Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Skandal pesta seks Sean 'Diddy' Combs: Korban dipaksa berhubungan, barang bukti narkoba dan 1.000 pelumas

Dalam dokumen dakwaan terhadapnya di pengadilan, Combs dituduh memaksa para korban untuk terlibat dalam Freak Offs, pesta seks yang penuh kekerasan dan bisa berlangsung selama beberapa hari.

Skandal pesta seks Sean 'Diddy' Combs: Korban dipaksa berhubungan, barang bukti narkoba dan 1.000 pelumas

Mogul musik hip-hop Sean "Diddy" Combs. (Foto: Reuters/Eduardo Munoz)

19 Sep 2024 03:59PM (Diperbarui: 27 Feb 2025 09:36AM)

Sean "Diddy" Combs resmi mendekam di penjara pada Selasa (17/9) sembari menunggu proses persidangan atas tuduhan perdagangan seks di pengadilan federal New York, Amerika Serikat. Sang taipan musik yang dikenal dengan nama P. Diddy ini dituduh menggelar pesta seks dengan sejumlah tuduhan berat, termasuk kejahatan seksual, perdagangan seksual, pemerasan, dan kekerasan.

Menurut laporan Page Six, Diddy ditangkap pada Senin (16/9) di Manhattan, sekitar enam bulan setelah pihak berwenang federal menggerebek rumah mewahnya di Los Angeles dan Miami.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi menyita narkoba, video pertunjukan pesta seks, serta lebih dari 1.000 botol pelumas dan minyak bayi, menurut dokumen tuntutan dari jaksa. 

Pihak berwenang juga menyita senjata api dan amunisi, termasuk tiga senapan AR-15 dengan nomor seri yang sudah dihapus, yang disimpan di lemari di rumahnya di Miami.

Diddy menghadapi dakwaan atas konspirasi pemerasan dan perdagangan seks. Dakwaan terhadapnya memuat tuduhan yang diajukan sejak tahun 2008.

Dia dituduh memaksa korban perempuan dan pekerja seks laki-laki untuk terlibat dalam pertunjukan seksual yang dapat berlangsung selama beberapa hari, atau yang disebut sebagai Freak Offs. 

PESTA SEKS

Salah satu tuduhan datang dari mantan pacarnya, penyanyi R&B Cassie, yang mengalami kekerasan dan terekam dalam video.

Pendiri Bad Boy Records ini juga dituduh melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap sejumlah perempuan. Kasus itu kemudian ditutupi oleh asisten pribadi, staf keamanan dan staf rumah tangga yang diperkejakan oleh Diddy. 

Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa jaksa telah mewawancarai lebih dari 50 korban dan saksi, dan mereka memperkirakan jumlah itu akan bertambah. 

Selain barang bukti yang ditemukan di rumah Diddy, jaksa akan menggunakan catatan keuangan, perjalanan, tagihan, data elektronik dan komunikasi, serta berbagai video pesta seks Freak Offs untuk membuktikan kasus ini. 

Jika terbukti bersalah atas semua tuduhan ini, Diddy bisa menghadapi hukuman minimal 15 tahun penjara, dengan kemungkinan hukuman seumur hidup.

Dokumen pengadilan menyebutkan bahwa Diddy merupakan pemimpin organisasi kriminal yang terlibat dalam perdagangan seks, kerja paksa, transportasi lintas negara untuk tujuan prostitusi, penyalahgunaan narkotika, penculikan, pembakaran, penyuapan, dan upaya untuk menghalangi keadilan.

Diddy dan rekan-rekannya menggunakan "kekuasaan dan prestise" untuk mengintimidasi dan memikat sejumlah perempuan ke dalam lingkaran sosialnya, "seringkali dengan dalih hubungan romantis," menurut dokumen dakwaan di pengadilan. 

Dokumen itu juga menyebutkan bahwa Diddy menggunakan berbagai tindak kekerasan, ancaman, dan paksaan untuk memaksa sejumlah perempuan berhubungan dengan pekerja seks laki-laki dalam pesta seks Freak Offs yang direkam menjadi puluhan video. 

BERKUASA ATAS KORBAN

Dalam pesta itu, Diddy menyediakan narkoba, mengancam karier mereka, memanfaatkan dukungan finansialnya, serta menggunakan intimidasi dan kekerasan. 

Dalam menyelenggarakan pesta seks yang dapat berlangsung berhari-hari itu, Diddy dibantu stafnya untuk mengurus perjalanan, akomodasi hotel serta menyediakan narkoba dan pelumas. 

Para korban juga disebut kerap kali menerima cairan infus untuk memulihkan diri dari kelelahan dan penggunaan narkoba setelah pesta tersebut. 

Diddy juga disebut kerap mencekik, mendorong, memukul, dan menendang para korbannya dalam pesta tersebut, menyebabkan para korban cedera dan perlu beberapa hari, bahkan beberapa pekan, untuk sembuh. 

Para korban yang ingin melarikan diri akan dilacak oleh para staf Diddy. 

Diddy juga menggunakan rekaman pesta seks tersebut untuk mengancam para korban dan membuat mereka tetap tutup mulut. 

Diddy juga kerap mengiming-imingi korbannya dengan peluang karier, mengancam mencabut bantuan finansial yang dia berikan.

Lebih parahnya lagi, Diddy bahkan berkuasa untuk menentukan gaya berpakaian korban, memantau catatan kesehatan mereka, bahkan mengendalikan tempat tinggal mereka. 

Menjelang akan ditangkap, Diddy dan rekan-rekannya memaksa korban bersaksi dengan keterangan palsu yang sudah direncanakan sebelumnya. 

Dalam dokumen tuntutan di pengadilan, jaksa menuduh Diddy, dan seorang konspirator yang tidak disebutkan namanya, menculik seseorang dengan menodongkan senjata kepada orang tersebut pada Desember 2011. Ia memaksa orang tersebut melakukan perampokan di rumah orang lain. 

Dua minggu kemudian, menurut tuntutan jaksa, Diddy membakar kendaraan seseorang dengan memotong atap mobil konvertibelnya dan menjatuhkan bom molotov di dalamnya.

Jaksa juga menyebutkan bahwa Diddy berusaha menyuap dan mengintimidasi saksi serta korban agar tetap tutup mulut.

"Sederhananya, dia adalah pelaku kekerasan seksual berulang yang dapat menutupi kejahatannya," kata Asisten Jaksa AS Emily Johnson di pengadilan.

PEMBELAAN DIDDY

Meskipun demikian, Diddy bersikeras ia "tidak bersalah," di pengadilan dalam persidangan untuk mendengar berbagai tuduhan yang ditujukan kepadanya, Selasa (17/9). 

Hakim Magistrat AS Robyn Tarnofsky kemudian menolak melepaskan Diddy dengan jaminan. Sehingga, Diddy harus mendekam di tahanan sembari menunggu persidangan berikutnya. 

Kuasa hukum Diddy, Marc Agnifilo, berpendapat kasus ini bermula dari satu hubungan jangka panjang yang konsensual dan berakhir karena perselingkuhan. 

Dia tidak menyebutkan nama perempuan tersebut, tetapi kemungkinan besar adalah hubungan Diddy dengan Cassie, yang memiliki nama asli Casandra Ventura.

Pada November lalu, Ventura mengajukan gugatan yang menuduhnya memukul dan memperkosanya selama bertahun-tahun. 

Dia menuduh Diddy memaksanya, dan sejumlah orang lain, untuk melakukan seks yang tidak diinginkan di bawah pengaruh narkoba.

Gugatan itu diselesaikan dalam satu hari, tetapi beberapa bulan kemudian, CNN menayangkan rekaman keamanan hotel yang menunjukkan Diddy meninju dan menendang Ventura serta melemparkannya ke lantai. 

Setelah video itu tayang, Diddy meminta maaf, mengatakan, "Saya merasa jijik ketika melakukannya."

Agnifilo berargumen bahwa Freak Offs merupakan pesta seks yang berawal dari hubungan Diddy dengan perempuan yang tidak disebutkan namanya itu. 

Kuasa hukum Diddy itu juga menegaskan bahwa Freak Offs merupakan pesta seks yang konsensual dan tanpa paksaan. 

"Apakah ini perdagangan seks? Tidak, jika semua orang memang ingin melakukannya," kata Agnifilo, yang juga berpendapat bahwa pihak kepolisian telah melanggar privasi kliennya.

Pengacara Diddy mengatakan bahwa kliennya tidak memiliki senjata yang ditemukan dalam penggerebekan di rumahnya di Miami, dan berdalih itu milik perusahaan keamanan yang ia rekrut. 

Seluruh skandal seks ini terjadi di balik kedok bisnis musik, gaya hidup, dan pakaian global yang dikelola Diddy.

Diddy memang merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam hip-hop, sebelum berbagai tuduhan muncul selama setahun terakhir ini. 

Kuasa hukum Diddy mengakui kliennya "bukan orang yang sempurna", dan mengakui bahwa Diddy pernah menggunakan narkoba dan berada dalam hubungan toksik. Ia kini sedang menjalani pengobatan dan terapi.

"Bukti dalam kasus ini sangat bermasalah," tutur pengacara Diddy di pengadilan. Ia juga berencana mengajukan banding terhadap keputusan penjara tanpa jaminan tersebut. 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan