Mengenal Mokel With You: Tren bahasa di bulan Ramadan, viral namun kontroversial
Tren ini mengajak orang untuk secara terang-terangan tidak berpuasa, atau membatalkan puasa sebelum waktunya, bahkan menjadikannya konten hiburan di berbagai platform media sosial.
Ilustrasi makan makanan cepat saji bersama teman-teman. (Foto: iStock/skynesher)
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "mokel" semakin populer di kalangan remaja dan dewasa muda Indonesia, terutama selama bulan Ramadan.
Kata ini merujuk pada tindakan membatalkan puasa sebelum waktunya dengan makan atau minum sebelum azan Maghrib berkumandang.
Meski awalnya hanya bahasa gaul, penggunaan istilah ini kini berkembang luas dan bahkan menimbulkan kontroversi di masyarakat.
ASAL-USUL DAN MAKNA MOKEL
Secara linguistik, "mokel" berasal dari bahasa daerah Malang, Jawa Timur, yang awalnya digunakan dalam konteks bercanda antara teman.
Istilah ini tidak tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi telah menyebar ke berbagai daerah berkat media sosial.
Dalam penggunaannya, mokel tak hanya terbatas pada konteks puasa, tetapi juga bisa berarti meninggalkan tanggung jawab sebelum selesai atau mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas.
Namun, selama bulan Ramadan, makna mokel lebih spesifik, yaitu membatalkan puasa secara sengaja tanpa alasan syar'i.
PERSPEKTIF AGAMA
Dalam Islam, terdapat keringanan bagi orang-orang tertentu yang tidak mampu berpuasa, seperti orang sakit, musafir, atau mereka yang memiliki kondisi khusus.
Namun, jika seseorang membatalkan puasanya tanpa alasan yang dibenarkan, hal ini memiliki konsekuensi hukum dan spiritual.
Mokel dalam konteks ini dipandang sebagai pelanggaran terhadap ajaran agama dan dapat mewajibkan pelakunya untuk mengganti puasa (qadha) di hari lain serta membayar kafarat sesuai ketentuan mazhab tertentu, menurut laporan Liputan6.
Sejumlah ulama juga menilai bahwa fenomena mokel mencerminkan lemahnya kesadaran akan esensi ibadah puasa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif agar generasi muda memahami pentingnya ibadah ini dengan benar.
'MOKEL WITH YOU' KONTROVERSIAL
Belakangan ini, istilah mokel tidak hanya sekadar bahasa gaul, tetapi juga menjadi bagian dari tren media sosial yang meresahkan, salah satunya "Mokel With You."
Tren ini mengajak orang untuk secara terang-terangan tidak berpuasa dan bahkan menjadikannya konten hiburan di berbagai platform digital.
Ikhsan, seorang pemuda yang aktif di komunitas Muslim di Sibolga, mengungkapkan kekhawatirannya terkait tren ini. Ia menyoroti bagaimana anak muda semakin kehilangan pemahaman tentang nilai-nilai agama.
"Ramadan itu bulan yang suci, tapi malah dijadikan bahan candaan untuk tidak berpuasa. Ini bukan sekadar tren, ini bentuk pelecehan terhadap agama," ujarnya, dikutip dari RRI.
Menurutnya, media sosial berperan besar dalam menyebarluaskan fenomena ini, karena algoritma digital cenderung mempromosikan konten viral tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap moral penggunanya.
Ia mengingatkan generasi muda untuk lebih bijak dalam bermedia sosial. "Kita harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan hanya ikut-ikutan tren tanpa berpikir dampaknya," pesannya.
MENGATASI FENOMENA MOKEL
Fenomena mokel, khususnya yang ditampilkan secara terbuka di media sosial, dinilai dapat merusak persepsi generasi muda tentang ibadah puasa.
Jika dibiarkan, ada kekhawatiran bahwa mereka akan menganggap ibadah sebagai pilihan semata, bukan kewajiban.
Ikhsan pun mengajak masyarakat, terutama orang tua dan pendidik, untuk lebih aktif membimbing anak-anak mereka dalam memahami agama.
"Kita tidak bisa hanya menyalahkan mereka, kita juga harus memberikan solusi dan membimbing mereka ke arah yang lebih baik," ujarnya.
Selain itu, ia berharap pemerintah dan tokoh agama turun tangan dalam memberikan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya menghormati bulan Ramadan.
"Jangan sampai ini dianggap sepele. Harus ada gerakan bersama untuk mengingatkan kembali makna ibadah puasa," tegasnya.
Mokel, yang awalnya hanya sekadar bahasa gaul, kini berkembang menjadi fenomena sosial yang menimbulkan pro dan kontra.
Meski fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan budaya dan perkembangan media sosial, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga kesucian Ramadan dan memberikan pemahaman yang benar kepada generasi muda agar nilai-nilai agama tetap dihormati.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.