Aku dan keluarga tertipu scam Rp6,4 miliar oleh teman sendiri, tapi pengalaman pahit itu membuatku bertanggung jawab
Berpendidikan dan berpikiran matang, Richard Giam tak pernah mengira ia akan menjadi korban penipuan, apalagi terlibat di dalamnya. Ia kini belajar bertanggung jawab dari keterpurukannya.
Richard Giam belajar dari pengalaman pahitnya bahwa scam tidak selalu mudah dikenali. Bahkan bisa datang dari orang yang kita anggap teman. (Foto: Dok. Richard Giam)
SINGAPURA: Pelajaran hidup paling menyakitkan menimpa saya pada 2019.
Saya, istri, mertua dan abang rugi hampir S$500,000 (sekitarRp6,4 miliar) karena terkena scam (penipuan). Memang kerugian materinya tidak main-main, tapi yang paling menghancurkan justru dampaknya terhadap diri, hubungan dan emosi.
Mungkin kalian bertanya-tanya: Bagaimana bisa orang berpendidikan, yang pikirannya sudah matang, tertipu scam?
Alasan utamanya adalah karena kepercayaan.
Suatu hari, ada teman yang memperkenalkan saya dengan seorang trader forex. Orangnya tampak berwibawa, santun, percaya diri dan juga meyakinkan. Dia berbagi cerita tentang peluang investasi dengan iming-iming keuntungan yang menarik berupa pembayaran bulanan tetap, cukup dengan pemberitahuan penarikan dana satu bulan sebelumnya.
Biasanya, saya tidak begitu mudah percaya dengan orang yang baru saya jumpa pertama kali. Tapi karena teman saya yang mengenalkannya, saya pun jadi lengah.
Saya akhirnya melakukan investasi kecil-kecilan, sekedar untuk mencobanya. Saat keuntungan yang didapat sesuai seperti yang dijanjikan, saya pelan-pelan mulai menambah jumlah investasi, bahkan menginvestasikan kembali keuntungan bunga yang diperoleh ke dalam skema tersebut.
Saat itu, semuanya masih terasa aman-aman saja, tidak ada tekanan. Hanya ada "hasil" yang terus menerus datang dari seorang "profesional" yang kelihatan sangat ahli di bidangnya.
Yang awalnya hanya coba-coba sekarang berkembang menjadi rutinitas menanam enam digit dalam beberapa tahun.
Saat itu, saya dan trader itu sering bertemu membahas shared values, bisnis, dan berbagi cerita soal kehidupan kami. Dia kelihatannya tulus, rendah hati, dan juga cerdik. Dia bahkan mendukung karier saya di bidang penggalangan dana korporasi dengan menjadi donatur.
Lambat laun, tahun demi tahun, saya jadi percaya padanya. Semakin sering kami bertemu dan semakin banyak keuntungan yang saya dapat, semakin bertambah rasa percaya saya pada dirinya dan skemanya.
Sampai akhirnya, kami berteman. Selama itu, saya tidak pernah mengira kalau saya bisa salah dalam menilainya.
MENARIK ORANG KE DALAM LUBANG
Tanpa sadar, saya mulai mengajak orang yang saya kenal untuk ikut investasi.
Jujur, saya sering dapat komisi dari referral berkali-kali dan benar-benar merasa kalau ini peluang yang sangat bagus.
Dalam hati saya bilang kalau ini saling menguntungkan. Orang lain mendapat untung dan saya mendapat untung lebih. Apa lagi yang harus dipikirkan?
Secara keseluruhan, saya berhasil mengajak 20 orang untuk ikut investasi, termasuk sahabat dan keluarga. Sama seperti saya, mereka tertarik karena mereka pribadi sudah akrab dengan orang yang membawa mereka.
Kami sudah terjun habis-habisan, sampai akhirnya semua runtuh seketika.
Saya masih ingat hari ketika saya mendapat berita yang mencengangkan. "Trader" itu ternyata sudah ditangkap dan didakwa melakukan penipuan. Semua akhirnya terbongkar dan ternyata ini investasi bodong.
Badan saya langsung lemas. Waktu itu, saya tak tahu mana yang lebih sakit: kenyataan kalau uang saya lenyap atau kenyataan kalau saya tak sadar sudah mengajak orang yang saya sayangi jatuh ke dalam perangkap yang sama.
Perasaan saya sangat kacau waktu saya sadar kalau saya bukan hanya korban, melainkan juga kaki tangan, meskipun tidak berniat menyakiti siapa-siapa.
Perasaan saya campur aduk. Namun, tentu saya tak bisa tinggal diam saja.
Saya akhirnya menyampaikan berita itu kepada mereka yang jadi korban. Selama tiga malam, saya tidak bisa tidur. Saya tidak nafsu makan. Istri saya, putri saya, dan saya sangat terpukul.
Kami mendadak harus menjepit segala pengeluaran dan pikiran kami serba menuju ke hal yang terburuk. Bagaimana kalau kami selamanya tak akan pulih dari tragedi ini?
PERSAHABATAN RUSAK
Kami memang menderita kerugian materi, tapi yang lebih parah adalah luka batin yang terjadi akibat merenggangnya hubungan, hilangnya kepercayaan orang lain dan rasa malu yang mendalam.
Sebagian teman masih berbelas kasih dan mengerti, dan saya tidak berhenti bersyukur atas itu.
Sebagian lain tidak. Beberapa hubungan tidak pernah kembali seperti semula.
Jujur, saya tak menyalahkan mereka. Mereka berhak marah, mempertanyakan dan mengkritik penilaian saya sekarang.
Di titik itu, saya sudah tidak lagi dekat dengan teman yang memperkenalkan saya dengan trader itu. Bagaimanapun, pertemanan kami juga sudah berakhir.
Kasusnya kemudian dibawa ke pengadilan. Namun seiring berjalannya proses, korban saling berbeda pandangan.
Sebagian mendukung tuntutan, berharap agar uang mereka kembali, mengingat rekening trader itu dibekukan. Sebagian lain masih berharap jika kasusnya dihentikan, pembagian keuntungan akan kembali berjalan seperti semula.
Dua sisi, dua versi bantahan sendiri – dan saya terseret di tengah-tengahnya.
Lalu datanglah kejadian menyakitkan yang tak terduga. Saya diminta untuk menjadi saksi dari pihak penuntut.
Jujur, awalnya saya tidak mau. Logikanya, penipu itu sudah menipu saya dan banyak orang lain.
Tapi tetap saja, dia dulu teman saya. Saya masih ada sisa rasa syukur padanya, terutama atas bantuannya di awal karier saya.
Tapi saya tak punya banyak pilihan. Hukum memaksa saya. Saya harus berbuat yang benar.
BERTANGGUNG JAWAB
Jika kalian berpikir "Ini takkan pernah terjadi padaku," saya mengerti. Saya pernah berpikiran seperti itu.
Tapi, scam tidak selalu mudah dikenali. Scam sering hadir dalam wujud peluang, teman dan kesuksesan.
Sampai akhirnya, saya sadar walau rasanya sakit karena itu penting. Meski semua kejadian ini berawal dari trader tersebut, kesalahannya bukan hanya dari dia. Tapi juga dari saya.
Saya yang membiarkannya berbuat demikian dengan mengorbankan nalar, perasaan, bahkan kebenaran demi menjaga pertemanan. Saya yang ingin mempercayai dia sepenuhnya sampai saya tidak menyadari kalau saya telah dibutakan oleh rasa percaya itu.
Dengan dukungan kuat dari mentor dan juga teman-teman, saya kembali terjun ke dunia bisnis. Kali ini, saya lebih berhati-hati dengan melakukan riset terlebih dahulu di setiap langkah awal.
Saya terjun lebih dalam ke investasi saham, psikologi trading dan literasi keuangan.
Saya mengambil alih investasi sendiri ketimbang memercayakan masa depan keuangan saya di tangan orang yang biasa mereka sebut ahli.
Sekarang, saya bersyukur masih bisa kembali memiliki pegangan finansial yang kuat dari sebelumnya dan keuntungan besar dari portofolio investasi saya. Lebih dari itu, diri saya menjadi semakin tangguh.
Saya belajar dari pengalaman pahit dan saya menulis ini supaya kalian tidak berakhir seperti saya.
Selalu berhati-hati. Tanyakan pertanyaan sulit. Selalu riset dulu.
Dan ingat! Investasi paling berharga dalam hidup selalu pendidikan dan juga kesadaran diri.
AWAL BARU
Usai keluar dari perangkap yang menyiksa, saya menemukan tujuan baru, yaitu membantu orang agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
Saya mendirikan Rainmaker Community, sebuah jaringan bisnis dan sosial, tempat orang berkumpul setiap bulan untuk belajar dan tumbuh bersama. Tidak hanya menumbuhkan kekayaan, namun juga kebijaksanaan, hubungan persaudaraan dan karakter.
Kami tidak menjanjikan keuntungan atau mengejar sensasi. Kami membangun hubungan dan mengejar tujuan.
Saya tak bangga dengan apa yang sudah terjadi, tapi saya bangga dengan bagaimana saya menanggapinya.
Kejadian itu memberi saya pelajaran berharga, bahwa kegagalan tentu dapat menjadi guru terbaik, tapi hanya jika kita mau menghadapi dengan kejujuran dan kerendahan hati.
Richard Giam adalah pendiri Rainmaker Community, investor dan advokat untuk kepemimpinan beretika dan literasi keuangan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.