Di era serba digital, pria 50 tahun ini justru melestarikan hobi merakit mainan figur
Meski generasi muda banyak menghabiskan waktu di ruang daring, Peter Chiang meyakini bahwa manfaat dari hobi merakit mainan membuat usahanya untuk mempertahankan hobi tersebut tidak sia-sia.
Peter Chiang, 61, pemilik Hobby Bounties & Morgan Hobbycraft Centre, tengah memegang set balap Scalextric Grand Prix pada 8 April 2026. (Foto: CNA/Liew Zhi Xin)
Pertama kali saya berjumpa dengan Peter Chiang, dia hadir dengan celana formal, kemeja lengan panjang, dan dasi.
Sebenarnya saya cukup kaget karena di tengah cuaca Singapura yang panas dan gerah, pria 61 tahun ini justru menghindari pakaian lokal, yaitu kaos dan celana pendek, di luar kantornya.
Lagipula, siapa lagi yang punya kebebasan untuk tampil santai selain pemilik toko model replika yang menjual berbagai aneka mainan figur, model kit, hingga mainan koleksi?
Tetapi Chiang tetap tampil nyaman dengan pakaian formalnya daripada saya dengan t-shirt dan jeans saya. Saat mengunjungi tokonya, salah satu pelanggan lamanya yang juga merupakan temannya, melempar celetukan bahwa dia "dilahirkan dengan dasi".
Chiang menceritakan bahwa gaya sehari-harinya datang dari kebiasaannya saat bersekolah di Inggris dan menurut perkataannya, "gaya ini dianggap tidak formal".
Kebiasaan lain yang diingat olehnya semasa sekolah di Inggris adalah: Setiap kali dia menutup percakapan teks, dia selalu mengirim "Dengan hormat, Peter" dan formalitas semacam ini belum pernah saya temukan dari orang lain selain Captain Raymond Holt, karakter komikal kikuk dari sitkom populer berjudul Brooklyn Nine-Nine.
Bahkan di Facebook pun, dia menutup pesan dengan serupa. "Semua orang saya perlakukan sama," ucapnya.
Ketika membahas tentang usahanya, Hobby Bounties & Morgan Hobbycraft Centre yang sudah berjalan sekitar 50 tahun, nada bicara dan sikap seriusnya menjadi selaras dengan tampilan formalnya.
Misalnya, dia menjadi muram ketika membahas tantangan yang dihadapi oleh bisnisnya dan tantangan itu semakin besar ketika anak-anak zaman sekarang lebih memilih untuk menempel pada layar hingga berjam-jam daripada mencari hobi di dunia nyata.
"Kita mana bisa bersaing dengan itu karena itu mudah dan juga cepat didapat," terangnya.
Akan tetapi, ketika pembahasannya mengenai miniatur replika, sikapnya menjadi seperti anak lima tahun yang baru tertarik dengan hobi tersebut dan semangatnya hidup kembali.
Sembari dia memperlihatkan seisi tokonya yang adem dan penuh benda-benda di Katong Shopping Centre, dia antusias menunjukkan koleksi menarik yang dia pajang di etalase kaca dan kotak-kotak yang tersusun di dalamnya. Setiap berhenti di satu benda, dia menjelma menjadi ensiklopedia berjalan, menceritakan fakta-fakta sejarah dan signifikansinya dalam budaya pop.
Kendati tampilannya formal dan kaku, dia tidak segan-segan berlutut di depan tokonya untuk menunjukkan permainan singkat balap tamiya dengan satu pelanggan dan tampak sumringah saat diajak berfoto dengan model kereta dan roket.
Bahkan setelah sesi perekaman dan wawancara selesai, Chiang masih bersemangat untuk menaiki tangga, membongkar lemari untuk mengeluarkan salah satu koleksi tertua yang dimilikinya, yaitu model pesawat baling-baling keluaran tahun 1930-an.
Dia sama sekali tidak memakai sarung tangan saat memegang barang sepanjang hari itu, tetapi rasa penasaran saya melambung ketika dia tetap bertangan telanjang saat memegang mainan yang usianya hampir seabad. Sangat berkebalikan dengan bayangan di kepala saya mengenai para kurator yang biasanya memegang koleksi kuno atau benda berharga dengan amat hati-hati.
Namun tampaknya ketika berbicara tentang mainan kesayangannya, sikap kaku Chiang melunak sepenuhnya.
Dia menepis pertanyaan saya mengenai sarung tangan dengan berkata: "Kalau tak boleh ini, tak boleh itu, mana seru. Lagipula, apa gunanya?"
BERAWAL DARI HOBI HINGGA MENJADI KOMUNITAS
Salah jika dikatakan model miniatur tidak memiliki andil dalam hidup Chiang.
Ayah Chiang, mantan Anggota Parlemen Chiang Hai Ding, yang merupakan seorang profesor sejarah sekaligus diplomat, menanamkan minat yang mendalam terhadap sejarah kepada dirinya dan ketiga adiknya sejak usia dini.
Akan tetapi, ketika harus memutuskan jalur perkuliahan dan karier, Chiang berakhir memilih bidang yang berlawanan, yaitu rekayasa dirgantara, dan semua ini berkat model miniatur yang sudah menjadi hobi koleksinya sejak tahun 1970-an.
"Orang tua pernah bawa saya ke toko Orchard Store. Di sana, saya melihat kit Airfix P.1127, prototipe pesawat Hawker Harrier Inggris yang mampu lepas landas secara vertikal," ucapnya.
"Saya beli. Terus, saya beli kit kedua, lalu kit ketiga."
Sejak saat itu, dia punya ketertarikan mendalam untuk mempelajari cara kerja pesawat di dunia nyata dan itu membawanya pada karier di bidang rekayasa dirgantara. Dia masih menjalankan bisnis konsultan kedirgantaraan, sambil mengelola bisnis hobi rakitan.
Merakit model bukan satu-satunya hobi Chiang. Dia suka novel sejarah dan film sci-fi. Dia kapan saja siap menyebutkan ABBA dan Queen sebagai seniman musik favoritnya.
Akan tetapi, membangun kit bukan satu-satunya cinta pertamanya, melainkan paling konsisten.
Menurut penghitungannya sendiri, dia sudah merakit lebih dari 1.000 model sepanjang dekade. Dia masih menyisakan waktu satu jam setiap harinya untuk merakitnya. "Pagi ini, sebelum saya kemari, saya sedang merakit lagi," Chiang mengakui.
Ekspedisi berawak Artemis II ke bulan yang baru saja rampung menginspirasinya untuk menyelesaikan diorama bertema luar angkasa baru-baru ini.
Chiang, yang sudah menikah dan belum memiliki anak, menambahkan bahwa istrinya sebenarnya pernah mencoba merakit kit sekali, tapi ternyata tidak terlalu tertarik. Akan tetapi, dia justru menemukan sisi positif dari perbedaan hobi di antara mereka.
"Sesekali dia komplain tentang bau lem, bau thinner, dan bau cat, tapi itu juga memberinya banyak waktu untuk menonton televisi. Sebab, tidak ada yang merebut waktu televisi."
Pada tahun 1986, Chiang kebetulan melihat satu pusat perbelanjaan tengah menghabiskan stok kit merek Airfix dengan harga murah. Saat itulah, dia mendirikan Hobby Bounties, membeli stok dalam jumlah besar, dan menjualnya melalui Morgan Hobbycraft Centre yang telah berdiri 10 tahun sebelumnya.
Pada tahun 2006, ketika pemilik Morgan Hobbycraft Centre yang tersisa pensiun, Chiang pun mengambil alih kemudi toko tersebut. Sejak saat itu, dia menjalankan dua bisnis sekaligus di tempat yang sama.
Selama puluhan tahun, Hobby Bounties dan Morgan Hobby Craft Centre telah menarik banyak pengunjung yang tertarik dengan merakit model replika.
Sebagaimana Chiang, Dr Suresh Nathan, dokter bedah ortopedi, menyatakan bahwa hobinya punya andil pada jalur kariernya. Dia mulai merakit model dengan kakak tertuanya pada tahun 1970-an, dan hal itu membuatnya tertarik untuk masuk ke spesialisasi kedokteran yang sekarang dia jalani.
"Dalam proses merakit (model replika), kita harus punya pola pikir khas teknik mesin karena kamu memotong komponen, menyatukannya dengan lem, dan membentuk strukturnya," kata Dr Nathan, 58.
"Di sekolah kedokteran, ketika waktunya untuk memilih spesialisasi, saya langsung ingin sesuatu yang sifatnya mekanis – dan itu adalah bedah ortopedi."
Bagi Jake Moon, 30 tahun, yang datang ke Singapura dari Amerika Serikat tiga tahun yang lalu, toko ini lebih dari sekadar sarana untuk melanjutkan hobi yang telah ditekuninya di kampung halamannya.
"Saya banyak belajar tentang Singapura dan pengalaman hidup di Singapura karena saya berinteraksi dengan (orang-orang dalam grup ini) dengan amat santai," kata Moon yang bekerja sebagai penulis dan sekarang tinggal di Singapura dengan visa tanggungan.
"Bukan sekadar duduk dan menanyakan orang-orang itu soal pengalamannya. Tetapi saya benar-benar hidup bersama dengan mereka."
Toko ini sudah sering mengadakan pertemuan bulanan bagi penghobi selama 25 tahun, kata Chiang.
"Tempat ini melahirkan komunitas satu minat yang menyambut serta semuanya. Tempat ini juga menjadi titik kumpul orang-orang yang mencari rekomendasi atau sekadar ingin berteman," ucapnya.
DEMI MENGEJAR MISINYA
Berkeliling di dalam toko kecil ini, ruangan sempit seluas 28 meter persegi ini terasa lebih seperti sebuah museum mini padat dan sedikit semrawutan bagi pecinta fiksi, alih-alih sebagai bisnis ritel.
Sebagai penggemar biasa film-film sci-fi dan superhero, saya cukup kaget saat melihat pesawat luar angkasa ataupun karakter dari franchise film saya tahu. Sebagian tersimpan dalam kotak lama yang sudah menguning dari era 1970-an atau 1980-an, dipajang berjejer di atas rak di sepanjang dinding toko.
Setelah puas menikmati keseruan menemukan berbagai budaya pop yang tiada habisnya, saya akhirnya duduk bersama dengan Chiang dan menanyakan padanya tentang bisnisnya saat ini.
Dengan nada datar, dia menjawab kurang baik. Dia menambahkan bahwa bisnisnya sedang tidak menghasilkan keuntungan, meski dia enggan memaparkan rincian atau angka lebih lanjut.
"Target kami adalah mencapai titik impas, tapi itu sungguh perjuangan."
Pesaing terbesar Chiang bukan Pokemon, board game ataupun mainan kekinian yang biasa kamu lihat di mal-mal sekarang yang dilengkapi teknologi interaktif. Justru alat yang sedang kamu gunakan untuk membaca artikel ini, yakni ponsel.
Remaja di Singapura saat ini menghabiskan waktu rata-rata hampir 8,5 jam setiap harinya menatap layar. Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Singapura menyampaikan bahwa waktu layar anak-anak telah mencapai "titik kritis" dan mengeluarkan pedoman resmi terkait penggunaan layar di area sekolah.
Beberapa pelanggan toko mengatakan kepada saya bahwa meskipun mereka berusaha memperkenalkan hobinya kepada anak-anak, kehidupan modern yang serba cepat dan banyaknya tugas sekolah membuat kegiatan merakit model ini harus tersisih ke belakang.
"Saya tidak bisa merubahnya. Saya pasrah saja. C'est la vie," kata Chiang, menggunakan ungkapan Prancis yang berarti "itulah hidup".
Dua puluh tahun belakangan, Chiang, bersama dengan beberapa pelanggan sekaligus teman dekat, kerap menyelenggarakan kompetisi model replika pesawat tahunan dengan berbagai mitra. Kegiatan ini di luar pertemuan bulanan di toko dan kompetisi merakit triwulanan.
Tenaga yang dikeluarkan untuk membangun komunitas amatlah luar biasa, namun pada akhirnya mendatangkan kerugian secara finansial.
Tetapi yang membuat Chiang tetap bertahan menurutnya jauh lebih berharga daripada nilai materi.
Pertama-tama, dia berharap dapat menumbuhkan ambisi dan gairah pada generasi muda tentang bagaimana mesin dan teknologi bekerja, bukan sekadar apa yang bisa dilakukan oleh alat-alat tersebut – sama seperti dirinya yang terinspirasi untuk terjun ke industri kedirgantaraan setelah terpikat oleh sebuah model skala pesawat terbang.
"Saya berharap akan lebih banyak rekayasawan dirgantara, karena industri dirgantara sedang kekurangan rekayasawan yang terampil – baik teknisi mekanik maupun insinyur pesawat berlisensi."
Sementara untuk masyarakat luas yang belum menumbuhkan minat untuk bergabung ke industri dirgantara, dia mengatakan bahwa hobi membantunya mengasah keterampilan motor praktis dan kemampuan spasial, dan juga kemampuan nonfisik seperti stamina dan industri.
Kamu bisa main game komputer dan berhenti begitu saja setelah beberapa menit. (Tapi dengan model replika), kamu harus merakit berjam-jam sebelum akhirnya puas saat berhasil menyelesaikannya."
"Nilai kesabaran ini benar-benar sudah sangat langka sekarang."
Tadinya, sikap pasrah Chiang soal susahnya menarik perhatian dan minat orang-orang zaman sekarang terkesan tidak acuh. Tetapi sekarang, ketika saya mengulangi pertanyaan itu lagi, dia menjawab seperti ini:
"Alih-alih duduk dan berpikir, kita lakukan saja. Kita selenggarakan, kita lakukan acara, dan itu cara kecil yang saya lakukan untuk masyarakat."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.