Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Mengapa dunia begitu terobsesi dengan payudara perempuan?

Mulai dari kontroversi soal push-up bra, polemik menyusui anak di ruang publik, hingga perbincangan seputar kanker payudara, dada perempuan sudah lama menjadi objek seksualitas dan tak pernah lepas dari penilaian orang lain.

Mengapa dunia begitu terobsesi dengan payudara perempuan?

Mulai dari bra push-up hingga perdebatan seputar menyusui dan pembicaraan tentang kanker payudara, payudara perempuan telah lama diseksualisasi dan menjadi sorotan. (Ilustrasi: CNA/Jasper Loh)

Sepertinya kejadian ini sudah lewat satu dekade yang lalu. Saat itu sedang jam makan siang dan teman menarik tangan saya, kemudian meminta saya menyentuh payudara barunya. "Lihat, deh, payudara baruku," dia terkikik dengan bahagianya. "Aku operasi di Korea. Rasanya seperti sungguhan, bukan? Sudah dari dulu aku ingin memperbesarnya!"

Jujur, memang seperti sungguhan. Sebagai seorang liberal yang berpikiran terbuka, ini merupakan salah satu dari beberapa pengalaman yang sempat membuat saya sedikit terkejut. Akan tetapi, saya tetap menyampaikan selamat untuknya atas payudara barunya. Sebab, hal semacam ini merupakan suatu kemenangan. Dan saya sendiri belum pernah menyentuh payudara perempuan lain sebelumnya.

Akhir-akhir ini, setiap kali saya membahas tentang payudara dengan teman perempuan, pembahasannya semakin muram, seperti kanker payudara, masektomi dan rekonstruksi.

Ironisnya, butuh ada sebuah penyakit dulu agar kita bisa menerabas tabu untuk mendiskusikan secara terbuka tentang apa arti payudara bagi kita; kesadaran dan diskusi yang biasanya hadir karena penyakit di masa tua.

Saat usia 20-an dan 30-an, payudara kita sering menjadi pokok pembicaraan dan objek seksual dalam pandangan laki-laki. Saya ingat kejadian di tahun 2000-an ketika saya dipanggil ke kantor bos untuk membicarakan gaun saya.

Meskipun saya bekerja di industri majalah fashion, suatu hari saya pernah ditanya perihal apakah saya memakai bra di balik dress hitam (yang menurut saya) trendi yang saya kenakan ke kantor. Dress itu menutupi bagian dada dengan lubang lengan yang sedikit lebih longgar, jadi saya rasa tak lagi perlu mengenakan bra karena potongannya sudah cukup menutupi.

Tahu-tahu, saya dipanggil oleh bos untuk membahas dress yang rupanya memperlihatkan sedikit sisi payudara (betul, ternyata saya sudah lebih dulu bergaya dengan dress yang menonjolkan "side-boob" sebelum "side-boob" menjadi tren saat ini).

Dress itu dinilai memancing "banyak laki-laki yang mendatangi area sekitar meja saya untuk mengintip sisi payudara saya," hal yang sama sekali tidak saya sadari karena sibuk mengetik di komputer.

Pada kesempatan lain, saya memakai atasan dengan bagian punggungnya terbuka sebagian (semi-backless). Lagi-lagi, saya menerima pertanyaan soal saya pakai bra atau tidak, kali ini dari rekan kerja. Kini, untungnya, menanyakan pertanyaan semacam itu sudah dianggap tak sopan. 

Seorang teman penulis pernah mengajaknya untuk melihat langsung hasil operasi pembesaran payudaranya. (Foto: iStock/ZeynepKaya)

MENYOAL PAYUDARA PEREMPUAN

Menurut saya, payudara kerap menjadi organ yang memiliki beban sosial paling besar ketimbang bagian tubuh lainnya.

Mulai dari perannya dalam memberi kehidupan sekaligus sumber nutrisi bagi bayi, pernyataan politik (seperti dalam aksi pembakaran bra pada akhir 1960-an dan gerakan Free the Nipple pada 2012), hingga objek seksualitas.

Dari zaman ke zaman, payudara perempuan pernah melalui berbagai hal: digunakan untuk menyusui, dipompa, diplester, dipakaikan korset agar terangkat, lalu diperbesar atau diperkecil dengan operasi.

Sekarang, kita gencar menggaungkan slogan pemberdayaan seperti "pamerkan saja!" (karena pemberian Tuhan harus dirayakan). Namun, begitu melihat komentar di media sosial, kemunafikan kita pun segera tersingkap.

Ketika kita, sebagai sesama perempuan, merasa risih melihat payudara perempuan lain yang dipamerkan secara gamblang, atau bahkan dengan payudara kita sendiri, sebenarnya kita sebenarnya sedang memandang perempuan melalui pandangan ala laki-laki (male gaze) yang patriarkis, yang seharusnya kita lawan.

Mungkin kita tanpa sadar melihat tubuh perempuan tersebut sebagai objek pemenuhan hasrat laki-laki, atau dalam istilah Gen Z disebut sebagai sosok "pick me".

Mereka yang pernah hidup di tahun 90-an pasti ingat bagaimana saat itu push-up bra viral di mana-mana. Tiga dekade lalu, Victoria's Secret, jenama yang dibangun oleh dan untuk kepentingan tatapan laki-laki, mewariskan generasi perempuan dan laki-laki yang terobsesi dengan belahan payudara perempuan yang terlihat sempurna.

Bahkan, aktivitas menyusui pun tak luput dari penilaian orang lain, termasuk berbagai pertanyaan seputar seberapa besar, seberapa sering, dan seberapa lama.

Kendati Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF terus mendorong para ibu untuk menyusui karena adanya berbagai manfaat kesehatan jangka panjang, kelihatannya masyarakat masih sulit memutuskan di mana dan bagaimana para ibu boleh menyusui di ruang publik.

Meskipun menyusui bayi sangat dianjurkan, praktik ini masih menjadi pembahasan yang sensitif bagi masyarakat yang kerap menghakimi seberapa besar payudara dapat terlihat di ruang publik ketika menyusui. Namun, "kesopanan" ini ditentukan oleh orang lain, sehingga standarnya pun bervariasi.

Mulai dari aksi pembakaran bra pada tahun 1960-an hingga perbincangan seputar menyusui, payudara menjadi bagian tubuh perempuan yang paling dihakimi. (Foto: iStock/Svitlana Ozirna)

BERSATU MENGHADAPI KANKER PAYUDARA

Anehnya, masalah kesehatan payudara justru seakan menjadi pemersatu masyarakat. Di usia saya yang paruh baya saat ini, hati saya remuk melihat rekan-rekan sebaya saya didiagnosis menderita kanker payudara dalam berbagai stadium.

Di Singapura, lebih dari 2.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara setiap tahunnya, dan sekitar satu dari 12 perempuan berisiko mengalami kanker dalam hidupnya, menurut data Singapore Cancer Registry.

Konsultan Senior dan Dokter Bedah Payudara di Solis Breast Care and Surgery Centre, dr. Tan Yah Yuen,  mengamati adanya perubahan persepsi dan perbincangan seputar topik tersebut selama dua dekade menekuni bidang ini.

"Angelina Jolie tentunya punya andil besar dalam meningkatkan kesadaran dan memulai percakapan seputar kanker payudara dan perawatan pencegahan ketika dia menceritakan tentang masektomi gandanya pada 2013," kata dr. Tan.

Dia melihat bagaimana perempuan milenial berusia 30-an dan 40-an cenderung lebih berpendirian dan menerima diagnosis mereka serta program perawatannya. Bahkan, beberapa di antaranya menolak rekonstruksi payudara.

Menyaksikan teman saya melewati perjalanan itu semua, mulai dari diagnosis, perawatan, operasi, hingga pemulihan, membuat saya sadar betul betapa hidup dapat serapuh itu.

Ada banyak penilaian sosial terhadap tubuh perempuan, namun kanker payudara tampaknya mampu menyatukan para perempuan. (Foto: iStock/thomasandreas)

Penyakit kanker memang akan mengubah pandangan seseorang tentang kehidupan, bahkan ketika bukan kita yang menderitanya. Namun, kanker payudara membawa stigma tambahan pada citra tubuh dan jati diri seorang perempuan.

Pembahasan yang paling jarang dibahas adalah bagaimana kanker payudara dapat menggerus seksualitas perempuan. Semua perawatan seperti operasi, kemoterapi, dan terapi hormon menyebabkan perempuan mengalami menopause dini. Komplikasi-komplikasi tersebut tentunya butuh sistem dukungan yang lebih besar.

Namun, yang membuat saya terharu adalah melihat para perempuan saling mendukung satu sama lain, menghadapi kanker payudara bersama-sama, dan memicu pertanyaan di benak saya: Mengapa kita perlu menjadi rapuh dulu agar bisa bersatu? Mengapa payudara kita, yang seharusnya menjadi simbol kekuatan perempuan, selalu menimbulkan perpecahan?

Contohnya saja ketika Sophia Loren tertangkap kamera sedang menatap sinis ke arah belahan dada Jayne Mansfields yang dianggap terlalu terbuka di pesta Hollywood.

Foto yang viral di media sosial itu menjadi cerminan hubungan rumit antara dunia dengan dengan payudara perempuan, yang kerap kami mengundang decak kagum, penilaian, cerca, dan rasa hina.

Bagaimana kita menerima keperempuanan dan seksualitas kita? Kapan sesuatu dianggap berlebihan, atau kapan hal itu disebut "tidak berlebihan sama sekali"?

Setidaknya aktris asal Amerika, Scarlett Johansson, simbol seks perempuan generasi milenial yang bertubuh sintal, yang perjalanan kariernya tidak lepas dari bagaimana tubuhnya dipandang dan dibicarakan, sadar betul dan menerima bahwa bentuk tubuhnya merupakan langkah bisnis yang cerdas. Hal itu pun kini membuatnya menjadi salah satu aktris paling laris di Hollywood.

Andai saja kita dapat menerima tubuh kita, dan tubuh sesama perempuan, dengan cara pandang seperti itu.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan