Tips hemat terbang business class dan menginap di hotel bintang lima lebih murah
Travel mewah ala sultan kini bukan lagi impian dengan strategi cerdas dari para traveler berpengalaman. Dari pilih hari saat booking tiket sampai cara maksimalkan kartu kredit, semuanya siap kamu contek.
Ilustrasi traveling. (Foto: iStock/goc)
Banyak orang mengira luxury travel selalu identik dengan harga selangit. Nyatanya, ada trik rahasia yang bisa bikin kamu terbang nyaman di business class sekaligus menginap di hotel bintang lima dengan budget lebih hemat.
Saat liburan ke Eropa bareng putranya Jake, 12 tahun, Tjin Lee berhasil menghemat hampir setengah harga tiket business class. Caranya? Transit dulu di Bangkok. "Tiket pesawat dari bandara negara tetangga bisa sampai lebih dari 50 persen lebih murah," tulis caption di reel Instagram miliknya.
Lee, pendiri agensi marketing dan digital Gusto Collective, membayar S$2.725 (sekitar RpRp34 juta) untuk tiket sekali jalan dari Bangkok ke Tivat, Montenegro, dengan transit 2 jam 10 menit di Istanbul, Turki. Itu pun pilihan yang lebih mahal; ada opsi lebih murah S$1.625 (Rp20 juta) tapi harus ganti maskapai di tengah perjalanan.
Trik transit di bandara negara tetangga demi dapat tiket business class long-haul lebih murah ini sudah jadi rahasia umum di kalangan traveler berpengalaman.
Awalnya Lee merencanakan perjalanan ke Gunung Kilimanjaro, Tanzania. Tiket bisnis class termurah dari Singapura ke Nairobi, Kenya dengan Qatar Airways bisa tembus lebih dari S$10.000 (Rp127 juta).
Tapi kalau berangkat dari Bangkok, harganya jadi S$3.700 (Rp47 juta). "Kami biasa naik ekonomi untuk penerbangan pendek," jelas Lee. "Kami cuma 'boros' kalau penerbangan malam supaya bisa benar-benar istirahat."
Strategi serupa juga diterapkan oleh Aaron Wong, founder situs travel hacking The MileLion. "Kadang aku cari tiket murah dari kota terdekat, lalu beli tiket budget sekali jalan buat ke Kuala Lumpur atau Bangkok, terus lanjut terbang business class untuk sisanya," ungkapnya.
TRAVEL ALA SULTAN, HARGA RAKYAT JELATA
Menurut survei Travel Trends 2025 dari OTA Booking.com, satu dari empat traveler Asia mengutamakan akomodasi mewah di destinasi mereka. Tapi satu dari dua tetap lebih mementingkan value for money.
"Ini menunjukkan bahwa walau pengalaman premium masih jadi incaran, traveler makin strategis dalam memilih kapan dan di mana booking supaya budget bisa maksimal tanpa harus kompromi kenyamanan," jelas Anthony Lu, regional director Southeast Asia dan China di Booking.com.
Cyndi Hui, senior director komersial di Skyscanner, punya satu aturan emas: fleksibilitas. "Jadi kita sefleksibel mungkin dengan tanggal, destinasi, bahkan bandara keberangkatan – itu kunci dapat deal terbaik," ujarnya.
Bagi Lu, strategi lain adalah set alert tiket dan melirik destinasi underrated yang tawarkan value lebih. Dia merekomendasikan Kuala Lumpur dan Ho Chi Minh City, di mana hotel bintang lima dan pengalaman upscale harganya lebih ramah dibanding hotspot luxury tradisional.
Influencer finansial Jiax The Piggy Banker juga menyarankan redeem tiket business class untuk destinasi non-mainstream seperti Cape Town, Afrika Selatan. "Jumlah miles yang dibutuhkan hampir sama dengan redeem Singapura-Jepang, tapi durasi terbangnya dua kali lipat," jelasnya.
Itu berarti dapat extra meal service juga. "Rutenya juga tidak sekompetitif Jepang atau Eropa. Afrika Selatan underrated banget, salah satu destinasi terbaik yang pernah aku kunjungi. Bisa dapat pengalaman super mewah dengan budget miring."
STRATEGI MILES KARTU KREDIT
Kartu kredit jadi senjata ampuh traveler cerdas. Dengan kombinasi tepat bonus signup, pola belanja strategis, dan kerja sama transfer airlines, pengeluaran sehari-hari bisa diubah jadi tiket business class dan stay di hotel bintang lima.
Triknya? Tahu kartu mana yang kasih poin paling berharga dan cara redeem-nya.
Menurut Jiax, sebaiknya mulai dengan kartu yang kasih empat miles per dollar (mpd) di kategori yang paling sering dipakai tiap bulan.
Tips lain: stack rewards. Kadang, kata Jiax, platform seperti Pelago kasih tambahan enam sampai delapan mpd. "Total bisa 12mpd... bahkan bisa booking atas nama teman biar earn rate makin tinggi."
Aaron Wong juga ingatkan bahwa memanfaatkan miles bukan soal boros, tapi soal dapat balik lebih banyak dari pengeluaran. Jangan lupa manfaatkan signup bonus: mulai dari miles, hotel stay, akses lounge sampai benefit lain.
Menurut Wong, grup hotel besar seperti IHG, Hilton, Hyatt, dan Marriott kadang jual points dengan diskon. Misalnya, kamar hotel di Maladewa yang harga normalnya US$2.000 (Rp33 juta) bisa didapat cuma US$600 (Rp9,9 juta) semalam dengan redeem points. Beberapa grup seperti Hilton atau Marriott bahkan kasih gratis malam ke-5.
Kalau hotel pilihanmu bukan bagian grup besar? Wong menyarankan pakai agen luxury travel seperti HoteLux atau Virtuoso yang kasih ekstra benefit: room upgrade, sarapan gratis, early check-in, late check-out, bahkan hotel credit US$100 (Rp1,6 juta).
DEALS TERBAIK
OTA seperti Booking.com, Expedia, Trip.com, dan metasearch engine seperti Skyscanner benar-benar ubah cara orang booking travel. Tapi tidak semua sama kualitasnya. Dengan filter yang tepat, alert tiket, dan fleksibilitas tanggal, kamu bisa dapat value besar.
Lee suka pakai Expedia, Google Flights, dan Skyscanner. "Aku selalu sort berdasarkan flight paling singkat atau jumlah transit paling sedikit, lalu bandingkan rate yang paling worth it," katanya.
Meskipun banyak orang percaya booking jauh-jauh hari kasih harga termurah, data menunjukkan sweet spot justru 61-70 hari sebelum keberangkatan. "Booking lebih dari dua bulan justru bisa lebih mahal," jelas Lavinia Rajaram, director global brand communications Expedia.
Hari terbaik? Kamis. "Traveler domestik bisa hemat 15 persen kalau terbang Kamis dibanding Senin. Untuk internasional, hemat bisa sampai 31 persen dibanding terbang Minggu," tambahnya.
AKUN DIGITAL MULTI-CURRENCY
Dulu hanya dipakai pebisnis, kini multi-currency card seperti Instarem, Revolut, Wise, dan YouTrip makin populer. Mereka kasih kemudahan pegang banyak mata uang sekaligus dan hindari fee transaksi asing.
Wong suka fitur lock-in rate. "Kalau kurs hari ini bagus, aku bisa beli [mata uang negara yang dituju] sekarang lalu dipakai enam bulan lagi. Itu tidak bisa dilakukan dengan kartu kredit/debit biasa," katanya.
Tapi tetap ada trade-off. "Debit card kasih kurs lebih bagus, tapi tidak ada miles. Kredit card kena fee 3,25 persen, tapi bisa dapat 4 mpd," jelasnya.
Risiko fraud juga lebih tinggi di debit card, karena saldo langsung terpotong. Sementara kartu kredit lebih aman karena tidak ada cash outflow langsung.
Di 2025, luxury travel bukan lagi milik kalangan elite. Dengan sedikit riset, kamu bisa terbang business class, stay di hotel bintang lima, dan menikmati pengalaman travel mewah tanpa harus keluar biaya besar.
"Kesalahpahaman terbesar soal luxury travel adalah soal harga atau eksklusivitas," kata Lee. "Padahal, luxury itu sejatinya ada di pengalaman, waktu berkualitas, menemukan tempat istimewa yang jarang dijelajahi, atau momen personal yang penuh makna."