Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Benci naik pesawat? Ini cara menyiasati kursi sempit dan turbulensi saat terbang

Di balik teknologi penerbangan yang makin canggih, pengalaman terbang justru kerap terasa melelahkan secara fisik dan mental, terutama bagi penumpang kelas ekonomi. Bagaimana menyiasatinya?

Benci naik pesawat? Ini cara menyiasati kursi sempit dan turbulensi saat terbang

Ilustrasi seorang penumpang perempuan duduk di dekat jendela ketika menaiki pesawat. (Foto: iStock/Wasan Tita)

Manusia sudah mampu mengirim rover ke Mars dan membangun kereta supercepat, tapi duduk berjam-jam di pesawat masih terasa menguji kesabaran. 

Dari ruang kaki yang makin menyempit hingga turbulensi penerbangan yang sulit diprediksi, terbang kini menuntut strategi agar tetap waras dan bahagia ketika kita sampai di tujuan.

Saat kita tengah bersiap naik pesawat untuk liburan akhir tahun, satu pertanyaan muncul: apa yang membuat terbang terasa begitu tidak menyenangkan, dan bagaimana menyiasatinya?

KURSI MAKIN SEMPIT

Siapa yang juga merasa bahwa kursi kelas ekonomi kini rata-rata makin terasa sempit? Sering kali, saat duduk di kelas ekonomi, lutut kita sampai mengenai rangka plastik yang keras di kursi di depan, dan rasa nyerinya bukan main.

Padahal, banyak penumpang sudah cukup tertekan. Pasalnya, turbulensi parah kian sering terjadi. Beberapa kasus besar, termasuk yang melibatkan Singapore Airlines, sempat menjadi sorotan, namun para pakar menegaskan hal itu bukan kejadian langka.

Yang lebih mengkhawatirkan, turbulensi berbahaya bisa terjadi meski langit tampak cerah. Fenomena yang dikenal sebagai "clear-air turbulence" ini tidak terlihat oleh pilot dan di beberapa wilayah meningkat hingga 55 persen sejak 1979.

Penyebab utamanya adalah pemanasan udara akibat perubahan iklim. Para peneliti memperingatkan bahwa "turbulensi yang cukup kuat hingga berisiko menyebabkan cedera bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat frekuensinya".

Tak heran jika banyak orang mulai merasa pesimistis soal terbang. Salah satunya Jaclynn Seah, warga Singapura yang mengelola blog The Occasional Traveller. 

Ilustrasi penumpang pesawat dengan kaki panjang sulit duduk karena ruang yang sempit. (Foto: iStock/Rizky Ade Jonathan)

Dengan pengalaman mengunjungi sekitar 60 negara, ia sepakat bahwa dunia penerbangan kehilangan banyak daya tariknya, karena semuanya menjadi serba mahal.

"Maskapai kini memungut biaya untuk semua hal," katanya, sembari menambahkan maraknya maskapai berbiaya rendah yang menawarkan makanan, selimut yang layak, dan hiburan, sebagai hal yang optional dan perlu biaya tembahan.

Masalah lain yang membuatnya kesal adalah kebersihan kabin. Hal pertama yang ia lakukan setelah naik pesawat adalah membersihkan seluruh permukaan kursi dengan tisu basah.

"Bukan cuma karena COVID," ujarnya, "tapi secara umum kursi-kursi ini memang jarang dibersihkan secara menyeluruh saat pergantian penerbangan".

Selain itu, menurutnya penumpang pesawat wajib selalu membawa earbud peredam bising. "Meredam suara mesin pesawat yang terus-menerus sangat membantu menenangkan diri, bahkan jika kamu tidak memutar musik." 

Ilustrasi penumpang pesawat kelas premium ekonomi. (Foto: iStock/rudi_suardi)

MENCARI KENYAMANAN DI KELAS EKONOMI

Aku sering bertanya ke teman-teman tentang cara mereka membuat penerbangan terasa lebih manusiawi. Sebagian tips terdengar realistis, seperti memilih maskapai yang menawarkan sistem bid-to-upgrade lewat situs atau aplikasi, sehingga penumpang bisa mendapat kursi premium atau bisnis dengan harga lebih terjangkau.

Ada juga yang mengandalkan kartu kredit untuk mengumpulkan miles dengan nilai konversi tinggi.

Tips lain terdengar agak ekstrem. Beberapa orang memilih bekerja selama di pesawat. Masuk ke "mode kantor" diyakini membuat waktu terasa berlalu lebih cepat dibanding menonton film yang membosankan, meski cara ini terdengar kurang ideal untuk memulai liburan.

Bagiku, solusi paling efektif justru dengan membuat aturan perjalanan pribadi. Prinsip sederhanaku adalah "jika durasi penerbangan lebih dari enam jam, aku akan memilih kelas premium" atau "jangan pernah memilih mendarat di Bandara Stansted London karena akses ke pusat kota terlalu lama".

Prinsip ini membuat proses mengambil keputusan memilih penerbangan menjadi jauh lebih ringan.

Ilustrasi seorang penumpang perempuan tertidur ketika menaiki pesawat. (Foto: iStock/globalmoments)

Kenyamanan mungkin masih bisa ditoleransi jika perjalanan berlangsung tenang. Masalahnya, kerap kali kita mendapat tempat duduk di dekat bayi yang menangis.

Ternyata, dampaknya bukan sekadar telinga berdengung. Studi terbaru dari Universitas Jean Monnet di Prancis menemukan bahwa jeritan balita membuat suhu tubuh orang di sekitarnya meningkat. Artinya, tubuh kita benar-benar bereaksi secara fisik terhadap stres tersebut.

Aku juga menemukan cara murah meredam tangisan bayi di pesawat. Karena enggan membeli headphone peredam bising, aku memanfaatkan fitur Background Sound di iPhone yang memutar white noise menyerupai suara perapian. Hasilnya cukup ampuh untuk membuatku tertidur.

Namun, trik terpenting justru bersifat mental. Siapkan setiap penerbangan dengan ekspektasi terburuk. Jika penerbanganmu kacau, kamu sudah siap. Jika ternyata masih bisa ditoleransi, rasanya justru menyenangkan.

Pola pikir ini dikenal sebagai defensive pessimism. Jika kamu termasuk seseorang yang doyan mengeluh, percayalah, cara ini efektif.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan