Frankenstein versi Guillermo del Toro: Kisah cinta, kesepian, dan ambisi manusia taklukkan kematian
Guillermo del Toro mengemas kisah ini bukan sekadar horor klasik, melainkan refleksi yang mengingatkan kita kembali tentang arti menjadi manusia.
Potongan adegan dalam film Frankenstein arahan sutradara Guillermo del Toro, menampilkan akting Oscar Isaac. (Foto: Dok. Netflix)
Sutradara Guillermo del Toro kembali memukau dunia dengan film terbarunya yang tayang di Netflix, Frankenstein (2025), adaptasi segar dari novel klasik karya Mary Shelley yang terbit pada 1818.
Kali ini, sang sutradara pemenang Oscar itu menggandeng jajaran bintang ternama seperti Oscar Isaac, Jacob Elordi, Mia Goth, dan Christoph Waltz untuk menghidupkan kisah ilmuwan yang berani menantang batas kehidupan dan kematian.
MENANTANG TUHAN
Film ini dibuka dengan latar tahun 1857 di tengah ekspedisi kapal Denmark menuju Kutub Utara. Kapten Anderson (Lars Mikkelsen) menemukan Dr. Victor Frankenstein (Oscar Isaac) yang sekarat di tengah badai es. Namun ia tidak sendirian — sosok misterius hasil ciptaannya sendiri (Jacob Elordi) memburu sang ilmuwan.
Melalui kilas balik, penonton diajak menyelami perjalanan hidup Victor, ilmuwan jenius namun angkuh yang terobsesi menaklukkan kematian setelah kehilangan ibunya. Dalam upaya mengatasi duka dan membuktikan diri, ia menciptakan makhluk hidup dari potongan tubuh manusia — melalui mutilasi, penjahitan, dan pemasangan baut yang mengerikan.
Sosok monster itu, yang kemudian dikenal sebagai Creature, bukanlah sekadar hasil eksperimen gagal. Ia menjadi simbol tragis tentang cinta, kesepian dan pencarian jati diri.
LEBIH DARI HOROR KLASIK
Guillermo del Toro, atau GDT, mengemas kisah ini bukan sekadar horor klasik, melainkan refleksi filosofis tentang arti menjadi manusia. Ia tidak menakut-nakuti penonton dengan darah dan teror, melainkan dengan pertanyaan eksistensial: apakah manusia berhak menciptakan kehidupan hanya karena bisa?
Hubungan antara Victor dan ciptaannya menjadi pusat cerita. Victor menciptakan kehidupan, tapi menolak untuk mencintainya. Chemistry antara Oscar Isaac dan Jacob Elordi begitu kuat, mencerminkan relasi "ayah dan anak" yang penuh luka. Dari situlah muncul konflik batin yang mendalam dan menyayat hati.
Menurut laporan Variety, peran Creature awalnya hampir dimainkan oleh Andrew Garfield, namun akhirnya jatuh kepada Jacob Elordi karena bentrokan jadwal.
Ternyata, keputusan itu tidak salah — Elordi berhasil menghadirkan karakter monster yang rapuh sekaligus menggetarkan, menurut Screen Rant. Tubuhnya tinggi menjulang tapi ekspresinya menyimpan kesedihan. Ia belajar membaca, mencintai, bahkan bertanya siapa dirinya sebenarnya. Ia bukan sekadar monster, melainkan cermin dari kemurnian jiwa manusia.
Dari sisi visual, sinematografer Dan Laustsen, yang sebelumnya bekerja sama dengan Del Toro dalam Crimson Peak, The Shape of Water, dan Nightmare Alley, kembali mempersembahkan sinematografi memukau dalam film ini. Nuansa hijau toska dan oranye berpadu dengan permainan cahaya dramatis yang membuat setiap adegan terasa seperti lukisan hidup, menurut laporan Slash Film.
Musik karya Alexandre Desplat menambah kedalaman emosional film ini. Scoring-nya terdengar lembut, menghantui, namun tetap megah — memperkuat tiap momen reflektif yang dihadirkan.
Walau berdurasi hampir 150 menit, GDT memperdalam makna cerita Frankenstein dari kisah tentang kesombongan manusia menuju pencarian eksistensi dan penerimaan diri.
Dengan bujet sekitar 120 juta dolar AS, Frankenstein menjadi salah satu produksi Netflix paling besar tahun ini. Tapi kekuatan sejatinya bukan pada efek prostetik atau kemegahan visual, melainkan pada pesan moralnya — bahwa kadang makhluk yang disebut "monster" justru lebih manusiawi daripada penciptanya.
Jika kamu mencari tontonan yang menggugah mata sekaligus hati, Frankenstein (2025) wajib masuk daftar tontonanmu saat tayang di Netflix mulai 7 November 2025.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.