Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Tas Siaga Bencana penting disiapkan saat cuaca ekstrem, apa saja isinya?

Kesadaran untuk menyiapkan Tas Siaga Bencana terus meningkat seiring bencana yang terjadi di berbagai daerah. Tas sederhana ini bisa membantu kita bertahan saat tertimpa bencana dan bantuan belum tersedia.

Tas Siaga Bencana penting disiapkan saat cuaca ekstrem, apa saja isinya?

Memiliki Tas Siaga Bencana dengan isi yang lengkap membantu kita bisa tetap tenang dan fokus saat bencana datang. (Foto: iStock/invizbk)

Indonesia menghadapi risiko bencana yang kian beragam, dari gempa hingga banjir yang datang tiba-tiba. Tinggal di negara rawan bencana, mempersiapkan Tas Siaga Bencana dengan isi yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan saat keadaan darurat.

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang rawan aktivitas vulkanik dan seismik. Ditambah dengan perubahan cuaca ekstrem serta kondisi geografis yang beragam, berbagai wilayah kerap mengalami banjir, longsor, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga erupsi gunung api.

Situasi yang semakin tak terduga ini membuat kebutuhan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menjadi semakin mendesak, termasuk lewat kepemilikan Tas Siaga Bencana (TSB) di setiap rumah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan bahwa tas darurat berfungsi membantu keluarga bertahan selama 1x24 jam pertama setelah bencana, yaitu periode penting saat bantuan belum sepenuhnya dapat diakses.

Dengan seluruh perlengkapan terkumpul di satu tas, proses evakuasi bisa berlangsung lebih cepat sekaligus mengurangi kepanikan. BNPB juga mengingatkan agar tas disimpan di lokasi mudah dijangkau dan isinya diperiksa secara berkala, terutama makanan dan obat-obatan yang memiliki tanggal kedaluwarsa.

Pada akhir tahun 2025, intensitas hujan yang tinggi disertai gempa dan erupsi di berbagai daerah memperlihatkan betapa pentingnya kesiapan ini. Banjir besar yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menjadi contoh nyata tingginya risiko yang dihadapi masyarakat.


 

Isi tas siaga bencana yang dikampanyekan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (Foto: Instagram/@bnpb_indonesia)

BNPB melalui Buku Saku Tanggap, Tangkas, Tangguh Menghadapi Bencana mengimbau setiap keluarga memiliki tas tahan air berisi kebutuhan dasar untuk bertahan tiga hari.

Para pakar keselamatan juga menegaskan hal yang sama. Pakar keamanan Sara Harshbarger mengingatkan bahwa tas darurat yang lengkap membantu seseorang tetap tenang dan fokus saat kondisi kacau.

"Beberapa barang yang dipilih dengan tepat dapat memberikan ketenangan pikiran dan mempermudah kita melewati momen sulit", ujarnya, dikutip dari website Martha Stewart.

CEO Entropy Survival, Jeremy Gocke, menambahkan pentingnya pencahayaan darurat dengan menyebut bahwa senter adalah "garis pertahanan pertama" saat rumah tiba-tiba gelap gulita.

Mengacu pada rekomendasi BNPB, Kementerian Kesehatan, dan pakar keselamatan, berikut kategori perlengkapan yang perlu dimasukkan dalam Tas Siaga Bencana:

1. Dokumen penting
Semua dokumen seperti KTP, KK, akta kelahiran, ijazah, buku nikah, surat kendaraan, surat tanah, buku tabungan, kartu ATM, kartu identitas, serta foto anggota keluarga perlu disimpan rapi dalam map kedap air atau zip lock.

Termasuk pula salinan polis asuransi, kontak darurat, serta riwayat medis dan resep obat.

2. Obat-obatan dan P3K
Obat pribadi dan obat dasar seperti obat diare, batuk, sakit kepala, demam, lambung, serta minyak kayu putih, minyak gosok, perban, antiseptik, masker, dan hand sanitizer menjadi perlengkapan yang wajib ada.

3. Makanan dan minuman
Sediakan makanan tahan lama, mulai dari biskuit, coklat, abon, mie instan, buah kering, granola bar, kacang-kacangan, hingga makanan siap saji.

Tambahkan air minum, minimal dua liter per orang per hari, serta tablet atau filter pemurni air untuk kondisi darurat ketika suplai air terganggu.

Isi tas siaga bencana yang dikampanyekan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (Foto: Instagram/@bnpb_indonesia)

4. Pakaian dan perlengkapan pribadi
Pakaian dalam, celana, baju, jaket, handuk, tisu basah dan kering, pembalut, serta popok untuk bayi. Sertakan juga jas hujan, selimut tipis atau thermal, dan selimut mylar yang mampu menjaga suhu tubuh.

5. Alat penerangan dan komunikasi
Senter, headlamp, lampu darurat, korek api, lilin, power bank, dan ponsel sangat penting dalam situasi gelap atau ketika jaringan listrik terputus. Radio baterai atau radio engkol juga diperlukan untuk memantau informasi terbaru saat sinyal seluler tidak stabil.

6. Perlengkapan pendukung lainnya
Alat serbaguna seperti multitool dapat membantu berbagai keperluan mulai dari memotong hingga memperbaiki benda. Peluit menjadi alat penting untuk meminta pertolongan, sementara lakban berguna untuk memperbaiki kebocoran, menambal perlengkapan, atau membuat ikatan darurat. Jangan lupa simpan pembuka kaleng manual agar makanan kaleng dapat dikonsumsi saat listrik padam.

7. Uang tunai
Uang tunai dalam jumlah kecil perlu disiapkan karena ATM dan layanan digital bisa saja tidak berfungsi setelah bencana.

Dengan mempersiapkan tas siaga bencana sejak dini, keluarga dapat bergerak lebih cepat, terarah, dan aman saat keadaan mendesak. Tas ini menjadi langkah sederhana, tetapi sangat krusial untuk meningkatkan kesiapsiagaan di negara yang memiliki risiko bencana tinggi sepanjang tahun.
 

Source: Others/ps/jt

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan