Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kronologi sutradara No Other Land asal Palestina dikeroyok pemukim bertopeng, ditangkap militer Israel

Serangan ini diduga aksi balas dendam atas pengakuan international dan penghargaan Oscar untuk film yang mengungkap penghancuran desa-desa di Tepi Barat itu.

Kronologi sutradara No Other Land asal Palestina dikeroyok pemukim bertopeng, ditangkap militer Israel

Rachel Szor (kanan) dan Hamdan Ballal (kiri) berpose dengan Piala Oscar untuk No Other Land sebagai Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards ke-97 di Hollywood, Los Angeles, California, A.S., 2 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mike Blake)

25 Mar 2025 11:46AM (Diperbarui: 15 Sep 2025 10:36AM)

Hamdan Ballal, sutradara asal Palestina untuk film dokumenter pemenang Oscar, No Other Land, ditangkap oleh tentara Israel setelah rumahnya diserang oleh segerombolan pemukim Israel mengenakan topeng. 

Hamdan merupakan salah satu dari empat sutradara film dokumenter No Other Land, yang mendokumentasikan penghancuran desa-desa di Tepi Barat. Penyerangan ini disebut merupakan aksi pembalasan dendam dari kemenangan film tersebut di ajang Oscar tahun ini. 

Menurut lima aktivis Yahudi Amerika yang menyaksikan kejadian tersebut, Hamdan Ballal dikepung dan diserang oleh sekitar 15 pemukim bersenjata di Susya, wilayah Masafer Yatta, selatan Hebron, menurut laporan The Guardian. 

Hamdan Ballal memegang Piala Oscar untuk No Other Land sebagai Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards ke-97 di Hollywood, Los Angeles, California, A.S., 2 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mike Blake)

SAKSI MATA: 'MEREKA MELEMPARI BATU'

"Mereka mulai melempari batu ke arah warga Palestina dan menghancurkan tangki air di dekat rumah Hamdan," ujar Joseph, salah satu aktivis dari Center for Jewish Nonviolence, yang meminta agar nama lengkapnya tidak dipublikasikan demi alasan keamanan.

Para saksi mata mengatakan bahwa sekelompok tentara tiba di lokasi bersama pemukim lain yang mengenakan seragam militer. Mereka mengejar Hamdan hingga ke rumahnya dan menyerahkannya kepada militer.

"Para pemukim menghancurkan mobilnya dengan batu dan merusak salah satu bannya," ungkap saksi lain, Raviv, kepada The Guardian. "Semua jendela dan kaca depan pecah."

Video yang dirilis oleh Center for Jewish Nonviolence memperlihatkan seorang pemukim bertopeng mendorong dan memukul dua aktivis dari kelompok tersebut di lapangan berdebu pada malam hari. 

Para aktivis bergegas kembali ke mobil mereka. "Masuk, masuk!" teriak seseorang, sementara suara hantaman batu ke mobil terdengar jelas.

"Kaca mobil pecah," kata pengemudi saat mereka meninggalkan lokasi, seperti dilaporkan oleh Al Jazeera.

Menurut laporan The Guardian, Hamdan mengalami luka akibat serangan tersebut, kemudian ditangkap tentara Israel. 

Anggota kelompok aktivis yang merekam kejadian itu kemudian masuk ke rumah Hamdan dan menemukan darah berceceran di lantai. 

Anggota keluarganya mengungkapkan darah itu berasal dari luka di kepala Hamdan akibat serangan tersebut.

Hamdan dan seorang pria lain yang diketahui bernama Nasser kemudian ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Tidak jelas alasan di balik penangkapan mereka.

KLAIM MILITER ISRAEL

Dalam pernyataan resminya, IDF (Pasukan Pertahanan Israel) mengklaim telah terjadi konfrontasi kekerasan antara warga Palestina dan pemukim Israel setelah "teroris" melempar batu ke arah warga Israel.

"Pasukan IDF dan Polisi Israel tiba untuk membubarkan konfrontasi. Pada saat itu, beberapa teroris mulai melempar batu ke arah pasukan keamanan," demikian bunyi pernyataan IDF.

"Pasukan menangkap tiga warga Palestina yang dicurigai melempar batu, serta seorang warga Israel yang terlibat dalam konfrontasi tersebut. Para tahanan dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh Polisi Israel."

Basel Adra, salah satu dari empat sutradara No Other Land, yang berasal dari Israel dan Palestina, mengatakan kepada The Guardian bahwa peningkatan kekerasan oleh pemukim mungkin merupakan reaksi atas penghargaan yang diterima film dokumenter No Other Land di ajang Oscar.

Dari kiri: Basel Adra, Rachel Szor, Hamdan Ballal dan Yuval Abraham berpose dengan Piala Oscar untuk No Other Land sebagai Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards ke-97 di Hollywood, Los Angeles, California, A.S., 2 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Daniel Cole)

"Warga Palestina di desa ini hampir setiap hari mengalami serangan fisik dari pemukim. Kekerasan pemukim di sini semakin meningkat. Mungkin ini adalah balas dendam atas film kami dan kemenangan Oscar," ujarnya.

Adra, yang menyaksikan serangan di Susya, menggambarkan kejadian itu sebagai sesuatu yang "mengerikan". 

"Ada puluhan pemukim bersama tentara Israel dan mereka mengancam kami dengan senjata," katanya. 

"Polisi ada di lokasi sejak awal tetapi tidak bertindak. Saat tentara menodongkan senjata ke arah kami, para pemukim mulai menyerang rumah-rumah warga Palestina."

"Hamdan berusaha melindungi keluarganya dan para pemukim menyerangnya. Tentara mulai menembak ke udara agar tidak ada yang bisa membantu Hamdan. Dia berteriak minta tolong. Mereka membiarkan para pemukim menyerangnya, lalu tentara menculiknya," tambahnya.

Sementara, sutradara No Other Land lainnya, Yuval Abraham, yang berasal dari Israel, menulis di X: "Sekelompok pemukim baru saja menganiaya Hamdan Ballal, salah satu sutradara film kami, No Other Land. Mereka memukulinya, dan dia mengalami luka di kepala dan perut serta berdarah. Tentara menyerbu ambulans yang dipanggilnya dan membawanya pergi. Sejak itu, tidak ada kabar tentang dirinya."

Ini bukan kali pertama sutradara dan kru No Other Land menjadi sasaran serangan pemukim Israel.

Pada Februari lalu, Adra juga dikepung dan diserang oleh pemukim Israel bertopeng.

Sebelumnya, pada Senin (24/3) pagi, Adra menulis di X bahwa "pemukim bersenjata dan bertopeng" sedang "melakukan serangan teror di Masafer Yatta".

"Puluhan pemukim mendatangi rumah teman saya, Nasser, di Susya, melempari rumahnya dengan batu, menghancurkan kendaraannya, dan merusak bannya dengan pisau," tambahnya.

"Kami mempertaruhkan nyawa untuk merekam kejadian ini," ujarnya, seraya menekankan bahwa "tentara memerintahkan kami untuk tetap di dalam rumah di desa, sementara mereka yang menyerang dan nyaris membantai penduduk dibiarkan berkeliaran bebas, dengan wajah tertutup, di sekitar desa."

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Israel menyebut kemenangan Oscar untuk film dokumenter kolaborasi Palestina-Israel ini sebagai "momen menyedihkan bagi dunia perfilman."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan