Bukan krim malam atau retinol, studi ungkap traveling efektif melawan penuaan dini
"Penuaan adalah proses yang tak terhindarkan, namun meski tak bisa dihentikan, prosesnya bisa diperlambat," ungkap salah satu penulis studi.
Aktivitas wisatawan di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Indonesia. (Foto: iStock/kitzcorner)
Selama ini, skincare —biasanya dalam bentuk krim malam atau serum retinol— disebut-sebut ampuh dalam menangkal penuaan dini. Namun, studi terbaru menemukaan bahwa ada cara lain dalam melawan anti-aging yang tidak ada hubungannya dengan perawatan kulit, yakni berwisata atau traveling.
Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari Edith Cowan University (ECU), Australia, dan telah dipublikasikan dalam situs universitas tersebut. Studi yang bersifat lintas disiplin ilmu ini menjadi pionir dalam menghubungkan antara teori entropi dan dampak dari pariwisata.
Teori entropi merujuk pada proses alami alam semesta, yakni bahwa segala hal pasti akan mengalami kekacauan atau kerusakan. Teori ini meneliti dampak dari pengalaman perjalanan wisata, baik pengalaman yang baik atau yang buruk, terhadap kesehatan dan upaya penuaan dini.
Studi ini menemukan bahwa pengalaman perjalanan yang positif bisa memperlambat peningkatan entropi dan memperbaiki kesehatan, sedangkan pengalaman negatif dapat mempercepat peningkatan entropi dan merusak kesejahteraan.
"Penuaan adalah proses yang tak terhindarkan, namun meski tak bisa dihentikan, prosesnya bisa diperlambat," kata kandidat PhD di ECU, Fangli Hu, yang ikut menulis studi ini.
Hu mencatat bahwa pengalaman wisata yang positif bisa meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental. Dengan berwisata, kita dapat berkenalan dengan pelancong lain dari berbagai latar belakang, mendorong kita memahami lingkungan baru, melakukan lebih banyak aktivitas fisik, mendorong interaksi sosial, dan memicu emosi positif.
Semua faktor itu biasanya didapatkan dari perjalanan wisata dengan fokus kesehatan (wellness tourism), dan wisata yoga (yoga tourism).
"Pariwisata bukan hanya sekadar rekreasi. Ini juga bisa memberi kontribusi besar pada kesehatan fisik dan mental seseorang," tambah Hu.
TRAVELING BISA JADI TERAPI
Melihat traveling dari sudut pandang teori entropi, studi ini menunjukkan bahwa berwisata bisa menjadi intervensi kesehatan yang inovatif.
Pengalaman wisata yang positif dapat membantu tubuh menjaga kondisi entropi yang rendah dengan mempengaruhi empat sistem utama yang berperan dalam menjaga kesehatan.
Traveling membuat kita "terpaksa" beradaptasi pada lingkungan baru. Hal ini sering kali dapat memicu respon stres, tetapi bisa memberikan dampak baik karena meningkatkan laju metabolisme serta kemampuan tubuh.
Hal ini juga dapat memicu respons sistem imun yang adaptif, dan memberikan tubuh kesempatan untuk mengasah kemampuannya mengatur diri sendiri.
Hu menjelaskan bahwa respons adaptif ini memperkuat kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri dari ancaman eksternal.
"Sederhananya, sistem pertahanan tubuh menjadi lebih tangguh. Hormon yang mendukung perbaikan dan regenerasi jaringan diaktifkan, mendukung mekanisme penyembuhan alami tubuh," katanya.
Kegiatan traveling yang santai, tambah Hu, dapat meredakan stres kronis, membuat sistem imun lebih jarang diaktivasikan dan mendukung fungsi normal sistem pertahanan tubuh.
Berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi membantu melepaskan ketegangan pada otot dan persendian, mengembalikan keseimbangan metabolisme, dan meningkatkan efektivitas mekanisme anti-kerusakan tubuh. Hal ini membantu organ dan jaringan tetap berada dalam kondisi entropi rendah.
Aktivitas fisik dalam traveling, seperti hiking, bersepeda, dan berjalan kaki, dapat meningkatkan sistem pengaturan diri tubuh.
Aktivitas fisik semacam ini dapat meningkatkan metabolisme dan membantu pelepasan energi, yang kemudian memperkuat fungsi imun tubuh dan ketahanan terhadap risiko eksternal.
"Berpartisipasi dalam aktivitas fisik meningkatkan sirkulasi darah, membantu transportasi nutrisi, dan mendukung pembuangan limbah tubuh, semuanya mendukung sistem penyembuhan tubuh," ujar Hu.
"Latihan fisik secara ringan bermanfaat untuk memperkuat tulang, otot, dan persendian, serta mendukung mekanisme anti-kerusakan tubuh," tutur Hu.
Namun, studi ini juga menyoroti tantangan yang mungkin dihadapi para wisatawan, seperti risiko tertular penyakit menular, kecelakaan, cedera, dan belum lagi soal kebersihan makanan dan air.
"Sebaliknya, pengalaman negatif selama pariwisata dapat memicu peningkatan entropi dan menimbulkan risiko kesehatan, seperti yang kita lihat dalam krisis kesehatan global COVID-19," pungkas Hu memperingatkan.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.