Kisah banjir bandang di ambang kiamat, Kim Da-mi comeback di The Great Flood
Totalitas akting Kim dan bintang Squid Game, Park Hae Soo, dibalut visual ekstrem di bawah air menjadikan film ini thriller survival menegangkan di Netflix.
Potongan adegan dalam film The Great Flood yang menampilkan akting Kim Da-mi. (Foto: Dok. Netflix)
Setelah hampir tiga tahun, aktris Kim Da-mi akhirnya kembali ke film layar lebar lewat film terbaru berjudul The Great Flood. Dalam film bergenre survival thriller in disaster yang kental akan elemen sci-fi ini, Kim beradu peran dengan bintang Squid Game, Park Hae-soo.
Tayang perdana di Festival Film Busan, The Great Flood menawarkan pendekatan berbeda dalam genre film bencana. Ketika banjir besar menenggelamkan dunia, cerita berpusat pada sekelompok kecil penyintas yang terjebak di dalam sebuah apartemen yang perlahan terendam air.
Di ruang yang semakin menyempit, perjuangan hidup dan mati pun menjadi fokus utama, menghadirkan ketegangan yang terus meningkat dari menit awal hingga akhir cerita.
Disutradarai oleh Kim Byung-woo, film ini berlatar pada hari kiamat umat manusia setelah bumi dilanda banjir dahsyat. Apartemen yang tenggelam menjadi panggung utama bagi kisah survival yang menyoroti pilihan-pilihan sulit di tengah kondisi ekstrem.
SINOPSIS THE GREAT FLOOD
Dalam film ini, Kim Da-mi memerankan Anna, seorang ibu yang memiliki putra bernama Ja-in. Berprofesi sebagai peneliti pengembangan kecerdasan buatan (AI), kehidupan Anna dan putranya yang semula tenang berubah drastis ketika banjir besar mulai mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi.
Park Hae-soo tampil sebagai Hee-jo, anggota tim keamanan di lembaga riset tempat Anna bekerja. Ia datang dengan sebuah misi misterius yang berkaitan dengan upaya menyelamatkan eksistensi manusia.
Secara tak terduga, Hee-jo membantunya saat Anna berusaha bertahan hidup ketika air terus naik dan mengancam hidupnya beserta orang-orang yang dicintainya.
Kim menggambarkan The Great Flood sebagai perpaduan antara film bencana dan fiksi ilmiah, kombinasi yang diyakininya mampu menjangkau penonton dari dua genre sekaligus.
"Secara pribadi, kuharap penonton akan mengingat film ini sebagai film yang misterius dan indah," ujar Kim Da-mi dalam konferensi pers film tersebut, dikutip dari The Korea Times.
BANJIR BANDANG DI AMBANG KIAMAT
Pemilihan banjir sebagai latar utama tidak lepas dari ketertarikan sutradara Kim Byung-woo pada makna air yang ambigu.
Menurutnya, air memiliki dua wajah yang bertolak belakang, sebagai sumber kehidupan sekaligus kekuatan yang mampu menghancurkan.
"Air adalah sumber kehidupan dan membentuk sebagian besar tubuh kita. Air bisa hadir dalam berbagai bentuk. Pada awalnya, air tampak hanya sebagai bencana, tetapi maknanya berubah seiring berjalannya film," ujar sutradara yang namanya melejit lewat film Omniscient Reader ini.
Tidak hanya duduk di kursi sutradara, Kim Byung-woo juga menulis skenario The Great Flood. Mengutip The Science Times, Kim menegaskan bahwa bencana dalam film ini tidak sepenuhnya lahir dari imajinasi bebas.
Ia merancang cerita berdasarkan kemungkinan ilmiah yang dapat terjadi di dunia nyata. Bencana besar yang menjadi inti cerita digambarkan sebagai dampak dari tabrakan asteroid, dengan menyoroti hari-hari terakhir manusia di sebuah apartemen yang terus ditelan arus air.
Kim menegaskan ia ingin menyingkirkan pola film bencana konvensional yang kerap menonjolkan kepahlawanan individu. "Aku mewawancarai ilmuwan iklim dan peneliti AI selama tiga tahun untuk menyempurnakan skenarionya," ujarnya.
Sementara, sang aktris Kim Da-mi sendiri mengaku sempat kesulitan membayangkan bagaimana naskah tersebut akan diterjemahkan ke dalam visual.
"Saat pertama kali membaca skenarionya, kurasa sulit membayangkannya di kepala. Imajinasi seperti apa yang akan tercipta? Aku juga penasaran bagaimana imajinasi itu akhirnya akan terwujud," ujarnya.
Senada, Park Hae-soo juga mengaku sempat bingung apakah naskah cerita tersebut benar-benar bisa diwujudkan secara teknis dalam film. "Naskahnya membuatku terus penasaran sampai akhir, terutama soal apakah kami benar-benar bisa memfilmkannya," ujarnya
"Aku pilih proyek ini karena tertarik melihat bagaimana sutradara mengeksplorasi perubahan sifat manusia dalam ruang yang sempit, seperti yang ia lakukan di film-film sebelumnya. Aku juga menantikan transformasi akting Da-mi," jelasnya.
AKTING DI BAWAH AIR
Proses produksi The Great Flood menuntut persiapan panjang, terutama untuk adegan-adegan bawah air. Para pemain harus menjalani latihan khusus selama berbulan-bulan demi memastikan adegan terlihat realistis.
"Karena kami berakting di dalam air, kami belajar menyelam scuba dan harus benar-benar bisa berenang, jadi kami mulai berlatih bersama beberapa bulan sebelumnya. Kadang aku tak tahu seperti apa ekspresi wajahku di dalam air. Aku fokus mengendalikan hal itu," kata Kim Da-mi.
Saat tayang perdana di sesi New Currents Festival Film Internasional Busan ke-30, film The Great Flood mendapat respons positif dari kritikus karena mengulas nilai-nilai kemanusiaan di tengah bencana besar.
Film The Great Flood tayang secara global di Netflix pada Jumat, 19 Desember 2025. Dengan cerita yang intens, pendekatan ilmiah yang serius, serta totalitas akting Kim Da-mi dan Park Hae-soo, film The Great Flood menjadi salah satu rilisan Netflix yang mencuri perhatian di akhir tahun ini.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.