Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Suara terakhir gadis cilik di Gaza ungkap pilunya perang dalam The Voice of Hind Rajab

Diangkat dari kisah nyata, film ini memadukan dramatisasi dan rekaman suara asli gadis cilik di Gaza yang meminta tolong di tengah hujan tembakan pasukan Israel.

Suara terakhir gadis cilik di Gaza ungkap pilunya perang dalam The Voice of Hind Rajab

Potongan adegan dalam film The Voice of Hind Rajab. (Foto: Instagram/@KlikFilm)

26 Nov 2025 02:43PM (Diperbarui: 26 Nov 2025 02:47PM)

Film The Voice of Hind Rajab mengangkat kisah nyata seorang gadis cilik Palestina bernama Hind Rajab, yang tewas secara tragis dalam serangan Israel di Gaza pada 29 Januari 2024.

Melalui perpaduan rekaman suara asli dan dramatisasi, film ini menjadi simbol keputusasaan sekaligus keberanian warga Gaza di tengah kecamuk perang.

Dirilis sebagai docudrama produksi Tunisia dan Prancis, karya Kaouther Ben Hania ini menyusun kembali detik-detik panggilan darurat yang dilakukan Hind Rajab.

Di suatu hari yang nahas itu, Hind terjebak di dalam mobil ketika ia dan keluarganya mencoba mengungsi. Setelah keluarganya terbunuh, Hind menjadi satu-satunya yang masih hidup dan berusaha menghubungi relawan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk menjemputnya.

Nahas, Hind harus gugur ketika serangan tank Israel terus menghujam. Jasad Hind dan sepupunya baru ditemukan pada 10 Februari 2024, setelah pasukan Israel ditarik dari wilayah tersebut.

Potongan adegan dalam film The Voice of Hind Rajab. (Foto: Instagram/@KlikFilm)

MENYAYAT HATI

Film ini dibangun dari rekaman audio asli percakapan Hind dengan para relawan. Kalimat di layar pada awal film menegaskan, "Suara-suara di telepon itu nyata."

Omar (Motaz Malhees), salah satu petugas panggilan darurat, menerima telepon dari seorang pria di Jerman yang mengabarkan bahwa keluarganya ditembaki dan keponakannya masih hidup di dalam mobil.

Ketika panggilan dialihkan dan suara Hind terdengar, situasi berubah mencekam. Hind bersembunyi seorang diri, dikelilingi jenazah bibi, paman, dan sepupu-sepupunya. Suaranya bergetar, penuh ketakutan, tetapi ia terus meminta tolong.

"Aku takut, tolong jemput aku, tank-nya makin dekat," ujar Hind.

Omar dan rekan-rekannya, termasuk Rana (Saja Kilani), berusaha menenangkannya sambil berdebat soal rute aman yang harus mendapat lampu hijau dari pihak berwenang.

Mahdi (Amer Hlehel), kepala koordinator, mengingatkan bahwa ambulans tidak bisa begitu saja masuk ke zona berisiko. Keputusan mereka berpacu dengan waktu, tetapi juga dibatasi protokol.

Tidak ada tembakan sinematik atau adegan heroik. Justru melalui suara Hind dan visual para relawan di kantor panggilan, penonton dipaksa merasakan ketidakberdayaan yang sesungguhnya terjadi saat perang.

Potongan adegan dalam film The Voice of Hind Rajab. (Foto: Instagram/@KlikFilm)

PANGGILAN NURANI

Meskipun tragis, film ini menjadikan suara Hind simbol harapan yang menembus hiruk-pikuk konflik.

Direktur KlikFilm, Frederica, yang membawa film ini ke Indonesia, menegaskan: "Ini bukan hanya sebuah film. Ini adalah panggilan nurani, untuk membuka mata terhadap realitas di Gaza, melalui suara seorang anak yang tak lagi bisa bersuara."

"Kami dengan senang hati menghadirkan film ini di Indonesia," ujarnya, dikutip dari Liputan6.

Sementara, mantan gubernur Jakarta, Anies Baswedan, yang menghadiri press screening, dalam unggahannya di Instagram mengungkapkan film ini merupakan "kesaksian tentang keberanian untuk tetap mendengar ketika dunia memilih diam."

"Kesaksian tentang kemanusiaan yang mencoba bertahan di tengah pecahnya desingan suara peluru."

"Kisah Hind Rajab, seorang anak kecil yang menelepon meminta tolong di tengah hujan tembakan adalah kisah yang menembus batas negara, menembus batas agama, menembus batas politik. Ini adalah suara yang seharusnya tidak pernah padam," lanjut Anies.

"Dan melalui film ini, kita semua menjadi saksi bahwa suara itu pernah ada, pernah memohon, dan tidak pernah dijawab oleh dunia yang seharusnya melindunginya," ujar Anies. 

Anies juga memuji keberanian para sineas pembuat film ini. "Kita perlu mengapresiasi keberanian sineas seperti Ben Hania ini yang menggunakan suara asli sebagai pusat narasi. Di tangannya, suara itu menjadi medium perlawanan, menjadi saksi yang tidak dapat dibantah, yang memaksa kita untuk tidak menutup mata dari menit pertama.

"Palestina sedang mempertahankan bukan hanya tanahnya, tapi juga hak mereka untuk hidup sebagai manusia," ungkap Anies.

Sejak premier di Festival Film Venesia ke-82 pada 3 September 2025, film ini langsung meraih Grand Jury Prize serta disambut penonton dengan standing ovation hingga 23 menit, salah satu yang terpanjang dalam sejarah festival tersebut, menurut laporan Variety.

Kesuksesan film ini diperkuat oleh keterlibatan sejumlah tokoh Hollywood. Brad Pitt, Joaquin Phoenix, Rooney Mara, Alfred Cuaron, hingga Jonathan Glazer bertindak sebagai produser eksekutif. 

Film ini juga dipilih sebagai perwakilan Tunisia untuk kategori Best International Feature Film Piala Oscar 2026.

The Voice of Hind Rajab akan diputar di markas PBB di New York, Amerika Serikat, pada 4 Desember 2025, dilanjutkan diskusi panel bersama sang sutradara, Kaouther Ben Hania, serta para pemeran film.

The Voice of Hind Rajab tayang mulai Rabu, 26 November 2025, di sejumlah bioskop di Indonesia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan