Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Makan nasi padang di Singapura harganya berdasarkan kode warna, gimana caranya?

Salah satu rumah makan padang di Singapura menggunakan kode warna agar pembeli tak perlu lagi menanyakan harga. Apakah sistem ini membantu, atau justru bikin bingung? 

Makan nasi padang di Singapura harganya berdasarkan kode warna, gimana caranya?

Hidangan di gerai rumah makan padang Hjh Maimunah di Singapura menggunakan sistem kode warna untuk menunjukkan harga per porsi. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

Lagi jalan-jalan ke Singapura dan tiba-tiba kangen nasi padang? Tenang, kamu tetap bisa menyantap nasi padang autentik lengkap dengan sambal goreng, rendang, sampai sotong hitam yang legit di salah satu rumah makan legendaris di Negeri Merlion, rumah makan Hjh Maimunah. 

Salah satu hal unik yang ditawarkan rumah makan ini adalah kamu bisa pilih lauk nasi padang hanya dengan melihat warna labelnya. Jadi, buat kamu yang tipe jalan-jalannya on budget, kamu bisa menyesuaikan lauk yang akan dipesan dengan budget makan kamu.

Namun, apakah sistem ini mempermudah pembeli mengenali harga makanannya? Atau malah bikin bingung? Kami mencoba sendiri sensasi memesan nasi padang berdasarkan kode warna. 

Sistem label harga makan menggunakan sistem warna yang baru diperkenalkan oleh Consumers Association of Singapore (CASE) bersama jaringan food court Koufu.

Sistem ini sekarang mulai diterapkan di beberapa gerai nasi padang Hjh Maimunah. Setiap hidangan diberi label warna untuk menunjukkan harganya, mulai dari S$1.50 (Rp17.700) sampai S$4.50 (Rp53.100) per lauk. 

Chart harga berukuran A5 terletak di atas layar kaca, dekat kasir di rumah makan Hj. Maimunah, Singapura. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

Warna hijau menandakan harga S$1.50 (Rp17.700) biasanya untuk sayuran. 

Warna oranye adalah untuk lauk seharga S$4 (Rp47.200), sementara warna merah untuk lauk utama seperti ayam atau daging sapi, seharga S$4.50 (Rp53.100).

Warna ungu menandakan lauk pendamping seperti paru, seharga S$3.50 (Rp41.300). 

Ada juga label abu-abu bertuliskan "tanya kami" yang digunakan untuk menu musiman atau promosi, seperti mee goreng, seharga S$5.50 (Rp64.900). 

Label abu-abu juga dipakai untuk menu yang harganya di luar rentang standar, seperti ikan bakar premium (S$6.50, atau sekitar Rp76.700), dan ikan pari bakar (mulai dari S$8.50, atau sekitar Rp100.300).

Harga sesuai kode warna akan diterapkan di beberapa gerai Hjh Maimunah lainnya di Singapura dalam beberapa minggu ke depan. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

"Sebenarnya, hidangan seperti mee goreng sudah tertera di menu dengan harga jelas; label ini hanya tambahan saja," ujar direktur operasional Hjh Maimunah, Maria Didih. 

Salah satu dari tiga pemilik generasi kedua Hjh Maimunah ini juga menjelaskan pihaknya sengaja tidak memberi label harga langsung untuk setiap lauknya. 

Menurutnya, memberi label harga pada begitu banyak hidangan, yang terkadang bisa mencapai 50 macam,  justru bisa bikin konsumen makin bingung. 

Belum lagi kalau ada perbedaan harga buat porsi besar atau pesanan take away.

Ketika kami berkunjung ke salah satu gerai rumah makan Hjh Maimunah, keterangan sistem harga makanan tertera dalam chart harga ukuran A5 yang dipasang dekat kasir. 

Namun, beberapa pembeli mengaku mereka baru sadar adanya sistem harga semacam ini setelah selesai memesan makanan. 

Para pelanggan mengantre di rumah makan Hj. Maimunah "mini", Singapura. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

Menurut mereka, label warna yang mengelilingi nama setiap hidangan juga agak susah dikenali, apalagi dilihat dari balik kaca display dan cahaya terang.

Kami bahkan sempat bingung membedakan warna hijau dan abu-abu karena kelihatan mirip. 

Alhasil, kami agak grogi saat harus cepat milih menu sambil merasa ditatap tajam orang-orang yang antri di belakang. Akhirnya kami nanya tanpa malu, "Yang paling murah yang mana ya, kak?"

Dengan sekitar 30 lauk yang ditampilkan saat itu, butuh usaha ekstra buat mencocokkan label warna ke chart harga, hitung-hitungan, dan memutuskan mau makan apa. 

Akhirnya, kami mencoba memesan dua piring: satu versi hemat, satu versi "mewah".

Piring hemat seharga S$6,50 (Rp76.700), berisi nasi dengan dua sayur dan satu lauk daging. 

Isinya,  sambal goreng Jawa (tempe dan tahu tumis seharga S$1.50 atau Rp17.700), kol tumis seharga S$1.50 (Rp17.700), sambal goreng campur (tumis daging sapi cincang dan paru, S$3.50, atau Rp17.700). 

Pilihan menu paket hemat di gerai Hjh Maimunah, Singapura, seharga S$6,50, atau sekiar Rp76.700 per porsi. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

Untuk paket "mewah" seharga S$11,70 (Rp138.060), kami pilih nasi dengan ayam lemak chili padi (paha ayam besar dengan kuah santan creamy seharga S$4, atau Rp47.200), sotong hitam (S$4.50 atau RpRp53.100), sayur lodeh plus tahu (S$2 atau Rp23.600). 

Maria mengungkapkan sistem label warna ini akan diberlakukan di beberapa gerai Hjh Maimunah lain dalam waktu dekat.  

"Respon pelanggan soal sistem harga baru ini campur-campur," ujarnya. Beberapa suka karena transparan dan menghindari salah paham antara pelanggan dan staf, tapi ada juga yang menganggapnya membingungkan.

Menu pilihan makan nasi padang yang tergolong "mewah" di gerai Hjh Maimunah, Singapura, seharga S$11,70 atau sekitar Rp138.000 per porsi. (Foto: 8Days/Faraha Faeaz)

Maria menilai label warna ini "memudahkan operasional internal" dan merasa pelanggan hanya butuh waktu buat adaptasi.

"Lebih gampang mengajari staf baru soal harga dengan sistem ini. Sampai sekarang belum pernah ada komplain dari pelanggan," ujarnya. 

Staf bisa lebih cepat bantu pelanggan pilih set menu lengkap, misalnya dengan langsung arahkan ke lauk berlabel hijau, jadi pelayanan lebih efisien, tuturnya. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: 8 Days/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan