Mukjizat medis: Terapi eksperimental di Singapura sembuhkan bocah ini dari kanker langka
Nyaris tanpa pilihan, Viet Tai yang kala itu berusia 10 tahun dibayang-bayangi kematian akibat kanker. Kini statusnya remisi setelah menjalani pengobatan baru di Singapura.
Viet Tai berusia 10 tahun ketika menjalani pengobatan kanker langka di National University Hospital, Singapura. Kini ia telah terbebas bebas dari kanker. (Foto: CNA/Ili Nadhirah Mansor, keluarga Viet Tai)
SINGAPURA: "Aku merasa... aku bakal mati sebentar lagi."
Kata-kata itu yang terlintas di benak Viet Tai, yang saat itu berusia 10 tahun, setelah kanker yang diidapnya tidak merespons kemoterapi.
Para dokter di Hanoi, tempat asal Viet Tai, sudah angkat tangan. Berbagai macam pengobatan di Vietnam gagal menghentikan maupun memperlambat sejenis leukemia limfoblastik akut langka yang diidap bocah tersebut.
Namun, orang tuanya mendengar ada pengobatan di Singapura yang mungkin dapat menyelamatkan putra mereka. Mereka pun menjual rumah dan aset lainnya untuk berangkat.
Awalnya, harapan sekadar harapan. Viet Tai ternyata merupakan pasien pertama di dunia yang menjalani terapi eksperimental baru di National University Hospital (NUH) Singapura.
Tanpa ada pengalaman serupa dengan pasien sebelumnya, sulit untuk memprediksi keberhasilan pengobatan ini.
Namun, siapa sangka, nyawa Viet Tai berhasil diselamatkan.
RASA SAKITNYA MENYEBAR
Viet Tai merupakan anak yang aktif. Ia gemar bermain sepak bola dan bersepeda di kota asalnya, Hanoi.
Ketika berusia 10 tahun, ia merasakan nyeri tajam di jari kelingking.
Awalnya, ia mengabaikan rasa sakit itu, menganggapnya sekadar cedera kecil akibat lasak.
Tak lama, rasa sakit itu menyebar–dari tangan ke siku, ke bahu, hingga ke kedua kaki.
Para dokter di Vietnam menduga ia mengalami radang sendi.
"Aku dikasih obat untuk radang sendi, tapi setelah berbulan-bulan, tidak juga sembuh, malah dan rasa sakitnya makin parah, menjalar ke lutut, lengan, sendi-sendi lainnya," kata Viet Tai.
"Rumah sakit pertama menyimpulkan aku tidak membaik sama sekali, jadi ayah membawaku ke rumah sakit lain... kesimpulannya masih radang sendi."
"Setelah beberapa tes, termasuk tes sumsum tulang, akhirnya aku dinyatakan menderita kanker darah."
Diagnosisnya tidak bagus–Viet Tai mengidap leukemia limfoblastik akut.
Jenis kanker darah ini umum pada anak-anak.
Sekitar 30 persen dari seluruh kasus kanker baru pada anak adalah leukemia limfoblastik akut, dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.
Namun, tidak lama, Viet Tai mendapat kabar bahwa yang ia idap bukanlah leukemia biasa.
Orang tuanya berusaha menyembunyikan kondisi sebenarnya agar ia semangat menjalani kemoterapi yang sedemikian menyiksa.
Sayangnya, kankernya tidak merespon kemoterapi, dan kondisinya terus memburuk.
"Rasanya panas sekali di pembuluh darahku (selama kemoterapi). Pembuluh darahku pecah dan mulai terasa sakit... Aku menjalani tes sumsum tulang, dan seminggu kemudian rasanya sakit luar biasa di tulang belakang saya," kenang Viet Tai.
"Aku sampai tidak bisa duduk, harus terus berbaring."
"Aku merasa putus asa. Kupikir kanker tidak bisa disembuhkan dan aku bakal segera mati," ungkapnya.
Selagi mencari-cari informasi, seorang kenalan keluarga di Singapura memberi tahu keluarganya bahwa berobat di Singapura mungkin memperbesar peluang Viet Tai bertahan hidup.
Orang tuanya kemudian menjual rumah serta berbagai aset lainnya. Viet Tai dan ibunya lantas terbang ke Singapura. Ia pun dirawat di NUH.
Di sana, ia didiagnosis mengidap leukemia limfoblastik akut (ALL) sel T prekursor awal, suatu varian yang ditandai oleh sel-sel kanker yang belum matang dan cenderung lebih resisten.
Viet Tai kembali menjalani kemoterapi intensif, termasuk kemoterapi lini kedua yang lebih baru.
Namun, kankernya tetap tidak merespons. Ia mengalami infeksi berulang serta pembekuan darah di kaki.
Seiring waktu, Viet Tai tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda.
Prognosis untuk jenis kanker yang resistan terhadap pengobatan seperti ini biasanya buruk, dengan peluang bertahan hidup kurang dari 10 persen.
TEROBOSAN BARU
Saat itu, tim medis di Singapura telah mengembangkan suatu terapi eksperimental.
Dalam pengobatan berupa terapi sel ini, sel T–sejenis sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh–diambil dari pasien, diprogram ulang untuk menyerang kanker, lalu dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien.
Pengobatan khusus yang menargetkan CD7 pada sel-sel leukemia ini belum pernah diterapkan pada siapa pun sebelumnya. Viet Tai merupakan pasien pertama di dunia yang menjalaninya.
Setelah berbagai pertimbangan dari pihak rumah sakit, termasuk persetujuan dewan etik dan diskusi dengan orang tua Viet Tai serta pimpinan klinis Prof. Allen Yeoh, diputuskan bahwa Viet Tai akan menjalani pengobatan eksperimental ini.
"Waktu sel T-nya ditransplantasi ke tubuhku... kupikir itu cuma cairan biasa yang memang harus dimasukkan ke dalam tubuh," ujar Viet Tai.
"Aku tidak khawatir sama sekali. Aku cuma bingung kenapa semua orang–orang tuaku dan para dokter–berada di sekelilingku."
Kekhawatiran terbesar adalah bagaimana tubuh si pasien pertama ini akan bereaksi terhadap pengobatan tersebut.
Prof. Yeoh menjelaskan bahwa ada terapi serupa untuk jenis leukemia limfoblastik akut yang lebih umum, dan yang dilakukan saat itu merupakan "prediksi yang terukur".
"Kami tahu bahwa imunoterapi, yakni menggunakan sistem kekebalan pasien untuk melawan kanker, mungkin berhasil, dan sudah ada hasil-hasil yang menjanjikan," jelasnya.
"Kami bertindak bukannya tanpa panduan, melainkan dengan prediksi yang terukur."
"Hanya saja masalahnya, yang kami lakukan adalah menghancurkan bagian yang teramat penting dari sistem kekebalannya, yaitu sistem kekebalan T."
Prof. Yeoh menambahkan, sebagian bayi terlahir tanpa sel T, dan mereka rentan meninggal akibat infeksi.
Kekhawatiran terbesar terkait Viet Tai adalah pengobatan ini dapat menjadikannya layaknya bubble boy–anak yang harus diisolasi dari dunia luar.
MASA ISOLASI
Selama sebulan, Viet Tai diisolasi di ruangan sepi dan steril di NUH. Isolasi ini diperlukan karena pengobatan yang dijalani diperkirakan akan merusak sistem kekebalannya, membuatnya sangat rentan.
"Para perawat, para dokter, semua bekerja sama. Kami mempersiapkan Viet Tapi untuk menjadi 'bubble boy'," ujar Prof. Yeoh.
"Kami harus mengautoklaf semua piyama, seprai, dan handuknya. Semua harus steril dan bersih."
"Untuk menemuinya kami harus pakai baju pelindung, masker, pokoknya lengkap... ia tidak melihat orang-orang melainkan wajah-wajah tertutup masker keluar masuk selama masa itu."
Mesin autoklaf menggunakan uap bertekanan untuk membunuh bakteri, virus, jamur, dan spora berbahaya.
Periode satu bulan itu sangat berat bagi ibunya, Nguyen Thi Kieu Anh, yang tidak bisa menenangkan putranya dan tidak tahu apakah pengobatan tersebut akan berhasil.
Jauh dari dukungan keluarga dan menghadapi kendala bahasa, ibu Viet Tai hanya bisa menyaksikan putranya menjalani pengobatan.
"Sebagai ibu, melihat putraku harus menjalani berbagai jenis kemoterapi, dan dia harus menahan rasa sakit... hatiku hancur sekali. Aku merasa tidak berdaya, seakan aku tidak bisa membantunya," ujar sang ibu kepada CNA melalui penerjemah.
Kendala finansial juga menghantui keluarga. Sebagai warga non-Singapura, Viet Tai tidak bisa mendapatkan subsidi. Ia dihitung sebagai pasien umum.
Dengan kemungkinan menginap berbulan-bulan di rumah sakit, terutama sebulan di ruang isolasi khusus, tagihan pun mulai membengkak.
Masyarakat luas ikut membantu. Laman penggalangan dana dibuat di give.asia. Donasi mengalir mulai dari S$1 (sekitar Rp12 ribu) hingga S$5.000, sebagian besar dari orang-orang tak dikenal. Lebih dari S$115.000 terkumpul untuk keluarga ini.
Terlindungi dari dunia luar, Viet Tai lekas pulih. Kondisinya membaik, menampakkan harapan bahwa terapi eksperimental untuknya berhasil.
Dalam sebulan, Viet Tai yang semula di ambang kematian, mencapai remisi untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.
Kini, lebih dari empat setengah tahun kemudian, ia tetap terbebas dari kanker.
NYAWA TERSELAMATKAN
Pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan menunjukkan pemulihan biasanya membutuhkan transplantasi sumsum tulang.
Akan tetapi, akibat pandemi COVID-19, semua operasi elektif ditunda. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa Viet Tai, dengan sistem kekebalan yang lemah, dapat tertular COVID-19 dan meninggal akibat virus tersebut.
Meski tidak mendapatkan transplantasi sumsum tulang, Viet Tai tidak jatuh sakit setelah perawatan.
"Kami memperkirakan akan ada komplikasi besar dalam sistem tubuhnya, tapi yang mengejutkan, dia tidak jatuh sakit parah," ujar Prof. Yeoh.
"Banyak dari langkah pencegahan yang kami ambil ternyata tidak diperlukan, karena sel CAR-T mampu menghilangkan sel T, tetapi sel T kemudian muncul kembali dalam bentuk lain, yang tetap mampu melindungi tubuhnya."
Viet Tai juga merespons vaksin COVID-19 dengan baik, dan tubuhnya mulai menghasilkan antibodi terhadap virus tersebut.
"Sistem kekebalannya sempat hancur, tapi dia secara bertahap memperolehnya kembali," tambah Prof. Yeoh.
Keajaiban yang dialami Viet Tai bukan kejadian satu-satunya. Tak lama setelahnya, satu pasien lain menjalani perawatan yang sama.
Pada Januari 2020, CNA melaporkan kisah Oscar Saxelby-Lee, yang cuma punya harapan hidup beberapa bulan saat ia tiba di NUH untuk menjalani perawatan ini. Ia pun tetap berstatus remisi.
IMPIAN BARU
Tak bisa pulang ke negaranya akibat pandemi COVID-19, Viet Tai lantas bersekolah di Singapura.
Setelah berbulan-bulan di kursi roda dan diisolasi, kekuatannya kembali dan dia mulai bisa berjalan lagi, kemudian menendang-nendang bola, dan akhirnya bersepeda.
Dia juga mulai belajar bahasa Inggris dan berteman dengan siswa-siswa lain di sekolahnya.
"Aku sangat bahagia dan sangat berterima kasih kepada Prof. Yeoh dan tim di NUH," ujar ibunya.
"Aku sangat menghargai kebaikan orang-orang yang telah memberi (donasi) untuk Viet Tai."
Kini berusia 15 tahun, Viet Tai fasih berbahasa Inggris dan sering terlihat tersenyum ceria.
Saat ini, ia sedang bersiap untuk ujian masuk sekolah menengah atas di Vietnam dan punya impian memulai merek fesyennya sendiri di masa depan.
Dia terus menikmati berlama-lama bersepeda dan bermain basket dengan teman-temannya, bahkan baru-baru ini memenangkan medali bersama tim sekolahnya.
Lima tahun yang lalu, semua ini seolah mustahil.
"Bisa hidup saja sudah merupakan keberhasilan buatku sekarang. (Selama) perawatan, aku menumbuhkan tekad yang kuat," ujar Viet Tai.
"Kalau aku tidak punya tekad kuat, akan bakal sudah menyerah.
"Sekarang, kalau aku menemui kesulitan, aku ingat-ingat lagi dua tahun perawatan medis yang kujalani dulu. Kalau aku bisa melewati dua tahun perawatan medis itu... tantangan apa pun sekarang dibandingkan yang lalu itu cuma kecil saja–aku bisa menghadapi apa pun sekarang.”
Viet Tai telah membangun hubungan dekat dengan staf NUH dan menyampaikan terima kasih kepada mereka karena telah memberinya kesempatan "hidup kedua".
Prof. Yeoh mengatakan: "Sebagian besar anak yang sudah melewati peristiwa besar semacam itu, tantangan hidup besar seperti itu, mereka menjadi pejuang yang lebih tangguh."
"Pandangan mereka akan hidup benar-benar berbeda."
"Mereka melihat apa pun sebagai tantangan kecil, sementara bagi kebanyakan dari kita, semuanya tampak begitu besar."
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.
Kuis CNA Memahami Asia eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia putaran pertama sudah dimulai!
Ayo uji wawasanmu dan raih hadiahnya, ikuti kuisnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V