksanakan namanya BIAN, Bulan Imunisasi Anak Nasional, apa yang dilakukan? ada namanya vaksin HPV, Human Papilloma Virus. Yang tujuannya untuk apa? Alasannya untuk apa? Untuk mencegah kanker serviks," ucapnya.
Dalam video kontroversial itu, Dharma Pongrekun melanjutkan, "Tetapi dilakukan kepada anak-anak tujuannya apa? Agar kandungannya kering. Apa yang terjadi kalau mandul? apa yang terjadi, mereka frustasi dan akhirnya mereka akan melakukan seks bebas di mana-mana."
Pernyataan ini diperkuat oleh unggahan akun TikTok romla311 dan akun Facebook Adhit Tiandito yang menambahkan narasi, "Kata dokter Vaksin HPV itu pencegahan kanker serviks tapi padahal kenyataanya untuk mengeringkan rahim makanya banyak kasus mandul," menurut laporan turnbackhoax.id.
Klaim tersebut langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama para orang tua yang sedang mempertimbangkan vaksinasi bagi anak-anak mereka.
Namun, benarkah klaim tersebut? Apakah klaim vaksin HPV dapat memicu kekeringan rahim dan menyebabkan kemandulan benar adanya?
'HOAKS LAMA'
Menanggapi video yang viral itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman bahwa klaim vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan tidak benar.
"Itu hoaks lama," ujar Aji ketika dihubungi CNA Indonesia pada Selasa (26/8).
Aji menjelaskan bahwa Kemenkes sudah merilis siaran pers terkait klaim ini sejak tahun 2023. Dalam rilis itu dijelaskan bahwa, "Imunisasi HPV sudah dipastikan keamanannya dan pada umumnya tidak menimbulkan reaksi yang serius sesudah pemberian imunisasi."
Kemenkes menjelaskan bahwa penyuntikkan vaksin HPV dapat menimbulkan reaksi di lokasi suntikan, berupa kemerahan, pembengkakan dan nyeri ringan.
"Timbul satu hari setelah pemberian imunisasi dan dapat berlangsung satu sampai tiga hari. Reaksi umum seperti demam juga bisa muncul setelah pemberian imunisasi," bunyi keterangan dari Kemenkes.
'INFORMASI SESAT'
Menanggapi maraknya informasi keliru soal vaksin HPV, pakar kesehatan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, menyebut narasi seperti itu sebagai bentuk disinformasi yang menyesatkan.
"Informasi yang beredar di media sosial tentang vaksin HPV (membuat mandul) itu pernyataan yang cukup sesat dan terkesan distrust terhadap pemerintah kita," ujar Hermawan kepada CNA, Selasa (26/8).
Ia menekankan bahwa proses vaksinasi, termasuk vaksin HPV, tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi merupakan kebijakan global yang mengikuti prosedur ilmiah ketat.
Semua jenis vaksin, jelasnya, harus melalui uji klinis berlapis dan dinilai oleh komite resmi yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan, dengan keterlibatan dewan ahli yang mengevaluasi efek vaksin terhadap upaya pencegahan penyakit tertentu.
Hermawan menekankan pentingnya upaya pencegahan kanker serviks di Indonesia, mengingat jumlah kasusnya yang terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lebih dari 36.000 kasus baru terdeteksi setiap tahun.
Ia mengajak publik untuk bersikap kritis terhadap informasi yang beredar dan tidak langsung percaya pada klaim tanpa dasar ilmiah yang jelas.
"Apalagi kalau sampai tokoh-tokoh tertentu menyampaikan secara vulgar di media, ini seolah-olah menunjukkan ketidakpercayaan terhadap kemampuan negara dalam menjaga kesehatan masyarakat," tambahnya.
"Ditanyakan kembali, apa dasar argumennya dan apakah itu reasonable atau tidak," ujarnya.
Hermawan menegaskan, tidak seharusnya upaya negara untuk melindungi masyarakat lewat kebijakan berbasis riset ilmiah dipatahkan begitu saja oleh satu-dua pernyataan yang tidak memiliki landasan kuat di bidang kesehatan.
MENCEGAH KANKER SERVIKS
Vaksin HPV diberikan untuk mencegah kanker leher rahim (kanker serviks), bukan untuk menyebabkan kemandulan seperti yang diklaim dalam video.
Kanker serviks merupakan jenis kanker yang muncul di area serviks, yakni bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Penyebab utamanya adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe HPV-16 dan HPV-18 yang tergolong berisiko tinggi.
Di tahap awal, kanker serviks sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Gejala yang umum muncul meliputi perdarahan di luar siklus menstruasi atau setelah berhubungan seksual, keputihan yang tidak biasa atau berbau, nyeri panggul, serta rasa sakit saat berhubungan intim.
Hermawan menjelaskan, virus HPV secara substansi memang bisa menular melalui kontak erat, terutama kulit, namun penularannya dapat dicegah melalui vaksinasi jika virus tersebut telah dilemahkan dalam proses pengembangan vaksin.
"Untuk program pengendalian penyakit menular, vaksinasi adalah bagian dari skenario utama,” jelasnya. Maka dari itu, menurut Hermawan, sangat tidak berdasar jika ada yang menyebut vaksin HPV sebagai penyebab kemandulan.
MENGAPA VAKSINASI HPV SEJAK DINI?
Di Indonesia, kanker serviks paling sering terdiagnosis pada perempuan usia 30 hingga 35 tahun, meskipun secara umum perempuan di usia berapa pun tetap berisiko.
Karena itu, vaksinasi HPV sebagai langkah pencegahan sejak dini penting dilakukan untuk melindungi perempuan dari penyakit mematikan yang sebenarnya dapat dicegah.
Pemberian vaksin sejak usia muda, bahkan mulai dari 9 tahun, telah direkomendasikan oleh lembaga kesehatan internasional seperti American Cancer Society (ACS) dan American Academy of Pediatrics (AAP). Alasannya, vaksin akan lebih efektif bila diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual.
Sementara itu, pada lamannya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa program imunisasi HPV sudah diadopsi secara luas di seluruh dunia.
Hingga saat ini, 135 negara termasuk Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis telah memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional mereka.
Di Indonesia, vaksin ini telah menjadi bagian dari program imunisasi nasional sejak 2023.
Vaksinasi HPV pada usia remaja merupakan salah satu dari tiga pilar utama strategi nasional untuk menanggulangi kanker serviks, yang dilanjutkan dengan skrining HPV DNA, serta penanganan medis bagi kasus invasif, seperti penjelasan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.
Penelusuran CNA Indonesia tidak menemukan ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vaksin HPV menyebabkan rahim menjadi kering atau infertilitas.
Studi yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine terhadap perempuan usia 18-33 tahun di Amerika Serikat membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi HPV dengan kemandulan.
Viralnya video Dharma Pongrekun menunjukkan bagaimana disinformasi dapat menyebar cepat dan mempengaruhi keputusan penting dalam hal kesehatan. Padahal, vaksin HPV justru menjadi salah satu perlindungan utama bagi perempuan dari risiko kanker serviks.
Menurut Aji Muhawarman dari Kemenkes, hoaks semacam tidak hanya menghambat program vaksinasi, tapi juga program kesehatan lainnya.
"Kami menyayangkan karena masih ada sebagian masyarakat yang terpengaruh disinformasi dan akhirnya memilih untuk tidak ikut berpartisipasi dalam program kesehatan dan mengabaikan informasi dan edukasi yang kami berikan," ujarnya.
Untuk menangkal hoaks semacam ini, Aji menyebutkan Kemenkes terus menjalin kerja sama kampanye terkait imunisasi dengan berbagai stakeholders, seperti pakar, organisasi profesi, tokoh masyarakat, tokoh agama termasuk MUI, influencers dan media massa.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.