Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Bukan cuma Instagram, WhatsApp juga mulai pasang iklan di Status kamu

Langkah WhatsApp menayangkan iklan menuai kritik karena melanggar prinsip pendiri app itu dan janji Meta saat mengakuisisinya. Pengguna pun cemas terkait keamanan data pada percakapan mereka. 

Bukan cuma Instagram, WhatsApp juga mulai pasang iklan di Status kamu

Ilustrasi penggunaan aplikasi perpesanan, WhatsApp. (Foto: iStock/stockcam)

18 Jun 2025 01:59PM (Diperbarui: 18 Jun 2025 02:06PM)

Setelah bertahun-tahun memberikan layanan gratis tanpa embel-embel, WhatsApp akhirnya akan mulai menampilkan iklan. Tapi tenang dulu — iklan ini hanya akan muncul di layar Status, fitur WhatsApp yang mirip dengan Stories di Instagram.

Jadi, seperti halnya kamu melihat iklan setelah menonton beberapa Stories di Instagram, kamu juga akan mulai melihat iklan di WhatsApp setelah menggulir beberapa pembaruan Status.

Induk WhatsApp, Meta, menyebut bahwa mekanisme iklan mereka menggunakan sinyal seperti negara atau kota pengguna, bahasa yang digunakan, serta saluran (channels) yang mereka ikuti, termasuk data dari iklan yang sebelumnya mereka interaksikan.

Meta juga menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan data pribadi yang dapat diidentifikasi secara langsung, seperti nomor telepon, pesan, panggilan, dan grup pengguna untuk menayangkan iklan yang dipersonalisasi. 

Jika seorang pengguna menghubungkan akun WhatsApp-nya ke Meta’s Account Center, maka Meta akan menggunakan preferensi akun tersebut untuk menampilkan iklan.

Ingat, ketika ada iklan, maka kamulah produknya," tulis pendiri WhatsApp, Jan Koum dan Brian Acton tahun 2012.

Meta juga akan membuka peluang bagi perusahaan dan pengguna untuk mempromosikan saluran mereka — fitur siaran dari WhatsApp — melalui bagian penemuan (discovery section). 

Selain itu, WhatsApp juga akan mengizinkan kreator dan bisnis tertentu untuk mengenakan biaya berlangganan agar pengikut bisa membuka akses ke pembaruan eksklusif di Channels. Pembayaran langganan ini akan difasilitasi oleh toko aplikasi.

Tampilan iklan, mode berlangganan dan promosi Channel di aplikasi WhatsApp. (Foto: Dok. WhatsApp)

Meta menyebut bahwa lebih dari 1,5 miliar orang menggunakan fitur Status dan Channels setiap harinya.

Selama ini, WhatsApp memperoleh pemasukan lewat platform WhatsApp Business dan iklan klik ke WhatsApp (click-to-WhatsApp ads). 

Meta berulang kali menyebut dua hal tersebut sebagai sumber pemasukan yang terus tumbuh dalam laporan pendapatan kuartalan mereka, menurut laporan TechCrunch. 

Wakil Presiden Produk di WhatsApp, Alice Newton-Rex, mengatakan dalam sebuah sesi briefing bahwa kehadiran iklan merupakan evolusi yang tepat untuk memperluas jalur pendapatan bagi WhatsApp.

"Produk iklan dan promosi yang baru ini terasa seperti langkah berikutnya, apalagi setelah dua bisnis itu (WhatsApp Business dan Channels) berkembang dan membantu pengguna menemukan bisnis langsung di dalam WhatsApp," ungkapnya. 

"Dan itu memang yang makin sering kami dengar dari para pelaku usaha — bahwa mereka juga ingin bisa melakukan hal seperti ini," ujarnya.

Namun, langkah ini tentu mengundang sorotan, mengingat pendiri WhatsApp sendiri, Jan Koum dan Brian Acton, sejak awal sangat vokal menolak iklan. 

Dalam sebuah unggahan blog WhatsApp tahun 2012, mereka menulis dengan sangat jelas: "Ingat, ketika ada iklan, maka kamulah produknya." 

Koum bahkan menempelkan secarik catatan dari Acton di meja kerjanya yang berbunyi, "No Ads! No Games! No Gimmicks!" sebagai pengingat prinsip aplikasi yang ingin mereka bangun.

Ketika Facebook (sekarang Meta) mengakuisisi WhatsApp pada tahun 2014 senilai US$19 miliar, perusahaan itu juga berjanji tidak akan menambahkan iklan ke dalam platform tersebut. Namun, kenyataannya, bisnis Meta memang dibangun di atas pondasi iklan.

Meta bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak meluncurkan iklan di Threads awal tahun ini, dan membawa chatbot AI ke WhatsApp, membuat pengguna bisa berinteraksi dengan bot tersebut di grup chat, bertanya, atau bahkan membuat gambar. 

Meta mengakui bahwa mereka bisa membaca pesan yang "menyebut @Meta AI, atau yang sengaja dibagikan pengguna kepada Meta AI." Hal ini tentu memunculkan kekhawatiran serius soal privasi di WhatsApp. 

"Ekosistem iklan online telah berulang kali terbukti mendorong pelanggaran privasi dan keamanan dalam skala besar," ujar Bill Budington, teknolog senior dari Electronic Frontier Foundation, kepada The Verge. 

"Meskipun ini bukan langkah yang mengejutkan dari Meta, tapi tetap saja, mereka membuat 3 miliar pengguna WhatsApp berisiko hal yang tidak perlu, semua demi strategi monetisasi yang tidak diminta dan diinginkan pengguna."

WhatsApp menyebut bahwa iklan dan semua fitur baru ini akan diluncurkan secara global dalam beberapa bulan ke depan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan