WargaTok AS bernapas lega, malu tonton video perpisahan setelah TikTok bungkam hanya sekitar 14 jam
"Seminggu ini, aku seperti anak yang ditelantarkan perceraian orangtuanya. Apakah aku akan pindah ke Instagram, RedNote, YouTube, Facebook, atau menetap di TikTok?"
Seorang perempuan berpose dengan telepon pintarnya yang menampilkan aplikasi TikTok, setelah aplikasi itu berhenti berfungsi di Amerika Serikat pada Sabtu malam dan menghilang dari toko aplikasi Apple dan Google di Washington, AS, 18 Januari 2025. (Foto: REUTERS/Shannon Stapleton)
NEW YORK: Sabtu larut malam, untuk pertama kalinya jutaan pengguna Amerika Serikat (AS) yang membuka TikTok disambut dengan pemberitahuan bahwa aplikasi favorit mereka telah dilarang dan ditutup, sebelum undang-undang pelarangannya yang beralasan keamanan nasional mulai berlaku pada hari Minggu.
Untungnya, pengasingan wargaTok AS berlangsung hanya sekitar 14 jam. Pada Minggu siang, perusahaan asal China tersebut memulihkan layanannya setelah Presiden terpilih Donald Trump, yang akan kembali berkuasa pada hari Senin (20/1), berjanji mengembalikan akses di AS.
Namun, jutaan pengguna TikTok sudah sempat merasakan hidup tanpa aplikasi yang telah memikat hampir setengah dari populasi AS.
Ketika para pengguna kembali, sebagian merasa malu melihat unggahan perpisahan yang penuh emosi sebelum penutupan. Ada juga yang berterima kasih kepada Trump di situs media sosial X, sementara yang lain bertanya-tanya apakah dunia TikTok akan kembali seperti sediakala.
"Seminggu terakhir, aku dan Brynne seperti penumpang Tiktanik yang bersiap-siap menabrak gunung es," kata pembuat konten Mario Mirante yang memiliki 5,7 juta pengikut.
"Seminggu ini, aku seperti anak yang ditelantarkan perceraian orangtuanya. Apakah aku akan pindah ke Instagram, RedNote, YouTube, Facebook, atau menetap di TikTok?"
“Kami kembali, tapi dengan pengorbanan apa?” kata seorang pengguna lain di platform tersebut.
Tindakan Trump untuk menyelamatkan TikTok, milik ByteDance, berlawanan dengan kebijakannya pada masa jabatan pertama. Pada 2020, ia berusaha melarang aplikasi video pendek itu karena kekhawatiran bahwa perusahaan tersebut bisa membagikan informasi pribadi warga AS kepada pemerintah Tiongkok.
Belakangan, Trump menyatakan bahwa ia memiliki “tempat hangat di hatinya untuk TikTok”, serta mengaitkan aplikasi tersebut dengan keberhasilannya meraih dukungan pemilih muda dalam pemilu 2024.
Trump mengatakan ia akan “memperpanjang jangka waktu sebelum larangan undang-undang itu berlaku, sehingga kami dapat membuat kesepakatan untuk melindungi keamanan nasional kami”.
“Saya ingin Amerika Serikat memiliki kepemilikan 50 persen dalam usaha patungan,” tulisnya di platform Truth Social miliknya.
JANGAN BERUBAH
Meski lega, sejumlah pengguna khawatir perubahan struktur kepemilikan perusahaan pada akhirnya akan mengubah pengalaman mereka di TikTok.
“Saya teringat saat Elon membeli Twitter dan betapa dramatisnya perubahan sentimen keseluruhan serta cara orang berinteraksi di aplikasi itu. Jadi, hal itu membuat saya sangat khawatir,” kata Kelly Sites, 38 tahun, merujuk pada pembelian situs media sosial yang kini dikenal sebagai X oleh miliarder Elon Musk.
“Saya tidak ingin keajaiban algoritma itu berubah,” lanjut Sites, seorang kreator konten paruh waktu yang berbasis di Kansas City, Kansas.
Menurut laporan Reuters pada April, algoritma yang menjadi tulang punggung TikTok dianggap sangat penting bagi keseluruhan operasi ByteDance, sehingga penjualan TikTok beserta algoritmanya dipandang sangat tidak mungkin terjadi.
Sementara pertanyaan tentang masa depan TikTok masih menggantung, sejumlah pengguna - terutama mereka yang bergantung secara finansial pada aplikasi ini - menyesalkan hilangnya kepercayaan mereka pada pemerintah tak akan lagi sama.
“Saya pikir ini adalah masa yang sangat menyedihkan dalam sejarah,” kata Richard “Chuck” Fasulo, 37 tahun, seorang mekanik dan influencer otomotif asal Duchess County, New York.
Fasulo mengatakan kepada Reuters bahwa aplikasi tersebut membantunya melunasi utang, meningkatkan pendapatannya lebih dari dua kali lipat, dan membiayai liburan keluarganya untuk pertama kalinya musim panas lalu.
Menghadapi kemungkinan kehilangan peluang bisnis yang diberikan aplikasi itu bukanlah hal yang mudah.
“Saya kira, saya - seperti banyak orang lain - menjadi lebih tidak menyukai pemerintah AS,” tutur Fasulo, yang memiliki sekitar 400.000 pengikut.
Bagi sebagian orang, rasa lega menjadi hal terpenting, apapun alasannya.
“Saya lebih memilih aksi politik daripada kehilangan TikTok selamanya,” ujar Charlotte Warren, 31 tahun, kreator konten seputar kencan dan hubungan asmara yang berbasis di Austin, Texas, kepada Reuters.
Tanpa TikTok, ia memperkirakan kehilangan pendapatan tahunan hingga US$60.000 (Rp982 juta), lebih dari 200.000 pengikut, dan tidak yakin apakah ia akan terus mengunggah konten di platform lain.
“Saya hanya ingin aplikasi saya kembali,” kata Warren.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.