Petualangan cinta petinggi Google: Batal nikah di Bali, temukan 'the one' lewat dating app
Di kantor, Mira Sumanti merupakan pimpinan di Google. Di luar kantor, ia menuliskan soal kisah cintanya yang kandas, depresi, hingga mampu move on dengan bantuan dating app.
Mira Sumanti (38 tahun) menulis buku tentang tantangan di dunia kencan setelah tunangannya meninggalkannya hanya beberapa pekan sebelum pernikahan mereka. (Foto: CNA/Raj Nadarajan)
SINGAPURA: Banyak orang bermimpi menulis buku, bahkan menjadi salah satu daftar yang ingin dicapai dalam hidup. Namun, hanya segelintir yang memiliki bahan cerita yang cukup kuat untuk menjadi kisah yang memikat, apalagi jika isinya mencakup cinta lintas negara, kehilangan, seks, dan pesta klub malam.
Kisah itu yang diungkapkan secara blak-blakan oleh Mira Sumanti dalam Swipe Therapy, buku yang kerap kali dijuluki, "Sex and the City untuk generasi Tinder" itu.
Berkarier sebagai brand and creative lead Google di Singapura, buku yang ditulis perempuan berusia 38 tahun ini terasa seperti perpaduan antara chick lit yang vulgar, dengan panduan ala tech geek tentang cara menemukan cinta.
Di dalamnya bahkan terdapat grafik dan tabel tentang bagaimana menentukan lokasi kencan pertama, hingga potensi return on investment (ROI) dari sebuah pernikahan.
Saat kami duduk berbincang sambil menyeruput kopi di pantry kantor pusat Google di Mapletree Business City, Singapura, sempat terlintas pertanyaan apakah ia akan merasa canggung berbicara di kantornya. Apalagi, buku ini mengungkap detail kisah cintanya, yang tergolong NSFW (not safe for work).
Buku Swipe Therapy bahkan dibuka dengan prolog berlatar bar bondage di Jepang, ketika Mira diminta oleh seorang pria asing untuk melakukan hal-hal seksual yang bahkan tak elok dituliskan dalam artikel ini. Kisah semacam ini hanya satu dari sekian banyak cerita serupa di buku ini.
Namun, selama hampir dua jam percakapan kami, Mira tampak sama sekali tak cangung saat menceritakan kembali berbagai pengalamannya yang tak biasa itu.
"Aku sebenarnya tidak pernah berniat menulis buku. Aku menuliskan pengalamanku karena ingin mengingat semua yang pernah aku lewati," ujar Mira, perempuan asal Indonesia yang telah lama menetap di Singapura, sejak 2018.
"Sekarang kalau melihat ke belakang, aku cuma bisa bilang, 'Wow, banyak hal gila yang dulu kulakukan'. Namun, semua itu memang harus terjadi supaya aku bisa sampai di titik ini."
BATAL NIKAH 5 MINGGU DARI HARI-H
Keluarga Mira berasal dari Indonesia, tetapi sejak lama mereka hidup sebagai "global citizens". Karena sang ayah bekerja di industri migas, Mira sekeluarga lebih sering tinggal di luar Jakarta.
Kisahnya dimulai pada 2012. Saat itu, di usia 24 tahun, Mira bekerja di Amsterdam, Belanda, usai menuntaskan gelar studi Eropa di sana.
Diperkenalkan oleh teman, Mira menjalin hubungan asmara dengan seorang pria Belanda berusia dua tahun lebih tua darinya. Layaknya pasangan muda yang sedang dimabuk cinta, mereka mulai merencanakan masa depan bersama.
Namun, impian itu mulai goyah pada 2014, ketika Mira menerima tawaran kerja dari Google untuk ditempatkan di Jakarta. Inilah ujian besar pertama bagi hubungan mereka.
"Dia punya pekerjaan yang bagus, tapi aku masih muda dan kesempatan ini terasa sangat besar," kenangnya. Pada akhirnya, mereka sepakat bahwa Mira akan mencoba peluang tersebut, dan pindah ke Jakarta.
Saat liburan ke Amsterdam, sang kekasih melamarnya dan bersedia pindah ke Jakarta meski Mira sendiri baru sembilan bulan menjalani pekerjaan barunya.
Sayangnya, romansa bak dongeng itu perlahan mulai retak. Sang tunangan kesulitan mencari kerja dan beradaptasi dengan Jakarta yang penuh polusi dan macet. Mereka pun mulai sering bertengkar, keduanya pun terjerumus dalam lingkaran amarah, kekecewaan, dan rasa frustrasi.
"Itu adalah situasi yang tidak beruntung karena kami mencoba melakukan semuanya sekaligus. Pada satu titik, rasanya seperti ada bom waktu dan dia bilang: 'Aku harus pergi dari sini'."
Lima minggu sebelum hari pernikahan mereka, sang tunangan meninggalkannya.
Di tengah patah hati, Mira harus mengurus pembatalan pernikahan di Bali tanpa pengembalian dana, serta memberi penjelasan bagi para calon tamu karena undangan sudah kadung disebar ke berbagai belahan dunia.
Namun, lebih dari sekadar urusan pembatalan pernikahan, tentu saja hatinya yang hancur lebur membuat ia kehilangan rasa percaya diri.
"Aku bertanya-tanya, apa aku yang bodoh? Apa aku salah memilih orang?" Kejadian itu menghancurkan keyakinanku terhadap diriku sendiri, itu yang paling sulit," ungkapnya.
Setelah menjalani terapi, kini ia percaya bahwa ada hubungan yang memang tidak mampu bertahan di bawah tekanan, apalagi jika tekanan tersebut mencakup keamanan finansial dan kepuasan dalam bekerja.
"Saat kami ditempatkan dalam lingkungan yang lebih menantang seperti Jakarta, yang tak mudah bagi siapa pun, hubungan kami langsung runtuh," ujarnya sambil merenung.
Dampak dari perpisahan itu, Mira mengaku, membuatnya mengalami sakit sebagaimana sakit fisik: rasa ditusuk-tusuk seakan ada benda barat yang menghujam dadanya. Awalnya, rasa sakit itu ia coba redam dengan minum-minuman beralkohol dan berpesta bersama teman-temannya.
Ketika semua itu tidak berhasil, ia beralih ke terapi dan pengobatan. Namun keduanya juga hanya menjadi solusi sementara.
Ia pun memutuskan bangkit, kali ini dengan bantuan dating app.
MEMILAH CINTA MELALUI DATING APP
Banyak orang berharap menemukan hubungan jangka panjang atau bahkan menikah dengan orang yang mereka kenal dari dating app. Namun kenyataannya, sebagian justru merasa terjebak dalam siklus match tak berakhir yang jarang berkembang menjadi koneksi bermakna.
Hal ini juga dirasakan Mira. Keinginannya menemukan cinta di dating app sering kali berujung kecewa karena match dengan para "weirdo" yang dengan santainya sering mengirimkan foto alat kelamin mereka.
Namun ia bertekad membuat analisnya sendiri tentang dunia kencan online. Ia pun menerapkan prinsip underpromising while overdelivering.
Contohnya, ia mengunggah foto dirinya yang tidak diedit berlebihan, sehingga ketika bertemu langsung, penampilannya tidak akan berbeda jauh dengan fotonya di dating app.
Langkah berikutnya adalah menyaring calon penipu atau orang-orang mencurigakan. Menurutnya, para pengguna dating app wajib melakukan pencarian online secara matang sebelum bertemu dengan match mereka di dunia nyata.
"Generasi milenial punya satu prinsip: kalau kamu tidak ada di internet, berarti kamu tidak ada," katanya.
"Aku biasanya langsung saja meminta nama lengkap mereka supaya bisa aku cari di Google. Kalau aku tidak bisa menemukan mereka di Google, berarti aku tak bisa mempercayai mereka."
STRATEGI SUDAH SIAP, GAME DIMULAI
Dalam bukunya, Mira memberi julukan pada setiap match Tinder yang paling berkesan. Ada "Director" (pria artistik dan manis, tapi membosankan), "Banker" yang biasanya tinggal di Sentosa Island (sangat kaya, tetapi terlalu terikat dengan pekerjaannya), dan "Pornstar" (sangat baik dan perhatian, dan memang bekerja di industri film dewasa).
Tentu saja, dalam percakapan kami, topik langsung mengarah pada kategori terakhir dan paling menarik di antara ketiganya.
Delapan bulan setelah putus, ia setuju untuk bertemu dengan match dari Tinder di Lombok. Mereka kemudian menghabiskan waktu bersama selama satu minggu.
"Aku mencoba memahami sebenarnya ini tipe hubungan seperti apa," katanya. "Tapi setelah patah hati itu, kupikir, 'Ya sudah, anggap saja ini summer romance'."
Bab yang menceritakan kisah cinta ini mirip seperti adegan dalam film Eat Pray Love (2010), ketika karakter yang diperankan Julia Roberts yang baru bercerai menemukan cinta di pelukan seorang pria asing yang tampan di Bali.
"Kami sama-sama tahu hubungan ini tak akan berujung ke mana-mana. Tidak ada yang akan saling memperkenalkan ke orangtua," katanya. "Rasanya menyenangkan bisa bersama seseorang yang begitu perhatian dan baik."
Lalu, pandemi COVID-19 melanda. Pada saat itu, Mira memang belum berhasil menemukan cinta, tetapi sudah berada di kondisi mental yang jauh lebih baik meski tak lagi bersama dengan pria yang ia temui di Tinder itu.
Lalu, semesta benar-benar menuntunnya menemukan cinta, di Singapura.
DILAMAR BULAN MEI, MENIKAH DI NOVEMBER
Setelah melalui berbagai petualangan cinta, Mira ternyata menemukan pria yang akan menjadi suaminya justru di tempat kerjanya. Namun, takdir mempertemukan mereka melalui dating app.
Pria itu bernama Theo Davis, warga Singapura berusia 45 tahun yang bekerja di bidang penjualan teknologi. Mereka berkenalan lewat Bumble pada 2021 saat Theo masih bekerja di Google.
"Kami mulai sering jalan kaki bersama karena saat itu sedang pandemi dan tak banyak hal lain yang bisa dilakukan," katanya. "Begitu traveling kembali diperbolehkan, kami pergi ke Jerman bersama dan hubungan kami berkembang dari situ."
"Karena kami bertemu di usia yang sudah tidak muda lagi, kami masing-masing membawa pengalaman dan masa lalu. Kami sepakat untuk melupakan masa lalu," katanya.
Kejelasan itu ternyata menjadi fondasi kuat hubungan mereka. Pada Mei 2022, mereka resmi menjadi pasangan. Pada Agustus, mereka bertunangan. Pada November di tahun yang sama, mereka menikah.
Namun, saat itu pun Mira tak berhenti menganalisis hubungannya sendiri. "Saat dia melamar, aku langsung menghitung pro dan kontra di kepalaku. Dalam 15 menit, aku sudah punya jawabannya karena aku tak punya alasan kuat untuk menolaknya," ujar Mira.
Dan tidak seperti rencana pernikahan besar di Bali yang dulu batal terlaksana, pernikahan kali ini berlangsung sederhana di rumah, dihadiri oleh 22 anggota keluarga.
"Setelah pernah mencoba membuat pernikahan besar yang akhirnya batal, aku justru ingin pesta yang sederhana dan intim," kata Mira. "Pestanya sempurna, persis seperti jenis pernikahan yang aku inginkan."
Setahun kemudian, mereka menyambut kelahiran anak pertama mereka, seorang bayi laki-laki.
Mengingat kembali petualangannya hingga menemukan cinta sejati, saya pun memberitahunya bahkan kini dunia kencan sudah berbeda. Banyak anak muda yang merasa cukup bahagia dengan teman, pekerjaan, dan kemampuan traveling ke berbagai belahan dunia, tanpa merasa perlu memiliki pasangan.
Meski memahami sudut pandang tersebut, Mira menyadari pandangan itu tak berlaku untuk dirinya. "Aku merasa ada batas seberapa banyak kepuasan yang bisa kamu dapatkan dari pekerjaan, belanja, atau traveling," katanya.
"Ketika karierku berjalan baik, aku tetap merasa kosong karena tidak ada seseorang untuk berbagi semua itu."
Mira mengakui, bahwa meski ia telah melalui petualangan cinta yang cukup "gila", namun ia tak pernah menyesali berbagai keputusannya di masa lalu yang mungkin kerap terlihat buruk di mata teman dan keluarganya.
Ia juga mendorong siapa pun yang sedang mencari cinta untuk bertemu dengan banyak orang. "Ada pepatah mengatakan bahwa orang yang kamu nikahi akan menjadi keputusan karier paling penting dalam hidupmu," katanya.
"Cobalah berkencan. Orang yang akan menjadi pasanganmu tak akan tiba-tiba muncul begitu saja jika kamu selalu sibuk bekerja!" pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.