Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Squid Game season 3 seharusnya happy ending, ini alasan sutradara mengubahnya

Menurut sang kreator, serial ini sejak awal memang ditujukan sebagai cermin dari realitas dunia masa kini.

Squid Game season 3 seharusnya happy ending, ini alasan sutradara mengubahnya

Sutradara serial Squid Game, Hwang Dong-hyuk, menghadiri acara promosi season 2 untuk serial ini di Los Angeles, California, AS, pada 3 November, 2024. (Foto: REUTERS/Mario Anzuoni)

08 Jul 2025 02:08PM (Diperbarui: 08 Jul 2025 04:37PM)

Squid Game season 3 ternyata awalnya ingin ditutup dengan happy ending, kesimpulan dari kisah perjuangan Seong Gi-hun berakhir bahagia. Namun, dalam wawancara terbaru, sang kreator, Hwang Dong-hyuk, memutuskan menutup kisah thriller ini dengan lebih tragis. Apa alasannya? 

Peringatan: tulisan ini mengandung spoiler Squid Game season 3. Lanjutkan membaca jika kamu sudah menonton episode terakhir Squid Game season 3 yang kini sedang tayang di Netflix

Setelah hampir dua pekan penayangan, reaksi penonton sangat beragam terhadap serial Korea yang fenomenal ini. Sebagian penonton memuji plot twist yang menegangkan, namun tidak sedikit pula yang mengkritik kurangnya kreativitas dalam musim ini dibanding musim pertama. 

Penonton juga menyoroti ending-nya, ketika Gi-hun (diperankan Lee Jung-jae) meninggal demi menyelamatkan seorang bayi yang lahir di tengah permainan mematikan.

Dalam sebuah twist yang tak kalah mengejutkan, Hwang mengungkap bahwa rencana awal sebenarnya jauh lebih optimis dan happy ending

"Saat pertama kali memikirkan season kedua, aku punya ide samar bahwa Gi-hun akan kembali ke permainan — mungkin untuk menghancurkannya atau setidaknya membantu beberapa orang melarikan diri — lalu pergi menemui putrinya di AS," kata Hwang pada awal pekan ini di Seoul, dikutip dari The Korea Herald. 

"Itu garis besar cerita yang sempat terpikirkan. Tapi saat mulai menulis naskah secara serius, aku bertanya pada diri sendiri, 'Cerita seperti apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan?' Dan dari situ aku sadar bahwa perjalanan Gi-hun memang harus berakhir di sini," tuturnya. 

Foto di balik layar syuting serial Squid Game. (Foto: Dok. Netflix)

Menurut Hwang, serial ini sejak awal memang ditujukan sebagai cermin dari realitas dunia masa kini.

"Dibanding saat aku menciptakan Season 1, kondisi dunia sekarang justru makin parah. Ketimpangan ekonomi makin tajam, hidup orang biasa jadi makin sulit, dan perang terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan berakhir," ujarnya.

"Tiap tahun rasanya situasi makin serius. Tapi manusia tampaknya kehilangan kemauan atau kemampuan untuk memperbaikinya. Kalau keadaan terus begini, masa depan terlihat sangat suram. Dan itu realitas yang menurutku perlu diangkat," ungkapnya. 

Ending tragis Gi-hun, menurutnya, dimaksudkan untuk menekankan pesan tersebut — menggambarkan "perjalanan menyakitkan dari sosok seperti Gi-hun, orang biasa atau bahkan di bawah rata-rata."

Selain menyampaikan pesan sosial, kekuatan lain dari Squid Game yang sukses menarik perhatian penonton global adalah penggunaan permainan tradisional anak-anak Korea yang disulap menjadi tantangan hidup atau mati.

Namun, memilih permainan untuk Season 3 ternyata bukan urusan gampang, menurut Hwang.

"Kelihatannya semua jenis permainan bisa dipakai, tapi saat benar-benar dicoba untuk diadaptasi, ternyata sangat menantang," jelasnya. 

"Kita harus pikirkan bagaimana para pemain bisa dieliminasi, dan permainan itu harus memberi ruang cukup untuk perkembangan karakter dan cerita. Aturannya juga harus jelas agar batas antara gagal dan berhasil bisa ditentukan dengan tegas," ujarnya. 

Beberapa permainan akhirnya tidak lolos seleksi. Hwang sempat mempertimbangkan permainan "Kenapa kamu datang ke rumahku?" yang mengandalkan suit (batu-gunting-kertas), tapi dianggap kurang memiliki ketegangan naratif. 

Ide lain melibatkan pemain yang diikat pada ban berjalan dalam permainan "Buka gerbang Dongdaemun", namun akhirnya dibatalkan karena terlalu acak dan minim pengaruh karakter.

Satu permainan yang lolos dan tampil di serial adalah petak umpet, yang diubah menjadi pertarungan langsung hingga mati antar peserta.

"Seperti permainan kelereng di episode empat Season 1, aku ingin game keempat kali ini jadi yang paling emosional — momen hidup atau mati bagi karakter. Makanya aku tambahkan elemen pembunuhan: untuk memperkuat ketegangan dramatis," ungkap Hwang.

Final season ini juga menghadirkan kejutan besar: aktris peraih Oscar, Cate Blanchett, muncul sebagai perekrut yang memainkan permainan ddakji dengan kandidat baru di Amerika Serikat.

Hwang mengatakan kehadiran Blanchett adalah keputusan yang disengaja untuk memberikan kejutan tak terduga.

"Di Korea, yang main ddakji adalah pria (Gong Yoo), jadi aku pikir akan menarik kalau di AS yang muncul adalah karakter perempuan," tuturnya.

Adegan terakhir di AS dan kameo Blanchett sempat memicu spekulasi soal adanya remake atau sekuel versi Amerika. Tapi Hwang buru-buru membantah rumor tersebut.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan