Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Studi: Kecerdasan tidak menjamin seseorang kebal dari teori konspirasi

Orang berpendidikan tinggi justru turut menyebarkan teori konspirasi. Menurut dosen psikologi di Notthingham Trent University, hal ini dipengaruhi cara berpikir seseorang, apakah cepat atau lambat.

Studi: Kecerdasan tidak menjamin seseorang kebal dari teori konspirasi

Beberapa penganut teori konspirasi percaya bahwa pendaratan di Bulan pada 1969 adalah palsu (Foto: Neil Armstrong/NASA)

NOTTHINGHAM, Inggris: Dalam dua dekade belakangan, terutama lima tahun terakhir, ketertarikan ilmiah terhadap teori konspirasi dan orang-orang yang memercayainya kian berkembang. Memang benar, ada anggapan bahwa percaya teori konspirasi terkait dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tapi ternyata, penelitian menunjukkan kebal atau tidaknya seseorang terhadap teori konspirasi tergantung dari cara mereka berpikir.

Para peneliti meyakini bahwa sangat sehat dan penting untuk bersikap skeptis terhadap sebuah peristiwa. Pasalnya, sebuah teori yang penuh konspirasi dapat memiliki konsekuensi yang berbahaya bagi seseorang dan masyarakat.

Beberapa teori konspirasi memang hanya dipercayai sedikit orang. Misalnya konspirasi QAnon yang hanya dipercaya sekitar 8 persen orang di Inggris berdasarkan survei YouGov pada 2021.

Namun, beberapa teori konspirasi dipercaya banyak orang. Pada survei 2018 terhadap warga Eropa, ditemukan bahwa 60 persen responden asal Inggris memercayai setidaknya satu teori konspirasi. Lantas, orang seperti apa yang lebih rentan termakan teori konspirasi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, beberapa penelitian telah dilakukan. Pertama, mari menelaah asumsi soal orang-orang yang menganut teori konspirasi.

Mereka dengan tingkat pendidikan tinggi dilaporkan banyak yang memercayai teori konspirasi. Jadi ternyata, bukan hanya soal tingkat kecerdasan - pendidikan tinggi pun bukan jaminan seseorang kebal dari teori konspirasi.

BERPIKIR KRITIS

Penelitian menunjukkan bahwa cara kita berpikir bisa menentukan kerentanan kita terhadap teori konspirasi. Teori proses ganda menunjukkan bahwa kita memiliki dua cara dalam memproses informasi.

Pertama adalah cara cepat. Ini adalah cara berpikir intuitif yang disandarkan pada pengalaman dan firasat seseorang. Kedua adalah cara lambat, sebuah cara berpikir analitis dengan melalui pemprosesan informasi yang terperinci dan elaboratif.

Maka dari itu, kita kerap melihat orang yang tak termakan teori konspirasi tidak selalu lebih pintar, tapi mereka mau bersusah payah berpikir secara analitis.

Misalnya, penelitian di Inggris pada 2014 menunjukkan bahwa responden yang menjawab iya untuk pernyataan "saya menikmati menyelesaikan masalah yang membutuhkan pemikiran keras" cenderung tidak mudah percaya teori konspirasi. Penelitian itu juga menyebutkan, responden yang malas berpikir dan hanya menggunakan intuisi punya kecenderungan lebih tinggi untuk menganut teori konspirasi.

Penelitian dengan uji refleksi kognitif di 45 negara pada 2022 lalu juga menunjukkan hal yang sama. Bertujuan untuk mengukur tingkat pemikiran analitis dengan tiga pertanyaan, penelitian itu menemukan bahwa responden yang punya gaya berpikir keras tidak mudah termakan teori konspirasi COVID-19.

Berpikir kritis adalah kemampuan yang sangat berharga, terutama di dunia pendidikan, dan terbukti mampu membentengi seseorang dari teori konspirasi. Memang lebih sulit, namun dengan cara berpikir seperti ini seseorang akan mampu mengidentifikasi adanya inkonsistensi dalam sebuah teori. Kemudian, dia akan mencari sumber lain untuk memverifikasi informasi yang ada.

GAYA BERPIKIR TIDAK BERBANDING LURUS DENGAN KECERDASAN

Sebuah penelitian pada 2021 mengindikasikan bahwa gaya berpikir intuitif tidak terkait dengan seberapa cerdas seseorang. Jadi, bahkan orang yang sangat cerdas sekalipun dapat termakan teori konspirasi - jika mereka memilih berpikir cepat dan bergantung pada intuisi.

Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan akan teori konspirasi terjadi akibat bias kognitif yang muncul ketika seseorang mengandalkan jalan pintas mental saat memproses informasi. Pertama, kepercayaan akan teori konspirasi muncul karena keyakinan bahwa hal besar terjadi karena sesuatu yang besar pula.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai bias proporsionalitas. Penganut teori konspirasi sulit menerima jika peristiwa besar yang mengubah dunia (misalnya, kematian presiden akibat pandemi COVID-19) hanya karena sebab yang "kecil" (misalnya virus).

Inilah sebabnya gaya berpikir yang bergantung pada perasaan dan intuisi dapat membuat orang mendukung teori konspirasi.

Contoh lain gaya berpikir intuitif yang mendorong teori konspirasi adalah conjunction fallacy. Conjunction fallacy adalah keyakinan keliru bahwa kemungkinan dua peristiwa independen yang terjadi bersamaan lebih tinggi daripada peristiwa yang terjadi sendiri-sendiri.

Contohnya seperti ini: Linda berusia 31 tahun, lajang, blak-blakan dan sangat cerdas. Dia kuliah jurusan filsafat. Sebagai mahasiswa, dia sangat peduli dengan isu-isu diskriminasi dan keadilan sosial, dan kerap ikut demo anti-nuklir. Dari kasus Linda ini, mana yang lebih mungkin?

a) Linda menjadi teller bank.

b) Linda menjadi teller bank dan aktif dalam gerakan feminis.

Jawaban yang paling mungkin adalah a) Linda menjadi teller bank, karena secara statistik kemungkinan untuk terjadinya satu hal lebih tinggi ketimbang kombinasi dua hal. Namun, riset menunjukkan bahwa kesalahan conjunction fallacy yang lebih tinggi punya keterkaitan erat dengan keyakinan konspiratif. Jadi, orang yang punya kecenderungan percaya teori konspirasi akan lebih memilih b.

SEMUA ORANG RENTAN

Paparan terhadap teori konspirasi juga telah secara konsisten meningkatkan kerentanan seseorang untuk memercayainya. Bahkan terkadang mereka sendiri tidak sadar telah berubah keyakinan.

Memang terdengar mengkhawatirkan seseorang bisa menjadi rentan percaya teori konspirasi. Namun, berbagai studi ini telah membantu peneliti untuk menemukan intervensi yang tepat dalam meningkatkan gaya berpikir kritis dan analitis, demi membentengi diri dari teori konspirasi. Tinjauan tahun 2023 terhadap 25 studi yang berbeda menemukan bahwa berbagai jenis intervensi ini adalah alat yang menjanjikan untuk mencegah dampak berbahaya dari keyakinan konspiratif.

Semakin kita memahami psikologi di balik teori konspirasi, semakin siap kita untuk menampiknya.

Darel Cookson adalah Dosen Psikologi Senior di Nottingham Trent University. Artikel opini ini pertama kali muncul di The Conversation.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan