Usai liburan jadi malas kerja? Ini penjelasan post-holiday blues
Kondisi emosional ini ternyata umum terjadi. Simak penyebab dan cara mengatasinya tanpa harus merasa hampa.
Ilustrasi perempuan mengantuk di kantor atau tempat kerja. (Foto: iStock/PeopleImages)
JAKARTA: Libur panjang Lebaran sudah usai, tapi tidak sedikit orang justru merasakan perubahan emosi yang cukup drastis saat kembali ke rutinitas. Dari yang sebelumnya dipenuhi suasana hangat bersama keluarga, kini harus kembali menghadapi ritme kerja atau aktivitas harian yang padat.
Perasaan hampa, cemas, kehilangan semangat, hingga sulit fokus setelah liburan ini dikenal sebagai post-holiday blues (PHB). Kondisi ini umum terjadi dan sering dialami banyak orang setiap tahunnya, meski kerap dianggap sepele.
Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, Ratih Ibrahim, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan respons emosional yang wajar.
"Post-holiday blues adalah kondisi emosional sementara yang muncul setelah periode liburan atau perayaan berakhir," ujar Ratih, dikutip dari Detik.
Menurutnya, kondisi ini muncul karena perubahan mendadak dari situasi yang santai dan minim tuntutan menjadi rutinitas yang lebih terstruktur.
"Secara psikologis, ini merupakan respons terhadap perubahan dari situasi yang minim tuntutan menjadi rutinitas yang lebih terstruktur," tuturnya.
Selama masa Lebaran, seseorang biasanya menikmati waktu luang, interaksi sosial yang lebih intens, serta terbebas dari tekanan pekerjaan. Ketika periode tersebut berakhir, muncul kontras emosional yang cukup terasa.
"Ketika periode ini berakhir, terjadi kontras emosional yang cukup tajam sehingga memunculkan perasaan seperti sedih, hampa, kurang motivasi, hingga sulit fokus," jelas Ratih.
GANGGUAN MENTAL?
Meski sekilas mirip, post-holiday blues berbeda dengan gangguan kecemasan, burnout, atau depresi. Perbedaannya terletak pada durasi, intensitas, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Burnout biasanya berkaitan dengan stres kerja jangka panjang, sedangkan depresi merupakan kondisi klinis yang memerlukan penanganan khusus.
Namun, penting untuk tetap waspada. "Jika berlangsung lebih dari dua minggu atau mengganggu fungsi sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan profesional," kata Ratih.
Agar proses kembali ke rutinitas terasa lebih ringan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Ratih menyarankan untuk tidak langsung memaksakan diri kembali produktif sepenuhnya.
"Mulailah dengan target kecil dan realistis untuk membangun kembali momentum kerja," ujar Ratih.
Selain itu, penting juga untuk mengatur ekspektasi sebelum dan sesudah liburan agar tidak kaget saat kembali ke rutinitas.
Menyelesaikan pekerjaan sebelum cuti, menjaga kebiasaan selama liburan seperti tetap bangun pagi, serta menghindari perubahan pola hidup yang terlalu ekstrem juga bisa membantu proses adaptasi.
Tidak kalah penting, menjaga pola tidur, rutin berolahraga, dan tetap melakukan aktivitas sosial yang menyenangkan dapat membantu mengembalikan energi dan semangat secara bertahap.
Ratih juga mengingatkan agar tidak terlalu keras pada diri sendiri selama proses adaptasi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.