Sukses dengan JUMBO, mengapa Ryan Adriandhy adaptasi Na Willa bukan sebagai film animasi?
Dengan tagar #JadiAnakAnak, film Na Willa mengundang penonton untuk sejenak melepaskan peran dan tanggung jawab, lalu menyelami kembali dunia anak-anak yang begitu menyenangkan.
Poster film Na Willa menampilkan Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy. (Foto: Dok. Visinema Studios)
JAKARTA: Setelah mencetak lebih dari 10 juta penonton dan menembus pasar internasional di 40 negara lewat film animasi JUMBO, sutradara Ryan Adriandhy kembali dengan proyek berbeda. Kali ini, Ryan mengadaptasi novel Na Willa karya Reda Gaudiamo menjadi film keluarga dengan format live-action, dan siap tayang pada Lebaran 2026.
Film Na Willa mengisahkan tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun yang tumbuh di Surabaya era 1960-an. Meskipun kehidupannya tampak berjalan bisa saja dari kacamata orang dewasa, Na Willa merupakan gadis yang penuh imajinasi. Ia percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban.
Namun, ketika teman-temannya mulai bersekolah, dunia Na Willa perlahan berubah. Sang gadis kecil itu pun belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.
Dengan pendekatan storytelling yang khas dan penuh empati, Na Willa menghadirkan perspektif anak-anak yang jarang diangkat dalam sinema Indonesia.
Ryan tak hanya menyutradarai Na Willa, tetapi juga menulis skenarionya. Sementara, di bangku produser, ada Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, beserta Herry B. Salim sebagai produser eksekutif.
Menariknya, berbeda dari JUMBO, kali ini Ryan memilih menghadirkan kisah Na Willa dalam format live action, sekaligus menandai debutnya di ranah format film ini. Keputusannya pun memunculkan rasa penasaran tentang alasan di balik perubahan medium bercerita itu.
DARI ANIMASI KE LIVE ACTION
Berbincang dengan CNA Indonesia, Ryan menekankan bahwa medium selalu mengikuti cerita, bukan sebaliknya. Ketika berencana mengadaptasi Na Willa, ia dan para produser sepakat bahwa film ini harus terasa sedekat mungkin dengan penonton.
"Kita harus bisa menangkap rasa yang orang-orang pernah [rasakan] di masa kecilnya. Jadi kayaknya akan lebih sensorik, akan lebih terasa kalau film ini gambarnya real, gambar orang, setting-nya real, rumah, dan gang, apalagi Na Willa itu terkenal karena rumah dia di dalam gang berdekatan dengan sahabat-sahabatnya," ujar Ryan.
Ryan menegaskan, medium animasi pun bisa menghadirkan nuansa tersebut, akan tetapi, "rasa otentik yang aku rasa hanya bisa didapat dari fotografi gambar asli."
KACAMATA ANAK-ANAK
Ryan mengungkapkan film Na Willa akan berbeda dari kebanyakan film keluarga di Indonesia, karena diceritakan sepenuhnya dari sudut pandang seorang anak.
"Kalau dibilang, film Na Willa itu cerita tentang anak umur enam tahun di Surabaya tahun 1968? Saya bilang, bukan. Dari Ryan Adriandhy, [sinopsisnya] bukan begitu," tuturnya.
"Film ini terjadi di Surabaya tahun 1968, dilihat lewat kacamata anak umur 6 tahun. Bedanya di situ," lanjutnya.
Bahkan, tagar promosi film ini adalah #JadiAnakAnak, untuk mengundang penonton dewasa sejenak melepaskan peran dan tanggung jawab, lalu mengingat kembali bagaimana dunia pernah terasa begitu luas, penuh warna, dan sarat keajaiban.
Hal itu terlihat dalam trailer dan teaser film Na Willa yang baru saja dirilis. Ada adegan Na Willa memanggil teman dari balik pagar, berlari di lapangan sambil menerbangkan layangan, hingga meneguk minuman orange cruz yang "nyekrusss" di siang hari.
Hadir pula lagu Sikilku Iso Muni karya Laleilmanino sebagai original soundtrack film ini, yang tak hanya nyaman didengar, tetapi juga membuat penonton ingin bernyanyi bersama.
Warna-warna ceria, tawa lepas, dan kebebasan berimajinasi menjadi napas film ini, seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali tumbuh dari momen yang paling sederhana.
Penonton bisa mendengar suara hati Na Willa, isi kepalanya, caranya berdialog dan bernarasi. Kita bisa mendengar Na Willa menceritakan dunianya.
"Aku ingin membawa penonton melihat dunia, sebagaimana Na Willa melihat dunia," tutur Ryan.
NA WILLA UNIVERSE
Film ini memperkenalkan Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Freya Mikhayla sebagai Farida, Azamy Syauqi sebagai Dul, dan Arsenio Rafisqy sebagai Bud.
Deretan pemeran dewasa seperti Junior Liem, Irma Rihi, Melissa Karim, Ira Wibowo, Putri Ayudya, Nayla Purnama, Agla Artalidia, hingga Ratna Riantiarno turut memperkaya lapisan cerita.
"Di film ini aku banyak bermain dan berimajinasi. Mak sama Pak selalu ngajarin dengan sabar. Rasanya kayak main, tapi juga belajar," ujar Luisa Adreena dalam siaran pers yang diterima CNA Indonesia.
Menariknya, Na Willa tidak berhenti sebagai satu film. Rumah produksi Visinema Studios juga mengumumkan bahwa kisah ini akan menjadi pembuka dari Na Willa Universe, sebuah semesta cerita yang dirancang menemani keluarga Indonesia ke depan.
Novel Na Willa karya Reda Gaudiamo sendiri memang terdiri dari tiga buku.
Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, Ryan mengungkapkan bahwa kisah Na Willa merupakan sebuah perjalanan pertumbuhan karakter yang sangat besar.
"Dari Na Willa tinggal di dalam gang, kemudian di buku kedua, ia harus pindah kerja ke Jakarta, sampai buku ketiga, dia punya adik kembar. Itu perjalanan yang rasanya enggak mungkin, enggak bijak, enggak adil, sama dunia yang sudah Ibu Reda buat sedemikian detailnya, kalau dipadatkan menjadi satu film," tutur Ryan kepada CNA Indonesia.
Namun, Ryan menegaskan film pertama akan berfokus memperkenalkan kisah Na Willa yang hidup di Gang Krembangan, bersama teman-temannya dengan berbagai detail penuh warna, seperti Farida, Dul, Bud, Mak, Pak, Mbok, Ayam Kuning Kecil Sekali, Radio Erres, Bu Tini, Cik Min, sampai ke TK Djuwita.
Produser Anggia Kharisma menjelaskan, bahwa bagi penonton dewasa, film Na Willa akan terasa seperti perjalanan menelusuri memori masa kecil, tentang keluarga, rumah, dan hal-hal sederhana yang dulu terasa begitu berarti.
Sementara bagi anak-anak, film ini menjadi ruang untuk bermain, berimajinasi, bernyanyi, dan merayakan rasa ingin tahu mereka.
"Na Willa adalah film yang paling aman untuk semua orang, untuk anak-anak, untuk keluarga, dan juga untuk siapa pun yang ingin kembali merasakan hangatnya keluarga dan masa kanak-kanak," tambah Anggia.
Na Willa dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada Rabu, 18 Maret, sebagai salah satu pilihan film di momen Lebaran 2026.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.